The Black Scorpion

The Black Scorpion
Ch. 19



"Wanita yang kau maksud adalah Trix, sepupuku," ucap Adrienne tiba-tiba sehingga mengagetkan kedua pria yang sedang berbincang serius itu.


Adrienne sudah rapi dengan kaos dan celana panjang milik Savannah yang dibawakan Nikolai. Rambutnya yang panjang digelung asal ke atas dan anak-anak rambut yang masih pendek terurai berantakan di sekitar telinga dan leher sehingga membuat penampilannya terlihat seksi.



"Dan satu lagi. Aku tidak suka diselidiki. Jika penasaran dengan latar belakangku, cukup bertanya tanpa perlu menyelidiki di belakangku. Lagipula tidak ada yang perlu kusembunyikan karena aku bukan orang yang terlibat dengan kejahatan," tambah Adrienne sambil menatap tajam kedua pria di hadapannya.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan membersihkan diri terlebih dahulu lalu kita akan sarapan bersama dan kau akan menceritakan semua tentang dirimu tanpa ada yang ditutupi," ujar Aaric singkat.


Selesai berkata seperti itu, Aaric mengambil pakaian ganti yang dibawa Nikolai lalu menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Selama Aaric berada di kamar mandi, hanya keheningan yang menggelayuti Adrienne dan Nikolai. Mereka berdua tidak tahu harus mulai berbicara dari mana.


Lima belas menit kemudian, Aaric sudah selesai membersihkan diri dan terlihat segar dengan kaos polos dengan lengan kaos mencapai siku dan celana jeans berwarna senada. Aaric lalu mengajak kedua orang yang terdiam untuk sarapan di restoran yang berada di lantai dasar.


Ting.


Pintu lift terbuka dan mereka bertiga memasuki ruangan lift. Aaric dan Adrienne berdiri di belakang dengan Nikolai berada di depan tengah mereka. Sepanjang perjalanan turun ke lantai dasar, hanya terdengar suara dengungan mesin lift yang sedang berpoperasi membawa mereka turun.


Sesampainya di bawah, kedua pria tampan itu berjalan di depan diikuti Adrienne di belakang. Hatinya masih kesal namun di sisi lain dia juga merasa bersalah karena tidak menyempatkan untuk memberitahu Aaric tentang dirinya, terlebih dia yang sekarang mengurus si kembar. Pastilah ada keraguan Aaric tentang keselamatan si kembar jika berada di tangannya. Wanita itu hanya bisa menghembuskan nafas pasrah.


Mereka bertiga segera mengambil makanan dari jajaran sarapan prasmanan yang disediakan hotel tersebut. Setelah selesai, Aaric memilih tempat di pojok restoran itu. Mereka melahap sarapan mereka dalam diam dan di tengah-tengah acara sarapan itu, Adrienne tahu diri lalu memulai kisahnya.


"Aku anak tunggal dalam keluargaku dan orang tuaku sangat memanjakanku. Aku hidup bahagia selama dua belas tahun," ucap Adrienne lalu menarik nafas sejenak.


Aaric dan Nikolai hanya diam, membiarkan wanita itu melanjutkan ceritanya.


"Hanya setahun?" tanya Aaric tiba-tiba.


"Iya. Kakek dan nenek meninggal karena sakit. Setelah kakek dan nenek meninggal, aku tinggal bersama paman, bibi dan Trix," ucap Adrienne geram.


Aaric menghentikan aktivitas makannya saat mendengar nada marah dalam suara wanita itu sedangkan Nikolai sudah menyelesaikan sarapannya dan sedang menyeruput kopi panas dengan santai seolah tidak ada lagi yang bisa mengejutkannya.


"Mereka adalah iblis yang mengambil wujud manusia. Mereka hanya memberiku makan dan tempat tinggal agar bisa menguasai warisan yang ditinggalkan orang tuaku. Sebagai gantinya, aku harus mengerjakan semua pekerjaan yang seolah tidak ada habisnya. Mereka tidak pernah membiayai sekolahku sehingga aku harus memutar otak untuk bisa bersekolah. Untungnya kakek dan nenek sudah melunasi biaya sekolahku hingga satu tahun dan memberiku tabungan sehingga aku bisa membeli sendiri buku dan perlengkapan sekolah," ucap Adrienne sendu namun berusaha ditahannya.


"Tiga bulan pertama aku masih bisa santai menikmati kehidupan bersekolahku namun di bulan keempat, kekhawatiran itu mulai muncul tanpa diminta. Tabungan yang diberi kakek dan nenek memang masih cukup sampai tahun berikutnya namun tidak ada yang bisa menjamin tahun berikutnya aku masih bisa bersekolah. Di usiaku yang baru empat belas, aku harus mulai bekerja dan menabung seluruh hasil kerjaku agar bisa bersekolah. Berkat kerja kerasku setiap tahun, aku bisa menyekolahkan diriku hingga ke jenjang universitas. Harusnya aku mendapatkan usaha warisan dan uang orang tuaku di usia delapan belas, namun mereka tidak pernah membahas soal hal itu. Setiap kutanya, mereka selalu berdalih bahwa uang itu sudah lama habis dan bahkan memakai uang mereka untuk menghidupiku jadi mereka tidak akan menyerahkan usaha warisan orang tuaku padaku sebagai bentuk pelunasan hutang yang aku timbulkan setelah uang warisan habis. Aku masih ingin memperjuangkan usaha warisan orang tuaku namun perjuanganku harus berhenti di tengah karena aku mendengar pembicaraan mereka."


"Apa yang kau dengar dari pembicaraan mereka?" tanya Aaric yang sudah menyelesaikan sarapannya dan menyeruput kopi.


"Mereka mau menjualku ke sebuah keluarga kaya sebagai pelunasan hutang. Ternyata usaha warisan orang tuaku yang mereka kelola sedang di ambang kebangkrutan saat itu dan mereka meminjam uang dalam jumlah besar pada sebuah usaha yang dimiliki keluarga kaya itu. Karena tidak bisa melunasi hutang yang mereka buat sendiri, mereka berencana menjualku agar hutang dianggap lunas dan kebetulan anak laki-laki dari keluarga kaya itu sedang mencari istri. Saat itulah, aku memutuskan untuk angkat kaki dari rumah itu dan hidup mandiri agar mereka tidak bisa menuntut apapun dariku lagi."


"Apa yang terjadi setelah kau pergi dari rumah itu?" tanya Aaric penasaran.


"Awalnya masih baik-baik saja. Aku masih bisa bekerja dan hidup normal namun tiga bulan setelah kepergianku dari rumah itu, beberapa orang tak dikenal datang silih berganti memintaku ikut dengan mereka, bahkan tak segan menghancurkan tempatku bekerja sehingga mau tidak mau aku harus mencari pekerjaan lain. Namun sepertinya semua sama saja. Berapa kali pun aku berusaha kabur dari mereka, mereka tetap bisa menemukanku sehingga aku harus benar-benar bersembunyi. Aku berhasil bersembunyi selama enam bulan namun karena tidak ada pekerjaan yang artinya tidak ada pemasukan, aku berusaha mencari pekerjaan. Namun ketakutan ditemukan lagi oleh mereka membuatku mencari pekerjaan dimana mereka tidak bisa menemukanku. Aku bekerja sebagai pencuci piring di sebuah restoran kecil di pinggiran kota dengan penghasilan yang tidak seberapa sehingga cenderung tidak cukup. Aku bahkan hampir diusir dari tempat tinggalku karena menunggak uang sewa beberapa bulan. Saat itulah aku terpaksa harus berhutang pada orang-orang yang kalian temui beberapa saat yang lalu. Karena tidak bisa melunasi, aku dikejar oleh mereka dan berujung pada malam naas itu. Untung kalian menolongku dan aku sangat berterima kasih untuk itu," ucap Adrienne dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Paman dan bibimu tidak pernah mencarimu lagi?" pancing Aaric.


Adrienne hanya menggeleng lalu minum es jeruk yang ada di hadapannya untuk menenangkan dirinya sendiri.


Bersambung...