Surrogate Husband

Surrogate Husband
Pertama Kali Ngidam



Operasi hari ini cukup melelahkan bagi Alicia, apalagi pusing yang masih menderanya membuat fokusnya sedikit terganggu. Beruntung operasi bisa diselesaikan tanpa ada kendala.


Selesai operasi, Alicia kembali ke ruangannya sambil berpegangan pada dinding. Pandangannya mulai berkunang-kunang dan beberapa saat kemudian ia tidak sadarkan diri.


"Ya Allah, dokter Alicia!" Teriak perawat yang tidak sengaja melihat Alicia pingsan.


Teriakannya berhasil menarik perhatian semua orang yang berada di sana termasuk Zico yang baru turun dari ruangan kepala Rumah Sakit.


"Apa yang terjadi?" Menghampiri Alicia dan memangku kepala wanita itu di pahanya.


"Tidak tau, tiba-tiba saya lihat dokter Alicia pingsan." Perawat itu menjawab dengan cemas.


Tanpa banyak basa-basi, Zico langsung membawa Alicia ke IGD untuk menjalani pemeriksaan.


"Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?" Zico langsung memberondong dokter yang menangani Alicia dengan pertanyaan.


"Dokter Alicia tidak apa-apa. Dia hanya kelelahan dan tekanan darahnya juga rendah. Apalagi dia sedang hamil muda, sehingga membuat kondisinya lebih lemah dari biasanya." Jelas sang dokter, kemudian segera pergi dari sana.


Zico menghela nafas lega setelah mendengar penjelasan dokter tersebut, dengan tatapan sendu ia menatap wajah pucat Alicia dan duduk di kursi yang ada di samping ranjang wanita itu.


"Enghh." Mata cantik Alicia perlahan terbuka dan wanita cantik itu langsung menoleh ke arah Zico setelah memindai ke arah sekitar.


"Zico, kenapa aku ada di sini?"


"Kamu tadi pingsan Ale." Jawabnya lembut, lalu membantu wanita itu duduk. "Oh ya, tadi aku juga sudah menghubungi suamimu. Mungkin sebentar lagi dia datang."


"Thanks ya." Alicia tersenyum tipis pada sahabatnya itu. Benar saja, tak lama seorang pria tampan yang masih berpakaian formal tengah berlari ke arah mereka.


"Sayang, apa kamu baik-baik saja? Mana yang sakit?" Reihan yang baru datang langsung bertanya pada sang istri. Saat sedang meeting tadi, Zico menghubunginya dan mengatakan istrinya pingsan. Dengan cepat ia menyerahkan meeting pada sang asisten, lalu segera pergi menuju Rumah Sakit.


Alicia terkekeh, lalu meraih tangan suaminya. "Aku baik-baik aja mas. Hanya sedikit pusing."


Reihan menghela napas lega, lalu mencium kening istrinya penuh sayang tanpa memperdulikan keberadaan Zico di sana.


Plak


"Ini nyamuk, ganggu aja." Ocehnya dengan tangan seakan membunuh nyamuk. Kemudian segera pergi meninggalkan keduanya yang tengah menatapnya dengan tatapan berbeda-beda.


Sepeninggal Zico, Alicia langsung terkekeh geli melihat tingkah sahabatnya itu. Lalu menatap suaminya yang juga sedang menatapnya.


"Ada apa hmm? Apa kamu menginginkan sesuatu?" Reihan yang seakan tau apa maksud tatapan sang istri langsung bertanya.


Mata Alicia langsung berbinar sambil mengangguk lucu. "Aku mau sate taican di dekat rumah mami."


"Ya udah, nanti kita beli ya."


Alicia langsung cemberut. "Maunya sekarang mas, nggak mau nanti." Rengeknya manja.


Reihan menghela napas, lalu menatap istrinya lembut. "Tunggu di sini, mas pergi belikan."


Alicia menggeleng ribut. "Nggak mau, aku mau ikut ke sana mas. Makan di sana langsung lebih enak."


"Tapi sayang, wajah kamu masih pucat. Kamu tunggu di sini aja ya, biar mas belikan."


Alicia tak mendengarkan kata-kata suaminya, dengan semangat ia melepas infus yang melekat di tangannya dan langsung turun dari ranjang. "Ayo mas, aku sudah tidak sabar untuk memakannya." Alicia menarik tangan Reihan yang sudah pasrah dengan apa yang dilakukan wanita keras kepala ini yang sayangnya sangat ia cintai.


"Kalian mau kemana?"


Zico yang tidak sengaja bertemu pasangan itu di lobi Rumah Sakit langsung bertanya.


"Alicia ingin makan sate taican." Jawab Reihan apa adanya.


"Ohh begitu, ya sudah, hati-hati di jalan." Setelah mengatakan itu, pria jangkung berparas tampan itu langsung melenggang pergi dari hadapan mereka.


"Ayo mas." Alicia kembali menarik tangan Reihan agar segera pergi dari sana.


Mata Alicia langsung berbinar tatkala dihadapannya sudah tersedia makanan yang ia inginkan. Beberapa menit yang lalu, mereka berdua baru saja sampai di tempat yang diinginkan Alicia. Setelah memesan apa yang ia inginkan, wanita cantik itu langsung duduk manis di salah satu kursi kosong yang ada di sana.


"Dimakan sayang, jangan diliatin aja." Reihan yang duduk di hadapan sang istri dibuat heran karena sejak tadi istrinya itu hanya menatap makanan yang ada di hadapannya dengan tatapan berbinar. Namun sama sekali tak berniat menyentuh makanan tersebut. Ada apa dengan istrinya? Padahal sejak tadi dia sangat menginginkannya, tapi saat ada di depan mata disentuhpun tidak.


Alicia mengangkat kepalanya dan menatap suaminya dalam. "Mas, buka mulutnya." Tangannya bergerak mengambil satu tusuk sate dan menyodorkan ke mulut sang suami.


Reihan tertegun sejenak, namun tak ayal membuka mulut dan melahap sate yang di sodorkan istrinya.


"Kamu nggak makan? Bukannya dari tadi kamu mau makan sate ini?" Tanya Reihan setelah menelan sate yang berada dalam mulutnya.


Alicia menggeleng, "keinginanku sudah terpenuhi dengan hanya menghirup aromanya."


"Maksudnya?" Satu alis Reihan terangkat naik, karena tidak paham dengan apa yang dimaksud istrinya.


"Aku tidak mau memakannya, mas aja yang habiskan." Ujar Alicia yang kembali menyodorkan sate ke mulut suaminya.


Dengan berat hati Reihan memakan sate tersebut, karena sebenarnya ia tidak terlalu menyukai sate taican. Namun, karena ulah sang istri, terpaksa ia harus menghabiskan semuanya.


Selesai menghabiskan seleuruh sate dan membayar tagihan. Reihan mengajak istrinya pulang, apalagi tiba-tiba wanita cantik itu mendadak pusing dan hampir pingsan di sana.


"Masih pusing?" Reihan yang sedang fokus menyetir mengusap kepala istrinya dengan satu tangan. "Mas 'kan tadi udah bilang, kamu ngeyel sih."


"Ya mau gimana lagi, itu bukan keinginan aku."


Reihan mengernyit bingung, kalau bukan keingunannya lalu kenginan siapa? Setan? "Lalu keinginan siapa?"


Alicia meraih tangan Reihan yang ada di kepalanya, lalu mengarahkannya ke perut ratanya. "Keiinginan dia."


"Dia maksudnya?" Reihan yang awalnya belum paham tentu saja bingung, namun detik berikutnya matanya melotot dan menatap istrinya meminta penjelasan.


"Aku hamil mas."


Reihan yang terkejut, langsung menginjak pedal rem. Membuat mobil yang ada di belakangnya hampir saja menabraknya.


"Kalau berhenti jangan mendadak dong!" Teriak sang pengemudi yang kesal dengan tingkah Reihan. Lalu melajukan mobilnya kembali.


Alicia menepuk lengan suaminya. "Jalan mas, jangan berhenti di tengah jalan."


Tanpa menunggu istrinya berkata dua kali, Reihan kembali melajukan kendaraannya. "Sayang, apa yang kamu katakan tadi itu benar? Kamu sedang tidak bercanda kan?"


Setelah hening beberapa saat, Reihan langsung bertanya.


Alicia menoleh sambil tersenyum manis. "Aku serius mas, kamu akan segera menjadi ayah mas."


"Alhamdulillah ya Allah." Ucap Reihan penuh syukur. Rasa bahagia langsung membuncah dalam hatinya tatkala mendengar kabar bahagia tersebut.


Menurunkan kaca mobilnya, Reihan langsung berteriak. "Aku akan jadi ayah."


Pengendara yang mendengarnya ikut bahagia mendengar kabar tersebut, walau mereka tidak mengenal siapa mereka.


"Mas udah ih, malu." Alicia langsung mencubit pinggang suaminya karena pria itu berteriak sepanjang jalan.


Reihan langsung tertawa, namun tak ayal tetap menghentikan aksinya dan menutup kembali jendela mobil yang tadinya terbuka.


.


.


.


.


to be continue