The Black Scorpion

The Black Scorpion
Ch. 15



"Bukannya kau akan melamarku nanti malam? Masa saya pakai sekarang?" goda Adrienne sambil memperlihatkan senyum manisnya.


Tanpa sadar Aaric ikut tersenyum melihat tingkah lucu wanita di sampingnya itu. Adrienne dibuat terpana dengan senyuman yang pertama kali dilihatnya sejak bertemu pria itu.


"Senyummu indah," ucap Adrienne tanpa sadar.


"Lupakan," ujar Aaric dingin berusaha menyembunyikan semburat merah samar di pipinya.


Aaric menjalankan mobil menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, dokter mengatakn bahwa si kembar sudah boleh pulang namun masih harus memperbanyak istirahat dan meminta pihak keluarga mengurus administrasi.


"Biar saya yang mengurus administrasinya. Kau temani saja Savannah dan Annette," ucap Adrienne.


Aaric mengangguk lalu menyerahkan black card miliknya ke wanita itu dan wanita itu keluar mengurs administrasi kepulangan si kembar dengan sumringah. Tak berapa lama, wanita itu sudah kembali dan menyerahkan black card serta tagihan rumah sakit pada Aaric.


Savannah, Annette dan si kembar pulang bersama Nikolai. Awalnya Adrienne ingin ikut bersama si kembar namun Aaric melarangnya dengan berdalih bahwa mobil sudah penuh. Akhirnya Aaric dan Adrienne pulang dengan mobil sport hitam pribadi pria itu. Sesampainya mereka semua, saat akan masuk ke dalam, Nikolai memanggilnya.


"Rick, bisa bicara sebentar?" tanya Nikolai menahan langkah Aaric.


"Kalian masuk terlebih dahulu. Aku dan Niko akan menyusul," ucap Aaric lalu mendekati Nikolai.


"Rick, kau lupa hari ini ada pesta ulang tahun anak bungsu keluarga Sacara?"


Aaric langsung menepuk keningnya. Dia memang melupakannya karena banyak yang terjadi belakangan ini.


"Jam berapa pestanya?" tanya Aaric sambil memijat keningnya.


"Pesta dimulai jam delapan malam, di klub malam milik Vino."


"Reservasi kehadiranku dengan Adrienne," ucap Aaric singkat sambil melihat jam di tangannya.


"Baik," ucap Nikolai lalu berlalu.


Jam di tangannya menunjukkan angka satu, masih ada beberapa jam sebelum pesta anak bungsu dari salah satu rekan bisnisnya. Dia masuk ke rumah dan melihat Adrienne sedang bercengkerama dengan Annette dan Savannah.


"Dimana Abellard dan Damien?" tanya Aaric yang sontak membuat kepala tiga wanita itu menoleh padanya.


"Mereka sudah tidur di kamar," jawab Adrienne.


"Baiklah. Anne, kau ikut saya," titah Aaric lalu kembali keluar rumah.


Adrienne berpamitan pada Annette dan Savannah lalu mengikuti langkah Aaric keluar rumah. Sesampainya di luar, Aaric meminta wanita itu untuk masuk kembali ke mobil sport hitamnya dan tanpa suara melajukan mobil kembali membelah jalanan. Setengah jam kemudian, mereka berdua sudah sampai di sebuah butik yang hanya menjual gaun-gaun pesta.


Setelah mencoba puluhan gaun, pilihan Adrienne jatuh pada sebuah gaun sederhana berwarna hitam dengan robekan samping sepaha.



Dia berharap Aaric juga menyukai gaun pilihannya karena dia sudah lelah mencoba puluhan gaun. Ternyata Aaric juga menyukainya dan langsung membayar di kasir. Dari butik itu, Aaric membawa Adrienne untuk makan siang karena sudah hampir sore dan dia tahu wanita di sebelahnya belum makan dari pagi. Setelah makan, mereka langsung pulang.


Sesampainya di rumah, Aaric pergi menuju mobil yang biasa dipakainya ke kantor dan mengambil satu kantong belanjaan. Dia memberikan kantong itu pada Adrienne dan wanita itu membuka untuk melihat isi kantong. Ternyata kantong itu berisi lima judul buku yang dipilihnya tempo hari saat bersama si kembar di toko buku.


"Aaric, ini..."


"Terimalah. Anggap sebagai ucapan terima kasih karena telah menjaga Abellard dan Damien," ucap Aaric datar.


"Terima kasih," ucap Adrienne sumringah.


Aaric lalu meminta Adrienne untuk istirahat lalu membangunkan dirinya jam tujuh malam karena akan ada acara yang dihadirinya bersama wanita itu. Dia juga berpesan agar wanita itu mengenakan gaun yang barusan dibeli itu. Tanpa banyak bicara, Aaric masuk ke kamar dan merebahkan dirinya di kasur lalu terlelap.


Adrienne sendiri masuk ke kamarnya sambil membawa kantong berisi gaun dan buku yang dibelikan Aaric. Setelah mengunci pintu, Adrienne menari berputar-putar karena terlalu senang. Dia berjanji dalam hati untuk melakukan apapun demi keluarga ini, walau dia bukan bagian dari keluarga ini. Kebaikan Aaric cukup membangkitkan loyalitasnya sebagai salah satu bawahan pria dingin itu.


"Tidak heran Nikolai begitu setia pada Aaric. Ternyata bukan karena takut tapi karena kebaikan pria itu walaupun dia tidak bisa ditebak," ucap Adrienne dalam hati.


Adrienne menghabiskan waktunya dengan membaca salah satu dari lima judul buku yang diberikan Aaric tadi hingga tertidur. Dia terbangun saat sinar jingga merangsek memasuki kamar dan menembus matanya. Perlahan Adrienne menyesuaikan matanya dengan sinar mentari senja lalu melirik jam dinding di kamarnya. Jam menunjuk ke angka enam dan dia segera bersiap-siap mengurus si kembar dan setengah jam kemudian sudah kembali ke kamarnya.


Adrienne mandi dan membersihkan diri hanya dengan waktu lima belas menit. Dia mengenakan gaun berwarna hitam yang dibelikan Aaric untuknya lalu menyemprotkan sedikit parfum yang juga dibelikan Aaric ke tubuhnya. Rambut panjangnya yang sedikit bergelombang dibiarkan tergerai dan dijepit sedikit di kanan kiri dengan menyisakan sedikit anak rambut pendek di setiap sisinya. Wajahnya dipoles dengan dandanan alami dan pewarna bibir dengan warna yang halus.


Tepat jam tujuh malam, Adrienne bergegas melangkah ke kamar Aaric untuk membangunkan pria itu. Dia mengetuk kamar pria itu namun hanya senyap yang menyambutnya. Dia berusaha mengetuk lebih keras lagi namun masih senyap. Dia akhirnya memberanikan diri membuka pintu kamar Aaric yang tidak terkunci dan melihat pria itu masih bergelung nyaman di kasurnya ditemani terang samar dari sinar bulan.


"Aaric, bangun. Sudah jam tujuh," ucap Adrienne sambil berdiri di samping kasur Aaric.


Aaric bergeming dan Adrienne berinisiatif mengguncang halus tubuh pria itu agar dia bangun. Aaric bergerak sedikit lalu tanpa sadar menarik tangan Adrienne sehingga dia jatuh dengan posisi berbaring. Tangan Aaric yang kuat memeluk tubuh kurus itu dan menempatkan kepalanya di ceruk leher Adrienne. Wanita itu hanya terdiam kaku berusaha mencerna apa yang terjadi.


Samar-samar wangi parfum asing yang dipakai Adrienne menyeruak ke indera penciuman Aaric dan membangunkan pria itu perlahan. Wajah Adrienne dari samping menyambut indera penglihatannya dan membuatnya membulatkan matanya.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Aaric dengan suara serak khas bangun tidur.


"Sa...saya ingin membangunkanmu tap...tapi kau menarikku sehingga ki...kita berada di posisi ini," jawab Adrienne gugup.


"Keluarlah dan tunggu di bawah. Saya akan bersiap," ucap Aaric melepaskan tangannya dari tubuh Adrienne.


Bersambung...