
Seorang pria tampan yang memakai jas hitam dan kacamata hitam keluar sebuah mobil Porsche keluaran terbaru. Dia berjalan memasuki sebuah gedung perkantoran elit dengan langkah yang pasti. Saat melewati resepsionis gedung, dia disapa oleh seorang pria dan wanita muda di balik meja resepsionis tersebut.
"Selamat pagi, Pak Aaric," sapa si pria dan wanita bersamaan.
Pria yang disapa Aaric sama sekali tidak menoleh dan terus berjalan melewati gerbang kecil yang aksesnya telah dibukakan oleh pengawal kepercayaannya. Terlihat arogan dan menyebalkan namun itulah Aaric Laurent, anak konglomerat serta pewaris tunggal aset keluarga Laurent. Kedua orang tuanya meninggal di usia Aaric yang menginjak dua puluh empat tahun, dimana dia baru saja lulus kuliah. Untungnya semasa kuliah dia sering membantu sang ayah mengelola semua perusahaan dan aset yang dimilikinya sehingga saat kedua orang tuanya meninggal tanpa diketahui penyebab jelasnya, dia dapat mengambil alih dengan mudahnya.
Pengawal kepercayaannya membuka akses lift pribadi yang akan membawa pria itu langaung menuju kantornya yang berada di lantai paling tinggi, dua puluh lima. Sang pengawal kepercayaan menahan pintu lift agar Aaric dapat masuk lalu dia menyusul kemudian. Lift itu langsung meluncur ke lantai dua puluh lima tanpa berhenti di lantai manapun lagi.
"Nikolai, siang nanti jangan lupa menjemput Abel dan Damien," titah Aaric saat berada dalam lift.
"Baik," ucap si pengawal dengan suara tegas tanpa menoleh pada tuannya.
Setelah lift sampai di lantai dua puluh lima, Aaric segera keluar dan duduk di kursi yang menjadi tahtanya delapan tahun belakangan ini lalu melepaskan kacamata hitamnya. Di belakang kursinya berdiri kokoh jendela-jendela kaca tanpa celah sehingga kapanpun dia merasa jenuh, dia dapat memandangi hamparan bangunan serta kelap-kelip lampu kota di malam hari. Baru saja Aaric mendudukkan bokongnya, pintu ruangan terbuka tanpa terdengar ketukan apapun dan masuklah seorang pria yang tidak kalah tampan dari pria itu.
"Aaric, my man. Kapan kau sampai?" tanya pria itu tanpa rasa bersalah lalu mendudukkan bokongnya di sofa ruangan tersebut.
"Tidak bisakah kau mengetuk terlebih dahulu?" tanya Aaric dengan nada dingin dan menusuk.
"Maaf man. Sudah sebulan aku tak melihatmu jadi aku rindu ingin langsung bertemu," jawab si pria dengan dengan suara genit yang dibuat-buat di kalimat terakhirnya.
Aaric segera mengambil pulpen yang ada di mejanya lalu melemparkannya ke arah pria itu sambil menahan tawa. Pria itu dengan sigap menangkap lemparan dari Aaric lalu mereka berpandangan sejenak dan kemudian tertawa terbahak di waktu yang bersamaan.
"Dasar manusia tak berakhlak," ucap Aaric di sela-sela tawanya.
"Tapi manusia tak berakhlak ini adalah sahabat terbaikmu kan?" ucap pria itu tanpa rasa malu.
"Memang kuakui kau adalah sahabat terbaik dan paling setia, Bellagio. Bagaimana bulan madumu dengan Sophia? Kau meminta cuti sebulan untuk bulan madu bukan?"
"Sudah kukatakan panggil aku Gio. Aku tak suka dengan nama panjang dan ribet seperti itu."
Aaric hanya tertawa mendengar sanggahan Gio dan pria itu melanjutkan kata-katanya.
"Well, aku dan Sophia merasakan bulan madu terindah. Dan kau tahu kalau kami menghabiskan kebanyakan bulan madu kami di kamar dan memadu kasih? Sepulangnya dari Prancis, Sophia langsung hamil. Tokcer kan?" ucap Gio sambil menyeringai memperlihatkan gigi putihnya yang rapi.
"Baguslah kalau begitu," ucap Aaric acuh.
"Kau tidak berencana untuk menikah?" tanya Gio serius.
"Kebanyakan wanita yang kutemui hanya ingin hartaku. Aku jadi malas meladeni mereka. Mereka hanya ingin jadi Nyonya Laurent tanpa mengemban tanggung jawab mereka, terutama dalam mengurus kedua anakku, Abellard dan Damien."
"Keponakan sih tepatnya."
"Iya sih."
Kedua pria tampan terdiam sejenak dan ingatan Aaric terbang ke masa dimana adik kandungnya berulah hingga membuahkan Abellard dan Damien, kedua keponakan yang diasuh layaknya anak sendiri, tepatnya setahun setelah kepergian kedua orang tua mereka.
Flashback on...
"Aaric, ada yang ingin kubicarakan denganmu," ucap seorang wanita dengan suara gemetar.
"Ada apa, Maria?" tanya Aaric bingung.
"Aku...aku..." Maria tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
Aaric merengkuh tubuh Maria, adik kandungnya, yang sudah bergetar menahan tangis.
"Ada apa? Coba ceritakan padaku," ucap Aaric sambil mengusap lembut rambut halus Maria.
"Aku hamil," ucap Maria sambil sesegukan.
Tubuh Aaric langsung menegang dan rahangnya mengeras saat mendengar kalimat itu meluncur dari bibir adik yang selalu dijaga olehnya pasca meninggalnya orang tua mereka.
"Apa katamu? Siapa pelakunya?" tanya Aaric dengan suara berat menahan amarah.
"Aku tidak tahu nama orang itu. Aku hanya mengetahui wajahnya," jawab Maria masih sambil menangis.
"Ceritakan semua padaku."
"Sebulan yang lalu, Anna mengajakku ke pesta ulang tahunnya di sebuah klub elit. Saat itu yang hadir hanya aku, Anna dan beberapa teman wanita Anna yang lain. Kami pesta hingga mabuk lalu bermain Truth or Dare. Singkat cerita, saat giliranku mendapatkan tantangan, mereka memberikan tantangan untuk mencari seorang pria dan berciuman panas dengannya di depan mereka. Aku menemukan pria tersebut dan melakukan seperti yang mereka minta, namun ternyata pria itu memiliki niat lain. Dia meminta izin dari Anna dan lainnya untuk membawaku pulang. Bukannya pulang, pria itu membawaku ke hotel di dekat klub itu. Aku tidak tahu akan dibawa ke hotel karena sebelumnya kami sedang berbincang di depan sebuah minimarket sambil minum air mineral. Setelah minum air mineral itu, badanku terasa panas dan bergairah. Lalu pria itu membawaku ke hotel dan aku menuruti gejolak nafsuku dan tidur dengannya. Aku kira aku tidak akan hamil karena sebelumnya aku rutin mengkonsumsi kontrasepsi, namun aku juga melupakan bahwa seminggu sebelumnya aku sempat berhenti mengkonsumsinya karena tidak enak badan. Baru tiga hari yang lalu aku sadar bahwa aku hamil. Maafkan aku telah mengecewakanmu, Aaric."
Aaric hanya bisa mengepalkan tangan menahan emosi dan memaafkan adiknya kala itu sampai sembilan bulan kemudian, Maria melahirkan anak kembar tanpa ayah. Seminggu setelah kelahiran si kembar, Maria meninggal karena kondisi tubuhnya yang melemah pasca melahirkan sehingga si kembar diasuh oleh Aaric hingga saat ini.
Flashback off...
Mengingat kejadian saat itu membuat emosi Aaric kembali terpancing. Sebelum Maria meninggal, Aaric sudah berjanji pada adiknya itu untuk mencari pria yang telah memanfaatkannya. Lamunan Aaric tiba-tiba terputus saat pintu ruangan kembali terbuka dan dua suara nyaring memenuhi ruangan.
"DAD," pekik dua anak lelaki berwajah sama yang baru saja memasuki ruangan.
Bersambung...