The Black Scorpion

The Black Scorpion
Ch. 5



"Mereka terlihat bahagia sekali. Suami istri yang saling menyayangi, hingga kedua anak kembar mereka yang lucu-lucu. Oh Tuhan, aku juga ingin keluarga kecil seperti mereka," ucap sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan ke arah ruang tamu sambil menyandarkan kepalanya membelakangi ruang tamu itu.


"Bukankah tidak sopan mengintip kegiatan orang lain?" ucap sebuah suara maskulin mengagetkan pemilik sepasang mata tersebut.


"Ma...maaf. Saya tidak sengaja," ucap pemilik sepasang mata tadi yang ternyata adalah wanita yang ditolong oleh Aaric dkk dengan suara bergetar.


"Siapa namamu?" tanya Aaric sambil bersedekap.


"A...Adrienne. Adrienne Dupont," ucap wanita itu gugup.


"Baik. Apa yang kau lakukan di sini, Adrienne?" tanya Aaric tajam.


"Sa...saya merasa haus dan ingin ke dapur."


Tanpa bertanya atau berkata lebih lanjut, Aaric memegang lengan wanita itu dan menariknya ke dapur.


"Duduk," perintah Aaric sambil menunjuk ke salah satu kursi di konter yang menghadap ke dapur.


Adrienne menurut sedangkan Aaric terlihat sibuk berkutat di dapur, membuka kulkas dan mengambil beberapa bahan. Sekitar lima belas menit kemudian, sepiring mie instan kuah dengan telor ceplok di atasnya dan segelas jus jeruk dingin tersaji di meja konter, tepatnya di depan Adrienne.


"Nikmatilah. Kau pasti lapar dan haus," ucap Aaric lembut lalu berlalu mengambil sebotol whiskey favoritnya.


Aaric kembali ke dapur dan mengambil gelas whiskey dan menuangkan sedikit isi botol yang dibawanya. Adrienne sudah mulai menikmati makanan yang disajikan untuknya dengan lahap dan sepuluh menit kemudian isi piring dan gelasnya ludes.


"Kau minum?" tanya Aaric santai sambil bersandar pada wastafel.


Adrienne mengangguk pelan dan Aaric mengambilkan satu lagi gelas whiskey, menuangkan sedikit isi dari botol yang dibawanya lalu menyodorkannya pada wanita itu. Adrienne menyesap sedikit cairan di dalam gelas dan kelegaan terpancar di wajahnya. Melihat itu, Aaric mulai mengorek informasi.


"Apa yang kau lakukan hingga para berandalan itu mengganggumu?" tanya Aaric tanpa basa-basi.


Adrienne menimbang sejenak apakah memberitahukan keadaannya atau tidak dan memutuskan menceritakan semuanya pada pria di hadapannya.


"Saya terjerat hutang," Adrienne berhenti sejenak lalu melanjutkan,"setelah saya melarikan diri dari kerabat saya."


"Kenapa kau melarikan diri dari kerabatmu?"


"Mereka menjual saya sebagai pelunas hutang mereka. Saya kabur dari mereka karena tidak ingin hidup saya terkekang. Saya juga bukan barang yang seenaknya mereka jual sebagai pelunas hutang. Setelah kabur dari mereka, saya tidak sanggup menghidupi sendiri karena tidak ada persiapan sama sekali sehingga saya sendiri berhutang. Saya berniat mencari kerja untuk melunasi hutang-hutang saya namun belum mendapatkannya. Para penagih hutang itu mengatakan ada cara cepat untuk melunasi hutang saya sehingga saya diminta datang ke hotel itu. Ternyata saya dijebak untuk dijual pada hidung belang yang menginginkan seorang pemuas nafsu. Mengetahui itu saya kabur dan tidak sengaja menabrak Anda. Terima kasih telah menolong saya," cerita Adrienne sambil menunduk.


"Hmmm."


Mendengar reaksi Aaric seperti itu, Adrienne menelan ludah dan meremas kuat gelas di hadapannya yang masih berisi. Dia ingin meminta bantuan Aaric namun ragu sampai akhirnya dia memutuskan membuang semua harga dirinya dan meminta bantuan pria itu.


"Tuan, saya mohon bantu saya melunasi hutang-hutang saya dan saya akan bekerja pada Tuan tanpa dibayar untuk melunasi kebaikan Anda pada saya. Saya tidak akan kabur sebelum saya melunasinya," pinta Adrienne dengan mata memohonnya.


"Jadi kau bersedia melakukan apa saja?" tanya Aaric yang disambut anggukan oleh wanita itu.


"Bahkan menjadi penghangat ranjangku tiap malam?" tanya Aaric lagi.


Kali ini pertanyaan Aaric tidak mendapatkan jawaban dalam bentuk apapun dari Adrienne. Wanita itu malah menatap Aaric benci dan jijik sambil meremas kuat gelas yang dari tadi isinya hanya disesap sekali olehnya. Aaric menyadari perubahan sikap wanita itu lalu tersenyum.


"Saya hanya bercanda. Kita lihat apa yang bisa kau lakukan untukku besok," ucap Aaric lalu menghabiskan minumannya dan meletakkannya gelasnya di atas meja konter sambil berlalu dari hadapan Adrienne.


"Anda sudah punya istri yang cantik dan anak-anak yang lucu. Kenapa masih menginginkan penghangat ranjang?" tanya Adrienne tanpa menoleh pada Aaric yang ada di belakangnya.


Aaric berhenti sejenak dan tertegun mendengar perkataan Adrienne lalu tertawa terbahak-bahak. Dia menoleh ke arah Adrienne tanpa bergerak dari tempatnya.


"Istri dan anak? Darimana kau mendapatkan pemikiran seperti itu?" tanya Aaric.


"Istri Anda sangat cantik dan kedua anak kembar Anda juga sangat lucu," ucap Adrienne salah tingkah.


Aaric berjalan mendekatinya dan Adrienne mendengar jelas langkah kaki yang mendekati tempatnya duduk. Pria itu mencengkram lengan Adrienne dan membalikkan tubuh wanita itu agar menghadapnya.


"Bukankah tidak sopan berbicara tanpa memandang lawan bicaramu?" tanya Aaric dengan kilatan mata jenaka.


Perlahan Adrienne mendongakkan kepalanya dan matanya bertemu dengan mata Aaric yang teduh. Mereka bertatapan sejenak dan Aaric dapat melihat keindahan di depannya. Seorang wanita berambut panjang dengan mata yang jernih dan bibir tipis yang seksi. Ingin rasanya Aaric ******* habis bibir tipis nan seksi di hadapannya itu namun ditahannya.


"Kau terlalu mudah berasumsi, Nona Adrienne Dupont. Savannah itu adalah adik tiriku sedangkan Abellard dan Damien, kedua anak kembar itu adalah keponakanku, anak dari mendiang adik kandungku," jelas Aaric tanpa diminta.


"Tapi...Dad?" tanya Adrienne tidak mengerti.


Aaric melepaskan cengkeramannya lalu membalikkan tubuhnya membelakangi Adrienne. Gairahnya sedang terpacu melihat Adrienne dan dia ingin meredakan gairah itu sehingga menghindari menatap wanita itu.


"Adikku meninggal setelah melahirkan mereka dan ayah mereka tidak diketahui karena ada pria brengsek yang menghamili adikku tanpa tanggung jawab. Mereka hanya mengenal ibu mereka dari foto dan saya adalah pengganti ayah mereka dan sedari kecil mereka sudah memanggil saya Dad. Saya juga tidak mempermasalahkan hal itu toh mereka saya anggap sebagai anak sendiri. Wanita paruh baya yang kau lihat tadi adalah ibu tiriku dan Savannah adalah anak kandungnya jadi otomatis Savannah adalah adik tiriku walaupun kami tidak punya hubungan darah," jelas Aaric panjang lebar.


"Tidak punya hubungan darah?" tanya Adrienne bingung.


"Ibu tiriku, Annette, adalah pengasuhku dulu. Dia diperkosa dan hamil di luar nikah. Demi menjaga harga diri Annette yang saat itu masih muda, ayahku menikahinya dengan seizin ibuku. Kedua orang tua saya sudah meninggal jadi Annette mengambil alih peran mereka."


"Maaf saya sudah lancang berasumsi," ucap Adrienne sambil menunduk.


"Bereskan bekas makanmu dan istirahatlah," ucap Aaric lalu berlalu meninggalkan Adrienne.


Aaric melangkah sambil merutuki dirinya mengapa segampang itu menceritakan kisah keluarganya pada wanita asing itu. Dia juga tidak mengerti mengapa dia merasa wanita itu bisa dipercaya.


Bersambung...