Surrogate Husband

Surrogate Husband
Menyebalkan



Pagi yang cerah untuk memulai aktivitas dengan penuh semangat. Setelah sarapan dan bersiap-siap. Alicia langsung menghampiri suaminya yang sedang mengenakan dasi di depan kaca.


"Mau aku bantu?" Tanyanya seraya berdiri di depan pria itu.


"Kalau kamu bisa." Jawabnya dengan nada bercanda.


"Wahhh, kamu nantangin aku. Baiklah." Alicia langsung memegang dasi yang sudah berada di leher Reihan. Kemudian mulai memasangkan dasi suaminya dengan serius.


"Apa masih lama?" Tanya Reihan tidak sabaran. Hal itu cukup membuat Alicia kesal setengah mati. Karena waktu yang berlalu baru sekitar 3 menit dan dia sudah bertanya 'apa masih lama?'


"Belum juga 3 menit." Jawabnya dengan nada ketus.


Reihan yang dengan leluasa memperhatikan ekspresi istrinya dari atas hampir tertawa melihat ekspresi kesal istrinya. Karena ia terlihat semakin menggemaskan sekaligus seksi dengan ekspresi seperti itu.


"Selesai." Gumamnya, kemudian segera beranjak dari hadapan Reihan untuk mengambil sepatunya. Saat ke luar dari walk in closet sambil menenteng sepatu. Ia langsung mengambil tas tampa menatap Reihan yang sedang duduk di tepi ranjang.


"Alicia...!" Panggilnya dengan suara dalam.


Alicia yang sudah berada di ambang pintu langsung menghentikan langkah kakinya dan berbalik. "Ada apa?" Nadanya masih terdengar ketus tidak ada kelembutan sama sekali.


Tampa kata, Reihan berdiri dan menghampiri istrinya. Kemudian tangan besarnya dengan cepat melingkar di pinggang ramping Alicia dan membuat tubuh mereka berdua menempel tampa cela.


Alicia yang diperlakukan seperti itu langsung terkejut dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Reihan.


"Berhenti bergerak sebelum kamu aku terkam saat ini juga."


Mendengar ancaman suaminya membuat pergerakan Alicia langsung terhenti. "Baiklah, lepaskan aku. Nanti kita terlambat." Ujar Alicia datar.


"Aku akan melepaskan kamu asalkan kamu berhenti memasang wajah kesal seperti itu."


"Kesal? Siapa yang kesal?" Alicia mengangkat satu alisnya dan tidak mengakui kalau dirinya sedang kesal saat ini.


Reihan menghela napas. "Kamu!"


"Aku?" Alicia menunjuk dirinya sendiri dan merasakan suaminya sama sekali tidak melonggarkan pelukannya.


"Iya kamu. Perhatikan sendiri bagaimana ekspresi kamu saat ini." Reihan memutar tubuh istrinya dan membawanya menghadap cermin tampa melepaskan tangannya dari tubuh Alicia.


Memang benar, ekspresinya saat ini dengan jelas menggambar dia sedang kesal. Alicia langsung berbalik seraya menghela napas kasar. "Iya, aku memang sedang kesal. Aku tidak akan kesal kalau kamu tidak membuat aku ke... " Protesnya terpotong karena Reihan sudah membungkam mulutnya dengan bibirnya.


Cup


"Ayo senyum, aku minta maaf karena sudah membuat kamu kesal."


"Hmmm." Alicia hanya bergumam.


"Kalau kamu tidak mau memaafkanku. Aku tidak akan melepaskanmu." Ancamnya dan semakin mempererat rangkulan tangannya di pinggang sang istri.


'Sungguh menyebalkan!' Gerutu Alicia dalam hati. "Baiklah, aku menyerah. Aku memaafkanmu. Sekarang lepaskan aku."


Reihan segera melepaskan istrinya setelah mencuri satu ciuman lagi dan hampir mendapat pukulan dari istrinya itu.


Setelah drama singkat yang terjadi pagi ini. Reihan segera melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit tempat istrinya bertugas.


Menempuh perjalanan lebih kurang 30 menit, mereka sampai di Rumah Sakit.


"Hubungi aku kalau tugasmu sudah selesai." Ucap Reihan saat Alicia sedang melepaskan seatbelt-nya.


"Iya. Aku turun dulu." Alicia meraih tangan Reihan dan menciumnya. Sementara Reihan segera mencium kening sang istri. "Assalamualaikum." Dia langsung turun dari dalam mobil.


Melihat bayangan istrinya sudah tak terlihat setelah memasuki Rumah Sakit. Reihan segera melajukan mobilnya menuju kantornya.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Bian baru saja selesai kelas pagi dan hendak menuju perpustakaan mencari referensi untuk tugas yang diberikan dosennya. Saat akan menaiki tangga menuju perpustakaan ia melihat seorang mahasiswa tengah berdebat dengan seorang wanita yang ia tidak yakin apakah dia mahasiswi di sini atau tidak.


"Saya sudah minta maaf. Kenapa kamu masih marah-marah? Lagian kamu duluan yang menabrak saya." Ucapnya dalam bahasa inggris, karena ia tidak terlalu menguasai bahasa Indonesia.


"Aku tidak peduli, kamu harus membersihkan bajuku yang kotor karena jatuh barusan."


"Saya tidak mau." Tolaknya tegas.


"Kamu berani menolak perintahku? Kamu tidak tau siapa aku?" Teriaknya marah.


"Memangnya kamu siapa? Palingan juga mahasiswa sombong yang selalu membanggakan fasilitas orang tua."


Bian yang memperhatikan keduanya langsung terkejut dengan jawaban berani wanita itu. Karena yang bertengkar dengan dia saat ini adalah anak Rektor universitas tersebut.


Beberapa mahasiswa mulai mengerumuni mereka dan ada yang sudah menghubungi Rektor tentang pertengkaran anaknya.


"Kamu akan menyesal karena sudah berurusan denganku." Pria itu yang bernama Eros Lintang Arifin langsung mendengus dingin. Karena untuk pertama kalinya ada wanita yang berani melawannya.


"Oh ya? Woww takut." Ejek wanita itu yang tak lain adalah Naomi Kaitlyn Onesimo sahabat Alicia.


Rupanya ia diminta oleh pihak Universitas ke John Hopkins University untuk menggantikan dosen yang tengah cuti melahirkan di fakultas kedokteran. Sebagai dokter spesialis bedah jantung di John Hopkins Hospital ia juga menjadi dosen di John Hopkins University karena kepintarannya. Meskipun begitu, ia lebih banyak menghabiskan waktu di Rumah Sakit dari pada di kampus.


"Kamu..!" Eros hampir memukul Naomi karena sudah emosi dengan wanita itu namun terhenti karena mendengar suara lain.


"Ada apa ini?"


"Ayah, wanita gila ini memarahiku."


Naomi langsung menghadap Halim dengan ekspresi datar. Dibalik sifat konyol dan blak-blakannya. Ia adalah orang yang tegas dan keras kepala saat sedang serius. Malahan ia akan terkesan dingin dengan orang yang tidak ia kenal.


"Oh, jadi dia adalah putra anda Mr Arifin. Pantas saja dia bersikap sombong seperti ini." Ujar Naomi tenang. Sebelum bertengkar dengan Eros. Naomi sudah lebih dulu bertemu dengan Halim di kantornya. Sehingga Halim sudah tau siapa wanita yang sedang bertengkar dengan anaknya saat ini.


"Nona Naomi, tidak dokter Naomi. Maaf atas ketidak nyamanan yang ditimbulkan putra saya."


Semua yang hadir di sana langsung melongo , termasuk Bian melihat Rektor yang biasanya galak kalau sudah ada yang bertengkar dengan anaknya, meminta maaf pada wanita itu.


Alasan Halim langsung meminta maaf kepada Naomi adalah pertama karena ia memang tau betul bagaimana sifat putranya itu. Kedua karena Naomi adalah dosen pengganti yang diminta pihak Universitas kepada John Hopkins University untuk menggantikan dosen yang sedang cuti melahirkan. Kalau sampai menimbulkan masalah, ia tidak mau hubungan kerjasama antara kedua instansi rusak karena masalah tersebut.


"Siapa dia?" Gumam Bian sebelum melangkah menuju perpustakaan.


"Baiklah mr Arifin, tolong ajari anak anda untuk bersikap sopan. Kalau begitu saya permisi." Naomi langsung berlalu setelah memberi hormat kepada Arifin.


Sementara Arifin langsung menarik anaknya meninggalkan kerumunan mahasiswa menuju ke kantornya.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Usai melakukan pemeriksaan terhadap pasiennya. Alicia berencana akan istirahat sekaligus makan siang. Tiba-tiba ponselnya berdering dan muncul nomor yang tidak ada di daftar kontak ponselnya.


"Siapa?" Gumamnya dan hanya mengabaikan panggilan tersebut. Namun sepertinya sang penelpon tidak menyerah dan kembali memebuat ponsel Alicia berdering. Hal itu benar-benar membuat ia kesal. Sehingga saat telphon masuk untuk ketiga kalinya dari nomor yang sama. Ia memutuskan untuk menjawabnya.


"Hallo! Dengan Alicia di sini, dengan siapa saya bicara?" Tanyanya dengan nada ketus.


"Ale.....! I miss you." Terdengar suara nyaring seorang wanita dari seberang sana.


Alicia terdiam sejenak dan berpikir, karena selain ketiga sahabatnya tidak ada yang memanggil dengan panggilan itu. Jadi ini suara.... "Naomi?" Teriaknya spontan. "Kamu di Indonesia?" Tanyanya karena saat ini Naomi menghubunginya dengan nomor Indonesia.


"Iya, kamu dimana Ale?"


"Aku di Rumah Sakit sedang istirahat. Kamu dimana? Kapan datang? Kenapa nggak bilang kalau mau ke sini?"


Naomi langsung terkekeh mendapat rentetan pertanyaan dari sahabatnya. "Aku sekarang ada di Universitas Indonesia dan baru sampai tadi pagi. Pemberitahuannya mendadak banget. Sampai Diana aja tidak aku beritahu kalau sekarang aku berada di Indonesia."


"Okay, mau ketemu? Nanti aku jemput ke sana."


"Mau banget. Siip, nanti kabari ya. Aku juga masih ada kelas sampai sore."


"Okay, byee."


Telphon singkat mereka berakhir. Alicia segera makan siang dan melaksanakan ibadahnya. Selesai dengan kegiatannya, ponselnya kembali berdering dan senyumnya langsung melebar.


"Assalamualaikum. Kamu sudah makan siang?" Terdengar suara maskulin seorang pria saat ia menjawab telphon tersebut.


"Walaikumsalam. Sudah mas, baru saja. Ini aku baru mau mulai kerja lagi."


"Ya sudah, nanti aku jemput."


"Mas Rei...!"


"Apa sayang?"


"Nanti sore aku mau bertemu sahabatku yang baru datang dari US. Apa boleh?"


Reihan terdiam sejenak dan menimbang-nimbang apakah akan memberikan izin atau tidak.


"Mas... Boleh nggak?"


"Iya boleh, tapi hati-hati ya. Jangan pulang terlalu malam."


"Iya mas. Ya sudah, aku kerja dulu ya."


Telphonnya langsung terputus karena ada pasien darurat dan ia diminta untuk bersiap ke ruang operasi.


Reihan yang sedang berada di dalam ruangan kantornya langsung menatap layar ponselnya sambil tersenyum. Seketika ia ingat kalau tadi pagi istrinya berangkat bersama dengannya. Karena Alicia memang belum punya kendaraan di sini.


"Ke ruanganku sekarang!" Perintahnya di telphon kepada seseorang.


Tak lama ruangannya diketuk dan masuk seorang pria jangkung dengan wajah tak kalah tampan dari atasannya. Dia adalah asisten Reihan yang bernama Adrian Marcel.


"Iya pak Rei ada apa?" Tanyanya sopan setelah berada di hadapan Reihan.


"Tolong kamu belikan mobil untuk wanita dan kirim ke Rumah Sakit tempat istriku bekerja. Sekarang!" Serunya memberi perintah.


"Baik pak, saya akan pergi sekarang." Adrian segera pergi dari ruangan Reihan untuk melaksanakan perintah dari atasannya itu.


.


.


.


.


to be continue