
Alicia sudah mengantri untuk membeli tiket The conjuring: The Devil Made Me Do It yang akan mereka tonton ditemani oleh Bian yang yang memblokir tatapan para pria yang terarah kepada kakaknya.
"Kamu kenapa sih dek?" Tanya Alicia heran saat melihat tingkah adiknya.
"Nggak apa kak, tapi kenapa kakak pakai baju kayak gini sih?" Protesnya karena semua mata tertuju ke bahu putih mulus Alicia dan membuat Bian jengkel karena tubuh kakaknya di tatap seperti itu.
Alicia melihat penampilan dirinya sendiri dan merasa ia memakai baju biasa saja. Memang, bahu putih mulusnya terexpose karena model crop top yang ia pakai. Akan tetapi menurut Alicia pakaian yang ia pakai tidak seksi sama sekali. Ia juga memakai rok panjang bukan rok mini, lalu dimana salahnya?
Bian melepaskan jaket levis yang ia pakai dan menyampirkan di pundak kakaknya seraya berbisik. "Jangan dilepas."
"Iya bawel." Alicia segera memesan empat tiket kepada petugas dan membayarnya.
Bian menggandeng kakaknya ke tempat Rafan dan Ken menunggu mereka. Saat pintu theater dibuka, mereka berempat masuk diikuti oleb banyak orang lainnya.
"Kak, kamu memang doyan nonton horror ya?" Tanya Ken setelah mereka berempat duduk nyaman di kursi bioskop.
Posisinya Alicia berada di tengah-tengah diantara ketiga adik tampannya. Dengan Bian di samping kanan dan Ken di samping kiri. Sementara Rafan disebelah Ken karena Ken sebenarnya sedikit penakut dibandingkan Bian dan Rafan. Hal itu hanya diketahui oleh kedua laki-laki itu. Makanya, mereka menempatkan Ken dan Alicia di antara mereka berdua.
"Iya, kenapa?"
"Nggak apa-apa kak, cuma heran aja. Karena kebayakan anak perempuan kan sukanya nonton drama romantis kayak drama korea dan yang lainnya?"
"Itu kan kebanyakan Ken. Tapi aku nggak terlalu suka film mellow kayak gitu." Jelas Alicia sambil menatap sahabat adiknya itu.
"Ohhh gitu." Ken mendapatkan jawabannya dan menatap layar karena film akan segera dimulai.
Selama film berlangsung Alicia sangat fokus dan menikmati setiap alur cerita. Bian melirik kakaknya yang sama sekali tidak berkedip atau teriak saat ada setan yang muncul. Padahal kebanyakan penonton wanita teriak-teriak saking seramnya. Ken sudah pucat dan tidak sadar sudah menggenggam tangan Alicia yang duduk di sampingnya.
'Astaga ini bocah. Ternyata dia penakut juga.' Batin Alicia seraya melirik Ken yang menatap lurus ke layar bioskop. Sementara tangannya tetap menggenggam tangan kakak sahabatnya.
Saat film usai, Ken langsung menjadi objek tertawaan Alicia karena wajah pemuda itu benar-benar pucat dan tidak melepaskan tangan Alicia dari tadi. Bibir Bian terangkat melihat sahabatnya menderita. Benar-benar sahabat laknat.
"Lain kali kalau kita nonton film horror Ken nggak usah diajak. Lihat, wajahnya pucat banget." Ledek Alicia sambil tertawa.
"Aku bukan penakut kak, hanya sedikit tidak berani kalau nonton film horror." Kilah Ken karena ia tidak mau di cap sebagai penakut. Sebagai laki-laki harga dirinya akan jatuh kalau lebih penakut dari pada perempuan. Akan tetapi ekspresinya memang tidak bisa bohong dan hal itu yang dirasakan Ken.
"Apa kalian lapar? Cari makan yuk." Alicia mengalihkan pembicaraan dan membawa ketiga adiknya meninggalkan bioskop.
๐ผ๐ผ๐ผ
Suasana mansion sore itu terlihat sepi karena Alicia, Bian dan Rafan belum pulang. Adhit yang baru pulang merasa heran dan segera mencari keberadaan istrinya.
"Sayang, anak-anak kemana? Apa belum pulang?" Tanya Adhit setelah berada di samping Clara yang sedang minum teh di gazebo taman belakang. Adhit sudah tau kalau Alicia tadi pergi ke luar karena diberitahu oleh istrinya.
"Belum Mas. Mungkin mereka main dulu, lihat." Clara menyodorkan ponselnya ke arah Adhit. Alicia baru saja mengupload foto kebersamaannya dengan Bian, Rafan dan Ken saat mereka sedang makan di cafe ke instagram pribadinya.
Adhit tersenyum "Baguslah kalau Alicia bersama mereka. Mereka bisa menjaga kakaknya kalau sedang di luar. Mas juga meminta pengawal diam-diam mengikuti Alicia dari jauh." Dia duduk di sebelah Clara yang menuangkan teh panas ke cangkir yang tersedia di sana.
"Rencana Mas akan bicara pada Alicia hari ini. Karena dia hanya sebentar di sini. Jadi kita harus segera membahasnya." Adhit memijit pelipisnya karena bingung cara membahas masalah perjodohan ini kepada putrinya. Karena ia paham betul bagaimana karakter putrinya yang keras kepala.
"Iya Mas benar, aku berharap dia tidak akan marah dan menerima perjodohan ini."
"Mas juga berharap dia akan menerimanya." Adhit langsung merenung memikirkan cara menyampaikan kepada putrinya itu.
Saat sedang menikmati teh sore sambil memikirkan cara bicara pada Alicia. Suara tawa ketiga anak mereka membuat mereka menoleh. Apalagi Clara langsung menjawab setelah mendengar Rafan memanggil dirinya.
Ketiganya langsung menuju taman belakang setelah mendengar suara ibunya.
"Daddy sudah pulang?" Tanya Alicia dan segera duduk di samping ayahnya seraya memeluk lengan Adhit manja. Sementara Bian dan Rafan duduk di samping Clara seraya memeluk wanita itu.
"Gimana jalan-jalannya sayang?" Adhit mengusap rambut putrinya.
"Seru banget dad, untung saja kedua bocah sudah selesai kuliah. Kalau tidak, aku akan jalan-jalan sendirian." Jawabnya sabil tersenyum manis.
"Sayang, daddy sama mommy mau bicara sama kamu. Ayo ikut ke ruang kerja daddy." Adhit berdiri dan melangkah meninggalkan gazebo tampa mendengar jawaban Alicia.
"Kalian berdua masuk kamar dan mandi ya." Clara mengusap lengan kedua putranya yang masih memeluk tubuhnya. Bian segera beranjak pergi menuju kamar mereka masing-masing tampa protes sedikitpun. Karena mereka tau, kedua orangtuanya akan membicarakan sesuatu yang penting dengan sang kakak.
"Kamu ikut mommy." Clara berdiri diikuti oleh Alicia menuju ke ruangan kerja sang ayah.
Setelah hening sejenak Alicia memberanikan diri untuk bertanya. Apalagi ekspresi ayahnya saat ini sangat serius membuat gadis itu sangat gugup.
"Daddy dan mommy mau bicara apa?" Tanyanya gugup. Entah kenapa ia gugup seperti ini, seakan akan ia akan mendengar sesuatu yang kurang mengenakkan.
"Kami mau membahas tentang perjodohan antara kamu dengan Reihan anak rekan bisnis daddy."
Benar saja, saat kata itu jatuh dan mengambang di udara. Alicia langsung terkejut. "Apa? Perjodohan? Daddy dan mommy nggak lagi bercanda kan?" Tanya Alicia seakan tidak percaya dengan pendengarannya. Yang benar saja? Ia sama sekali belum terpikir untuk menikah di usia muda. Apalagi ia harus menikah dengan laki-laki yang sama sekali tidak ia kenal. Membayangkannya saja ia tidak pernah, apalagi benar-benar terjadi.
"Kami serius sayang, untuk apa kami bercanda? Keluarga Reihan akan datang besok untuk silaturahmi dan membahas perjodohan ini." Jawab Adhit menjelaskan.
Alicia langsung meremas tinjunya menahan emosi yang mulai membuncah. "Kenapa daddy dan mommy nggak bilang dulu sih sama aku? Kenapa setuju aja keluarganya datang besok?" Alicia hampir mengeluarkan nada tinggi karena amarahnya.
"Sekarang kan kita sedang membahasnya sayang." Kilah Adhit memberi alasan.
.
.
.
.
to be continue