
Paginya, saat menuruni tangga, Aaric melihat semuanya sudah berkumpul di ruang makan. Annette dan Savannah sedang menyusun sarapan di atas meja, sedangkan Abellard dan Damien sedang bermain dengan Adrienne, tepatnya Abellard yang sedang bermain dengan Adrienne dan Damien bermain dengan rambut wanita itu.
"Abel, Damien, apa yang kalian lakukan?" ucap Aaric sambil berdiri di belakang Adrienne.
"Dad, aku sedang menata rambut Tante ini," ucap Damien bangga.
Adrienne yang mendengar suara maskulin di belakangnya menoleh dan melihat seorang pria sempurna di hadapannya. Walaupun masih dengan wajah bantal dan rambut acak-acakan khas bangun tidur, ketampanan pria itu tidak luntur sama sekali.
Aaric mendudukkan bokongnya di atas kursi di samping Adrienne, membuat jantung wanita itu melompat sedikit.
"Aduh. Aku kenapa deg-degan ya duduk di samping dia?" tanya Adrienne dalam hati.
Savannah menyodorkan secangkir kopi ke hadapan Aaric dan membuat pria itu seketika segar hanya dengan menghirup aromanya. Tak berapa lama, Nikolai yang sudah rapi bergabung dengan mereka. Savannah terhipnotis sejenak dengan penampilan Nikolai yang dinilainya tidak kalah tampan dengan kakak tirinya, Aaric.
"Boleh saya meminta secangkir kopi, Anna?" tanya Nikolai sambil melambaikan tangan di depan wajah Savannah yang sedang bengong.
Savannah mengerjapkan mata lalu memberikan secangkir kopi pada Nikolai. Tangan mereka berdua bersentuhan saat Savannah memberikan kopi membuat wanita itu refleks menarik tangannya karena kaget. Untungnya keseimbangan Nikolai sangat bagus sehingga cangkir yang diberikan Savannah tidak jatuh dan tidak ada yang menyadari salah tingkah mereka.
Setelah semua sarapan terhidang, mereka makan bersama sambil berbincang.
"Namamu siapa, nak?" tanya Annette lembut.
"A...Adrienne Dupont, Bu," jawab Adrienne gugup.
"Panggil saja Annette. Begini-begini masih muda loh," jawab Annette berusaha berkelakar.
"Ma, sadar. Sudah kepala empat juga," balas Aaric acuh.
"Usia boleh kepala empat tapi penampilan dan jiwa Mama masih kepala dua," ucap Annette bangga diiringi tawa Savannah dan gelengan kepala Aaric.
Kali ini gantian Savannah yang bertanya pada Adrienne karena rasa penasaran yang sulit dibendung.
"Kak Adrienne, kemarin kakak kenapa?" tanya Savannah pelan.
"Panggil saja Anne. Saya...," ucapan Adrienne terpotong.
"Nanti malam saja ceritanya. Intinya aku membantu membayar hutangnya dan sebagai gantinya dia akan bekerja untukku," tukas Aaric memotong omongan Adrienne.
"Ngomong-ngomong Anna. Kenapa kau memanggilnya kakak?" tanya Aaric lagi.
"Karena dia kelihatan sepantaran denganmu," jawab Savannah jujur.
"Kau pikir dia umur berapa?" tanya Aaric lagi.
"Mungkin sekitaran dua puluh tujuh atau delapan mungkin?" ujar Savannah tidak yakin.
"Saya berumur dua puluh delapan," jawab Adrienne membenarkan salah satu tebakan Savannah.
Seperti biasa pagi itu diisi dengan riuh canda tawa dari para orang dewasa dan suara riang anak kecil. Adrienne yang melihat itu hanya bisa tersenyum sendu dan Aaric menyadarinya namun memilih diam.
"Abel. Damien. Kalian sudah siap berangkat ke sekolah?" tanya Aaric setelah semuanya menyelesaikan sarapan.
"Sudah Dad," jawab kedua anak itu bersamaan.
Abellard dan Damien beranjak dari meja makan hendak mengambil tas sekolah dan memakai sepatu. Tanpa sadar, Adrienne mengikuti kedua anak itu dan menyiapkan segala keperluan si kembar hingga memakaikan sepatu. Nikolai sudah lebih dulu ke garasi memanaskan mobil, bersiap untuk rutinitas paginya. Semua yang dilakukan Adrienne tidak luput dari pandangan Aaric dan Savannah.
"Kak, sepertinya kau sudah menemukan pengasuh yang cocok," celetuk Savannah sambil memandangi Adrienne yang memakaikan tas pada si kembar secara bergantian.
Aaric hanya mengangguk mengiyakan dan terbersit ide di otaknya.
"Anne," panggil Aaric.
"Iya tuan?" jawab Adrienne sambil menoleh ke arah suara.
"Jangan panggil tuan. Saya bukan sultan. Panggil saja Aaric atau Rick," ujar Aaric.
"Baik A...Aaric," ucap Adrienne gugup.
"Mulai hari ini, saya mempekerjakan kamu sebagai pengasuh Abellard dan Damien. Setiap pagi kau akan mengantarkan mereka ke sekolah bersama denganku. Setelah itu kau ikut ke kantor dan menjadi pengasuh pribadi saya. Siangnya, kau akan menjemput mereka bersama Nikolai dan bawa ke kantorku. Kau juga akan menjadi guru les bagi mereka dan mengajar mereka sepulang sekolah di kantor saya. Apa kau keberatan?" cecar Aaric tanpa jeda.
"Tidak. Sama sekali tidak. Saya bersedia, A...Aaric," ucap Adrienne dengan wajah yang cerah dan senyum sumringah.
"Baiklah. Kau akan tetap digaji dan hutangmu akan dibayar dengan memotong setengah gajimu setiap bulan. Kau juga akan tinggal di sini bersama kami. Kamarmu akan berada di antara kamar saya dan si kembar," lanjut Aaric.
Adrienne hanya mengangguk lalu Aaric beranjak dari duduknya menuju ke kamar di lantai dua. Tidak berapa lama, Aaric kembali turun dengan penampilan khas ke kantornya, rambut disisir rapi ke belekang dan diberi sedikit pomade, kemeja putih dengan paduan jas dan celana bahan panjang berwarna hitam serta dasi berwarna biru dongker. Adrienne tidak berkedip menatap Aaric yang kelihatan jauh lebih tampan dari penampilan biasanya.
"Awas nanti jatuh cinta," bisik Savannah ke Adrienne sembari lewat di belakangnya.
Mendengar bisikan Savannah menyadarkan lamunan Adrienne dan dia segera mengalihkan pandangannya dan membawa si kembar menuju ke mobil. Nikolai sudah siap dengan mobil favorit Aaric di depan pintu. Saat Adrienne akan membuka pintu penumpang, Savannah terlebih dahulu meraih dan membukanya.
"Kamu duduk di belakang dengan kakakku ya," ucap Savannah sambil mengedipkan mata lalu masuk ke mobil dan duduk manis di kursi penumpang di sebelah Nikolai.
Saat pintu belakang mobil dibuka, si kembar Abel dan Damien langsung naik dan duduk di kursi paling belakang menyisakan barisan kursi tengah yang hanya bisa diisi dua orang karena memang tempat duduknya terpisah untuk masing-masing orang. Adrienne memilih duduk di kursi di belakang kursi Savannah. Tak berapa lama Aaric juga masuk lalu duduk di kursi di belakang Nikolai dan mobil melaju menuju ke sekolah kedua anak kembar tersebut.
Sesampainya di sekolah si kembar yang ternyata adalah sekolah swasta bertaraf internasional, Adrienne turun dari mobil disusul si kembar dan Aaric.
"Tidak perlu ikut. Saya saja yang mengantarkan mereka masuk," ucap Adrienne.
"Saya harus mengenalkanmu terlebih dahulu pada para pengurus sekolah agar mereka semua tahu bahwa selanjutnya kau yang akan mengantar jemput Abel dan Damien. Jika tidak, kau tidak akan diizinkan mendekati mereka seinci pun," ucap Aaric tanpa menoleh dan melanjutkan langkahnya.
Adrienne hanya mengangguk dan mensejajarkan langkahnya dengan Aaric. Abellard menggandeng tangan kanan Aaric dengan tangan kirinya dan tangan kanannya menggandeng saudaranya sedangkan Damien menggandeng tangan kiri Adrienne dengan tangan kanannya dan tangan kirinya digandeng saudaranya. Mereka berempat masuk ke dalam komplek sekolah. Dari kejauhan, mereka terlihat seperti satu keluarga yang lengkap dan bahagia.
Bersambung...