
Mengetahui mereka masih diikuti membuat wanita yang tadi ditolong oleh Aaric semakin gemetar. Aaric meminta Savannah menjaga wanita itu dan meminta Nikolai menghentikan laju mobil.
Setelah mobil berhenti, Aaric melepaskan jas hitam, dasi serta dua kancing kemeja teratasnya lalu mengajak Bellagio dan Nikolai untuk turun dari mobil bersamanya.
Manusia-manusia yang mengikuti mereka di belakang juga keluar dari mobil mereka. Wajah para manusia itu garang dan menyeramkan, seolah siap menerkam apa saja yang menghalangi. Aaric sudah berdiri gagah di tengah didampingi oleh Nikolai di sebelah kanannya dan Bellagio di sebelah kirinya.
"Ada urusan apa kalian dengan wanita itu?" tanya Aaric dingin.
"Minggir. Wanita itu milik bos kami. Kami akan membawanya kembali," ucap salah seorang dari mereka.
"Maaf sekali wanita itu milikku. Kalian tidak bisa mengambilnya," ucap Aaric santai.
Para orang garang itu berpandangan sejenak lalu langsung menyerang ketiga pria itu. Aaric diserang oleh orang yang tadi menjawab pertanyaannya dengan kayu dan kayu itu ditangkap dengan tepat oleh telapak tangan Aaric. Orang itu mendapatkan hadiah bogem mentah dari Aaric di perutnya dan tersungkur.
Bellagio yang agak lengah mendapat pukulan di pipi kirinya dan dibalas olehnya dengan pukulan ke pipi kiri orang yang menyerangnya, menyebabkan orang itu terpental ke kanan dan pingsan. Nikolai diserang oleh seorang dengan pisau namun dengan sigap pergelangan orang itu ditangkap oleh Nikolai dan dihadiahi uppercut oleh pria itu di dagu orang yang ingin melukainya. Ketiga pria itu bertarung dengan gaya-gayanya sendiri dan terlihat keren di mata Savannah dan wanita yang ditolong oleh Aaric.
"Hentikan. Ampun," jerit orang yang tadi dihajar Aaric.
"Katakan apa mau kalian," sergah Aaric dengan nada menusuk.
"Kami hanya ingin menagih hutang dari wanita itu."
Aaric mengeluarkan dompet dari kantong belakang celananya disusul sebuah kartu nama dan melemparkannya ke arah orang itu.
"Besok datang ke kantor saya dan ambil uang kalian."
Setelah berkata seperti itu, Aaric dan sahabatnya, Bellagio serta Nikolai masuk ke mobil dan melanjutkan perjalanan. Selama di mobil, Aaric hanya diam dan menangkupkan lengan di wajah. Kepalanya bersandar di bantalan kursi yang didudukinya.
Sesampainya di rumah, Aaric disambut oleh Abellard dan Damien yang langsung berlari dan memeluk kakinya.
"Dad," pekik kedua anak itu girang.
"Ternyata dia sudah punya anak," ucap wanita yang tadi ditolong Aaric dalam hati.
Aaric lalu berjongkok dan mencium kening kedua anak itu lalu bangkit dan berpesan pada Savannah untuk mengurusi wanita itu lalu menggandeng kedua anak kembar itu masuk. Salah satu dari anak itu, Damien, melepaskan genggamannya lalu berlari ke hadapan si wanita yang ditolong Aaric.
"Tante, aku boleh menata rambut tante?" tanya Damien dengan mata puppy eyesnya.
Savannah berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Damien lalu mengelus puncak kepala anak itu.
"Damien, tante ini sedang sakit. Besok kalau tante ini sembuh, Damien minta izin lagi ya. Kamu ikut Dad dulu sana."
Damien mengangguk senang lalu kembali menggenggam tangan Aaric dan masuk ke rumah.
"Keluarga yang bahagia," ucap wanita itu dalam hati dengan mata berkaca-kaca.
Savannah kembali bangkit lalu memeluk dan menuntun wanita itu masuk ke rumah lalu ke kamarnya. Semua itu tidak luput dari mata Nikolai yang terus mengamati Savannah.
"Awas matamu keluar nanti," kelakar Bellagio pada Nikolai lalu masuk ke dalam diiringi tatapan membunuh dari pria itu.
"Aaric, kau sudah pulang nak?" seru seorang wanita paruh baya.
"Iya Ma. Aaric sudah pulang."
"Dia sedang di kamar, mengurusi wanita itu."
"Wanita yang mana?" tanya wanita paruh baya yang ternyata Annette, ibu tirinya.
Aaric menceritakan kronologi kejadian sebelum sampai ke rumah dan didengarkan dengan seksama oleh Annette. Walaupun Annette adalah ibu tirinya, namun Aaric dan Maria menganggap wanita itu adalah ibunya dan menghormatinya layaknya ibu kandung sendiri.
Bellagio dan Nikolai merebahkan diri mereka ke atas sofa empuk di ruang keluarga Laurent. Mereka hanya diam mendengarkan penjelasan Aaric pada Annette sambil memandangi pria itu bermain dengan si kembar.
Tidak berapa lama, Savannah keluar dari kamarnya dengan mengenakan baju tidur dan rambut dicepol berantakan ke atas lalu duduk di samping di Annette.
"Anna, bagaimana keadaan wanita itu?" tanya Aaric.
"Dia sudah tidur. Dia tampak kelelahan dan ada beberapa memar pada tubuhnya. Entah apa yang sudah dilaluinya," jawab Savannah jujur.
Selama Savannah dan Aaric berbincang, mata Nikolai tidak lepas dari semua pergerakan kecil wanita itu. Penampilan Savannah menurutnya sangat cantik dan manis terlepas apapun yang dikenakannya. Ingin sekali dirinya memiliki Savannah namun dia tahu diri dan menahan keinginannya. Dia tahu dia hanyalah pengawal Aaric walaupun seusia dengan pria itu. Dia menggantikan posisi ayahnya mengabdi pada kepala keluarga Laurent dan itu memang keinginannya sejak kecil. Dia juga mengetahui sejarah tragis keluarga Laurent yang membuat Savannah dan Aaric menjadi saudara tiri.
"Hey man. Jika kau diam saja, bisa-bisa wanita pujaanmu itu direbut oleh bosmu sendiri," bisik Bellagio yang entah sejak kapan sudah duduk di samping Nikolai.
"Diam kau," ucap Nikolai dingin dan memberikan tatapan membunuh pada Bellagio.
"Apa yang kalian bahas di sana?" ucap Aaric membuat kedua pria itu menoleh ke arah suara.
"Aku sedang menggodanya, Rick. Dia sangat menyenangkan untuk digoda," ucap Bellagio sambil tertawa sedangkan yang digoda masih mempertahankan tatapan membunuhnya.
"Hais. Sudah sudah. Kalian istirahatlah. Kita masih banyak pekerjaan besok," ucap Aaric mengibaskan tangan meminta mereka pergi.
Nikolai bangkit dan membungkukkan badan lalu berlalu ke arah rumah kecil di taman belakang. Rumah itu dibangun sendiri oleh Nikolai dari hasil kerja kerasnya menjaga Aaric dan sekarang menjadi tempat tinggal tetap untuknya. Aaric sendiri tidak pernah lagi menginjakkan kaki ke taman belakang sejak kematian orang tuanya karena taman itu adaah taman favorit ibu kandungnya. Dia masih belum sanggup menginjakkan kaki di sana.
Bellagio sendiri memutuskan pulang ke rumah karena menurutnya sang istri sedang menunggu untuk disentuh.
"Dasar mesum," umpat Aaric saat Bellagio melenggang keluar rumah.
Setelah Bellagio pergi dan Nikolai kembali ke rumahnya, tinggallah Aaric, Savannah dan Annette serta si kembar yang berada di ruang tamu.
"Kak, bagaimana dengan wanita itu?" tanya Savannah.
"Ma, bisa bawa Abel dan Damien ke kamar dulu?" pinta Aaric.
Annette mengangguk dan membawa si kembar ke kamar hingga tinggallah Aaric dan Savannah berdua.
"Aku belum tahu apa yang akan aku lakukan padanya, Anna. Menurutmu dia orang yang bagaimana?" tanya Aaric.
Dia selalu mengandalkan insting Savannah dalam menilai karakter karena jarang sekali penilaian adik tirinya itu meleset.
"Aku rasa dia orang baik hanya saja seperti menyimpan banyak rahasia," jawab Savannah jujur.
"Baiklah. Kita istirahat dulu malam ini. Besok baru dipikirkan langkah selanjutnya," ucap Aaric sambil mengacak-acak rambut Savannah dan mencium keningnya.
Gerakan-gerakan kecil itu tertangkap oleh sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan mereka.
Bersambung...