
Tubuh Adrienne agak oleng saat Stanley ditarik ke belakang namun dia masih bisa menahan tubuhnya dengan berpegangan pada meja bar. Nafasnya mulai terengah-engah menahan gejolak yang mulai timbul di dirinya.
"Siapa kau? Mengganggu saja," ucap Stanley sebal sambil merapikan penampilannya.
"Jangan sentuh wanitaku atau kau akan merasakan akibatnya," ucap Aaric dengan tatapan membunuhnya.
Stanley terintimidasi denga tatapan itu dan segera berlalu tanpa berkata apapun. Aaric segera mendekati Adrienne yang tertunduk dengan nafas terengah-engah.
"Kau tidak apa-apa, Anne?" tanya Aaric sambil merengkuh wanita itu ke pelukannya.
Tubuh Adrienne bergetar saat dipeluk oleh Aaric dan dia merasakan gejolak dalam dirinya semakin menggelegak. Tubuhnya panas dan kepalanya pusing.
"Pa...panas," ucap Adrienne lemah.
Aaric memegang kening Adrienne namun wanita itu tidak demam. Adrienne yang sudah tidak dapat menahan gejolak dalam dirinya meraih tengkuk Aaric dan mendorong kepala Aaric ke arahnya. Saat bibirnya menyentuh bibir Aaric, gejolak itu meledak dan dia ******* bibir Aaric tanpa ampun. Mendapat perlakuan seperti itu, Aaric menyadari bahwa wanita di pelukannya sedang mengalammi sesuatu.
Dia melepaskan ciuman panas dari Adrienne lalu menggiring wanita itu pergi dari klub. Dia segera mendudukkan Adrienne di kursi penumpang dan melajukan mobil membelah jalanan malam. Sepanjang perjalanan, telinga Aaric disuguhi nafas terengah-engah dan geliat tubuh Adrienne. Sungguh membuat gairah lelakinya meronta namun berusaha ditahannya. Tanpa sengaja, dia melihat dua tonjolan sebesar kacang polong mencuat dari balik gaun Adrienne membuatnya semakin gila.
"S**t," umpat Aaric sambil memukul setir mobilnya.
Karena tidak mungkin pulang dalam keadaan Adrienne terangsang berat, Aaric membelokkan mobilnya ke hotel berbintang miliknya. Dia memapah Adrienne yang hampir kehilangan kesadarannya karena terus menyentuh dirinya. Tanpa berkata apapun dia langsung menuju kamar pribadinya yang memang selalu kosong. Hanya diisi jika dia membawa wanita untuk ditidurinya.
Sesampainya di kamar, Aaric segera mendudukkan Adrienne di ranjang namun karena lemas, Adrienne malah terbaring dan membuat tonjolan di bagian dada Adrienne semakin terlihat.
"S**t," umpat Aaric lagi.
Aaric masuk ke kamar mandi dan menyalakan keran di bathtub. Setelah air di bathtub terisi setengah, dia kembali ke kamar dan menggendong Adrienne ala bridal style ke kamar mandi. Sepanjang perjalanan ke kamar mandi, Adrienne terus memaksa bibir Aaric agar menyentuh bibirnya. Karena sedang fokus dengan Adrienne di gendongannya, dia membiarkan wanita itu menciumnya dan mereka berciuman panas sampai akhirnya Aaric mendudukkan wanita itu di bathtub.
"Dingin," ringis Adrienne saat tubuhnya dimasukkan ke dalam bathtub yang isinya hanya setengah.
Tanpa mendengar ringisan Adrienne, Aaric menyalakan shower yang ada di atas dan air yang dingin dari shower itu langsung menyiram tubuh Adrienne.
"Dingin," ringis Adrienne.
"Maaf. Ini satu-satunya cara agar tubuhmu dingin dan kau tidak kesakitan lagi. Tahan ya," ucap Aaric lembut sambil mengelus kepala Adrienne.
Adrienne hanya bisa menggigil di bawah guyuran air dingin shower tanpa berkata apapun. Aaric keluar dari kamar mandi lalu duduk di sofa. Dia mengusap kasar wajahnya dengan geram lalu melihat jam di tangannya. Sudah menunjuk ke angka sebelas. Ingin rasanya dia menelepon Nikolai untuk menyelidiki apa yang terjadi di klub itu namun sudah terlalu malam.
Dengan lemah, Aaric melepaskan jam, jas dan melonggarkan dasinya lalu menuju balkon, mengeluarkan sebatang rokok untuk mengalihkan perhatian dan mendinginkan tubuhnya. Dia sadar gairah lelakinya masih belum mereda dan dia perlu meredakannya agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Lima belas menit kemudian, Aaric kembali ke kamar mandi dan melihat Adrienne masih meringkuk kedinginan di bawah shower namun terdengar suara isakan kecil. Aaric mematikan shower lalu berjongkok dan memegang dahu Adrienne agar menghadap dirinya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Aaric lembut.
"Sudahlah tak perlu dipikirkan. Sekarang kau mandi dan pakailah kimono yang tergantung di sana," ucap Aaric menunjuk lemari handuk di sudut kamar mandi.
"Dan mandilah dengan air dingin supaya lebih baik," ucap Aaric lagi sebelum keluar dan menutup pintu.
Klek.
Aaric mendengar suara pintu kamar mandi dikunci sesaat setelah dia keluar dan dia hanya tersenyum.
"Sepertinya dia sudah baik-baik saja," gumam Aaric dalam hati.
Terdengar suara shower lagi dan Aaric kembali duduk di sofa sambil melamun. Tak lama kemudian, Adrienne keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kimono handuk dan rambut yang digelung dengan handuk. Penampilan Adrienne mampu membuat gairah lelakinya yang sudah susah payah diturunkan bangkit lagi namun dihiraukan oleh Aaric. Dia menuju ke kulkas mini dan mengeluarkan sebotol air mineral dingin.
"Minum ini," titah Aaric sambil menyodorkan botol itu yang diterima Adrienne dengan tangan gemetar.
Melihat tangan Adrienne yang gemetar, Aaric tahu perasaan wanita itu bercampur aduk antara kedinginan dan ketakutan. Setelah botol diterima oleh Adrienne, Aaric melangkah ke kamar mandi untuk mendinginkan tubuhnya sendiri. Setelah selesai, dia mengenakan kimono yang sama dengan Adrienne.
Saat keluar, dia bingung tidak mendapatkan Adrienne tidak ada di kamar. Gorden balkon yang bergoyang menandakan pintu balkon terbuka membuat Aaric diserang panik seketikaz
"Apakah wanita itu bunuh diri?" tanya Aaric dalam hati sambil tergesa ke arah balkon.
Sesampainya di balkon, dia menemukan Adrienne sedang berdiri sambil memegang botol air mineral yang tinggal setengah. Rambut panjangnya yang basah menari-nari tertiup angin malam yang lumayan kencang karena mereka di bagian paling atas gedung. Dibiarkannya wanita itu menyendiri lalu menelepon binatu hotel agar mencuci baju mereka. Setelah selesai dengan kegiatannya, Aaric kembali ke balkon dan berdiri di samping Adrienne.
"Maaf," ucap wanita itu lirih.
"Tidak apa-apa. Yang penting sekarang kau baik-baik saja dan tidak terjadi apapun," ucap Aaric datar.
"Saya ingat apa yang saya lakukan, hanya saja saya tidak bisa menghentikan tubuh saya sendiri," ucap Adrienne dengan air mata yang mulai mengalir.
Aaric yang tahu Adrienne menangis membalikkan tubuh wanita itu dan mengusap air mata di pipinya.
"Lihat aku," ucap Aaric yang sudah melepaskan segala keformalan yang ada.
Adrienne yang terkejut dengan hilangnya keformalan Aaric mendongak menatap mata pria itu yang entah kenapa terlihat lembut dan teduh malam itu.
"Kau sudah baik-baik saja sekarang. Tidak ada yang terjadi antara kau dengan pria laknat itu maupun denganku. Jadilah wanita yang kuat, Adrienne Dupont. Aku dan si kembar membutuhkanmu," ujar Aaric tulus.
Adrienne tergugu mendengar penuturan Aaric dan air mata kembali mengalir namun kali ini air mata syukur dan bahagia yang jatuh. Aaric menarik wanita itu ke dalam pelukannya sambil mengelus kepalanya.
Bersambung...