The Black Scorpion

The Black Scorpion
Ch. 12



Setengah jam kemudian, mobil Aaric berhenti di sebuah restoran rooftop. Aaric berbincang sebentar dengan pelayan di sana dan pelayan itu mengantarkan mereka berdua ke sebuah meja dengan plakat "RESERVED".


"Apa Aaric sudah memesan meja ini? Tapi kapan?" tanya Adrienne dalam hati.


Pelayan menyodorkan dua menu dan memberikan pada masing-masing mereka. Tanpa melihat menu, Aaric sudah tahu apa yang akan dipesannya. Dia memandangi wanita di hadapannya yang sedang membolak-balik menu dengan wajah bingung.


"Kau mau makan apa?" tanya Aaric setelah Adrienne meletakkan menunya.


"Jujur saya tidak mengerti nama-nama makanannya," jawab Adrienne sambil menunduk.


Aaric lalu memesankan makanan yang sama dengannya didampingi dua gelas wine. Selesai memesan, Aaric mendapati Adrienne sedang mendongak menatap langit yang malam itu bertaburan bintang sambil tersenyum.


"Pa..Ma..Anne rindu," gumam Adrienne tanpa sadar.


Satu bulir bening mengalir di pipi Adrienne dan sebelum dia sempat menghapusnya, sebuah tangan sudah meraih pipinya dan menghapus bulir bening itu.


"Maaf," ucap Adrienne dengan wajah memerah.


"Kau rindu pada kedua orang tuamu?" tanya Aaric.


"Iya. Sudah enam belas tahun berlalu namun terkadang saya masih merindukan mereka," ucap Adrienne sedih.


"Ceritakan tentang kedua orang tuamu," titah Aaric.


Adrienne mulai menceritakan tentang kedua orang tuanya dan semakin bercerita, dia semakin ceria karena semua kenangan tentang orang tuanya adalah kenangan indah. Senyumnya perlahan merekah sambil menceritakan kenangan bahagia bersama orang tuanya dan Aaric sendiri entah kenapa merasa bahagia juga melihat senyuman itu.


Tak berapa lama, pesanan mereka datang dan Adrienne menghentikan ceritanya sejenak lalu melanjutkan lagi sembari makan. Hanya butuh lima belas menit, piring mereka sudah bersih dan dibereskan, menyisakan dia gelas wine. Sepuluh menit kemudian, ponsel Aaric berdering dan dia permisi untuk mengangkatnya. Dia hanya berbicara sebentar lalu kembali ke mejanya.


"Kita pulang," ucap Aaric dengan suara gemetar dan wajah khawatir.


"Ada apa?" tanya Adrienne ikutan khawatir.


"Si kembar demam tinggi dan sekarang di rumah sakit ditemani Anna dan Niko," ucap Aaric sembari membayar makanan mereka.


Wajah Adrienne seketika pucat dan gurat khawatir terlihat jelas di sana. Walau baru bertemu namun Adrienne sudah sangat menyayangi kedua anak itu. Dia mengikuti langkah Aaric dalam diam. Sepanjang perjalanan, Adrienne terus meremas kedua tangannya dan sesekali menyeka air matanya.


Sesampainya di rumah sakit, tanpa menunggu Aaric memarkirkan mobilnya, Adrienne langsung turun dan berlari masuk ke dalam. Kepalanya celingak celinguk mencari keberadaan Savannah. Tak berapa lama dilihatnya wanita itu sedang menuju ke arahnya. Adrienne langsung menghampiri wanita itu.


"Bagaimana keadaan Abellard dan Damien?" cecar Adrienne.


"Mereka sudah ditangani dokter dan keadaan mereka juga sudah stabil," ucap Savannah.


Tanpa menjawab Savannah membawa Adrienne ke ruang rawat si kembar. Ruangan itu diisi dua tempat tidur yang masing-masing berisi Abellard dan Damien. Adrienne mendekati tempat tidur dan berdiri di antara dua tempat tidur itu. Dia mengusap dan mencium kening Abellard dan Damien bertepatan dengan Aaric yang masuk ke ruang rawat. Adrienne langsung menatap Aaric dengan mata berkaca-kaca.


"Syukurlah mereka baik-baik saja," ucap Adrienne lemah.


Sesaat setelah berkata seperti itu, tubuhnya limbung dan beruntung langsung ditangkap oleh Aaric yang sigap. Pria itu membawa Adrienne ke sofa di ruangan itu dan mendudukkan wanita itu di sana.


"Kau baik-baik saja?" tanya Aaric khawatir.


"Saya baik-baik saja. Saya hanya lega mereka baik-baik saja," ucap Adrienne dengan senyum lemah.


"Pulang dan istirahatlah. Saya akan menjaga mereka malam ini," perintah Aaric.


"Tidak. Kalian pulang saja. Saya yang akan menjaga mereka," sergah Adrienne.


"Anna, kau pulang saja bersama Niko. Aku dan Anne akan menjaga kembar malam ini. Kembalilah besok pagi," ucap Aaric pada adiknya.


Savannah mengangguk patuh lalu berlalu dari sana. Aaric merebahkan dirinya di sofa, tepatnya di samping Adrienne.


"Apa yang kau khawatirkan?" tanya Aaric.


"Aku khawatir mereka kenapa-kenapa. Padahal baru bertemu tapi rasanya sayang sekali pada mereka berdua," ucap Adrienne tanpa sadar Aaric sedang mengujinya.


Aaric diam-diam menghembuskan nafas lega setelah mendengar jawaban Adrienne. Dia kira wanita itu hanya mau mengesankan bahwa dia peduli pada si kembar supaya tidak dia pecat. Kedekatan si kembar pada wanita itu, ekspresi khawatir yang spontan dan jawaban dari wanita itu sudah cukup meyakinkan Aaric bahwa si kembar sudah berada di tangan yang tepat.


Saat Aaric menolehkan kepalanya ke arah kiri, dia melihat wanita itu sudah terlelap dengan menopangkan tangan di bantalan sofa sebelah kiri wanita itu sendiri dan kepalanya ditopang denga lipatan tangan itu. Aaric tersenyum sejenak lalu beranjak keluar dari ruangan menuju taman yang dikhususkan orang merokok untuk menemui Nikolai yang sudah dihubungi sebelumnya.


Nikolai sudah duduk manis di bangku taman dengan sebatang rokok di genggamannya. Melihat Aaric datang, dia segera berdiri dari duduknya dan menawarkan rokoknya yang ditolak Aaric. Pria itu mengeluarkan rokoknya sendiri dan Nikolai sigap menyalakan dengan lighter berinisial N yang tak pernah dilepasnya. Setelah satu hembusan asap, Aaric mulai bersuara.


"Kau sudah menyelidiki latar belakang Adrienne Dupont?" tanya Aaric santai.


"Sudah saya selidiki dan tidak ada yang mencurigakan dari Nona Dupont. Dia berasal dari keluarga biasa yang memiliki usaha kecil. Kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan saat dia berumur dua belas tahun dan karena masih di bawah umur, dia diasuh oleh adik kandung ibunya, Ronald Dupont dan istrinya Cecil Dupont. Ronald dan Cecil memiliki seorang anak perempuan bernama Bellatrix Dupont yang lebih muda empat tahun dari Nona Dupont," jelas Nikolai panjang lebar.


"Sudah kau selidiki juga apa yang menyebabkan dia sampai ke tahap ini?" ujar Aaric lagi.


"Orang tua Nona Dupont mewariskan sedikit uang dan usaha mereka. Usaha yang ditinggalkan kedua orang tua Nona Dupont diambil alih dan dikelola oleh Ronald dan Cecil. Usaha yang awalnya stabil mulai merosot dan perlahan menimbulkan hutang. Nona Dupont harusnya mewarisi sedikit uang dan usaha yang sekarang ini di ambang kebangkrutan di usianya yang ke delapan belas, namun warisan itu tidak pernah didapatkannya. Sejak umur lima belas hingga dia lulus kuliah, dia sendiri yang membiayai dirinya sendiri. Ronald dan Cecil tidak begitu mempedulikan Nona Dupont dan lebih memanjakan Bellatrix. Kabar terakhir hanya tentang Nona Dupont melarikan diri di usianya yang ke dua puluh tiga karena tidak ingin dijodohkan. Sejak saat itu sampai sekarang, tidak ada informasi apapun tentang Nona Dupont," jelas Nikolai menutup informasi penyelidikannya.


"Jadi selama lima tahun belakangan ini apa yang terjadi padanya?" gumam Aaric dengan pandangan menerawangnya.


Bersambung...