
Sepanjang perjalanan, Aaric hanya diam dan Adrienne hanya mengikuti dengan tangannya yang masih digenggam oleh pria itu. Rasa hangat menjalari seluruh tubuh Adrienne karena digenggam oleh Aaric. Akhirnya mereka tiba di tujuan yaitu sebuah bioskop. Bioskop itu lumayan ramai dengan manusia yang lalu lalang.
"Pilih film yang ingin kau tonton," ucap Aaric.
Adrienne bingung memilih film apa yang mau ditonton dan akhirnya pilihan jatuh pada sebuah film romantis dengan unsur komedi. Aaric mengantri untuk membeli tiket tanpa melepaskan genggamannya dan Adrienne tidak mempermasalahkannya. Dia merasa nyaman dan aman dalam genggaman pria itu walaupun detak jantungnya sudah tidak beraturan. Selesai membeli tiket, mereka membeli makanan ringan dan minuman.
Di saat mengantri untuk mengambil makanan dan minuman, mereka bertemu lagi dengan wanita di restoran tadi. Kali ini si wanita sedang bersama seorang lelaki paruh baya. Si wanita itu menatap mereka berdua jengkel dan sengaja memperlihatkan kemesraannya dengan si paruh baya pada mereka berdua. Aaric mengacuhkannya dan Adrienne melakukan hal yang sama walau sebenarnya mereka merasa jengah dengan kelakuan kedua manusia itu.
Bertepatan dengan makanan dan minuman mereka selesai disajikan, pengumuman masuk ke dalam bioskop untuk film yang dipilih Adrienne terdengar. Karena kedua tangan Aaric sedang memegang berondong jagung dan minuman yang menyebabkan dia tidak bisa menggenggam tangan Adrienne, dia menaikkan siku tangan kanannya agar wanita itu bisa menggandengnya. Adrienne paham dengan gestur Aaric dan menggandeng tangan pria itu sambil mereka berdua berjalan melewati kedua insan norak tersebut.
Setelah mendapat tempat duduk, Aaric meletakkan berondong jagung besar yang dibelinya di pangkuan Adrienne. Orang-orang mulai masuk dan mencari tempat duduk masing-masing termasuk pasangan norak itu. Ternyata mereka menonton film yang sama dan sialnya kebetulan sekali tempat duduk mereka berdua berada tepat di belakang tempat duduk Aaric dan Adrienne. Sepuluh menit kemudian, lampu ruangan dimatikan dan layar menampilkan iklan lalu memutar film. Aaric tidak terlalu menyukai film romantis sehingga dia lebih banyak memandangi Adrienne yang terlihat serius menonton dengan pandangan ke depan dan sesekali mencomot berondong jagung di pangkuannya. Karena suasana bioskop yang gelap, Adrienne tidak menyadari bahwa pandangan Aaric tidak berada di layar melainkan dirinya.
Tiga puluh menit awal berjalan dengan baik tanpa ada gangguan apapun hingga pasangan norak tadi mulai berulah. Saat layar berubah terang, si wanita melihat bayangan kepala Aaric yang tertoleh ke samping memandangi Adrienne dan itu membuatnya tidak suka. Dia memancing pria di sampingnya dengan ciuman panas dan meletakkan tangan pria itu di dadanya. Semua itu terlihat dari ekor mata Aaric dan membuat pria itu tanpa sadar memandangi wanita di samping kirinya dari atas ke bawah. Kebetulan Adrienne sedang menopang kaki kanannya ke kaki kirinya sehingga sedikit bagian pahanya terpampang dan membuat Aaric menelan ludah. Dia berusaha mengalihkan pandangannya ke wajah Adrienne namun saat melewati bagian dada wanita itu, pandangan Aaric terhenti sejenak di sana sambil melihat tangannya. Pikirannya menerawang membayangkan dada Adrienne yang ditangkup oleh kedua tangannya dan pikirannya itu membuat gairah lelakinya timbul.
"S**t," umpat Aaric kesal lalu memalingkan wajahnya ke depan.
Saat Aaric memalingkan wajahnya ke depan, wanita norak itu menghentikan aktvitasnya dan menatap kesal pada Adrienne. Dengan sengaja, dia yang duduk di belakang Adrienne menendang kursi wanita itu sehingga Adrienne merasa terganggu. Dia berpura-pura meminta maaf dan itu terjadi beberapa kali sehingga membuat Adrienne kesal lalu membalikkan tubuhnya ke belakang. Dia menatap wanita norak itu dengan tatapan tajam dan kembali ke posisi awal. Aaric terlihat berbisik menanyakan ada masalah apa dan Adrienne menjawabnya dengan bisikan juga.
Setelah mendengarkan penjelasan Adrienne, Aaric memanggil penjaga bioskop dan membisikkan sesuatu pada pria penjaga bioskop itu. Pria penjaga itu mengangguk sambil matanya sesekali melihat pasangan norak itu. Setelah Aaric selesai bercerita, pria penjaga itu pergi namun tak lama kemudian, kembali lagi dan mengajak Aaric pindah. Pria itu menggenggam tangan Adrienne dan mengajaknya pergi sedangkan berondong jagung dan minuman dibawa oleh si pria penjaga. Mereka pindah ke sebelah kanan layar dan ditempatkan di ujung baris ketiga yang langsung bersampingan dengan tembok.
Adrienne menikmati sisa film itu dengan tenang tanpa menyadari pria di sampingnya sudah tertidur. Wanita itu baru menyadari Aaric tertidur saat kepala Aaric bersandar di bahu kirinya. Adrienne sempat tertegun sejenak saat kepala Aaric menyentuh bahunya namun dia diam saja dan membiarkannya.
Satu jam kemudian, film sudah selesai dan lampu bioskop dinyalakan namun Aaric tidak bangun juga. Adrienne menunggu hingga semua orang keluar terlebih dahulu sebelum membangunkan Aaric. Saat si pasangan norak akan keluar, si wanita sempat melirik pria pujaannya yang tertidur di bahu Adrienne dan menatap tajam wanita itu. Adrienne membalasnya dengan tatapan tak kalah dingin dan tajam.
Setelah memastikan semua orang telah keluar, Adrienne membangunkan Aaric dengan mengguncang lengannya. Aaric hanya menggeliat sebentar dan tak disangka malah memeluk pinggangnya sambil bergumam.
"Ummm. Sasha. Sebentar lagi, sayang," gumam Aaric.
Jantung Adrienne langsung berdenyut nyeri mendengar Aaric menyebut nama wanita yang tidak dikenalnya. Dia terdiam sejenak untuk menenangkan diri dan meyakinkan diri untuk tidak berharap lebih jauh.
"Aaric, bangun," ucap Adrienne lembut sambil mengguncang lengan pria itu.
"Sasha?" tanya Aaric bingung.
"Bukan. Saya Adrienne," ucap Adrienne dengan senyum terpaksa.
Setelah jiwanya kembali, Aaric membulatkan mata menyadari kesalahannya.
"Maaf, saya tertidur. Filmnya sudah selesai."
"Sudah. Sejak sepuluh menit yang lalu."
"Ayo pulang."
Adrienne hanya mengangguk dan Aaric kembali menggenggam tangannya lalu melangkah keluar dari bioskop. Walau dadanya terasa sesak mendengar nama wanita lain yang disebut Aaric namun Adrienne enggan melepaskan genggaman itu karena sangat hangat dan nyaman. Di pintu keluar bioskop, Nikolai dan Savannah sudah menunggu. Savannah langsung memeluk manja Adrienne.
"Anne," pekik Savannah senang.
Adrienne yang dipeluk Savannah agak terkejut namun akhirnya membalas memeluk wanita itu. Nikolai memberikan kunci mobil pada Aaric dan meminta Savannah mengikutinya pulang. Adrienne hanya memandang bingung Nikolai dan Savannah yang mulai menjauh.
"Nikolai tidak mengantarkan kita pulang?" tanya Adrienne.
"Tidak. Kita akan ke tempat lain lagi," ucap Aaric datar.
"Kemana?"
Pertanyaan itu dijawab Aaric dengan menggenggam tangan Adrienne dan membawanya pergi dari sana menuju tempat parkir. Sesampainya di tempat parkir, Aaric menekan tombol remote kuncinya untuk mencari mobilnya. Sebuah mobil sport hitam merespon sinyal remote itu. Mereka berdua masuk dan Aaric membelah jalanan malam dengan mobil pribadinya dengan Adrienne yang terdiam di sampingnya.
Bersambung...