The Black Scorpion

The Black Scorpion
Ch. 20



Selesai meminum es jeruk di hadapannya, Adrienne kembali bercerita.


"Selain menyembunyikan diri, aku juga menyembunyikan identitasku sehingga mereka kesulitan melacakku. Aku tidak pernah memakai nama Adrienne Dupont selama bersembunyi. Kalianlah yang pertama kali kuberitahu nama asliku setelah lima tahun memakai identitas palsu," ucap Adrienne mengakhiri ceritanya.


"Nama apa yang kau pakai selama bersembunyi lima tahun ini?" tanya Aaric yang tampaknya masih ingin mengetahui lebih banyak.


"Jessica Lorenzo," jawab Adrienne singkat.


Belum sempat Aaric bertanya lebih lanjut, ponsel Nikolai berdering dan diangkat oleh pria itu.


"Ada apa, Anna?" tanya Nikolai langsung pada intinya.


"Kau dimana? Apa Anne bersamamu?" cecar suara di seberang telepon.


"Aku sedang bersama Aaric dan Adrienne."


"Berikan teleponnya pada Anne."


Tanpa bertanya lebih banyak, Nikolai menyodorkan ponselnya ke arah Adrienne seraya menyebutkan nama orang yang ingin bicara dengannya yaitu Savannah. Adrienne mengambil ponsel itu dari tangan Nikolai dan mulai berbicara.


"Halo, Anna. Ada apa?"


"Kapan kau pulang?"


"Belum tahu. Aku sedang bersama Aaric dan Nikolai."


"Cepatlah pulang. Abel dan Damien tidak mau makan kalau tidak ada dirimu. Mereka terus merengek meminta kau ada di sini."


"Baiklah. Aku akan segera pulang."


Klik.


Adrienne mematikan panggilan telepon lalu menyerahkannya pada sang pemilik lalu menatap Aaric.


"Ada apa dengan Anna?" tanya Aaric.


"Abellard dan Damien merengek memintaku pulang. Mereka tidak mau makan kalau tidak ada aku," jawab Adrienne sesuai yang Savannah sampaikan.


"Kita pulang sekarang," ucap Aaric lalu beranjak meninggalkan restoran diikuti Adrienne dan Nikolai.


Setelah membereskan semua barang-barang, Aaric meminta Nikolai pulang terlebih dahulu karena Adrienne akan ikut dengannya. Aaric segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Aaric, jangan terlalu ngebut," ucap Adrienne datar.


"Kita harus segera sampai di rumah. Abel dan Damien sedang dalam masa pemulihan. Aku tidak mau mereka sakit lagi karena tidak mau makan," jawab Aaric sama datarnya.


"Kau akan membunuh mereka jika kau ngebut dan terjadi sesuatu dengan kita berdua."


"Maksudmu apa?"


"Jika kita berdua terlibat kecelakaan, entah selamat entah meninggal, bukankah mereka akan sangat sedih? Apalagi jika terjadi sesuatu dengan dirimu, mereka bisa terbunuh karena terlalu sedih. Kau tidak mau itu terjadi kan?"


Aaric hanya diam tidak menanggapi perkataan Adrienne yang menurutnya ada benarnya. Perlahan dia menurunkan kecepatan mobil menjadi standar dan sepanjang perjalanan tidak ada lagi yang bersuara.


Saat Adrienne turun dari mobil dan menutupnya, Abellard dan Damien berlari berhamburan dari dalam rumah. Adrienne berjongkok untuk menyamakan tinggi dengan mereka lalu menyambut mereka dalam pelukannya.


"Mom, Abel dan Damien rindu Mom," ucap Abellard.


"Tidak," sahut si kembar bersamaan.


"Tapi tadi Mom dengar dari Aunty Anna kalau kalian tidak mau makan. Apa benar?"


Si kembar hanya menunduk dan hampir menangis. Adrienne yang gemas melihat mereka berdua segera memeluk kembali kedua makhluk kecil yang lucu itu.


"Kali ini Mom maafkan tapi lain kali tidak boleh lagi ya. Kalau Dad dan Mom tidak ada, kalian harus menurut pada Grandma Annette, Aunty Anna dan Uncle Niko. Mengerti?" ucap Adrienne lembut sambil mengusap punggung kedua anak imut itu.


"Mengerti Mom," ucap mereka bersamaan.


"Ayo masuk. Mom suapin kalian makan ya."


"Yeyyy," sorak si kembar girang.


Adrienne menggandeng tangan kedua anak itu, Abellard di sebelah kanan dan Damien di sebelah kiri lalu berjalan masuk. Kedua anak kembar itu menari-nari senang dalam gandengan tangan Adrienne. Semua itu dilihat langsung oleh Aaric dan Nikolai.


"Rick, si kembar tidak pernah menurut pada orang asing seperti ini kecuali Sasha," ucap Nikolai.


"Sasha," gumam Aaric tanpa sadar.


"Kau kenapa, Rick?" tanya Nikolai bingung.


"Tidak apa-apa. Ayo masuk," ucap Aaric sambil melangkah.


...*****...


Di dalam rumah, Adrienne sedang duduk berhadapan dengan si kembar di ruang makan dan bergantian menyuapi kedua anak itu. Setelah selesai, Adrienne meminumkan obat lalu mengajak mereka ke kamar untuk istirahat dan meninggalkan semua orang di ruang tamu.


"Aaric," panggil Annette saat Adrienne sudah masuk ke kamar si kembar.


"Iya Ma," jawab Aaric.


"Kau masih memikirkan Sasha?" tanya Annette hati-hati.


Nikolai dan Savannah yang berada di sana terdiam mendengar nama itu disebut. Nama itu sangat sensitif bagi Aaric dan Nikolai tadi sudah menyebut nama itu sekali. Beruntung dia tidak menerima bogem mentah karena menyebut nama itu.


...*****...


Sasha.


Nama itu sangat berarti bagi Aaric dari tujuh tahun lalu hingga sekarang. Wanita bernama Sasha itulah yang memberikan secercah cahaya dalam keterpurukannya. Kecelakaan kedua orang tuanya, mengambil alih usaha keluarga dan kehamilan Maria di luar nikah membuat Aaric hampir kehilangan kewarasannya jika bukan Sasha yang selalu ada dan mendukungnya saat itu.


Tiga tahun lalu Aaric melamar Sasha dan diterima dengan senang hati oleh wanita itu. Hati Aaric berbunga-bunga karena hubungannya akan segera resmi setelah empat tahun dijalin. Ternyata saat itu juga keberuntungan belum berpihak pada Aaric. Enam bulan setelah bertunangan, Sasha terserang leukimia atau umumnya disebut kanker darah. Dunia Aaric seketika runtuh mendengar Sasha sakit.


Berbagai cara dan jenis pengobatan sudah dilakukan Aaric untuk menyembuhkan wanita yang sangat dicintainya itu. Bukannya semakin sembuh, keadaan Sasha semakin parah. Tubuh wanita menjadi sangat kurus dan rambutnya rontok karena pengobatan kemoterapi. Setelah berjuang selama setahun, Sasha akhirnya menyerah dan menutup mata selamanya di pelukan Aaric. Hati dan kehidupannya hancur seiring dengan runtuhnya dunianya saat kehilangan Sasha.


Setelah kehilangan Sasha, selama enam bulan Aaric kehilangan harapan dan arah hidupnya. Dia hanya bisa menenggelamkan dirinya dalam alkohol dan wanita untuk mengobati kekosongan hatinya. Para wanita yang dikencani dan ditiduri Aaric juga tidak sembarangan. Aaric secara spesifik memilih wanita denga wajah atau penampilan yang mirip dengan Sasha.


Barulah tahun lalu Aaric bisa bangkit dari keterpurukannya setelah memandangi dua pasang bola mata jernih milik Abellard dan Damien. Aaric tersadar bahwa kedua malaikat kecil itu masih membutuhkan dirinya. Aaric mulai bekerja keras memberikan yang terbaik untuk kedua anak kembar itu dan mencurahkan perhatian penuhnya pada perkembangan kedua malaikat itu.


Alkohol dan wanita yang dahulu menjadi kesehariannya setelah kehilangan Sasha ditinggalkannya begitu saja demi Abellard dan Damien. Dia bahkan tidak tertarik lagi dengan para wanita yang disodorkan setiap diajak berpesta oleh para sahabatnya atau para rekan bisnisnya. Semua dia lakukan demi kedua anak kembar kesayangannya hingga Adrienne datang. Wanita itu mampu menggetarkan kembali hati Aaric yang sudah mati bersamaan dengan Sasha. Namun keraguan masih menggelayuti Aaric. Di satu sisi dia merasa bersalah pada Sasha karena mencintai wanita lain namun di sisi lain dia juga tidak bisa menghentikan perasaannya sendiri.


Bersambung...