The Black Scorpion

The Black Scorpion
Ch. 2



Mendengar dua suara ceria yang menghampiri telinganya membuat senyum Aaric mengembang. Dia segera bangkit dari kursi kebesarannya lalu menuju ke arah dua anak kembar tersebut dan merangkul mereka.


"Jagoan-jagoan Dad sudah datang," ucap Aaric sambil berjongkok dan memeluk erat kedua anak itu yang disambut dengan pelukan balik dari mereka.


Setelah melepaskan rangkulannya, Aaric memandangi mereka satu persatu penuh selidik,"Kalian kenapa bisa kemari dengan cepat?"


Kali ini, Nikolai, pengawal kepercayaan Aaric yang menjawab pertanyaan tersebut secara tidak langsung,"Maaf Tuan. Sekarang sudah jam makan siang. Apakah Anda ingin dibelikan makan siang?"


Mendengar pertanyaan Nikolai, Gio yang masih berada di sana langsung tertawa terbahak-bahak. Aaric langsung memberikan tatapan paling mematikannya hingga akhirnya, setelah tawanya mereda, barulah Gio memberitahukan alasannya.


"Aaric, my man. Kau pasti berpesan pada Nikolai untuk menjemput kedua jagoan ini siang ini kan?" tanya Gio yang disambut anggukan dari Aaric lalu dia melanjutkan," Ini sudah jam setengah dua belas, sudah siang, dan kau masih bertanya kenapa mereka bisa sampai ke sini dengan cepat."


Menyadari hal itu membuat semburat merah menghiasi wajah Aaric namun dapat ditutupi pria itu dengan cepat. Dia kembali menoleh ke dua jagoannya dan bertanya pada mereka apa yang mau mereka makan.


"Spaghetti," teriak Abel, si kembar sulung.


"Pizza," teriak Damien, si kembar bungsu.


Aaric tersenyum mendengar antusiasme mereka lalu bangkit dari posisi jongkoknya ke arah Nikolai. Si kembar langsung berlari menghambur ke arah Gio yang disambut Gio dengan menggelitik merek secara bersamaan.


"Niko, tolong belikan dua porsi spaghetti, dua porsi pizza, dua susu kocok vanilla dan tiga iced latte," titah Aaric lalu mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya pada Nikolai yang dijawab dengan anggukan dari pengawal tersebut.


Setelah Nikolai pergi, Aaric menoleh ke Gio dan melanjutkan tatapan mematikannya.


"Kau tidak seharusnya menertawakanku, Gio. Kau membuatku malu di depan pengawalku sendiri," ucap Aaric dengan suara berat.


"Maaf, Aaric. Habisnya kau sendiri tidak melihat waktu saat bertanya pada si kembar," jawab Gio sambil masih menahan tawa.


"Aku ini orang sibuk. Wajar saja kalau terkadang aku bisa lupa waktu."


"Sibuk apanya. Kerjamu hanya duduk melamun saja sepanjang hari di kursi kebesaranmu."


Aaric hanya terdiam saat Gio membeberkan kenyataan di depan wajahnya. Aaric sendiri memang lebih sering melamun karena masih belum melupakan sosok masa lalu, Felicia, yang meninggalkan dirinya begitu saja tanpa alasan apapun, menghilang seolah ditelan bumi.


...*****...


Di sisi lalin, Nikolai tersenyum saat menutup pintu ruangan Aaric, majikannya, setelah mendapat titah membeli makanan dan minuman. Senyuman itu tertangkap oleh mata seorang wanita yang berada tak jauh dari sana, membuat wanita yang telah lama tertarik pada sang pengawal terpesona dengan senyuman itu.


Saat Nikolai membalikkan badan, matanya bertemu dengan mata sang wanita itu, yang masih menatapnya tak percaya. Pria itu segera memasang wajah datar dan memalingkan wajah lalu melangkah meninggalkan area itu.


"Senyumanmu manis sekali, Nikolai. Sayang sekali senyuman itu rasanya tak akan pernah jadi milikku," gumam wanita itu setelah bayangan Nikolai menghilang ditelan pintu lift.


Tiba-tiba teleponnya berbunyi membuyarkan lamunan wanita itu dan dengan cekatan menjawab panggilan tersebut.


"Selamat siang, Pak," sapa wanita itu pada orang di seberang telepon.


"Savannah, kemari sebentar dan bawa jadwal saya," ucap orang di seberang telepon.


"Baik pak," jawab wanita itu lalu mematikan sambungan telepon lalu mempersiapkan yang diminta. Tak berapa lama, wanita yang dipanggil Savannah, yang adalah asisten pribadi Aaric melangkah menuju ruangan atasannya setelah mempersiapkan apa yang diminta oleh pria itu.


...*****...


Pintu diketuk pelan oleh Savannah dan izin masuk diberikan oleh orang yang menyahut dari balik pintu ruangan. Wanita itu mendorong pelan pintu ruangan tersebut lalu melangkah masuk diiringi suara dari sepatu hak yang dikenakannya lalu berhenti di hadapan Aaric.


"Savannah, apakah ada hal penting yang harus saya lakukan hari ini?" tanya Aaric.


Savannah membuka tablet yang merupakan aset perusahaan yang diberikan Aaric untuk memudahkan pekerjaannya lalu sibuk mengutak-atiknya. Setelah selesai mengutak-atik tablet tersebut dan mendapatkan apa yang diinginkannya, dia membacakan keseluruhan jadwal Aaric di hari itu.


"Anda memiliki janji makan siang dengan pemilik Walter Group jam satu siang," ucap Savannah.


"Undur ke besok siang," jawab Aaric tegas.


Savannah memberikan catatan tambahan pada jadwal tersebut lalu melanjutkan.


"Anda memiliki rapat tinjauan bisnis dengan manajer hotel Paradis Sur Terre jam tiga sore."


"Baik. Lanjutkan."


"Rapat kerjasama dengan pemilik hotel Schlafen jam empat sore."


"Undur ke jam tujuh malam sekaligus atur makan malam dengan orang itu."


"Jam tujuh malam Anda memiliki janji dengan salah satu pemegang saham Paradis Sur Terre."


"Undur ke besok. Aturkan rapat sekaligus makan malam dengan pemilik hotel Schlafen hari ini jam tujuh malam."


"Baik pak."


"Ada lagi jadwal jadwal saya hari ini?"


"Tidak ada lagi pak. Hanya itu saja untuk jadwal hari ini."


"Atur perubahan jadwal dengan para klien dan beritahu saya apakah mereka bisa atau tidak."


"Baik pak. Ada lagi yang dapat saya bantu?"


"Itu saja. Silakan pergi istirahat makan siang dan lanjutkan pekerjaanmu."


Savannah menjawab hanya dengan anggukan lalu memutar badan untuk keluar dari ruangan tersebut saat tiba-tiba sesosok badan tegap menghalanginya, membuat wanita itu mundur selangkah dan akan terjatuh. Namun tangan kokoh yang berasal dari badan tegap tersebut berhasil menangkap tubuh Savannah yang hampir menyentuh lantai dan membuat wajah mereka berhadapan. Pandangan kedua orang itu terkunci satu sama lain. Orang yang mencegah jatuhnya Savannah ternyata adalah Nikolai. Mereka berdua seolah terbuai dalam dunia masing-masing, tidak dapat melepas pandang satu sama lain.


"Ehem. Bisakah kalian memberikan sedikit ruang untuk bos kalian yang jomblo ini?" ucap Gio dengan tawa tertahan.


Ucapan Gio langsung disambut dengan bantal sofa yang mendarat tepat di wajahnya. Nikolai dn Savannah langsung melepaskan diri. Savannah segera pamit keluar ruangan dan Nikolai tetap di sana.


Sesampainya di mejanya sendiri, Savannah menyentuh wajahnya yang terasa panas.


"Ya Tuhan mimpi apa aku bisa bersentuhan dengan pria dingin itu. Duh aku jadi deg-degan begini," gumam Savannah dengan punggung membelakangi pintu ruangan Aaric.


Nikolai yang kebetulan juga sudah keluar dari ruangan sambil memegang Iced Latte yang diberikan Aaric mendengar gumaman wanita yang tadi dipeluknya. Savannah yang tidak menyadari kehadiran pria idamannya itu terus bergumam bahagia dan meloncat-loncat sedikit tanda kegirangan. Nikolai yang melihat kelakuan wanita itu hanya mengulas senyum geli lalu melangkah pergi.


Bersambung...