
Saat memasuki gedung sekolah, Aaric disambut oleh seorang wanita muda yang kelihatan sekali tertarik pada pria itu.
"Selamat pagi, Pak Aaric. Good morning Abellard and Damien," sapa wanita muda itu.
"Good morning, Miss Bebe," balas Abellard dan Damien berbarengan.
"Dan ini...," ucapan si wanita muda itu menggantung saat melihat Adrienne.
"Dia adalah orang yang mulai sekarang akan mengurus segala keperluan Abel dan Damien. Jika butuh apa-apa atau ada masalah dengan mereka, silakan langsung menghubungi wanita ini. Namanya Anne," ucap Aaric menyamarkan status Adrienne di hadapan Beatrix atau yang akrab disapa Bebe oleh anak-anak di sekolah itu.
"Oh baiklah. Senang berkenalan dengan Anda, Nyonya Laurent," ucap Beatrix dengan lesu sambil menjabat tangan Adrienne.
"Tapi saya...," ucapan Adrienne terputus oleh Aaric yang langsung menyela.
"Abellard, Damien, pamitan dengan Anne," ucap Aaric tegas.
"Bye Mom," ucap si kembar bersamaan lalu melangkah ke dalam sambil digandeng oleh Beatrix.
"Mom?" gumam Adrienne sambil menunjuk diri sendiri.
"Tidak perlu terlalu dipikirkan. Mulai hari ini, kau dikenal sebagai Nyonya Laurent di sekolah ini. Hal ini baik untuk si kembar dan kau bisa mengurus semua tentang si kembar dengan mudah," ujar Aaric sambil melangkah.
"Nyonya? Laurent?" ucap Adrienne sambil mengikuti langkah Aaric.
Aaric menghentikan langkahnya lalu membalikkan badan menghadap Adrienne yang mengikutinya di belakang. Karena dia sedang memikirkan hal yang tadi, Adrienne tidak ikut berhenti dan malah menabrak Aaric yang berada di depannya. Tubuhnya terhuyung ke belakang dan hampir jatuh jika Aaric tidak sigap menahan pinggang wanita itu.
"Perhatikan langkahmu," ucap Aaric setelah Adrienne menyeimbangkan kembali tubuhnya.
"Maaf," ucap Adrienne.
"Kau masih memikirkan soal tadi?" tanya Aaric langsung pada intinya.
Adrienne hanya mengangguk tanpa menjawab sepatah kata pun.
"Kau tadi sudah dipanggil Nyonya Laurent dan aku juga tidak mengoreksi pernyataan itu karena nanti kau yang akan mengurus segala keperluan si kembar. Laurent itu nama keluarga saya dan jika kamu dipanggil Nyonya Laurent, itu artinya kau sudah dianggap sebagai istri saya. Jika nantinya ada hal-hal tentang si kembar yang membutuhkan wali dan saya sedang tidak ada di tempat, kau bisa menggantikan saya menjadi wali mereka. Itu mengapa saya tidak mengoreksi ucapan wanita tadi. Jelas?" ucap Aaric menjelaskan panjang lebar.
"Baik. Saya mengerti."
"Ya sudah ayo jalan. Setengah jam lagi saya ada rapat dan kau akan ikut rapat itu bersama Anna," ucap Aaric melanjutkan langkah lalu masuk ke mobil.
Adrienne mengikuti langkah Aaric dan masuk ke mobil. Mobil melaju diiringi oleh tatapan sendu dari Beatrix yang patah hati karena pujaan hatinya telah menikah.
Sesampainya di kantor, mereka semua langsung melakukan kegiatan masing-masing terkecuali Adrienne. Dia bingung harus melakukan apa dan akhirnya memutuskan membuatkan kopi untuk Savannah dan Aaric. Saat meletakkan kopi untuk Savannah, Nikolai melangkah melewati meja kerja wanita itu.
"Ah Nikolai. Maaf saya lupa membuatkan kopi untuk anda," ucap Adrienne merasa bersalah.
"Tidak apa. Biar saya saja yang membuatkan kopi untuk Niko," ucap Savannah sumringah.
Di saat itu juga Adrienne menyadari bahwa Savannah menaruh hati pada Nikolai. Dia memutuskan untuk diam saja lalu membawa masuk kopi untuk Aaric diikuti oleh Nikolai di belakangnya.
"Aaric, saya buatkan kopi. Silakan," ucap Adrienne.
"Terima kasih," ucap Aaric lembut yang sukses membuat jantung Adrienne berdisko ria.
"Wah parah. Aku tidak dianggap," celetuk satu suara dari arah sofa.
Adrienne segera mengarahkan pandangannya ke sofa dan melihat Bellagio sedang duduk santai dengan beberapa berkas di tangan dan pangkuannya.
"Tidak perlu, Anne. Kau adalah pelayan pribadi saya jadi kau hanya melayani saya dan keluarga saya, tidak termasuk orang lain," ucap Aaric tanpa memalingkan pandangan dari berkas di hadapannya.
"Jadi aku tak dianggap keluarga? Wah tega sekali kau, Rick," ucap Bellagio dengan nada sedih yang dibuat-buat.
"Ck. Terlalu drama. Ya sudah Anne buatkan kopi super pahit untuk manusia satu ini."
Adrienne mengangguk lalu beranjak pergi untuk membuatkan kopi. Bersamaan dengan keluarnya Adrienne dari ruangan, telepon di ruangan berdering.
"Halo. Ada apa, Anna?" tanya Aaric.
"Kak, di bawah ada beberapa orang berpakaian hitam yang ingin bertemu denganmu. Sepertinya mereka orang-orang yang kemarin ingin melukai Anne," ucap Savannah dari seberang telepon.
"Izinkan mereka masuk," ucap Aaric lalu menutup telepon.
"Ada apa?" tanya Bellagio saat melihat perubahan air muka Aaric.
"Manusia-manusia hina kemarin sudah datang," ucap Aaric dingin.
Tepat saat Adrienne masuk dengan secangkir kopi dan meletakkannya di hadapan Bellagio, pintu ruangan terbuka dengan kasar. Adrienne dan Bellagio yang terkejut menoleh ke arah pintu. Wajah Adrienne langsung memucat sedangkan wajah Bellagio berubah datar.
"Wah wah. Ternyata bos besar ya. Beruntung sekali ****** ini mendapatkan pria kaya," ucap salah seorang dari kawanan yang seperti pemimpin mereka sambil memegang dagu Adrienne.
"Jangan sentuh wanitaku dengan tangan kotormu atau aku akan mematahkannya," ucap Aaric dingin.
Pria itu menghempaskan kepala Adrienne dengan kasar sehingga kepala wanita itu tertoleh ke samping. Bulir bening langsung mengalir dari mata indah wanita itu sangking takutnya dia pada pria di hadapannya. Aaric berdiri dan menghampiri Adrienne lalu memegang kedua pipinya serta memeriksa apakah ada luka. Perlahan Aaric menghapus bulir bening yang jatuh ke pipi Adrienne.
"Minta maaf pada wanitaku," ucap Aaric geram.
"Untuk apa? Dia memang ******," ucap pria itu.
Dengan gerakan cepat, Aaric menggenggam salah satu jari si pria itu dan mematahkannya.
Kraaakk.
Terdengar patahan tulang yang membuat siapapun yang mendengarnya ngilu. Pria itu hanya bisa menggeram tertahan agar tidak terlihat lemah di hadapan para anak buahnya.
"Minta maaf," perintah Aaric.
"Maaf," ucap pria itu dan Adrienne mengangguk.
"Baiklah kalau begitu. Sekarang ceritakan mengapa kau menjebak wanitaku di hotel itu," perintah Aaric lagi.
Pria itu menceritakan hal yang sama persis seperti yang Adrienne ceritakan malam sebelumnya dan Aaric mengangguk. Dia melihat pandangan pria itu melirik antara dia dan Adrienne.
"Apa yang kau lihat?" tanya Aaric.
"Tidak ada. Hanya saja dia tidak terlihat memiliki hubungan dengan anda," jawab pria itu.
"Kau tidak percaya dia wanitaku? Baiklah akan kubuktikan."
Aaric memegang belakang kepala Adrienne dan mendorongnya ke arahnya lalu mencium bibir wanita itu. Awalnya Adrienne diam saja tapi melihat pandangan si pria garang itu mengarah padanya, dia membalas ciuman Aaric dan mereka berciuman dengan panas selama beberapa menit hingga Aaric melepaskan tautan bibir mereka.
"Sekarang kau percaya?" tanya Aaric dengan kilatan kemarahan di matanya.
Bersambung...