Surrogate Husband

Surrogate Husband
Bantuan



Lalu lalang lalu lintas malam itu sangat padat sekali. Lampu jalanan yang sudah dinyalakan sejak sore hampir kalah dengan sorot lampu kendaraan yang berlalu lalang. Kalau dilihat dari atas mungkin akan terlihat seperti bintang berkelap-kelip.


"Ya ampun, kenapa macet banget sih?" Keluh Alicia karena mobilnya hanya bisa bergerak beberapa centi saja.


Setelah beberlanja tadi dan makan malam di sebuah restoran. Reihan dan Alicia memutuskan untuk pulang. Karena besok pagi Alicia harus masuk kerja.


"Sabar sayang." Reihan mengusap-usap kepala istrinya penuh sayang. "Kalau kamu ngantuk tidur aja. Nanti sampai apartment aku bangunin." Imbuhnya sambil tersenyum tipis.


"Huh... Baiklah." Ia langsung mengambil posisi nyaman dan tak butuh waktu lama untuk tertidur. Karena memang ia sudah cukup mengantuk.


Selang beberapa menit, Reihan melihat seorang pria berkeliling sambil mengetuk kaca mobil pengemudi yang terjebak macet. Wajahnya terlihat panik sepertinya tengah terjadi sesuatu. Reihan segera menurunkan kaca mobilnya saat pria itu akan mendekati mobilnya.


"Ada apa mas? Dari tadi saya lihat anda mengetuk hampir semua kaca mobil setiap pengemudi yang terjebak macet." Tanya Reihan ingin tau.


Pria itu menarik napas dan dengan terengah-engah karena berlarian menjawab pertanyaan Reihan.


"Istri saya mau melahirkan, tapi jalanan masih macet karena ada bus yang terguling di depan."


'Pantas saja macetnya separah ini.' Gumamnya dalam hati.


"Apakah sudah meminta bantuan?" Tanyanya lagi.


"Saya sudah menghubungi Rumah Sakit terdekat. Tapi kemungkinan mereka juga terjebak macet."


"Bagaimana kondisinya?" Tanya Alicia yang terjaga setelah mendengar suaminya bicara dengan seseorang. Walaupun secara spesialisasi dia bukanlah dokter kandungan. Namun sebagai dokter dia tidak akan tinggal diam saat ada yang membutuhkan bantuannya.


Mungkin karena terlalu panik atau tidak mendengarkan suaranya, pria itu tidak merespon pertanyaannya. Hal itu sungguh membuat Alicia gemas. Namun saat ia akan bertanya kembali, suaminya sudah lebih dulu mewakilinya.


"Mas, istri saya bertanya. Bagaimana kondisi istri anda? Karena kebetulan istri saya seorang dokter."


"Benarkah?" Teriak pria itu girang. Hampir setengah jam ia berkeliling untuk meminta bantuan dan berharap ada dokter yang ikut terjebak macet. Namun ia sama sekali tidak menemukannya. Oleh karena itu ia sangat bersyukur bisa menemukan dokter saat ini.


"Iya, saya dokter. Bagaimana kondisinya? Apa air ketubannya sudah pecah?" Tanya Alicia memastikan.


Pria itu terdiam sejenak dan mengingat kondisi terakhir istrinya. "Saat saya ke luar dari dalam mobil untuk meminta bantuan. Dia sudah kesakitan dan mengatakan perutnya tegang." Dia terdiam lagi sepersekian detik sebelum bicara kembali. "Air ketubannya, saya rasa belum pecah. Tapi kondisi saat ini saya belum ada kabar."


"Saat ini dia bersama dengan siapa? Apa sendirian?"


"Tidak! Dia bersama ibu mertua saya saat ini."


"Baiklah! Akan saya periksa kondisinya." Ucap Alicia sambil melepas sabuk pengamannya. Namun gerakannya terhenti dan tiba-tiba menepuk keningnya seraya berseru.


"Ada apa?" Tanya Reihan yang melihat ekspresi bingung istrinya.


"Peralatan medisku, aku tidak membawanya. Bagaimana ini?" Dia langsung panik dan pria yang sedang menunggu dirinya langsung kecewa setelah mendengar semua itu.


Reihan langsung melepas seatbelt-nya dan mengambil sesuatu dari jok belakang mobilnya. Kemudian menyerahkan ke tangan sang istri.


"Apa ini?" Tanyanya heran.


"Bukalah!" Serunya sambil tersenyum tipis.


Dengan cekatan Alicia membuka apa yang diberikan suaminya. Matanya langsung melebar saat melihat apa yang diberikan Reihan padanya.


"Mas Rei, ini... " Dipangkuannya sudah ada satu tas perlengkapan medis darurat.


Reihan mengangguk, "Benar, itu hadiah untukmu. Rencananya aku akan memberikannya nanti karena besok kamu akan mulai bertugas. Tapi saat ini kamu membutuhkan semua ini untuk membantu pasienmu."


Harapan yang hampir putus kembali tersambung saat melihat perlengkapan medis di pangkuan Alicia. Sehingga membuat pria itu tidak berhentinya mengucap syukur.


"Thanks mas." Alicia langsung mencium pipi Reihan sebagai tanda terimakasihnya.


"Selamat bertugas istriku. Pasien pertamamu menunggu." Ujarnya memberi semangat. "Kamu pasti bisa. Bismillah, semangat." Bisik Reihan tepat di telinga Alicia.


Alicia tersenyum dan segera turun dari mobil. "Tunjukkan jalan." Pintanya pada pria itu.


"Ikut saya." Pria itu langsung berjalan menuju mobilnya dan diikuti oleh Alicia di belakang.


Sepanjang jalan dia terus berpikir apakah ia bisa melakukannya atau tidak. Karena ia adalah spesialis jantung dan hanya beberapa kali membantu pasien melahirkan. Itupun saat ia sedang menjalani residence tahun ke empat. Akan tetapi kalau ia tidak bertindak dan menunggu ambulance datang. Ia khawatir akan berbahaya untuk keselamatan ibu dan bayi.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Sampai di mobil pasien yang akan melahirkan. Alicia melihat wanita itu sudah sudah berbaring di kursi penumpang dan kakinya sudah ditutupi dengan selimut. Wanita paruh baya yang memangku kepalanya yang merupakan ibu si wanita. Hanya bisa menyemangati anaknya yang tengah merasakan nikmatnya gelombang cinta dari si bayi dalam perut.


Wanita itu benar-benar tidak bisa mengontrol teriakannya. Karena ia memang baru melahirkan anak pertama. Sehingga belum ada pengalaman melahirkan sebelumnya.


Melihat hal itu, sebagai dokter Alicia berusaha menenangkan pasiennya. "Mba tenang ya. Jangan panik."


"Kamu siapa hah? Tenang-tenang sakit tau. Kamu belum merasakan aja gimana rasanya." Bukannya tenang wanita itu malah berteriak dan memarahi Alicia.


"Dokter tolong saya. Sakit banget dok... " Rengek sang wanita setelah mendengar penjelasan Alicia.


"Iya mba. Sekarang mba tenang ya. Tarik napas dalam-dalam, terus buang. Begitu seterusnya." Perintah Alicia dengan tenang.


Wanita itu langsung mengikuti arahan Alicia dan membuat Alicia menghela napas lega.


"Oh iya, dengan mba siapa?"


"Saya Aulia dokter."


"Baik mba Aulia, saya periksa kondisi anda terlebih dahulu." Alicia mengeluarkan stetoskopnya dan mulai memeriksa pasiennya. Ia juga memeriksa tekanan darah serta denyut nadi ibu untuk memastikan apakah denyut bayi masih stabil atau tidak. Untungnya denyut nadi ibu dan bayi masih stabil sehingga Alicia cukup tenang. Tak lupa ia juga memeriksa jalan lahir dan ia terkejut karena pasien sudah pembukaan 5.


Tak lama Aulia kembali kontraksi dengan durasi semakin pendek. "Mama...! Dokter...! Ini apa? Kok basah?" Teriak Aulia karena merasakan punggungnya terasa basah.


Seketika Alicia membuka selimut dan melihat air ketubannya sudah pecah. Dengan cepat ia memeriksa jalan lahir lagi.


"Pembukaannya sudah lengkap. Saat saya instruksikan dorong, mba Aulia bisa langsung mendorong ya." Ucapnya seraya bersiap membantu persalinan Aulia.


"Iya dokter." Saut Aulia sambil menahan kontraksi.


"Oke, tarik napas dalam-dalam. Sekarang dorong." Ucapnya memberi perintah.


Setelah tiga kali jeda dalam upaya mendorong bayi ke luar. Akhirnya saat dorongan terakhir, sang bayi terlahir ke dunia diiringi tangisan bayi terdengar nyaring dan membuat semua orang yang terjebak macet tersenyum bahagia.


"Selamat, anak kalian laki-laki." Dengan peralatan medis darurat Alicia memotong tali pusar sang bayi dan membalut sang bayi dengan selimut. Kemudian menyerahkan ke tangan ayahnya.


Setelahnya ia mengeluarkan ari-ari dan menjahit luka akibat melahirkan sebelumnya. Kondisi Aulia langsung menurun dan hampir kehilangan kesadaran.


"Mba Aulia...! Tolong jangan tidur!" Alicia menatap wanita paruh baya yang berada di dekat Aulia. "Buk tolong ajak dia bicara terus. Jangan sampai dia tertidur." Pinta Alicia sopan.


Alasan Alicia tidak membiarkan Aulia tidur adalah karena biasanya setiap orang yang melahirkan sama sekali tidak boleh langsung diizinkan tidur. Karena kebanyan kasus, mereka tidak akan pernah bangun lagi.


"Baik dokter." Wanita itu menatap putrinya seraya berkata. "Sayang, dengar mama. Jangan tidur ya, lihat anak kamu tampan sekali."


Aulia berusaha menjaga kesadarannya dan menatap bayinya yang sedang di gendong sang suami. Sementara Alicia segera membereskan peralatannya dan segera ke luar dari dalam mobil untuk melihat keadaan di luar. Tak lama ambulance datang setelah bus yang terguling sudah di evakuasi dan korban luka serta meninggal sudah di bawa ke Rumah Sakit.


"Dimana pasiennya?" Tanya petugas medis yang baeu turun dari ambulance.


"Di sini!" Alicia berseru saat melihat petugas medis.


"Bagaimana kondisinya?"


"Saat ini kondisinya tidak baik. Tolong beri infus dan oksigen." Pinta Alicia kepada petugas medis.


"Apa anda yang membantu proses melahirkan pasien?"


"Ya, saya dokter Alicia yang membantu proses melahirkan. Cepat bawa dia ke Rumah Sakit!"


"Baiklah. Bawa brangkar ke sini!" Teriaknya pada rekannya.


Petugas medis yang lain segera menurunkan brangkar dan membantu membawa pasien ke ambulance. Kemudian segera membawanya ke Rumah Sakit terdekat.


"Terimakasih atas bantuannya dokter." Ucap pria itu yang belakangan diketahui bernama Arya.


"Itu sudah jadi tugas saya. Sebaiknya anda segera menyusul istri anda ke Rumah Sakit."


"Sekali lagi terimakasih dokter." Setelah mengatakan itu ia segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya menyusul ambulance yang sudah melaju kencang.


"Apa tugas dokter sudah selesai?"


Alicia yang masih berdiri sambil menyandang perlengkapan medis daruratnya langsung menoleh ke belakang.


"Tentu saja." Jawabnya sambil tersenyum.


"Kalau begitu, mari kita pulang." Reihan segera membawa istrinya kembali ke dalam mobil dan segera meninggalkan lokasi.


.


.


.


.


to be continue