
Tak butuh waktu lama bagi Aaric untuk bersiap dan dia sudah berdiri di depan Adrienne dengan setelan jas berwarna senada dengan gaun wanita itu. Dia mengajak Adrienne untuk makan malam terlebih dahulu dan sepuluh menit sebelum jam delapan, Aaric sudah memarkirkan mobilnya di pelataran parkir VIP Klub Devil's Wings, klub malam milik sahabatnya, Baldovino.
"Anne, ingat jangan terlalu akrab dengan pria manapun di klub ini dan jangan jauh-jauh dari saya. Saya yang membawamu ke sini dan saya harus bertanggung jawab atas dirimu. Jika ada hal yang mencurigakan, kau bisa mencari mencari saya. Mengerti?"
Adrienne hanya mengangguk mendengarkan titah pria itu. Dia juga tidak terlalu bodoh untuk mengetahui bahwa klub malam adalah pusat prostitusi dan penjualan obat-obat terlarang. Mereka berjalan berdampingan memasuki klub malam dan langsung menuju private room tempat diadakannya pesta ulang tahun anak bungsu keluarga Sacara.
Mereka berdua disambut dengan sumringah oleh pria yang berulang tahun serta Baldovino dan kekasihnya. Walau dia memiliki klub malam, namun Baldovino bukanlah pria yang suka bermain dengan wanita. Ruangan itu sangat luas dan bahkan ada bar pribadi di sana. Saat Aaric dan Adrienne datang, belum terlalu banyak orang yang datang.
Tak berapa lama, terdengar deheman seseorang melalui pengeras suara yang ternyata adalah kepala keluarga Sacara.
"Selamat malam hadirin semuanya. Terima kasih telah hadir di acara ulang tahun putra bungsu saya, Jeremy Sacara. Hari ini dia berumur dua puluh tahun dan sedang dalam proses belajar mengembangkan bisnis untuk membantu kakaknya, Jimmy. Saya sangat mengharapkan dukungan rekan-rekan bisnis dan teman-teman untuk perkembangan Jeremy. Cheers!" ucap kepala keluarga Sacara.
Semua hadirin mengacungkan sampanye yang mereka pegang tak terkecuali Aaric dan Adrienne. Tidak butuh lama, banyak yang mencari Aaric untuk bisa bekerjasama dengan pria itu sehingga Adrienne merasa kesepian karena tidak ada teman mengobrol. Tanpa dia sadari, ada sepasang mata penuh kebencian yang sedang memandangnya. Wanita itu mengepalkan tangan melihat kedekatan Aaric dan Adrienne.
"Hei, kau ingin bersenang-senang dengan wanita perawan malam ini?" tanya wanita yang ternyata adalah Bellatrix pada teman kencannya.
"Tentu saja babe. Aku ke sini untuk bersenang-senang," ucap pria itu menyeringai.
"Baguslah kalau begitu. Aku punya barang bagus untukmu. Kau lihat wanita yang sendirian di bar itu?"
"Iya. Ada apa dengannya babe?" tanya si pria sambil mengangguk.
"Aku ingin kau menikmati tubuhnya malam ini. Aku sangat membencinya karena sudah merebut pria impianku. Dia masih perawan jadi aku jamin kau akan puas," ucap Bellatrix sambil menyeringai licik.
"Tapi jika dilihat dari kelakuannya, sepertinya dia tidak akan digampang dirayu," ucap pria itu ragu.
"Kau tenang saja. Tunggu kode dariku dan masukkan ini ke minumannya," ucap Bellatrix sambil memberikan sebuah bungkusan putih.
Pria itu menerima bungkusan dari Bellatrix dengan seringai mesum dan Bellatrix melangkah menghampiri Adrienne yang sedang berdiri di bar sendirian.
"Hai Anne," sapa Bellatrix sambil menepuk pundak wanita itu.
"Ha....hai Trix," ucap Adrienne gugup.
"Kau datang sendiri?" tanya Bellatrix basa-basi.
"Aku datang dengan Aaric. Dia yang mengajakku," ucap Adrienne jujur.
"Dia tadi sudah bilang bahwa dia akan berbincang dengan beberapa relasi bisnisnya. Tidak masalah denganku karena aku juga tidak terlalu nyaman di acara seperti ini," ucap Adrienne acuh.
"Anne, ayo temani aku ke toilet," ucap Bellatrix tiba-tiba.
Adrienne mengangguk dan saat beranjak dari duduknya, Bellatrix memberi kode pada pria teman kencannya. Pria itu menyeringai lalu menghampiri tempat Adrienne dan Bellatrix tadi berdiri. Dengan sigap dia menuangkan isi bungkusan putih yang diberikan Bellatrix tadi ke dalam sampanye Adrienne. Dia tidak sadar bahwa ada yang melihat apa yang dilakukannya. Isi bungkusan putih yang dituangkan langsung larut dalam sampanye tanpa mengubah warna sampanye itu.
Tak berapa lama, Adrienne dan Bellatrix kembali dari toilet dan berdiri di tempat semula. Sepasang mata yang menangkap gelagat seseorang yang menuangkan sesuatu ke minuman Adrienne terus menatap ke sana untuk meyakinkan dirinya bahwa ada yang tidak beres. Bellatrix memberi kode lagi ke teman kencannya untuk mendekati mereka dan pria itupun mendekat dengan semangat.
"Anne, kenalkan ini temanku, Stanley. Stan, kenalkan ini sepupuku, Anne," ucap Bellatrix memperkenalkan keduanya.
"Stanley, kau bisa memanggilku Stan. Anne, nama yang bagus," ucap Stanley memuji nama Adrienne.
"Stan, aku sepertinya melihat temanku di sana. Bisa kau temani Anne sebentar?" tanya Bellatrix sambil mengedipkan mata.
"Tentu aja. Siapa yang tidak mau menemani wanita anggun dan cantik seperti Anne," ucap Stanley dengan gaya sok tampannya.
Adrienne sebenarnya merasakan firasat buruk saat sepupunya meninggalkan dirinya dengan pria yang baru dikenalkannya namun dia segera menepis semua firasat buruknya dan menemani pria itu mengobrol.
Lima belas menit kemudian, Adrienne merasakan keanehan di tubuhnya. Tubuhnya terasa panas dan kulitnya terasa sensitif. Stanley merasakan perubahan pada wanita di sampingnya. Bulir-bulir halus keringat mulai mengalir di pelipis Adrienne dan diusap lembut olehnya sambil mengipas-ngipas dirinya sendiri. Dia tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya namun Stanley tampak mengetahuinya.
Dia berusaha berdiri lebih dekat dengan Adrienne tanpa menyadari ada sepasang mata yang terus memperhatikan mereka. Merasa ada yang tidak beres, pemilik sepasang mata itu melaporkan apa yang tadi dilihatnya ke pria di sampingnya yang ternyata adalah Baldovino. Baldovino yang mendengar penuturan kekasihnya itu melihat ke arah yang ditunjuk kekasihnya dan segera matanya berkeliaran mencari Aaric, sahabatnya.
"Kau kepanasan, Anne?" tanya Stanley licik.
"Sa...saya baik baik sa...ja," ucap Adrienne terbata-bata.
"Kau sangat cantik dan menawan, Anne," ucap Stanley lagi sambil mengelus kulit lengan Adrienne yang polos.
Bulu kuduk Adrienne meremang dan entah kenapa dia tidak bisa menolak elusan itu bahkan mendambakan lebih. Dia menahan gejolak di tubuhnya sekuat tenaga sehingga membuat tubuhnya bergetar. Melihat tidak adanya penolakan dari Adrienne, Stanley memeluk pinggang wanita itu sehingga menghadapnya dan berbisik di telinganya.
"Aku tahu kau menginginkannya. Kau akan kubuat melayang dan ingin lebih lagi, Nona Anne," bisik Stanley mesum.
Stanley merasakan bongkahan kenyal Adrienne melekat di dadanya dan dia sudah tidak sabar untuk mencicipi tubuh sintal itu. Merasa tidak ada perlawanan, dia memegang dagu Adrienne agar mendongak dan melihat pandangan sayu penuh gairah dari wanita itu. Dia mendekatkan bibirnya ke arah wanita itu dan sebelum sempat mendaratkan bibirnya ke bibir ranum Adrienne, kerah kemeja yang dikenakan Stanley ditarik ke belakang, memisahkan jarak antara dia dan mangsanya.
Bersambung...