
Alicia terdiam dan menatap kedua orangtuanya bergantian lalu menghela napas berat. "Ah sudahlah, pokoknya aku menolak perjodohan ini. Aku belum siap menikah muda dan aku juga nggak mau menikah dengan laki-laki yang tidak aku kenal." Alicia berbalik dan pergi dari ruangan ayahnya. Panggilan ibunya sama sekali tidak ia dengarkan dan terus melangkah pergi.
"Enak aja mau menjodohkan aku sama orang nggak dikenal. Memangnya aku nggak laku, pakai acara dijodohin segala?" Gerutunya sambil berjalan menuju ke kamarnya.
Sementara Adhit dan Clara sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Cukup lama mereka diam tampa suara sampai Clara membuka suara mengoyak keheningan di antara mereka berdua.
"Jadi gimana Mas? Aku sudah menduga dia akan langsung menolaknya." Clara menatap suaminya dengan tatapan serius.
"Perjodohan ini tidak bisa dibatalkan. Karena Mas yakin, Reihan akan bisa menjadi suami yang baik untuk putri kita." Adhit mengangkat matanya dan menatap istrinya tepat di bola mata Clara. "Sebaiknya kamu coba membujuknya. Tidak ada penolakan untuk perjodohan ini." Adhit menekankan kata-katanya dengan tatapan tajam. Berarti semua itu sama sekali tidak bisa dibantah.
Siapa Adhit? Clara paham betul bagaimana karakter suaminya. Dari dulu pria itu sama sekali tidak bisa dibantah. Setiap keputusannya selalu bisa terlaksana. Tidak ada kata gagal dalam kamusnya. Kalaupun gagal ia akan berusaha memperbaikinya dan berusaha sampai berhasil. Sehingga saat mendengar penolakan putrinya tadi, pria itu hampir meledak karena amarah. Terlihat dari rahangnya yang mengetat dan tatapannya yang sangat tajam.
Clara menghela napas "Baiklah, aku akan mencoba membujuknya agar menerima perjodohan ini."
"Pergilah!" Adhit menjatuhkan tubuhnya di kursi kebesarannya dan memutar kursi membelakangi istrinya.
Clara menatap suaminya yang membelakanginya dan melangkah pergi. Ia tau saat ini suaminya sedang marah dan tidak bicara banyak.
๐ผ๐ผ๐ผ
Langit sudah gelap, pertanda sang raja malam telah datang. Di dalam kamar Alicia termenung, ia merasa akrab dengan nama laki-laki yang disebutkan akan dijodohkan oleh ayahnya tadi. Alan tetapi, ia sama sekali tidak ingat dengan laki-laki itu.
"Siapa dia? Kenapa seakan aku pernah mendengar namanya?" Gumamnya pelan. Tak lama pintu kamarnya terbuka menampakkan sosok cantik ibunya yang berdiri lurus di ambang pintu.
"Apa mommy boleh masuk?" Tanya Clara basa-basi.
"Tentu mom, kenapa pakai izin segala sih? Kayak mau masuk kamar orang lain aja." Celetuk Alicia sambil tersenyum.
"Ya mana tau kan? Mommy nggak boleh masuk ke kamar kamu." Clara tertawa pelan dan melangkah masuk ke dalam kamar putrinya.
"Mommy ada-ada aja deh. Ada apa mommy sayang? Apa mau bahas yang tadi?" Seakan bisa menebak maksud kedatangan ibunya, Alicia langsung bertanya seperti itu.
Clara membeku karena tujuannya terbaca oleh putrinya ini. Wanita itu langsung tersenyum kaku dan duduk di tepi ranjang yang juga sedang diduduki oleh Alicia.
"Ahmm." Clara mencoba membersihkan tenggorokannya yang tiba-tiba seret. "Iya, mommy mau bahas masalah yang tadi." Jawab Clara jujur dan memperhatikan reaksi putrinya.
Melihat anaknya tenang dan tidak berkomentar, Clara melanjutkan ucapannya. "Apa kamu serius mau menolak perjodohan ini?"
"Awalnya aku memang mau menolak. Karena yang pertama, aku belum siap untuk menikah muda. Kedua, aku belum kenal dengan laki-laki itu." Alicia menjeda ucapannya. "Akan tetapi, setelah sampai di kamar aku merasa pernah mendengar nama laki-laki itu. Apa sebelumnya aku pernah bertemu dengannya?"
Clara tersentak saat mendengar pernyataan dan pertanyaan putrinya. Apa dia benar-benar tidak ingat kalau Reihan pernah membantunya dulu? "Ingatan kamu bagaimana? Apa kamu pernah bertemu dengannya?" Clara mencoba memancing ingatan anaknya, meskipun akan sulit karena kejadian itu sudah lama sekali.
Alicia mencoba mengingat masa lalunya, namun sama sekali ia tidak menemukan memori tentang Reihan ini. "Aku tidak bisa mengingatnya. Apa mommy tau sesuatu? Apa sebenarnya aku mengenalnya?" Tanya Alicia beruntun.
Entah kenapa perasaannya mengatakan kalau ia mengenal laki-laki itu. Akan tetapi, ia tidak tau kapan dan dimana ia bertemu laki-laki itu. Alicia menatap ibunya meminta penjelasan.
Clara menatap putrinya seakan sedang mengenang masa lalu. "Apa kamu masih ingat, dulu kamu pernah hampir di culik dan dibantu oleh seorang laki-laki?"
Alicia terdiam mendengar pertanyaan ibunya. Seketika bayangan saat ia dikejar oleh preman dan menangis sendirian di jalanan. Tiba-tiba ada mobil yang berhenti dan seorang laki-laki dengan wajah tampan ke luar dari mobil berusaha menenangkannya. Kemudian membawa dirinya pulang dengan selamat.
Tampa ia sadari, air mata mengalir begitu saja membasahi pipinya saat teringat kejadian itu. "Jadi dia?"
"Dia siapa sayang?" Clara pura-pura belum connect dengan apa yang diucapkan putrinya dan menunggu Alicia untuk menjelaskan detailnya.
"Laki-laki yang daddy dan mommy jodohkan denganku adalah laki-laki yang pernah menolongku dulu. Benarkan?" Jelasnya disertai dengan pertanyaan untuk meyakinkan jawabannya barusan.
Clara tersenyum dan mengusap pipi putrinya yang basah oleh air mata. "Kamu benar sayang. Makanya daddy kekeuh untuk menjodohkan kamu dengannya. Karena daddy yakin, dia bisa menjadi suami yang baik untuk kamu. Mommy juga setuju kalau kamu menikah dengannya."
Clara menarik putrinya ke dalam pelukannya dan mengusap punggunggnya lembut. "Jadi gimana? Masih mau menolak?" Goda Clara yang sukses membuat putrinya memerah dan mengerucutkan bibirnya sebal.
"Berarti setuju ya, karena anak mommy sudah merona karenanya." Clara tidak berhenti menggoda putrinya yang sudah semakin memerah seperti tomat dan tak mampu mengeluarkan suara.
Clara terkekeh geli melihat ekspresi putrinya. "Tadi mati-matian nolak. Sekarang tidak bisa berkata-kata. Aduh-aduh." Godaan Clara semakin menjadi. Hal itu membuat Alicia semakin jengkel.
"Mommy, udah ngegodanya?" Alicia menatap ibunya datar tampa senyum di wajahnya. Membuat Clara langsung berhenti tertawa dan menghela napas dalam-dalam.
"Baiklah, maaf ya dari tadi mommy godain kamu terus." Clara membelai rambut putrinya penuh sayang.
"Apa tadi daddy marah karena aku menolak perjodohan ini?" Tanyanya, karena tadi ia merasakan tatapan tajam ayahnya saat menolak perjodohan itu.
"Hmm, kamu tentu tau bagaimana daddy." Alicia menganggukkan kepalanya karena ia tau bagaimana ayahnya itu. "Makanya, mommy ada di sini untuk membicarakan semua ini sama kamu." Imbuh Clara dengan tangan menggenggam tangan putrinya.
"Menikah itu juga ladang ibadah untuk perempuan. Dengan kamu taat kepada suami dan mengerjakan perintah Allah. Maka surga akan kamu dapatkan dan bisa masuk dari pintu mana saja."
Penuturan ibunya seakan mencerahkan pikiran Alicia tentang pernikahan. Awalnya ia tidak berniat menikah muda, sekarang entah kenapa gadis itu ingin menikah muda.
"Kalau begitu, aku bersedia menikah dengannya." Ucap Alicia malu-malu, sungguh setelah tau siapa laki-laki yang dijodohkan dengannya. Hatinya seakan dibalikkan dan menerima perjodohan dengan sepenuh hati.
"Are you serious honey?" Tanya Clara memastikan.
"I'm serious mommy. I want to marry him." Wajah Alicia sudah memerah karena malu atas pengakuannya.
"Okay, okay. Mommy akan memberitahu daddy tentang kesediaan kamu." Clara tersenyum senang mendengar keputusan anaknya. "Sekarang kita turun yuk, adik-adik kamu pasti udah makan."
.
.
.
.
to be continue