
"Mommy cantik sekali," ucap Damien kagum.
Abellard hanya mengangguk mengiyakan perkataan saudara kembarnya tanpa bisa berkata-kata. Aaric sendiri terpana dengan penampilan wanita di depannya yang bak bidadari dan itu tanpa dandanan apapun. Setelah terlepas dari lamunan, Aaric berdehem sebentar untuk menghilangkan salah tingkahnya.
"Saya ambil semua," ucap Aaric dan langsung beranjak dari duduknya ke kasir sebelum Adrienne sempat menolak.
Adrienne kembali masuk ke ruang ganti dan mengganti pakaiannya dengan pakaian awal dia datang. Setelah merapikan penampilannya, dia menyusul Aaric dan si kembar ke kasir. Sesampainya di kasir, Aaric yang sudah menyelesaikan pembayarannya menyerahkan satu kantong belanjaan ke Adrienne.
"Ganti pakaianmu dengan ini," ucap Aaric lembut.
Adrienne mengangguk lalu mengambil kantong itu dan melangkah menuju ruang ganti. Di dalam ruang ganti, Adrienne mengeluarkan semua isinya dan terkejut melihat sebotol parfum ada di sana. Dia membuka tutup botol parfum itu dan wangi segar menguar dari sana. Adrienne sangat menyukai wangi dari parfum itu. Dia segera mengganti pakaiannya dengan dress berlengan pendek selutut berwarna putih gading pilihan Aaric serta sepatu teplek berwarna krem dengan pita kecil di atasnya. Tak lupa dia menyemprotkan sedikit parfum yang diberikan pria itu di kedua sisi lehernya.
Adrienne melangkah keluar dari ruang ganti lalu segera menuju Aaric dan si kembar yang sudah menunggunya. Lagi-lagi mereka bertiga terpana dengan wanita di depan mereka yang terlihat sederhana namun sangat menawan. Aaric berjalan mendekati Adrienne dan menempatkan wajahnya di dekat leher wanita itu.
"Wanginya cocok untukmu," ucap Aaric lalu melangkah pergi.
Adrienne tertegun sejenak lalu memeganginya dadanya karena jantungnya sudah meloncat tak keruan. Si kembar yang melihat "mommy" mereka terdiam masing-masing menarik kedua tangan Adrienne dan menyeretnya mengikuti sang daddy yang sudah berada di depan. Mereka berempat singgah untuk makan di sebuah restoran sebelum pulang.
Saat berada di restoran, sesaat setelah mereka memesan makanan, seorang wanita dengan penampilan seksi dan dandanan menor mendekati meja mereka lalu duduk di sebelah Aaric yang kebetulan kosong karena Adrienne memilih duduk bersama si kembar.
"Hai tampan. Sudah lama tidak bertemu," sapa wanita itu genit sambil mencondongkan belahan dadanya ke arah Aaric.
Aaric hanya diam dan tak menggubrisnya dan memfokuskan pandangannya pada si kembar.
"Kau tahu aku sangat merindukanmu, terutama di atas ranjang. Permainanmu sangat luar biasa dan membuatku sangat puas," ucap wanita itu lagi sambil melirik Adrienne.
Si kembar hanya memandangi adegan di depan mereka dan Adrienne yang menyadari situasi buruk itu berusaha mencegah wanita itu berkata lebih vulgar lagi di depan si kembar.
"Maaf, bisakah Anda berbicara lebih halus? Ada anak kecil di sini," ucap Adrienne sopan.
"Siapa kau berani mengaturku?" ucap wanita itu ketus.
"Saya hanya tidak suka Anda berbicara tidak pantas di depan anak kecil," ucap Adrienne tajam.
"Sayang, dia siapa? Aku tidak suka padanya," adu wanita itu pada Aaric sambil menyentuh lengannya.
Aaric tetap diam dan tidak berkata apapun. Dia ingin tahu seberapa handal Adrienne melindungi kembar kesayangannya. Melihat tidak ada tanggapan dari Aaric bukannya membuat wanita itu diam tapi malah semakin menjadi.
"Sayang, kenapa kau bisa bersama wanita murahan ini? Lebih baik kita bersenang-senang di atas ranjang. Aku sangat suka saat kau menyentuh kedua milikku ini," ucap wanita itu sambil menempelkan dadanya ke lengan Aaric.
"Jika Anda lebih terhormat dari saya, seharusnya Anda bisa menjaga bicara di depan anak kecil yang belum boleh mendengar kata-kata yang tidak pantas dan akan mempengaruhi perkembangan mereka. Namun karena Anda tidak bisa menjaga bicara Anda, saya rasa Anda lebih murahan dari saya. Saya sarankan Anda segera pergi dari sini," ucap Adrienne dingin.
"Kau..." ucap wanita itu geram dan mengangkat tangannya akan menampar Adrienne.
Gerakan itu ditahan oleh Aaric dan pria itu menepis tangan si wanita yang hampir menyentuh Adrienne.
Tanpa berkata apapun, wanita itu pergi sambil menghentakkan kakinya dengan kesal.
"Maaf," ucap Adrienne.
"Saya yang harus minta maaf sekaligus berterima kasih," ucap Aaric dengan suara bariton yang lembut.
"Berterima kasih?" tanya Adrienne tak mengerti.
"Terima kasih sudah menjaga Abellard dan Damien dari pengaruh buruk dan maaf karena tidak menghentikannya tadi."
"Saya tahu kau sedang mengujiku kan?"
"Kau tahu darimana?"
"Orang tuaku dulu menguji para pengasuhku seperti itu juga."
Kalimat itu membuat Adrienne teringat kedua orang tuanya dan membuat matanya berkaca-kaca. Dia sangat merindukan kedua orang tuanya. Si kembar bingung melihat Adrienne sedih.
"Mom, apakah Dad membuatmu sedih?" tanya Abellard.
"Atau kami yang membuat Mom sedih?" tanya Damien.
"Ah tidak. Dad sangat baik pada Mom. Mom hanya teringat kedua orang tua Mom," jawab Adrienne sambil mengelus rambut halus kedua anak itu.
"Mom jangan sedih lagi. Kami janji akan jadi anak baik," ucap Abellard sungguh-sungguh diikuti anggukan saudara kembarnya.
"Iya. Mom janji tidak akan sedih lagi," ucap Adrienne sambil tersenyum.
Aaric yang melihat kedekatan Adrienne dengan kedua keponakan kesayangannya hanya tersenyum samar. Dia sudah tahu kedua anak itu sama seperti adik tirinya, Savannah, yang pandai menilai orang. Mereka hanya bisa dekat dengan orang-orang yang mereka nilai tulus pada mereka dan Adrienne adalah orang ketiga di luar keluarganya yang diterima baik oleh si kembar setelah Nikolai dan Sasha. Bahkan kedua sahabat baiknya, Bellagio dan Baldovino, belum mendapat hak istimewa itu.
Tak berapa lama, makanan yang mereka pesan datang dan mereka makan dalam diam. Adrienne sembari makan sembari menyeka mulut si kembar yang belepotan. Mereka bertiga terlihat seperti ibu dan anak. Selesai makan, Aaric menelepon Nikolai untuk datang dan menjemput si kembar pulang. Adrienne menatap Aaric tak mengerti sedangkan pria itu menghiraukan tatapan Adrienne lalu berjongkok di depan si kembar untuk mensejajarkan tinggginya.
"Abel. Damien. Dad masih ada urusan dengan Mom. Kalian pulang dulu dengan Om Niko ya," ucap Aaric lembut sambil mengusap kepala si kembar dengan kedua tangannya.
Si kembar mengangguk dan tak berapa lama Nikolai muncul di hadapan mereka berempat. Abellard dan Damien langsung menggandeng kedua tangan Nikolai bersiap pergi namun ditahan oleh Adrienne.
"Kalian tidak boleh nakal ya. Dengarkan kata Uncle Niko dan Aunty Anna. Kalau tidak nanti Mom akan marah. Oke?" pesan Adrienne pada kedua anak itu.
Si kembar hanya mengangguk lalu pergi dengan Nikolai tanpa lupa melambaikan tangan pada Adrienne, tentunya dibalas juga oleh wanita itu. Setelah Nikolai dan si kembar menghilang, Aaric menggenggam tangan Adrienne dan membawanya ke suatu tempat.
"Kita mau kemana?" tanya Adrienne yang dijawab oleh Aaric tanpa suara.
Bersambung...