Surrogate Husband

Surrogate Husband
Naomi



Setelah menyelesaikan operasi berturut-turut, Alicia langsung menuju ke ruangannya setelah membersihkan tubuhnya. Di tengah koridor menuju ruangannya ia dipanggil oleh manager Rumah Sakit yang berlari ke arahnya.


"Dokter Alicia...! Tunggu sebentar." Teriaknya seraya berlari menghampiri Alicia.


"Ada apa pak?" Tanyanya heran.


"Seseorang menitipkan ini untuk dokter." Dia menyerahkan amplop ke tangan Alicia.


"Apa ini? Dari siapa?" Tanya Alicia seraya membuka isi amlop tersebut.


"Dia tidak menyebutkan nama. Tapi dia seorang pria yang cukup tampan."


"Pria? Apa mas Rei?" Gumamnya dan terus membuka amlop tersebut.


Tak lama sebuah kunci mobil dan memo langsung meluncur saat ia menuangkan isi amplop.


"Itu kunci mobil dokter!" Seru manager itu kaget.


Alicia membaca memo tersebut yang berbunyi 'Bu boss di parkiran sudah ada mobil baru untuk bu boss. Semoga bu boss suka dengan mobil pilihan saya.' Setelah membaca memo ia tau bahwa yang datang tadi adalah Adrian asisten Reihan. Ia sedikit merasa geli dengan panggilan yang diberikan Adrian untuknya. Mungkin saat pulang nanti, ia akan protes pada suaminya.


"Terimakasih pak, saya ke ruangan dulu." Ucap Alicia sopan dan segera beranjak menuju ruangannya.


Selesai berganti pakaian, ia keluar dari ruangannya dan segera menuju parkiran. Di sana ia menekan tombol kunci di mobil dan memperhatikan sekitar. Matanya langsung tertuju pada mobil mewah keluaran terbaru warna merah di ujung parkiran. Tampa pikir panjang Alicia langsung mendekati mobil tersebut.


"Woww, amazing." Ucapnya takjub dan segera masuk ke dalam mobil untuk memeriksa fitur di dalam mobil. Ia semakin dibuat takjub oleh mobil pilihan Adrian.


Memasang seatbelt, ia segera melajukan mobil menuju Universitas Indonesia setelah mengabari Naomi.


"Bagaimana rasanya jadi dosen di sini?" Tanya Alicia setelah mereka sampai di sebuah restoran. Setelah menjemput Naomi, mereka langsung meluncur ke sebuah restoran terkenal di kota itu.


"Not bad. Tapi tadi aku sudah bertengkar dengan anak Rektor." Jawab Naomi acuh tak acuh dan melihat buku menu yang baru saja dibawakan pelayan.


"What? Apa masalahnya?" Alicia menatap Naomi setelah memesan beberapa makanan.


Naomi tersenyum misterius dan menjawab setelah pelayan pergi. "Dia yang cari masalah duluan...."


Naomi menceritakan semua yang ia alami hari ini kepada sahabat tercintanya. "Ohh, jadi begitu ceritanya."


"Hmm, begitulah." Naomi mengernyit jijik saat mengingat ekspresi sombong bocah itu.


Tak lama pesanan mereka datang dan keduanya menyantap makan malam mereka.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Reihan sudah berada di apartment nya dan belum melihat keberadaan istrinya.


"Apa dia belum pulang?" Gumamnya seraya berjalan menuju ke dalam kamar.


Membuka sepatu, jas dan dasinya, Reihan melangkah ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Beberapa menit kemudian, ia selesai mandi dan melirik jam di ponselnya. Dengan handuk yang masih berada di tangannya yang ia gunakan untuk mengeringkan rambut. Pria itu menghubungi nomor istrinya.


Alicia yang masih berada di restoran mendengar ponselnya berdering. Tampa melihat siapa penelpon ia langsung menjawab karena ia sudah tau kalau penelpon adalah suaminya. Sebab ia memang menetapkan nada derinh khusus untuk suaminya.


"Assalamualaikum sayang, kamu dimana?" Terdengar suara berat namun lembut dari pengeras suara di ponselnya.


"Walaikumsalam mas, aku masih di restoran sama Naomi."


"Kenapa belum pulang? Sekarang udah jam 9 loh." Reihan melihat kembali jam di ponselnya sebelum menempelkan kembali ponsel di telinganya.


"Iya, ini aku mau pulang. Mas udah makan?"


"Tadi sih udah sama Adrian di kantor."


"Ya udah, mau aku bawakan makanan?"


"Boleh."


Setelah mengatakan beberapa patah kata lagi, Alicia mengakhiri panggilan telphon.


"Suami kamu ya?" Tanya Naomi yang dari tadi mendengarkan sahabatnya bicara dengan seseorang di telphon.


"Iya."


Naomi terkekeh. "Beginilah kalau pergi dengan istri orang."


Alicia tertawa sambil mengemasi barang-barangnya. "Ya begitulah." Alicia memanggil pelayan dan memesan makanan untuk ia bawa pulang.


Setelah makanan datang, keduanya segera meninggalkan restoran setelah melakukan pembayaran.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Memasuki apartment-nya, Alicia melihat sang suami sudah tertidur di sofa karena menunggu dirinya. Ia melirik jam dinding dan sudah menunjukkan pukul 11 malam.


Wanita itu melangkah ke dapur dan memanaskan makanan yang ia bawakan untuk sang suami. Kemudian, ia kembali ke ruang tamu untuk membangunkan Reihan. Meskipun Reihan tadi mengatakan ia sudah makan. Akan tetapi ia tetap membelikan makanan


"Mas Rei... " Alicia menggoyang pelan tubuh suaminya. Namun Reihan hanya menggeliat dan tidak berniat untuk bangun. Alicia duduk di sebelah Reihan dan mencium pipi suaminya berkali-kali. "Bangun sayang... "


Karena gangguan yang diberikan istrinya barusan, membuat Reihan mau tidak mau membuka matanya dan langsung bertemu dengan mata indah yang sedang menatapnya.


"Iya, tadi aku antarin Naomi dulu ke apartment nya. Makanya baru sampai jam segini." Alicia meraih tangan suaminya dan membantu pria itu duduk. "Mau makan dulu atau lanjut tidur?"


"Kamu beli apa?" Tanya Reihan sambil berjalan ke arah dapur.


"Tadi aku beli tom yam dan beef teriyaki." Alicia mengikuti suaminya dan mengambilkan makanan untuk suaminya.


"Kamu nggak makan?" Reihan menatap istrinya yang duduk di hadapannya.


"Aku udah kenyang dengan hanya melihat suamiku makan." Jawab Alicia sambil tersenyum manis.


Reihan langsung tertawa mendengar gombalan istrinya. Istri kecilnya saat ini sudah pandai menggunakan kata-kata.


Setelah Reihan selesai makan, Alicia membereskan peralatan makan bekas suaminya dan mencucinya.


Reihan menatap punggung Alicia dan merasa apa yang sudah terjadi seperti mimpi. Gadis kecil yang pernah ia selamatkan dulu, saat ini sudah menyandang status sebagai istrinya. Tampa sadar ia tersenyum dan membuat Alicia mengernyit heran saat melihat suaminya itu.


"Lagi mikirin apa sih? Sampai senyum-senyum gitu."


"Hah?" Reihan tertangkap basah sedang tersenyum seperti itu dan langsung terkejut saat mendengar pertanyaan istrinya.


"Lagi mikir apa?"


Reihan berdiri dan menghampiri istrinya. "Kamu." Bisiknya dan mengangkat tubuh Alicia.


"Mas turunin aku." Teriak Alicia sambil menggerak-gerakkan tubuhnya.


Namun Reihan mengeratkan pelukannya pada tubuh Alicia. Sehingga wanita itu tidak lagi bergerak. Kemudian membawanya ke dalam kamar.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Waktupun berlalu, tak terasa pernikahan mereka sudah berjalan lebih kurang satu bulan lamanya. Meskipun keduanya sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Namun keduanya tidak pernah mengeluh, hanya saja keduanya terkadang akan bertengkar hanya karena masalah sepele.


Namun setiap rumah tangga tidak ada yang adem ayem saja bukan. Terkadang pertengkaran, berbeda pendapat dan lain-lain adalah bumbu untuk membuat pernikahan semakin kuat. Akan tetapi keduanya harus saling memahami satu sama lain sehingga hubungan akan semakin solid.


Seperti biasa setiap pulang kerja, Alicia akan membawakan makanan untuk suaminya. Karena memang ia tidak akan sempat masak untuk makan malam kecuali jawdwalnya sedang kosong.


Selesai makan malam, keduanya langsung istirahat karena sudah sangat lelah seharian beraktivitas diluar rumah.


"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Reihan saat melihat istrinya terlihat sangat kelelahan.


"Hanya kelelahan mas. Tadi di Rumah Sakit lumayan banyak pasien."


"Ya sudah, ayo tidur. Sudah malam juga."


Alicia mengangguk dan membaringkan tubuhnya di ranjang bersamaan dengan Reihan yang ikut berbaring di sampingnya.


"Good night." Reihan mencium kening istrinya dan merengkuh tubuh Alicia ke dalam pelukannya.


Alicia yang sedang tertidur pulas langsung terbangun karena merasakan perutnya tidak enak seakan ada yang mengaduknya. Ia pun duduk dan mengisi gelas dengan air putih yang memang sengaja ia tempatkan di atas nakas.


Huek


Bukannya perasaan lega yang ia dapatkan melainkan rasa mual yang membuat ia langsung berlari ke dalam kamar mandi.


Reihan yang merasakan pergerakan istrinya langsung terbangun dan segera mengikutinya ke dalam kamar mandi.


Huek Huek


Di sana ia mendapati istrinya sedang muntah-muntah dengan kepala tertunduk ke westafel. Tanpa mengatakan apapun, pria itu memijit pelan tengkuk istrinya yang langsung membuat mual di perut Alicia sedikit berkurang.


Alicia segera membasuh mulutnya dan menoleh ke arah pria yang menyandang status sebagai suaminya itu dengan senyum merekah di bibirnya yang pucat.


"Makasih ya.." Ucapnya lembut membuat Reihan langsung tersenyum dan mengusap kepala istrinya penuh sayang.


"Bagaimana perutnya? Apa masih mual?" Tanya Reihan sambil menatap wajah Alicia yang pucat nyaris tak berdarah.


"Sudah lebih baik, walau perutku masih terasa tidak nyaman." Alicia mengelus perutnya yang masih terasa mual walau tidak separah sebelumnya.


"Ya sudah, kamu harus kembali istirahat." Reihan langsung membawa istrinya kembali ke kamar.


Dengan patuh Bila mengikuti suaminya kembali ke kamar dan membaringkan tubuhnya yang terasa lemas sehabis muntah barusan. Otaknya mulai mengingat makanan apa saja yang ia makan tadi malam. Akan tetapi rasanya tidak ada yang salah dengan makanannya.


Lalu kenapa tiba-tiba ia mendadak mual dan muntah? Kemudian ia teringat kalau tamu bulanannya belum datang. Spontan matanya membulat dan dengan cepat ia memeriksa denyut nadinya.


'Hamil?' Gumamnya dalam hati. 'Besok akan aku pastikan dengan dokter kandungan.' Kemudian ia kembali tertidur karena memang masih mengantuk dan waktu menunjukkan baru pukul 2 dini hari.


.


.


.


.


To be continue