
Hati Adrienne langsung berdenyut nyeri mendengar pertanyaan menghina sepupunya itu sedangkan emosi Aaric menggelegak namun hanya wajah datar yang ditampilkannya.
"Dia..." ucapan Adrienne mengambang di udara sambil tertunduk.
"Saya calon suaminya," ucap Aaric tegas.
Adrienne langsung mendongak memandangi Aaric sedangkan Bellatrix sedikit terintimidasi namun bukan Bellatrix namanya jika tidak bisa membalikkan keadaan.
"Aku tidak melihat cincin di jari kalian berdua. Apa kalian yakin ingin memainkan sandiwara ini?" tanya Bellatrix sambil tertawa menang.
"Saya baru akan melamarnya malam ini tapi Anda sudah mengacaukan kejutan yang akan saya buat," ucap Aaric meyakinkan.
"Ups maaf kalau begitu," ucap Bellatrix tanpa rasa bersalah.
"Kalau begitu kami permisi, ada urusan," ucap Aaric singkat.
"Jika kamu ingin tahu segalanya tentang calon istrimu ini, kamu bisa menghubungiku kapan saja," ucap Bellatrix menekankan kata "calon istri" sambil memasukkan kartu namanya ke kantong jas Aaric.
"Saya percaya dengan calon istri saya. Permisi, kami harus pergi," ucap Aaric dan Bellatrix pun minggir memberi jalan.
"Jangan lupa undangan pertunangan dan pernikahannya," ucap Bellatrix sambil tersenyum menyeringai.
Aaric dan Adrienne berlalu dengan tangan Aaric masih berada di pinggang Adrienne. Saat menuju mobilnya dan melewati tong sampah, Aaric mengeluarkan kartu nama Bellatrix dan membuangnya ke tong sampah itu. Sepanjang perjalanan, Adrienne hanya diam dan Aaric juga memberikan waktu untuk wanita itu menenangkan diri.
"Terima kasih. Maafkan kelakuan Trix yang seperti itu," ucap Adrienne saat mereka berhenti karena lampu lalu lintas berubah merah.
"Tidak apa," ucap Aaric singkat.
Sepanjang perjalanan tidak ada lagi suara di dalam mobil itu. Hanya hening yang menggelayuti. Sesampainya di rumah, Aaric meminta Adrienne membersihkan diri dan bersiap untuk memberitahukan ke pihak sekolah bahwa si kembar akan izin beberapa hari ke depan. Tiga puluh menit kemudian mereka sudah siap dengan penampilan kasual yang rapi. Adrienne mengembalikan black card yang diberikan Aaric kemarin saat mengajak si kembar ke mall dan mereka berdua kembali membelah jalanan menuju sekilah si kembar.
Sesampainya di sekolah, banyak pasang mata yang memandangi mereka berdua saat turun dari mobil. Ada yang memandang kagum dengan kecocokan mereka, ada juga yang memandang iri dengan kedekatan mereka, namun sayangnya hal itu dihiraukan oleh mereka berdua. Aaric menggandeng tangan Adrienne memasuki lingkungan sekolah diiringi tatapan sedih Beatrix dari kejauhan.
Berhubung karena kelas sedang berlangsung, Aaric dan Adrienne memilih menunggu di tempat ibu-ibu sosialita menunggu. Tempat itu juga sudah mulai ramai karena sebentar lagi anak-anak mereka akan pulang sekolah. Aaric menyadari mata salah seorang ibu sosialita itu terus memandang genit ke arahnya dan Adrienne kenal dengan wanita itu yang ternyata adalah Sabrina. Aaric dapat merasakan pandangan sengit kedua wanita itu dan berusaha membuat wanita yang memandangnya itu menyerah.
Dia merangkul pinggang Adrienne dengan mesra dan mendekatkan tubuh itu ke dirinya lalu mencium pelipis wanita itu dari samping. Semua itu tidak luput dari pandangan Sabrina dan wanita itu langsung membuang muka kesal. Tak lama kemudian, bel berdering tanda pelajaran telah usai. Anak-anak berhamburan keluar didampingi guru kelas mereka. Saat melihat Beatrix, Aaric dan Adrienne berjalan menghampiri guru kelas si kembar itu.
"Selamat siang, Miss Bebe," ucap Adrienne sopan.
"Siang, Mrs. Laurent. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Beatrix dengan senyuman yang dipaksakan dan mata yang diam-diam terus melirik ke arah Aaric.
"Saya ingin memberitahukan untuk beberapa hari ke depan Abellard dan Damien tidak akan ke sekolah karena mereka sedang sakit."
"Oh. Apakah mereka baik-baik saja?" tanya Beatrix khawatir.
"Baiklah jika begitu. Terima kasih sudah memberitahu saya."
"Kalau begitu kami permisi dulu Miss Bebe. Selamat siang."
"Selamat siang."
Beatrix memandangi sepasang pria dan wanita yang beranjak pergi dengan tatapan sendu.
"Seandainya aku yang berada di sampingmu, Aaric," gumam Beatrix dalam hati.
Setelah selesai dengan urusan izin si kembar, mobil sport hitam Aaric kembali membelah jalanan. Adrienne tidak tahu Aaric akan membawanya kemana namun dia memilih diam dan memandangi lalu lintas melalui jendela mobil.
Sejam kemudian, setelah menembus jalanan kota yang macet, mobil Aaric berhenti di sebuah toko perhiasan ternama. Adrienne bingung apa yang akan mereka lakukan di sana. Aaric menggenggam tangan Adrienne yang masih terbengong-bengong di depan toko itu. Saat masuk, mereka disambut dengan ramah oleh para penjaga toko.
"Pilih cincin yang kau suka," titah Aaric.
Adrienne memandang bingung atas perintah Aaric tanpa bergerak sedikitpun. Pikirannya masih belum bisa mencerna tujuan pria itu membawanya ke toko itu. Melihat kebingungan wanita itu, Aaric memegang bahu wanita yang sedang mendongak ke arahnya.
"Tadi kau mendengar bahwa saya mengatakan akan melamarmu malam ini di depan sepupumu kan?" tanya Aaric.
Adrienne hanya mengangguk tanpa menjawab.
"Supaya sepupumu percaya, kau harus punya cincin yang membuktikan bahwa kau sudah bertunangan denganku, mengerti?"
Adrienne terperangah setelah otaknya selesai memproses apa yang terjadi.
"Ta...tapi apakah tidak merepotkanmu? Dan ini hanya sandiwara kan?" tanya Adrienne resah.
"Saya tidak merasa direpotkan dan kau tidak perlu takut terikat. Kau hanya perlu mengenakan cincin itu setiap kau keluar dari rumah, selebihnya bebas kau mau mengenakan cincin itu di rumah atau tidak. Saya hanya tidak mau orang berpikir bahwa saya mempermainkanmu setelah mengatakan akan melamarmu, terutama sepupumu yang bermulut kurang ajar itu," ujar Aaric.
Setelah mendengar penuturan Aaric, Adrienne mengangguk lalu mulai mendatangi etalase yang menampilkan berbagai jenis cincin. Setelah lima belas menit melihat-lihat, Adrienne tidak memilih apapun dan dari ekspresi wanita itu, Aaric tahu belum ada yang menarik perhatiannya sampai dia melihat binar senang di mata wanita itu saat melihat sebuah cincin yang sangat sederhana di sudut etalase. Dilihat sekilas, cincin itu memang tidak menarik dan berada dinsudut yang pasti jarang orang lain lirik, namun Adrienne dapat menangkap keindahan cincin itu.
Aaric segera meminta penjaga toko untuk mengambilkan cincin yang menarik perhatian Adrienne itu. Adrienne memandang cincin itu dengan binar bahagia lalu memakai cincin itu di jari manisnya. Ternyata ukuran cincin itu sangat pas di jarinya. Tanpa berkata apapun lagi, Aaric mengeluarkan black card yang dikembalikan wanita itu tadi siang dan menyerahkannya ke kasir. Adrienne melepas cincin itu dan meminta si penjaga untuk membungkusnya.
Setelah pembayaran selesai, Aaric melangkah ke tempat Adrienne menunggu si cincin selesai dibungkus. Penjaga toko menyerahkan cincin yang telah dibungkus rapi pada Adrienne dan mereka berdua keluar dari toko.
"Kau tidak memakai cincinnya?" tanya Aaric setelah mereka berada di dalam mobil.
Bersambung...