The Black Scorpion

The Black Scorpion
Ch. 13



"Sudah kuselidiki keberadaan Nona Dupont selama lima tahun ini namun tidak menemukan informasi apapun. Dugaanku dia tidak memakai nama aslinya hingga sekarang," ucap Nikolai.


"Menarik. Dia sempat bercerita padaku bahwa dia terjerat hutang karena kabur dari paman bibinya tanpa persiapan. Aku rasa demi tidak ditemukan, dia todak mau menggunakan nama aslinya," ucap Aaric menyimpulkan.


"Oh ya satu lagi Rick. Ronald dan Cecil tidak berhenti mencari Nona Dupont lima tahun ini. Keluarga mereka juga sering didatangi oleh pria-pria berjas hitam dengan badan besar. Setelah kuselidiki, mereka antek-antek keluarga Fournier," tambah Nikolai.


"Oh ya? Aku rasa keluarga Adrienne berhutang pada keluarga Fournier tapi apa ada hubungan dengan menghilangnya dia selama lima tahun ini? Niko, coba kau selidiki lagi lebih dalam antara hutang keluarga Adrienne dan juga keluarga laknat itu," ucap Aaric lalu membuang dan menginjak puntung rokoknya.


Nikolai mengangguk lalu meninggalkan Aaric seorang diri di taman itu. Aaric sendiri terdiam memandangi langit kelam berbintang ditemani hembusan angin malam. Tak berapa lama, Aaric beranjak dari tempatnya dan kembali ke ruangan si kembar. Dia melihat posisi tidur Adrienne masih sama seperti sebelumnya yang menandakan wanita itu tidak mengubah posisi sama sekali. Dengan pelan, Aaric membuka lemari di ruangan itu dan mengeluarkan sebuah bantal dan selimut. Dengan hati-hati dia menyelipkan bantal itu menggantikan topangan tangan wanita itu agar wanita itu lebih nyaman lalu menyampirkan selimut ke tubuh ringkih itu.


Aaric duduk di samping Adrienne lalu mengeluarkan ponselnya dan mengubah modenya menjadi senyap agar tidak ada yang terganggu jika ada yang menghubunginya. Dia meletakkan ponsel itu di meja beserta jas dan dasi yang telah dilepaskannya, menyisakan kemaja putih dan celana bahan yang nasih melekat di tubuhnya. Tubuhnya terasa lelah sekali dan ingin beristirahat lalu melirik sosok yang tertidur di sampingnya.


"Siapa kau sebenarnya, Adrienne Dupont?" gumam Aaric dalam hati.


Dia memutuskan menjadikan paha Adrienne yang sudah dilapisi selimut sebagai bantalnya. Dia berbaring dan mencari posisi nyaman yang menghadap ke si kembar lalu perlahan pandangannya menggelap.


Dini hari sekitar jam tiga, Adrienne terbangun karena ingin ke toilet. Dia terkejut dengan keadaannya yang sudah berselimut dan ada bantal menggantikan topangan tangannya ditambah Aaric yang tertidur di pahanya yang terlapis selimut. Perlahan dia mengeluarkan diri dari selimut dan mengganti pahanya dengan bantal lalu menyelimuti pria itu. Dengan langkah pelan dia menuju toilet untuk menuntaskan hal yang ingin dilakukannya.


Sekembalinya dari toilet, dia kembali dikejutkan dengan Aaric yang sudah bangun dan duduk dengan santai.


"Darimana kau?" tanya Aaric dingin.


"Dari toilet," jawab Adrienne.


"Duduk," titah Aaric.


Adrienne menurut dan duduk di sebelah kiri pria itu setelah menggeser bantal yang tadi digunakannya untuk menggantikan pahanya. Tiba-tiba kepala Aaric bersandar di bahu kanan Adrienne dan nafas teratur terdengar jelas di telinga wanita itu. Pria itu tertidur lagi.


"Apa dia punya kesulitan tidur hingga tidak sadar seperti ini?" tanya Adrienne dalam hati.


Karena masih mengantuk, Adrienne tidak mau memikirkan hal itu dan memejamkan mata setelah menyelimuti Aaric dan dirinya. Rasanya belum lama dia tertidur, pendengaran Adrienne agak terganggu dengan bisikan-bisikan yang rasanya tidak jauh darinya. Dia membuka mata dan terkejut melihat seraut wajah dengan mata terpejam di depannya.


Adrienne kembali melihat posisi tidurnya dan ternyata posisi tidur yang awalnya duduk menjadi berbaring ditambah tubuhnya sedang dalam pelukan pria yang wajahnya tepat di depannya. Perlahan, mata pria itu terbuka dan mengerjap lalu sejurus kemudian tersenyum miring.


"Morning," ucap Aaric tanpa keterkejutan sedikitpun.


Adrienne langsung bangun dari posisinya lalu duduk membelakangi Aaric. Mata Adrienne tertumbuk pada dua orang anak kecil yang memandangnya sambil cekikikan. Untuk menutupi rasa canggungnya, dia mengalihkan perhatian pada si kembar yang kelihatannya sudah sehat.


"Sudah Mom. Maaf kami membuat Mom khawatir," ucap Abellard.


"Syukurlah kalian sudah baik-baik saja," Adrienne menghembuskan nafas lega sambil mengelus punggung kedua anak itu dengan sayang.


Pagi itu, Adrienne disibukkan dengan kegiatannya mengurus si kembar seperti biasanya. Bedanya kali ini bukan mengurus keperluan sekolah melainkan menyuapi kedua anak itu bergantian. Entah kenapa sejak jatuh sakit, si kembar menjadi sangat manja terhadap Adrienne. Nikolai, Savannah dan Annette sampai bertepatan dengan Adrienne selesai menyuapi si kembar. Adrienne meminta si kembar untuk meminum obat sedangkan Aaric sibuk memberi perintah pada Nikolai dan Savannah.


"Anna, kau di sini menjaga Abel dan Damien bersama mama. Niko, kau ke kantor urusi semua pekerjaanku. Anne, kau ikut denganku ke sekolah," perintah Aaric.


Nikolai mengangguk lalu berlalu dari ruangan. Annette sudah sibuk bercengkerama dengan si kembar. Setelah berpamitan, Aaric dan Adrienne keluar dari ruangan menuju parkiran. Di perjalanan menuju parkiran, Adrienne melihat Bellatrix dari kejauhan dan dan langsung menghentikan langkahnya. Sejurus kemudian, dia menyembunyikan diri di balik badan tegap Aaric sambil mencengkeram jas pria itu. Tanpa menoleh, Aaric bertanya pada Adrienne.


"Ada apa?"


"Saya melihat sepupuku sedang berjalan ke sini. Saya tidak mau bertemu dengannya. Tolong saya," ujar Adrienne dengan tangan gemetar.


Aaric yang mengerti mencari cara agar Adrienne tidak bertemu dengan wanita yang sedang berjalan ke arahnya. Aaric menarik tangan Adrienne agar wanita itu berada di sebelah kanannya lalu mengalungkan lengan kiri Adrienne ke lengan kanannya. Dia juga meminta Adrienne menundukkan kepala agar rambut panjang Adrienne menutupi wajahnya lalu berjalan seolah tidak ada apa-apa. Mereka berdua melewati wanita itu tanpa insiden apapun. Adrienne menghembuskan nafas lega karena dikiranya sudah aman, namun wanita yang sudah melewatinya itu mendadak berhenti dan menoleh.


"Anne," panggil wanita itu dengan suara keras.


Tubuh Adrienne langsung menegang mendengar namanya dipanggil. Pegangan tangannya pada Aaric terlepas dan langkahnya terhenti bersamaaan dengan wanita itu berdiri di hadapan Adrienne. Dengan sigap, Aaric mengalungkan tangan kanannya ke pinggang Adrienne dan menariknya mendekat.


"Anne, sudah lama sekali kita berpisah. Sepertinya kau baik-baik saja," ucap wanita itu sambil melirik kagum pada Aaric.


"Halo Trix," sapa Adrienne kaku.


"Kau tidak mengenalkan pria ini padaku?" ucap Bellatrix tanpa mengalihkan tatapan memujanya dari Aaric.


"Kenalkan ini Aaric. Aaric, kenalkan ini Bellatrix, sepupu saya," ucap Adrienne tanpa gestur apapun.


"Kenalkan aku Bellatrix, biasa dipanggil Trix," ucap Bellatrix sambil mengulurkan tangan.


"Aaric," ucap Aaric menyambut uluran tangan itu sebentar lalu melepaskannya lagi.


"Apa hubunganmu dengan pria ini, Anne? Apa dia pria yang membayarmu?" tanya Bellatrix mengejek.


Bersambung...