
Clara yang baru saja selesai mandi langsung terkejut karena Adhit tiba-tiba saja langsung membopong tubuhnya yang masih memakai handuk.
"Mas...! Turunin aku! Mas mau apa?" Tanyanya dengan ekspresi terkejut.
"Mas merindukanmu." Bisik Adhit parau dan Clara sudah paham apa yang diinginkan suaminya itu.
Menghela napas, Clara menatap suaminya dalam dan mendaratkan kecupan manis di kening dan beberapa bagian di wajah Adhit. Akan tetapi ia melewatkan bibir suaminya.
"Ini kenapa tidak di cium sayang?" Rengeknya manja dan membuat Clara terkekeh geli.
"Yang mana mas?"
"Tentu saja sesuatu yang ada di wajah mas yang menjadi favorite kamu." Jawab Adhit sambil memanyunkan bibirnya.
"Ohh yang ini." Dengan sengaja Clara mencium pipi Adhit.
"Bukan sayang."
"Lalu yang mana?" Tanya Clara dengan bibir berkedut menahan tawa yang hampir meledak.
"Dasar menyebalkan!" Rajuknya sambil membuang muka.
Dengan bibir tersenyum lebar, Clara memegang pipi suaminya. "Sayang... "
Cup.... Cup.... Cup
Clara mencium suaminya sebanyak 3 kali, membuat senyum Adhit langsung mengembang sempurna.
"Kamu benar-benar nakal ya. Mas tidak akan membiarkan kamu tidur malam ini." Ucap Adhit dengan senyum devilnya. Dengan cepat ia melangkah menuju ranjang dan membaringkan istrinya di sana.
Saat akan melakukan kegiatannya, pintu kamar mereka diketuk oleh seseorang dan membuat Adhit kesal. "Siapa sih? Mengganggu saja." Gerutunya seraya berjalan ke arah pintu.
"Daddy, mommy mana?"
Ternyata Rafan lah yang mengetuk pintu kamar, sehingga Adhit hanya bisa menelan kembali kata-kata yang akan ia semburkan kepada orang yang mengganggu aktivitasnya.
"Rafan, kenapa belum tidur?" Tanya Adhit kepada anak bungsunya itu.
"Aku tidak bisa tidur daddy. Mau ketemu mommy. Mommy mana?"
Adhit mengusap wajahnya kasar, karena anak bungsunya ini memang akan selalu mencari ibunya kalau tidak bisa tidur. Meskipun sudah bukan anak-anak lagi, ia akan tetap seperti itu.
"Ada apa sayang?" Clara muncul dari dalam kamar setelah mendengar percakapan anak dan suaminya. Kemudian dengan cepat memasang gaun tidurnya.
Tampa menghiraukan tatapan ayahnya, Rafan menerobos masuk dan langsung memeluk ibunya. "Mommy, aku tidak bisa tidur." Rengeknya manja.
Clara mendesah pelan melihat tingkah anak bungsunya yang sangat-sangat manja melebihi anak kecil. Bahkan anaknya ini hampir sama manjanya dengan suaminya sendiri.
"Kenapa hmm? Apa kamu lapar?"
Rafan menggeleng dan tidak melepaskan pelukan ibunya. Sehingga Clara segera melirik suaminya dengan tatapan penuh arti.
Seakan paham dengan maksud tatapan istrinya, Adhit langsung tersenyum tipis.
"Mas ke kamar Bian ya. Sayang, daddy ke kamar Mas-mu ya." Adhit menekankan kata-kata terakhirnya agar anaknya merasa tersindir. Tapi bukannya tersindir, Rafan semakin mengetatkan pelukannya.
"Mas...!" Clara melototi suaminya yang sempat-sempatnya menjaili anaknya sendiri.
'Gagal deh.' Rutuknya dalam hati. Karena kalau Rafan sudah tidak mau melepaskan pelukan dari Clara itu artinya, anaknya itu akan hanya bisa tidur kalau dipeluk oleh ibunya sendiri. Kalau tidak, sampai pagi ia tidak akan tidur sama sekali.
"Kenapa dad? Kena gusur sama Rafan ya?" Ledek Bian saat melihat ayahnya masuk ke dalam kamarnya.
"Kamu diam!" Kesal Adhit dan langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.
Bian hanya bisa tersenyum geli melihat kelakuan ayahnya.
๐ผ๐ผ๐ผ
Reihan yang sedari tadi menatap istrinya, perlahan melangkah mendekati Alicia yang tampa sadar memundurkan tubuhnya. Sehingga kakinya membentur kaki ranjang dan menyebabkan dirinya terjengkang ke atas ranjang dengan posisi menantang.
Melihat hal itu membuat Reihan semakin susah mengendalikan dirinya dan langsung mengungkung istrinya agar tidak bisa lari lagi.
"Mas, aku...!" Alicia tergagap saat wajah suaminya hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya.
"Apa sayang?" Dengan sengaja Reihan mengusapkan jarinya ke wajah Alicia dan membuat gadis itu menegang.
Saat tatapan mereka berdua terkunci, entah siapa yang memulai. Bibir mereka saling bertemu untuk pertama kalinya dan mengantarkan kejutan listrik tegangan tinggi bagi keduanya.
Semakin lama ciuman Reihan semakin dalam dan menuntut. Membuat Alicia kewalahan dibuatnya. Saat ciuman keduanya terleapas, Reihan membisikkan sesuatu yang membuat Alicia menelan salivanya dengan susah payah.
"Aku menginginkannya."
Menatap mata Reihan, Alicia sudah tau kalau suaminya saat ini sudah dikuasai gairah. Sehingga ia langsung mengalungkan kedua tangannya ke leher Reihan seraya berkata. "Aku milikmu seutuhnya suamiku."
Seakan gayung bersambut, tampa basa-basi Reihan kembali menerkam istrinya untuk menyempurnakan pernikahan mereka berdua. Di bawah temaram lampu kamar kedua insan itu memadu kasih dan menikmati surga dunia yang membuat setiap orang melayang ke langit ke tujuh.
Saking lelahnya digempur habis-habisan oleh suaminya. Sampai-samapi, Alicia sama sekalu tidak sadar saat di bopong ke kamar mandi untuk membersihkan diri oleh suaminya. Selesai bersih-bersih, Reihan kembali ke dalam kamar dan memasangkan baju istrinya yang antara sadar dan tidak sadar saking lelahnya.
"Mas ngapain?" Tanyanya dengan mata tertutup. Melihat tingkah menggemaskan istrinya, Reihan langsung terkekeh geli dibuatnya.
"Terimakasih sayang, aku mencintaimu." Ucap Reihan sambil menatap wajah damai istrinya yang sudah tertidur. Reihan pun menarik tubyh istrinya ke dalam pelukannya. "Selamat malam istri kecilku."
๐ผ๐ผ๐ผ
Fajar pun menyinsing di ufuk timur menyapa setiap makhluk hidup yang ada di dunia dengan sinarnya yang jingga kemerah-merahan. Terlihat dua orang anak yang sedang menjaili ayah dan ibunya yang masih tertidur lelap.
"Mommy, daddy bangunnn. Sudah pagi..." Teriak salah satunya dan membuat tidur keduanya mau tidak mau terusik oleh teriakan anaknya. Sang ibu yang tidak lain adalah Salsabila langsung bangun dan melihat kedua anaknya sudah tertawa karena berhasil membangunkan ibunya. Sementara ayahnya kembali tidur seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Semalam mereka memang tidur di kamar yang sama dengan Ayah dan ibunya. Karena Raka tidak mengizinkan keduanya tidur di kamar yang lain. Meski si kembar bisa dikatakan bukan anak kecil lagi dan. Namun Raka sama sekali tidak menganggap mereka sudah besar.
"Zayyan, Zahran sini." Bila menyuruh kedua anaknya mendekat dan membisikkan sesuatu. Entah apa yang ia bisikkan yang pasti tujuannya untuk mengerjai suaminya itu.
"Oke mom...." Jawab keduanya kompak. Jiwa nakal mereka langsung menguar keluar setelah mendengar ide ibunya.
Bila yang melihat aksi nakal kedua anaknya langsung terkekeh geli dan segera pergi le kamar mandi.
"Bagaimana?" Tanyanya setelah ke luar dari kamar mandi.
"Beres mom."
"Misi selesai."
Keduanya dengan kompak menjawab pertanyaan ibunya.
"Kalian sudah sholat?" Tanya Bila kepada kedua putranya.
"Belum mommy."
"Sekarang wudu, kita sholat ya. Mommy mau bangunin daddy kalian dulu."
"Oke mom." Keduanya langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Saat akan membangungkan Raka, tawa Bila langsung pecah karena melihat wajah suaminya penuh dengan coretan karya kedua anaknya tadi. Tentu saja itu juga adalah idenya, akan tetapi ia tidak menyangka karya keduanya akan di luar ekspektasinya.
"Mas, bangun." Bila menggoyangkan tubuh suaminya dengan sedikit tenaga. Karena kalau pelan-pelan Raka tidak akan bangun sama sekali.
"Hmmm, iya sayang." Dengan malas Raka bangkit dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi bertepatan dengan kedua anaknya yang baru selesai wudhu.
Saat sedang memakai mukenanya, Bila mendengar teriakan suaminya dari dalam kamar mandi dan membuat tawanya kembali pecah diikuti oleh kedua bocah nakal yang mengkesekusi idenya tadi.
Seakan tidak terjadi apa-apa, ketiganya langsung pura-pura tidak tau saat Raka ke luar dari kamar mandi dengan wajah ditekuk. Dalam diamnya ia langsung mengambil posisi-posisi untuk menjadi imam sholat bagi istri dan kedua anaknya.
Selesai sholat, Raka menghadap ke belakang dan menatap kedua anaknya. "Ayo jujur sama daddy. Siapa yang mencoret-coret wajah daddy?" Tanya Raka mulai mengintrogasi kedua anaknya.
Keduanya saling pandang dan kompak menoleh pada ibu mereka yang memasang tampang tak berdosa. Padahal kan idenya berasal darinya. Dengan kompak keduanya menunjuk ke arah Bila yang langsung melotot tak percaya. Meskipun mereka secara sadar sudah bertindak nakal. Tapi mereka benar-benar takut kalau Raka akan memarahi mereka. Oleh karena itu mereka melemparkan semua kesalahan kepada Bila.
Sungguh licik! Tapi begitulah adanya. Bila tersenyum tak berdaya karena kedua iblis yang menyamar menjadi anaknya ini benar-benar kejam.
"Kenapa nunjuk mommy? Kan kalian yang coret?" Bila hanya bisa berkilah, akan tetapi ia secara tidak sadar mengatakan kebenarannya. Kata-kata yang meluncur dari mulutnya sukses membuat Raka menatapnya tajam.
Ternyata istrinya benar-benar ingin dihukum dan Raka tidak bisa menyembunyikan senyum diwajahnya. Walaupun senyum itu tidak mencapai matanya yang menandakan dia sedang tidak senang.
"Idenya kan dari mommy." Jawab Zayyan acuh tak acuh membuat Bila langsung tersenyum canggung. Anaknya ini benar-benar tidak bisa diajak kerja sama.
Zahran tidak mengatakan apa-apa, karena mereka jelas-jelas salah.
"Ohh begitu, baiklah kalian akan daddy hukum." Ucap Raka kepada kedua anaknya tampa bisa dibantah. Saat akan berdiri, ia mendekati istrinya yang sedang tersenyum penuh kemenangan. "Kamu juga sayang, tunggu hukumanmu." Bisik Raka dan membuat senyum Bila hilang seketika.
Keduanya hanya bisa menunduk lesu dan tidak berani mengangkat kepala apalagi protes.
.
.
.
.
to be continue