The Black Scorpion

The Black Scorpion
Ch. 18



"Kau sudah tenang?" tanya Aaric.


Adrienne hanya mengangguk dalam pelukan Aaric tanpa berkata apapun.


"Istirahatlah," ucap Aaric lalu melepaskan pelukannya.


Adrienne masuk ke kamar meninggalkan Aaric sendirian di balkon lalu merebahkan diri di atas ranjang. Tak lama kemudian, diapun tertidur.


Di balkon, Aaric memandangi langit malam tanpa bintang. Bayangan sebuah sosok berkelebat di pikirannya.


"Sasha, bolehkah aku mencintainya?" gumam Aaric pelan.


Dengan hati galau, Aaric masuk ke kamar dan mendapati Adrienne sudah tertidur lelap. Dia menuju sofa yang lumayan besar dan merebahkan diri di sana. Tak butuh lama, matanya pun terpejam.


Sekitar jam dia dini hari, pendengaran Aaric terganggu dengan suara seseorang. Dengan berat, dia membuka kelopak matanya dan mendengar Adrienne sedang mengigau. Dia segera menghampiri wanita itu untuk mengecek keadaannya dan terkejut mendapati wanita itu demam. Aaric segera menelepon resepsionis untuk membawakan obat pereda panas. Setelah obat itu datang, Aaric membangunkan Adrienne.


"Anne, bangun. Kau demam. Minum obat dulu," ucap Aaric lembut.


Adrienne menggeliat lalu memandangi wajah Aaric di hadapannya dengan bingung lalu mendudukkan dirinya sambil memegang kepala.


"Anne, ayo minum obat dulu," ucap Aaric lalu menyodorkan obat dan secangkir air hangat.


Adrienne menerima obat tersebut lalu menelannya dibantu air hangat yang diberikan Aaric. Pria itu membaringkan lagi Adrienne dengan hati-hati namun saat akan beranjak, tangan Aaric terhalang sesuatu. Adrienne ternyata mencengkeram pergelangan tangannya seolah tak membiarkan dia pergi.


"Temani aku. Kumohon," ucap Adrienne sendu.


Aaric mengurungkan niat kembali ke sofa dan duduk di samping wanita itu sambil membelai kepalanya. Tak berapa lama, karena lelah, Aaric memutuskan untuk merebahkan diri di samping Adrienne yang memunggunginya.


...*****...


Esoknya, Adrienne terbangun dengan beban di perutnya dan sesuatu yang menyangga kepalanya. Ternyata Aaric tidur di sebelahnya. Tangan kanan pria itu menyangga kepalanya dan tangan kiri pria itu melingkar di perutnya. Kepala pria itu terbenam di ceruk leher kirinya dan nafas hangat menyapu daerah itu. Adrienne memutar kepalanya lalu memandangi wajah pria yang tidur di sampingnya. Wajahnya terlihat damai dan tanpa beban. Dia menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah pria itu dan menikmati pemandangan pagi yang menyenangkan.


Setelah puas memandangi wajah Aaric, Adrienne menyingkirkan tangan kiri pria itu yang melingkar di perutnya dengan perlahan lalu beranjak dari ranjang menuju ke kamar mandi. Setelah selesai membersihkan diri dan memakai kimono mandi yang baru, Adrienne mengambil ponsel Aaric dengan tujuan menelepon Nikolai agar membawakan baju ganti. Saat layar ponsel menyala, foto latar memperlihatkan Aaric dan seorang wanita yang tampak serasi bersanding dengannya sedang menunjukkan cincin di jari mereka.


Hati Adrienne seketika berdenyut dan matanya mulai panas, namun dia segera berusaha mengendalikan diri dengan berulang kali mengingatkan dirinya sendiri.


"Anne, kau tidak boleh berkhayal terlalu tinggi. Kau bersama pria ini karena sedang terikat hutang. Setelah hutangmu lunas, kau bisa memulai kembali hidupmu dan mencari kebahagiaanmu sendiri," ucap Adrienne dalam hati ke dirinya sendiri berulang kali sambil mengusap dadanya.


Tak disangka saat sedang menenangkan diri, ponsel Aaric berdering dengan nyaring dan Adrienne spontan menjawab agar tidak membangunkan si pemilik ponsel.


"Ha...halo," sapa Adrienne.


"Siapa ini? Mana Aaric?" gelegar suara di seberang.


Adrienne menjauhkan ponsel untuk melihat siapa yang menelepon dan ternyata adalah Nikolai. Dia kembali menempelkan ponsel itu ke telinganya.


"Ha...halo. Nikolai. Ini saya, Adriennne."


"Adrienne? Mana Aaric? Kemana kalian semalaman tidak pulang?"


"Um...Aaric sedang tidur dan kami sedang berada di kamar hotel tapi tidak tahu hotel mana. Semalam terjadi sesuatu yang membuat kami tidak bisa pulang."


"Kami baik-baik saja. Um Nikolai, bisa saya minta tolong?"


"Apa yang bisa saya bantu?"


"Tolong bawakan baju ganti untuk saya dan Aaric."


"Dimana posisi kalian sekarang?"


"Kami masih berada di kamar hotel namun saya tidak tahu hotel yang mana."


"Jelaskan interior hotel pada saya."


"Kamarnya besar dengan kamar mandi di dalam. Gorden berwarna biru gelap dengan bahan beludru. Ada sofa besar berwarna merah marun. Pintu hotel berwarna kuning keemasan dengan desain Victoria. Ukuran ranjang king size."


"Wow Nona. Kau bisa menjelaskan seisi ruangan dengan rinci. Baiklah saya sudah tahu hotel yang mana yang kamu maksud. Tunggu saya dua puluh menit."


"Baiklah. Terima kasih banyak."


Sambungan telepon sudah terputus dan Adrienne kembali memandangi foto sepasang manusia yang dijadikan sebagai latar ponsel. Tiba-tiba terdengar suara bariton serak yang membuat Adrienne hampir menjatuhkan ponsel di tangannya.


"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Aaric dengan suara serak khaa bangun tidur.


"Maaf aku lancang. Tadi Nikolai menelepon dan aku mengangkatnya. Aku juga memintanya untuk mengantarkan baju ganti untuk kita berdua," jawab Adrienne berusaha tenang.


"Baiklah. Bangunkan aku saat Nikolai sampai," ujar Aaric lalu kembali memejamkan mata.


Adrienne tidak menjawab dan hanya memandangi Aaric yang kembali ke alam mimpinya. Karena tidak tahu apa yang harus dikerjakannya, dia memutuskan untuk menonton televisi tanpa adanya suara sembari menunggu kedatangan Nikolai.


...*****...


Ting tong.


Setelah menunggu tiga puluh menit, terdengar suara bel. Adrienne bergegas membukakan pintu dan muncullah Nikolai membawakan sebuah bungkusan dan dua gantungan berisi baju yang kelihatannya sudah dicuci.


"Silakan masuk," ucap Adrienne mempersilakan Nikolai masuk.


Nikolai menyerahkan semua yang ada di tangannya ke Adrienne. Wanita itu menerimanya dan meletakkannya di lemari di dekat pintu masuk itu lalu bergegas membangunkan Aaric. Setelah Aaric bangun, dia permisi untuk mengganti baju lalu Aaric dan Nikolai terlibat perbincangan serius.


"Ceritakan apa yang terjadi hingga kau ada di sini, Rick," ucap Nikolai membuka pembicaraan.


"Sesuatu terjadi di pesta kemarin dan aku mengetahuinya dari Vino. Tampaknya seseorang ingin menjebak dan mencelakai Adrienne. Menurut penuturan kekasih Vino, seorang pria memasukkan sesuatu ke minuman Adrienne dan wanita itu bertingkah aneh semalam. Aku menduga pria itu memasukkan obat ke dalam minuman Adrienne dan menyebabkan Adrienne bertingkah aneh semalam. Aku tidak mungkin membawanya pulang dalam keadaan seperti itu da ln memutuskan bermalam di sini," cerita Aaric panjang lebar.


"Vino dan kekasihnya kenal siapa pria itu?" tanya Nikolai lagi.


"Mereka berdua tidak tahu siapa pria itu tapi sebelum pria itu mendekati Adrienne, ada seorang wanita yang mendekati Adrienne terlebih dahulu yang membuat Adrienne meninggalkan tempatnya sehingga pria itu leluasa memasukkan obat ke dalam minuman. Wanita itu juga yang mengenalkan si pria kepada Adrienne lalu meninggalkannya setelah pria itu memasukkan obat. Aku penasaran siapa wanita itu," ucap Aaric sambil memikirkan beberapa kemungkinan.


"Setahuku Adrienne tidak memiliki teman dekat atau semacamnya sebelum ataupun sesudah dia menghilang lima tahun lalu," tambah Nikolai.


Bersambung...