The Black Scorpion

The Black Scorpion
Ch. 21



"Rick, selain memikirkan masa depan Abellard dan Damien, kau juga harus memikirkan masa depanmu. Mama tidak mau mengecewakan ayah dan ibumu jika kelak bertemu mereka kembali. Kau juga harus memikirkan dirimu sendiri sesekali," ujar Annette dengan nada keibuan.


"Iya Ma. Aaric mengerti. Hanya saja Aaric masih belum sanggup melupakan Sasha," jawab Aaric dengan nada sedih.


"Rick, kau tidak perlu melupakan Sasha. Dia akan selalu ada di sini," ucap Annette sambil menunjuk dadanya lalu melanjutkan, "Kau hanya perlu menyimpannya dalam-dalam dan isi kekosongan hatimu dengan sosok lain yang akan menemanimu di masa depan."


Aaric hanya diam tidak menjawab. Tanpa mereka sadari, sedari tadi Adrienne mendengar pembicaraan mereka dan hanya bisa menghela nafas berat.


"Sasha," gumam Adrienne sambil mematung.


...*****...


Setelah pembicaraan hari itu, Aaric menghabiskan waktunya dengan lebih banyak diam dan melamun, entah apa yang dipikirkannya. Di ruangannya saja dia lebih banyak menghabiskan waktu memandang kota dari jendela kacanya.


Sebuah getaran dari ponsel yang diletakkannya di atas meja kerjanya menyentak lamunannya dan membuatnya memutar kursi kerja yang awalnya menghadap jendela ke meja kerjanya. Dia melihat panggilan video dari kedua sahabatnya. Dia hanya diam tak bergeming sampai panggilan itu hilang dengan sendirinya. Namun panggilan itu kembali datang dan mengusiknya. Mau tidak mau Aaric menjawab panggilan itu dengan menggeser tombol hijau yang langsung terhubung dengan wajah kedua sahabatnya, Bellagio dan Baldovino.


"Ada apa?" jawab Aaric.


"Hey man. Kau sendirian di kantor?" seru Bellagio begitu Aaric menjawab panggilan.


"Apa maumu?" - Aaric


"Ayo kita makan malam bersama wanita-wanita kita. Kurasa kau butuh hiburan." - Bellagio


"Kalian yang punya wanita. Aku tidak punya." - Aaric


"Man, aku punya informasi mengenai malam itu. Kau tak ingin tahu?" - Baldovino


Seketika Aaric meluruskan duduknya dan memandang tajam Baldovino.


"Kau serius?" - Aaric


"Kau pernah melihatku bercanda untuk hal-hal serius?" -Baldovino


Mau tidak mau Aaric harus mengakui bahwa Baldovino jarang sekali bercanda untuk hal-hal serius, tidak seperti Bellagio. Dia menimbang sejenak apakah menerima kedua sahabatnya atau tidak. Setelah berdiam sekian detik, akhirnya dia menjawab.


"Baiklah. Jam berapa nanti malam?" - Aaric


"Jam setengah delapan. Untuk tempatnya nanti kami akan mengirimkan pesan." - Baldovino


"Baiklah kalau begitu." - Aaric


"Jangan lupa bawa serta wanitamu karena aku akan membawa Sophiaku dan Vino akan membawa Clarissanya," - Bellagio


Tanpa menjawab Bellagio, Aaric langsung mematikan panggilan itu. Dilihatnya jam bermerek Tag Heuer yang melingkar di pergelangan tangan kirinya dan jarum jam menunjukkan angka tiga. Masih beberapa jam lagi sebelum waktu makan malam bersama itu tiba.


"Niko, temui aku di lobi sepuluh menit lagi," titah Aaric begitu panggilannya dijawab oleh orang yang sangat dipercayainya.


"Baik," jawab Nikolai singkat.


Panggilan pun terputus dan Aaric bangkit dari tahtanya, membereskan mejanya, mengenakan jasnya lalu berjalan keluar ruangannya. Saat keluar, dia melihat Savannah, adiknya, masih berkutat di depan komputer.


"Anna, bereskan mejamu dan ikut aku pulang," ucap Aaric.


Savannah mendongak dari komputernya dan mengangguk. Secepat kilat dia membereskan semuanya karena dia tahu Aaric, kakaknya, bukan tipe orang yang suka menunggu. Hanya butuh lima menit bagi Savannah membereskan semuanya lalu berjalan berdampingan dengan kakaknya ke lift. Saat mereka sampai di lobi, Nikolai sudah menunggu di depan pintu lobi dengan mobil yang masih menyala. Dia membukakan pintu mempersilakan Aaric masuk lalu menutup pintu dan bersiap meraih pintu penumpang untuk mempersilakan Savannah masuk namun ditahan oleh wanita.


"Kau bekerja untuk kakakku dan aku bukan kakakku, Niko," ucap Savannah sambil tersenyum manis yang membuat Nikolai terpana sejenak.


Sesaat sebelum menjalankan mobil, Aaric meminta Nikolai untuk singgah ke toko ponsel terbesar dan terlengkap di kota itu. Nikolai hanya mengangguk dan mobil pun melaju membelah jalanan sore yang merayap. Setibanya di toko yang dimaksud, Aaric meminta Savannah memilihkan dua ponsel, satu yang dia suka dan satu lagi yang sekiranya cocok dan nyaman dipakai oleh seorang wanita.


Mendengar perintah kakaknya, Anna tersenyum, bukan karena akan dibelikan ponsel baru, namun dia tahu ponsel satunya akan diberikan ke siapa. Setelah memilih untuknya sendiri, dia memilihkan model ponsel edisi terbatas yang mirip dengan milik kakaknya yang memiliki ukiran huruf A di bagian belakangnya.


Kedua ponsel pilihan Savannah dibayar oleh Aaric dan mereka kembali ke Nikolai yang menunggu di tempat parkir sambil menghembuskan asap rokok. Melihat Aaric dan Savannah sudah selesai, dia segera membuang dan menginjak rokoknya untuk mematikan bara yang tersisa. Setelah Aaric dan Savannah masuk ke dalam mobil, Nikolai segera mengambil botol kecil dari kantong celanya dan menyemprotkan isi botol itu ke dirinya untuk menghilang bau menyengat dari rokok yang diisapnya.


Sesampainya di dalam rumah, Aaric melihat Adrienne sedang duduk menonton kartun bersama si kembar di ruang tamu ditemani oleh Annette yang terkantuk-kantuk. Melihat Aaric datang, si kembar langsung menyambut dengan sumringah.


"Dad," pekik si kembar bersamaan.


Annette yang awalnya terkantuk-kantuk ikut terbangun mendengar suara pekikan itu


"Kau sudah pulang," ucap Adrienne sambil mengambil jas dari lengan Aaric dan kantong coklat yang digenggam pria itu lalu meletakkannya di atas kursi sofa.


Adrienne beranjak ke dapur dan Aaric memandangi wanita itu tanpa berkedip walau si kembar sudah menarik-narik kedua tangan Aaric meminta empunya bermain dengan mereka, hingga dia diseret untuk duduk. Tak berapa lama, Adrienne datang membawakan lima cangkir teh yang masih mengepul dan dua cangkir susu hangat. Diletakkannya empat cangkir teh dan dua gelas susu di atas meja sofa lalu beranjak mengantarkan secangkir teh ke tempat Nikolai. Adrienne kembali tak berapa lama dan memilih duduk agak berjauhan dengan Aaric dan si kembar.


Aaric melepaskan salah satu tangannya yang sedang digelayuti si kembar dan meraih kantong coklat di dekatnya. Dia menyerahkan kantong itu pada Adrienne.


"Apa ini?" tanya Adrienne bingung.


"Bukalah dan kau akan tahu," ucap Aaric datar.


Adrienne membuka kantong coklat itu lalu meraih isi di dalamnya yang berbentuk sebuah kotak dan menariknya keluar.


"Ini....." ucap Adrienne dengan suara tercekat.


"Pakailah itu agar aku mudah menghubungimu," ucap Aaric mempertahankan nada datar dalam suaranya padahal jantungnya berdebar kencang.


"Te...teri...ma ka...kasih," ucap Adrienne terbata-bata sambil memandangi kotak ponsel di depannya.


Bersambung...