
"Baiklah. Saya percaya. Sekarang berikan uangnya," ucap pria itu tak tahu diri.
Aaric hanya terkekeh meremehkan lalu beranjak ke mejanya. Dia mengeluarkan buku cek dan menuliskan nominal yang melebihi apa yang diberitahu Adrienne sebelumnya lalu menyobek lembaran cek itu. Dia berjalan ke arah pria itu lalu menyerahkan cek itu.
"Cairkan hari ini juga jika kau ingin mendapatkan uangmu dan jangan pernah muncul di hadapanku atau wanitaku lagi," ucap Aaric meremehkan.
Pria itu hanya bisa menatap Aaric geram tanpa bisa berkata apapun dan merebut cek itu dengan kasar dan pergi bersama para anak buahnya. Setelah mereka pergi, Aaric kembali ke mejanya dan melanjutkan pekerjaannya.
"Terima kasih banya, Aaric," ucap Adrienne tulus.
"Ingat kau masih berhutang padaku dan kau akan bekerja padaku hingga hutangmu lunas. Juga lupakan ciuman tadi karena itu hanya sandiwara," ucap Aaric tanpa memalingkan pandangan dari berkas di hadapannya.
"Baik."
"Sudah siang. Sekarang kau bersiap jemput si kembar," perintah Aaric.
"Baik. Saya permisi," ucap Adrienne patuh.
Adrienne keluar dari ruangan, mengangguk sopan pada Savannah lalu berjalan menuju lift. Sambil menunggu lift, Adrienne menyentuh bibirnya yang dicium oleh Aaric. Jantungnya berdetak kencang karena itu ciumanp pertamanya dan itu tak berlangsung lama saat mendengar suara-suara bisikan di belakangnya.
"Itu mainan Pak Aaric yang baru?" bisik wanita satu.
"Tidak tahu tapi sepertinya iya," balas wanita dua.
"Tapi bukannya selera Pak Aaric turun kalau dia sampai memilih wanita seperti dia?" ucap wanita satu.
"Iya juga ya. Mainan-mainan Pak Aaric berkelas semua. Ada yang pramugari bahkan model, tapi yang satu ini kelihatan rendahan," ucap wanita dua.
"Tapi bodo amatlah. Paling sebentar lagi akan dibuang kalau beliau sudah bosan," ucap wanita satu.
Adrienne yang mendengar ucapan kedua wanita itu tentu sakit hati namun apa daya dia terikat dengan Aaric hingga hutangnya lunas. Begitu lift sampai, Adrienne langsung masuk dan segera menutup pintu lift.
"Biarlah mereka berkata apa asal hutangku lunas dan aku bisa memulai hidup baru nantinya," ucap Adrienne dalam hati.
Setelah lift sampai di parkiran, mobil favorit Aaric sudah terparkir di depan pintu keluar dengan Nikolai yang sudah duduk manis di dalamnya. Adrienne langsung masuk ke mobil dan mobil melaju menuju sekolah si kembar.
Sesampainya di sekolah, ternyata pelajaran sedang berlangsung dan akan berakhir sekitar setengah jam lagi. Adrienne berjalan menuju ruangan kelas si kembar setelah bertanya pada pengawas di luar. Abellard dan Damien ternyata cukup populer karena mereka satu-satunya pasangan kembar di sekolah itu. Setelah memastikan si kembar masih di dalam kelas, Adrienne duduk di area kumpulan para ibu-ibu sosialita yang juga sedang menunggu anak-anaknya keluar dari kelas. Salah seorang ibu-ibu sosialita yang bernama Sabrina menyapa Adrienne.
"Halo. Nama saya Sabrina. Kamu sedang menunggu siapa?" tanya Sabrina sopan.
"Si kembar Abellard dan Damien," jawab Adrienne.
Wajah Sabrina langsung berubah penasaran mendengar nama kedua anak yang dimaksud. Setahunya ayah dari si kembar tidak pernah dekat dengan wanita manapun apalagi meminta seorang wanita untuk menjemput kedua anak kesayangannya. Sabrina penasaran dengan jati diri wanita di sampingnya itu karena dia mengincar Aaric.
"Maaf jika boleh tahu nama anda siapa?" tanya Sabrina.
"Adrienne. Adrienne Laurent. Panggil saja Anne," ucap Adrienne lancar.
"Laurent? Anda istri Aaric?" tanya Sabrina lagi.
Adrienne hanya mengangguk tanpa menjawab dan tepat pada saat itu bel dengan musik anak-anak mengalun menandakan anak-anak akan keluar kelas. Adrienne segera berpamitan dan berlalu mencari si kembar diiringi tatapan iri dari Sabrina.
"Bagaimana hari kalian, sayang? Apa menyenangkan?" tanya Adrienne lembut.
Si kembar bercerita panjang lebar dan semua didengar dengan jelas oleh Sabrina yang sedang menggandeng seorang anak perempuan. Dengan kesal Sabrina berlalu sambil menghentakkan kaki. Si kembar masih bercerita tentang harinya sedangkan Adrienne menyadari perubahan perilaku Sabrina.
"Dia pasti mengincar Aaric, sama seperti Beatrix dan tidak suka denganku. Apa aku akan baik-baik saja ya?" gumam Adrienne dalam hati.
Setelah mendengarkan celotehan si kembar, Adrienne mengajak mereka pulang dan selama perjalanan, si kembar tidak berhenti berceloteh. Adrienne tersenyum lembut diiringi tatapan tak percaya Nikolai. Setahu Nikolai, si kembar tidak pernah berceloteh seriang ini pada pengasuh manapun namun sekarang mereka sangat senang dengan kehadiran Adrienne yang entah darimana asalnya.
Sesampainya di parkiran kantor Aaric, si kembar langsung berlari menuju lift namun dihentikan oleh perintah Adrienne.
"Abellard. Damien. Jangan lari-larian. Jalan yang pelan," perintah Adrienne.
Si kembar menurut dan melambatkan jalan mereka. Lagi-lagi Nikolai dibuat tak percaya dengan apa yang dilihatnya, si kembar dengan mudah menuruti perintah Adrienne. Bahkan pengasuh terakhir si kembar yang mampu bertahan empat hari saja dibuat jatuh oleh si kembar karena melarang mereka berlari.
Ting.
Pintu lift terbuka dan si kembar langsung berjalan ke arah ruangan Aaric. Saat melewati meja kerja Savannah, si kembar melewatinya begitu saja tanpa menyapa.
"Abellard. Damien. Sapa dulu Tante Savannah. Kalian harus sopan jika bertemu orang-orang yang kalian kenal terutama keluarga dan kerabat kalian," celoteh Adrienne.
"Selamat siang, tante," sapa si kembar menuruti perintah Adrienne.
Savannah yang mendengar itu juga dibuat terkejut karena selama ini si kembar tidak pernah menyapanya jika melewati tempat kerjanya. Dia memandangi Nikolai dan yang dipandangi hanya mengedikkan bahu. Adrienne dan si kembar masuk terlebih dahulu ke ruangan Aaric sedangkan Nikolai berhenti di meja kerja Savannah.
"Wanita itu hebat. Si kembar menurut sekali padanya," ucap Nikolai.
"Iya. Aku juga terkejut si kembar menuruti kata-kata Anne padahal selama ini yang mereka turuti hanya kakak," ucap Savannah.
Selesai berbincang sebentar dengan Savannah, Nikolai memasuki ruangan Aaric dan si kembar sudah duduk manis dengan tugas di depan mereka. Aaric memberi tanda agar Nikolai mendekat sedangkan Adrienne sibuk memantau dan mengajari si kembar.
"Bagaimana, Niko? Apakah si kembar berulah hari ini?" bisik Aaric.
"Tidak bos. Mereka menurut sekali pada kata-kata wanita itu. Aku tidak pernah melihat si kembar seperti itu," balas Nikolai dengan berbisik juga.
"Baguslah. Setidaknya aku tidak perlu repot-repot mencari pengasuh baru," ucap Aaric lega.
Dua jam dihabiskan Adrienne memantau dan mengajari si kembar sampai akhirnya selesai. Ketiganya merenggangkan badan dan si kembar merengek ingin ke mall pada Aaric.
"Dad, kami mau jalan-jalan ke mall," ucap Abellard.
"Nanti setelah pekerjaan Dad selesai ya. Kalian main saja dulu," ucap Aaric sambil sibuk dengan berkas-berkasnya.
"Tapi kami mau sekarang," rengek Damien.
Aaric terlihat fokus dan tidak menjawab rengekan Damien. Adrienne yang mengetahui Aaric sedang sibuk meminta si kembar jangan menganggu terlebih dahulu.
"Abellard. Damien. Dad sedang sibuk. Kalian jangan menganggunya dulu ya," ucap Adrienne.
Bersambung...