Surrogate Husband

Surrogate Husband
Pregnant



Selesai sarapan, Alicia langsung berangkat ke Rumah Sakit. Sementara suaminya sudah lebih dulu pergi ke kantor karena ada meeting.


"Kapan sih Jakarta nggak macet?" Gerutu wanita itu yang terjebak macet karena padatnya aktivitas kendaraan pagi itu.


Setelah berhasil melewati kemacetan dan memasuki parkiran Rumah Sakit, Alicia langsung memarkirkan mobilnya dan segera keluar.


"Selamat pagi dokter." Sapa security yang berada di pintu masuk.


"Pagi pak." Balas wanita itu sambil tersenyum. Ia berjalan sambil melihat tablet yang ada di tangannya. Karena hari ini ia ada jadwal operasi untuk pasien yang mengalami penyakit jantung koroner. Sehingga fokusnya hanya pada tabletnya dan tidak memperhatikan sekitar.


"Selamat pagi dokter Alicia." Sapa seorang pria tampan berperawakan tinggi, kulit putih sambil tersenyum.


"Pagi." Balas Alicia tampa melihat siapa orang yang menyapanya.


"Ekhmm..." Pria itu berdehem, namun wanita itu tetap berjalan tampa menghentikan langkahnya.


"Ale!"


Langkah Alicia berhenti saat mendengar seseorang memanggil namanya. Tapi tunggu, bukannya panggilan ini hanya digunakan oleh kedua sahabatnya dan satu orang pria yang juga sahabatnya dari SMA. Dengan cepat ia berbalik dan matanya langsung membulat saat melihat siapa orang yang memanggilnya.


"ZICO?" Teriak Alicia spontan karena tidak percaya bisa bertemu dengan sahabatnya di sini. "Kenapa kamu di sini?" Karena setaunya Zico tidak bertugas di Rumah Sakit ini.


"Hallo cantik, apa kabar? Kok muka kamu pucet gini? Sakit?" Bukannya menjawab, Zico malah bertanya balik dengan wajah cemas saat melihat wajah sahabat cantiknya terlihat pucat.


"Aku nggak apa-apa, cuma sedikit pusing dan mual aja." Jawab Alicia apa adanya.


Zico menatap sahabatnya penuh selidik sebelum menarik wanita itu menuju ruangan dokter kandungan.


"Hei kenapa menarikku ke sini?" Tanya Alicia dengan tatapan penuh selidik. Walaupun ia memang berencana menemui dokter kandungan. Tapi tidak sepagi ini juga kali.


"Kamu hamil Ale, jadi sebaiknya segera diperiksa buat pastinya." Saat menarik tangan Alicia tadi, Zico sempatkan mengecek nadi sahabat cantiknya. Sehingga ia mengetahui kalau sahabatnya itu sedang berbadan dua.


Alicia menghela napas. "Baiklah, aku akan masuk. Tapi sepertinya dokter kandungan juga belum datang. Sebaiknya... "


"Siapa bilang? Itu dia." Sebelum Alicia bisa menyelesaikan kalimatnya. Zico sudah memotongnya terlebih dahulu sambil mengarahkan dagunya ke arah seorang pria tampan yang baru saja datang.


"Zico? What's up bro. Tumben lo ke sini, ada apa nih?" Ujar pria itu sambil mengarahkan tinjunya sebagai bentuk salaman.


"Gue ada perlu di sini." Akunya, karena memang tujuannya datang ke Rumah Sakit tersebut selain bertemu direktur Rumah Sakit. Pria itu juga ingin menemui sahabatnya itu.


"Kalian saling kenal?" Suara Alicia mengalihkan atensi keduanya. Walaupun satu Rumah Sakit, tapi mereka hanya sekedar tau nama tidak lebih. Sehingga ia cukup kaget saat mengetahui pria itu kenal dengan sahabatnya Zico.


"Eh ada dokter Alicia." Pria itu langsung menyapa Alicia sambil tersenyum ramah.


"Dia sepupu aku Zion." Jelas Zico menjawab pertanyaan Alicia.


"Hah? Serius?" Alicia menatap pria tersebut dan mengingat-ingat tentang pria itu. Karena selama ia bersahabat dengan Zico, ia tidak pernah tau tentang pria ini.


"Kok aku nggak tau ya kamu punya sepupu yang se profesi dengan kita."


"Wajar sih, karena selama ini dia tinggal di Aussie bersama kedua orang tuanya. Pulang ke Indonesia paling cuma waktu libur doang. Itupun cuma sebentar." Alicia menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Bentar-bentar, kalian ada hubungan apa sih? Kayaknya dekat banget." Zion yang memperhatikan isteraksi sepupunya dengan dokter cantik itu langsung penasaran.


Zico langsung tersenyum sambil merangkul pundak Alicia. "She's my best friend."


Zion langsung tersenyum miring. "Jadi ini sahabat yang selalu lo ceritain itu. Pantesan lo sampai menolak buat di jo... " Zico langsung melotot dan membekap mulut pria itu agar tidak mengatakan lebih jauh lagi. Bisa gawat kalau sampai pria ini membongkar rahasianya. Ia tidak mau sampai Alicia menjauhinya kalau sampai wanita itu tau tentang perasaannya.


Zion langsung melepaskan tangan Zico dari mulutnya dan menatap pria itu tajam yang dibalas tak kalah tajam oleh pria itu.


"Oh iya Zion, sebaiknya lo segera masuk dan mulai praktek. Karena udah ads pasien yang mau diperiksa sama dokternya." Ucap Zico mengalihkan pembicaraan.


"Pasien? Siapa?" Alis pria itu terangkat satu sambil celingak-celinguk mencari keberadaan orang yang akan dia periksa.


"Lo cari siapa?"


"Pasiennya lah." Jawabnya kesal. Pertanyaan macam apa ini? Bukannya tadi dia yang mengatakan kalau pasiennya sudah menunggu. Tapi kenapa tidak ada siapapun?


"Akhmmm." Alicia yang jengah melihat kelakuan pria itu langsung berdehem. "Dokter Zion, saya pasiennya."


Zion terkejut dan menatap Alicia serius. Kemudian ia mengangguk dan masuk ke dalam ruangannya.


"Zico, aku masuk ya." Alicia menatap sahabatnya sebentar dan segera masuk mengikuti Zion ke dalam ruangan pria itu.


Zico menatap pintu yang baru saja tertutup dengan senyum tipis. 'Aku harap kamu selalu bahagia Ale. Walaupun bukan aku yang memberikan kebahagiaan itu. Aku akan selalu ada dan akan selalu menjadi sahabat terbaikmu.'


Menatap pintu itu sekali lagi, kemudian pria itu segera pergi untuk menyelesaikan urusannya.


"So... Apa keluhan yang dokter Alicia rasakan?" Tanya pria itu basa-basi setelah wanita itu duduk di hadapannya.


"Kepala pusing dan perut mual layaknya wanita hamil pada umumnya. Tapi saya masih belum yakin aja. Makanya saya datang untuk menemui dokter." Jelasnya panjang lebar. Apalagi tadi Zico tadi juga sudah mengatakan kalau dirinya hamil. Sehingga ia semakin yakin dengan diagnosanya tadi pagi. Kendati demikian, ia tetap harus memeriksakan kondisinya kepada ahlinya bukan?


Zion langsung terkejut saat mendengar penjelasan Alicia. "Dokter sudah menikah?"


Alicia mengangguk sambil menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya. Zion pun langsung termenung dan teringat dengan sepupu yang ia temui tadi.


'Kasian banget sih nasip lo Zico. Cinta bertepuk sebelah tangan, ditinggal nikah lagi.' Ratapnya dalam hati. Ia sungguh kasihan dengan sepupunya itu. Pria itu selalu menolak setiap kali akan dijodohkan dengan alasan sudah ada wanita yang dia cintai. Namun fakta yang baru ia ketahui membuat Zion kagum sekaligus sedih. Kagum dengan ketegaran hati sepupunya dan sedih karena kisah cintanya tidak berakhir bahagia.


"Dokter." Alicia melambaikan tangannya di hadapan Zion. Karena pria itu terlihat melamun.


"Eh iya." Gugup Zion saat melihat tangan Alicia yang bergerak-gerak di depan wajahnya. "Ayo ke ruang periksa." Pria itu berdiri dan melangkah pergi menuju ruangan pemeriksa.


Zion langsung memeriksa Alicia dan melakukan USG. Ia tersenyum saat melihat makhluk kecil sebesar biji bayam yang berada di rahim Alicia.


"Usia kandungan dokter sudah 4 minggu. Tolong di perhatikan makanan yang dokter konsumsi dan jangan terlalu memaksakan diri. Karena tekanan darah dokter sedikit rendah. Sehingga akan cepat merasa lelah." Urai Zion setelah melakukan pemeriksaannya.


"Iyaa, jadwal operasi saya cukup banyak belakangan ini.


"Saya akan memberikan vitamin untuk menguatkan kandungan. Tapi tetap, dokter tidak boleh terlalu memaksakan diri." Peringat Zion di akhir pernyataannya.


Alicia melirik jam di pergelangan tangannya dan menatap Zion. "Thanks dokter, saya pergi dulu. Karena sebentar lagi saya ada jadwal operasi." Berdiri dari duduknya, Alicia melangkah menuju pintu.


"Tetap semangat dokter Alicia. Ingat jangan terlalu di forsir ya."


Alicia yang sudah berada di depan pintu menolehkan kepalanya sambil menatap pria yang baru saja bicara. "Oke." Ucapnya sambil tersenyum tipis, meraih handle pintu dan segera meninggalkan ruangan Zion.


.


.


.


.


to be continue