
Alicia yang masih berada di dalam pelukan Reihan langsung tersadar dan cepat-cepat melepaskan diri dari dekapan sang suami dengan jantung berdegup kencang.
"Kenapa?" Tanya Reihan heran.
"Ti-dak apa-apa. Mas belum mandi kan? Mau aku siapkaj air panas?" Jelas sekali gadis itu sedang gugup berada sedekat ini dengan laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya itu.
Reihan yang menyadari kegugupan istrinya langsung terkekeh geli dan bukannya menjawab. Reihan malah berjalan mendekat ke arah istrinya.
Melihat hal itu secara otomatis Alicia melangkah mundur dan terhenti di dekat lemari. "Ma-s mau apa?"
Reihan mengangkat dagu istrinya dan menatap lurus ke arah matanya. "Kamu cantik sekali malam ini." Pujinya seraya mendekatkan wajahnya.
Alicia yang tidak terbiasa berdekatan dengan laki-laki benar-benar dibuat salah tingkah dan hanya berdiri kaku di hadapan suaminya. Namun ia terkejut saat mendengar bisikan Reihan di telinganya.
"Kalau kamu belum siap, aku tidak akan memaksa." Kemudian berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Alicia menghela napas lega namun ia sadar kalau ia tidak boleh menolak melayani suaminya. Karena ia akan berdosa jika menolak ajakan suaminya untuk beribadah. Dengan demikian, ia menguatkan tekad dan hatinya untuk bisa melakukan apa yang diinginkan suaminya.
Alicia berjalan menuju meja rias dan mengeluarkan beberapa perlengkapan make up yang ia bawa dan mulai berdandan secara natural. Kemudian memakai sedikit perfume dan mengganti pakaian tidurnya menjadi lebih menantang. Kemudian melapisinya dengan kimononya.
Ceklek
Reihan berjalan ke luar dengan handuk sebatas pinggang. Ia melihat pakaiannya sudah ada di atas ranjang. Saat akan memakai bajunya, ia terkejut saat sepasang tangan melingkar di perutnya dan ia yakin itu adalah tangan Alicia. Karena hanya ada mereka berdua di sana. Tidak mungkin orang lain bukan? Karena sebelumnya ia memang tidak melihat keberadaan istrinya saat ke luar dari kamar mandi.
"Ada apa hmm?" Tanya Reihan seraya memakai bajunya yang sebelumnya sudah terpasang setengah.
"Hmmm, aku bersedia mas." Jawab Alicia pelan, namun jelas dalam pendengaran Reihan.
Reihan yang mengerti langsung tersenyum, namun entah mengapa ia ingin mengerjai istrinya terlebih dahulu. "Bersedia apanya?" Reihan berbalik namun di tahan oleh Alicia karena wajahnya sudah merona merah.
"Bersedia melakukan itu."
"Itu apa sayang?" Reihan masih berusaha menjaili sang istri yang wajahnya sudah semakin merah setelah dipanggil sayang oleh suaminya sendiri.
"Itu mas, ibadah." Alicia masih berusaha sabar menjawab setiap pertanyaan suaminya.
"Ya sudah, ayo kita sholat. Kamu sudah wudhu belum?"
Alicia terdiam kemudian melepaskan pelukannya dan berniat ke kamar mandi. Namun langkahnya terhenti karena tangannya ditahan oleh Reihan.
"Mau kemana?"
"Mau wudhu mas, aku belum wudhu." Jawabnya polos dan Reihan langsung melepaskan tangan istrinya.
Selesai wudhu, mereka melaksanakan sholat sunah yang diimami oleh Reihan. Setelahnya, Alicia meraih tangan sang suami dan menciumnya sebagai rasa hormatnya kepada laki-laki itu.
Alicia yang masih duduk di belakang Reihan dikejutkan oleh tingkah suaminya yang mendadak menjatuhkan kepalanya ke atas pahanya. Karena gemas ia mencubit pipi dan hidung Reihan. Kemudian mengusap rambutnya penuh sayang dan memberikan kecupan di kening Reihan.
"Alicia sayang...!" Panggil Reihan seraya memainkan jemari istrinya.
"Apa mas?" Alicia menatap suaminya yang ada di pangkuannya dalam-dalam.
"Apa kamu menyesal menikah denganku?"
"Nggak apa-apa, jawab aja."
Alicia terdiam dan berpikir sejenak. Sebenarnya ia juga tidak tau mau menjawab apa. Karena ia juga baru saja menyandang gelar seorang istri, yang pastinya memiliki hak dan kewajiban yang seimbang untuk dipenuhi. Bagi seorang istri ridho suami juga ridho Tuhan juga. Sehingga, sebagai istri tentu saja ia akan senantiasa patuh dan taat pada suaminya. Selagi suaminya tidak memintanya taat pada keburukan. Seorang istri juga akan merangkap tugas menjadi pasangan, sahabat, serta ibu bagi si bayi besar yang bernama suami. Karena sedewasa apapun seorang laki-laki ia akan senantiasa akan bersikap seperti anak kecil kalau sudah dengan pasangannya.
"Aku juga tidak tau mas, karena aku baru saja menyandang status sebagai istrimu. Akan tetapi, aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuk mas. Melaksanakan peranku dengan baik dan akan berusaha memenuhi kewajibanku sebagai istrimu." Jawab Alicia panjang lebar.
"Baiklah, kamu siap melakukan ibadah selanjutnya?" Tanya Reihan sambil tersenyum simpul.
Detik pertanyaan itu meluncur dari mulut Reihan dan mendarat di pendengaran Alicia. Detik itu juga, semburat merah langsung tercetak di wajah putih gadis itu. Karena ia sudah tau maksud ibadah selanjutnya yang dimaksud sang suami. Yaitu ritual malam pertama yang harus dilewati setiap pengantin baru.
"I-ya, aku siap." Jawabnya gugup.
"Benarkah?" Reihan langsung bangkit dan menghadap ke arah istrinya. Alicia tidak menjawab karena wajahnya sudah semakin merah layaknya kepiting rebus.
Reihan yang melihat wajah merah sang istri, langsung tau kalau istrinya sedang malu. Sehingga, senyuman lebar langsung tercetak di wajah tampannya. Tampa melepas sarungnya, ia mengangkat tubuh istrinya untuk ia bawa ke ranjang.
Alicia yang tidak siap, langsung spontan berteriak. Saat akan melangkah, Reihan salah ambil langkah dan malah menyebabkan mereka berdua terjatuh dengan pose yang sangat memalukan. Untung saja di dalam kamar hanya ada mereka berdua. Kalau ada orang lain, mungkin mereka memilih mengubur diri ke dalam lantai kalaupun bisa.
"Awww sakit." Ringis Alicia saat tubuhnya mencium lantai yang dilapisi karpet.
"Mana yang sakit?" Panik Reihan setelah mendengar istrinya meringis.
"Pantatku sakit dan pinggang rasanya encok banget." Jawab Alicia sambil menahan sakit.
"Sayang, maaf ya. Aku tidak sengaja." Reihan merasa bersalah karena sudah membuat istrinya celaka. Niatnya mau romantis, taunya malah jadi jatuh secara dramatis.
Alicia tertawa melihat wajah memelas suaminya. "Iya, tidak apa-apa mas. Memang lumayan sakit. Tapi setiap kejadian pasti ada hikmahnya."
"Hikmah apa sayang? Dan kenapa kamu tertawa?"
"Aku jadi bisa lebih mengenal siapa suamiku ini. Aku juga semakin yakin, kalau aku tidak salah pilih suami." Alicia mendekat dan mencium pipi Reihan. "Alasan aku tertawa, karena ekspresi mas saat memelas itu lucu dan imut banget. Bikin aku gemas tau." Dengan seenak hatinya ia mencubit pipi sang suami dan menciumnya lagi.
"Sayang, kamu jangan mancing-mancing ya. Nanti singanya ngamuk dan menerkam kamu loh." Goda Reihan dengan senyuman penuh arti.
"Benarkah?" Entah dapat keberanian dari mana, gadis itu duduk dipangkuan suaminya seraya mengalungkan tangannya ke leher Reihan. "Aku tidak takut." Bisiknya sensual ditelinga Reihan dan laki-laki itu langsung panas dingin dibuatnya.
"Bersiaplah sayang, aku akan meminta hakku malam ini." Ucap Reihan penuh semangat.
Alicia berdiri dan meleaps mukenahnya. Entah tadi ia kurang memperhatikan pakaian yang dikenakan istrinya atau memang tidak sadar sama sekali. Reihan cukup tercengang melihat pakaian yang dikenakan istrinya. Sungguh melihat istrinya berpakaian seperti itu membuat jiwa liarnya meronta-ronta ingin ke luar.
.
.
.
.
to be continue