
Alicia sedang berada di dalam kamar menyelesaikan study kasus yang dikirim oleh rekannya dari New York. Tadi setelah membantu ibunya memasak iya langsung naik ke kamarnya. Tak lama terdengar ketukan di pintu kamarnya disertai suara lembut sang ibu.
"Sayang, apa kamu sudah siap?" Terdengar suara Clara dari luar kamar.
Alicia turun dari ranjang dan membukakan pintu untuk ibunya.
"Ya ampun Ale, kamu masih belum siap-siap? Keluarga Reihan sudah jalan ke sini loh sayang." Clara langsung heboh saat mendapati anaknya masih belum mandi dan bersiap-siap. Dia masih memakai pakaian yang dikenakannya tadi pagi saat membantu dirinya masak.
Alicia langsung menggaruk tengkuknya dan menatap ibunya dengan tampang polos. "Aku akan segera siap-siap ya mommy sayang."
"Iya sudah, jangan sampai nanti tamunya sudah datang kamu masih belum siap ya."
"Iya, iya mommy." Alicia segera menutup pintu dengan malasnya dan melangkah menuju kamar mandi.
Tidak butuh waktu lama, ia selesai mandi dan memilih dress yang akan ia pakai. Setelah memilah-milah dress di dalam walk in closet, ia memutuskan memakai Laorchid Woman's Lace princess Swing Cocktail Evening Knee Length. Penampilannya dilengkapi dengan Public Desire Tess White Block Heeled Sandals. Rambutnya ia gelung rapi dan memoleskan make up tipis di wajahnya.
Sementara di bawah Adhit sedang menyambut kedatangan tamunya bersama Clara.
"Hai mba." Clara menghampiri Sukma dan menempelkan pipi satu sama lain. Sedangkan para lelaki saling bertukar sapa sekedarnya. "Ayo masuk." Ajak Clara kepada semuanya. Sebagai tuan rumah ia langsung membawa tamunya ke ruang makan.
Di sana sudah ada duo tampan sudah duduk manis dan langsung menyapa tamu orang tuanya. Clara yang belum melihat tanda-tanda putrinya turun langsung menghampiri anak keduanya.
"Bian, tolong kamu panggil kakakmu ya." Bisik Clara di telinga anaknya. Tampa menjawab Bian langsung beranjak untuk menjemput kakaknya.
Bian mengetuk pintu kamar Alicia dan segera masuk saat mendengar sautan dari pemilik kamar. Saat melangkah masuk Bian membeku saat melihat penampilan kakaknya. Kakaknya terlihat sangat cantik dalam balutan dress berwarna merah itu. Apalagi kulitnya yang putih bersih semakin menonjolkan penampilannya menjadi anggun dan anggun. Melihat hal itu, Alicia mengernyit heran.
"Ada apa? Kenapa ekspresi kamu seperti itu? Apa penampilan kakak terlalu berlebihan?" Tanya Alicia seraya melihat penampilannya di cermin.
Bian langsung kembali kepada kenyataan saat mendengar pertanyaan kakaknya. Bian menggeleng seraya tersenyum lebar. "My lovely sister very beautiful." Pujinya dengan kedua jempol mengacung tinggi. "Ayo kita turun kak, pangeran kakak sudah datang." Goda Bian seraya mengulurkan tangannya untuk menggandeng sang kakak.
Akhirnya mereka berdua turun dan membuat semua mata tertuju kepada mereka berdua. Terutama pada gadis cantik yang berjalan berdampingan dengan pria tampan di sampingnya.
Sukma menyikut anak laki-lakinya yang sedang menatap Alicia tampa berkedip. "Kedip sayang, nanti matanya gelinding." Goda Sukma dengan nada rendah yang hanya didengar oleh anaknya. Reihan langsung mengalihkan tatapannya dan terbatuk pelan untuk menetralkan hatinya. Apalagi ibunya baru saja menggodanya membuat wajahnya sedikit panas.
๐ผ๐ผ๐ผ
Suasana makan malam terasa sangat canggung karena ini adalah pertemuan pertama antara Alicia dan Reihan setelah beberapa tahun. Tidak ada pebicaraan selama makan berlangsung, hanya terdengar dentingan sendok yang beradu dengan piring yang memenuhi seisi ruangan.
"Kapan rencananya kamu kembali ke US Alicia?" Tanya Sukma kepada Alicia setelah mereka selesai makan malam.
"Rencananya minggu depan tante, karena cutiku hanya sebentar." Jawab Alicia seadanya. Jujur ia sangat gugup saat ini. Apalagi sepasang mata itu sedang menatap lurus ke arahnya. Setelah itu ia sama sekali tidak mendengarkan apa yang dibicarakan orang tuanya. Sampai pertanyaan yang ditujukan kepadanya sungguh membuat dirinya terlihat kikuk.
"Jadi gimana Alicia? Kamu setuju kan?" Tanya Sukma sambil menatap gadis itu serius.
"Setuju apa tante?" Jujur ia sama sekali tidak menyimak apa yang tadi mereka bicarakan.
"Ya ampun kakakku sayang. Kakak melamun ya, maksud tante Sukma itu apa kakak setuju menikah dengan Mas Reihan?" Rafan sedikit gemas dengan kakaknya yang mendadak lola ini.
"Kenapa sayang? Apa kamu berubah pikiran?"
"Iya, aku setuju."
Semua orang langsung tersenyum mendengar jawaban spontan Alicia. Karena jawaban spontan adalah jawaban paling jujur dari seseorang.
Setelah pembahasan masalah itu selesai, Alicia bersama Reihan berjalan ke taman belakang untuk mengobrol itupun setelah terjadinya drama pemaksaan yang dilakukan kedua ibu mereka.
Langit malam itu dipenuhi bintang, sang rembulan mengintip malu-malu dari balik awan menyaksikan kedua insan yang saat ini sedang dilanda kegugupan.
"Gimana kabar kamu?" Pertanyaan canggunf seperti itu ke luar dari mulut Reihan. Oh come on, ia kan bisa melihat sendiri saat ini keadaan Alicia baik-baik saja. Tapi yang namanya gugup dan belum tau mau obrolin apa. Jadinya hanya pertanyaan standard seperti itu yang berhasil ke luar.
Alicia langsung tersenyum tipis. "Aku baik, Mas sendiri gimana?"
"Seperti yang kamu lihat." Reihan melebarkan tangannya untuk mengisyaratkan bahwa dirinya baik-baik saja. "Sudah lama ya." Ia dan Alicia terakhir bertemu saat penyelamatan itu. Setelahnya, mereka sama sekali tidak bertemu. Sehingga saat mereka dipertemukan kembali melalui perjodohan ini, keduanya harus saling menyesuaikan satu sama lain.
Reihan sendiri sadar, kalau rentang usianya dengan Alicia sangatlah jauh. Tapi entah kenapa, dari dulu dia sama sekali tidak tertarik kepada siapapun. Meskipun banyak wanita yang mendekat, namun tak ada satupun yang jatuh ke matanya. Baru kali ini ia dibuat langsung tertarik dengan gadis yang dijodohkan dengan dirinya saat ini.
"Iyaa, Mas benar." Alicia menunduk sambil tersenyum.
Mereka akhirnya saling bercerita pengalaman masing-masing sampai obrolan mereka terhenti saat ada yang memanggil salah satu di antara mereka. Dia adalah Rafan yang diminta oleh ibunya untuk memanggil sang kakak.
"Kenapa dek?" Alicia mendekati adiknya yang berdiri di teras.
"Kakak dipanggil mommy. Karena keluarga Mas Rei mau pulang." Jawabnya sambil melirik laki-laki yang berjalan menghampiri mereka.
Alicia berbalik dan tidak berharap akan langsung berhadapan dengan Reihan yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakangnya. "Ah!" Teriaknya karena kaget dan reflect melangkah mundur. Melihat hal itu Reihan mengulurkan tangannya menangkap pinggang Alicia karena gadis itu hampir jatuh karena aksinya barusan.
"Hati-hati." Katanya seraya membantu Alicia berdiri tegak. Ia sudah mendengar apa yang dikatakan oleh Rafan dan langsung melangkah pergi membiarkan Alicia yang masih terdiam di tempat.
"Kak!" Seru Rafan saat melihat kakaknya terdiam. "Orangnya sudah pergi." sambungnya setelah Alicia menatapnya.
Tampa mengatakan apapun, Alicia melangkah masuk diikuti Rafan yang terheran-heran melihat tingkah kakaknya.
.
.
.
.
to be continue