Surrogate Husband

Surrogate Husband
Terimakasih Sudah Memilihku



"Selamat kakakku sayang." Bian datang menghampiri kakaknya yang langsung tersenyum kepadanya. "Mas Rei, tolong jagain kakakku yang cantik ini ya." Bian menatap kakak iparnya serius.


"Iya mas Rei, jangan pernah membuat kakak kami menangis barang sekali saja. Kalau menangis karena bahagia itu beda cerita." Timpal Rafan yang sudah bergabung di atas pelaminan bersama saudaranya.


Reihan mengangguk dan tersenyum seraya merangkul pinggang perempuan yang sudah sah menjadi istrinya itu. "Kalian tenang saja, mas akan selalu membahagiakan kakak kalian. Tapi mas tidak janji untuk tidak membuatnya menangis."


Alicia melirik pria di sampingnya dengan tatapan bingung. Apa maksudnya? Apa dia berencana membuat dirinya menangis? Yang benar saja?


"Kenapa begitu?"


"Alasannya?"


Bian dan Rafan sama-sama bertanya untuk menanyakan maksud dari jawaban Reihan. Menyadari tatapan bingung istrinya dan mendapat pertanyaan dari kedua adik iparnya. Reihan langsung tersenyum tipis.


"Tentu saja." Reihan mendekat ke arah kedua kakak beradik itu dan berbisik. "Nanti malam mas akan membuat kakak kalian menangis untuk pertama kalinya."


Mata Bian dan Rafan langsung melebar dan tersenyum penuh arti. Sebagai laki-laki mereka paham apa yang dimaksud kakak iparnya barusan. Kalian pasti tau apa yang dia maksud. Tentu saja ritual sebagai pengantin baru. Ah! Sungguh kakak iparnya ini terlalu jelas mengatakan hal itu.


Berbeda dengan reaksi kedua adiknya, Alicia menukikkan alisnya tajam dan menatap ketiga laki-laki itu secara bergantian. "Kalian kenapa? Mas Reihan mengatakan apa barusan?" Tanyanya menyelidik dengan tatapan tajam kepada kedua adiknya.


Bian berdehem dan Rafan menggaruk tengkuknya. "Ada apa sih?" Alicia semakin merasa aneh dengan tingkah keduanya. "Mas, jawab kamu bicara apa kepada Bian dan Rafan?"


Reihan tersenyum tipis dan mendekat ke arah telinga Alicia. "Jadi... " Dia mengatakan apa yang ia katakan kepada Bian dan Rafan tadi.


Alicia langsung melotot dengan pipi bersemu merah. "What? Ya ampun." Alicia langsung salah tingkah dan menatap suaminya dengan tatapan tak percaya. Dia benar-benar malu saat ini. Apalagi kedua adiknya sudah senyam-senyum melihat dirinya bersemu merah dan salah tingkah.


Tak lama keduanya segera turun setelah memeluk keduanya serta karena banyaknya tamu yang sudah antri ingin memberi selamat kepada kedua pengantin.


Para tamu silih berganti memberikan selamat sekaligus photo bersama kedua pengantin.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Hampir tengah malam, ballroom hotel hanya menyisakan kedua keluarga besar. Karena para tamu undangan sudah pulang.


"Kalian berdua istirahatlah! Kalian pasti lelah karena belum istirahat dari tadi." Perintah Adhit kepada anak dan menantunya.


"Palingan Reihan juga nggak akan izinin Alicia istirahat." Celetuk Raka yang langsung mendapat pelototan dari Bila.


Semua orang tertawa mendengar semua itu, kecuali kedua pengantin baru yang terlihat salah tingkah dengan wajah memerah.


"Mas... " Peringat Bila.


"Kenapa sayang? Waktu kita dulu juga..." Bila langsung membekap mulut suaminya agar tidak melanjutkan kata-katanya lagi.


"Mas Raka benar, tadi aja mas Reihan sudah kasih kode ke kita. Ya kan Fan?" Bian ikut menambahkan dan diangguki oleh Rafan.


Hal itu semakin membuat wajah Alicia memerah bak kepiting rebus dan Reihan terlihat kaku.


"Sebaiknya kalian segera ke kamar. Dari pada terus di godain di sini." Clara yang melihat ekspresi keduanya langsung menyuruh mereka untuk segera pergi ke kamar.


Setelah berpamitan kepada semua keluarga, keduanya segera meninggalkan ballroom menuju ke kamar yang sudah disiapkan untuk mereka.


Memasuki kamar yang berukuran besar dengan satu kamar tidur dan ruang tamu. Mereka disuguhi pemandangan indah kota di malam hari serta kamar yang dipenuhi oleh kelopak bunga mawar merah. Membuat kesan kamar menjadi sangat romantis.


Alicia melirik laki-laki di sampingnya yang sedari tadi tidak mengeluarkan sepatah kata apapun. Kemudian segera melangkah menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Karena tubuhnya sudah sangat lengket.


Beridir di depan cermin, Alicia melepaskan semua atribut yang masih menempel di kepala dan tubuhnya. Kemudian mengisi bathtub untuk berendam. Lebih kurang 20 menit, dia selesai mandi dan melangkah ke luar dengan memakai bathrobe.


Saat ke luar ia tidak menemukan keberadaan suaminya dimanapun. Mungkin dia sedang ke luar pikirnya. Tampa memperhatikan sekitar, gadis itu membuka bathrobe yang ia pakai sebelumnya dan memakai gaun tidur yang ia ambil dari dalam koper.


Sementara Reihan yang baru saja masuk ke dalam kamar langsung terkejut saat melihat istrinya menanggalkan bathrobe yang ia pakai begitu saja. Membuat laki-laki itu dengan susah payah menelan salivanya saat melihat pemandangan yang begitu indah dan halal untuk dipandang bahkan halal untuk disentuh.


Alicia yang sudah selesai berpakaian langsung berbalik. Namun sepersekian detik kemudian ia langsung melotot saat melihat suaminya berdiri seperti patung di ambang pintu kamar sambil menatap lurus ke arahnya.


"Mas Rei dari kapan berdiri di situ?" Tanyanya penasaran.


"Dari tadi." Singkat padat dan jelas, itulah jawaban Reihan yang membuat jantung Alicia semakin ketar ketir dan berpikir kalau laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya ini melihat semua yang ia lakukan barusan.


"Iya, dari tadinya sejak kapan?"


Reihan tersenyum miring. "Sejak... " Dia menggantung kata-katanya seraya melangkah mendekati Alicia. "Sejak awal kamu berdiri di sini dan memakai gaun ini." Bisiknya tepat di telinga Alicia.


Degh


Alicia langsung gelagapan, ternyata suaminya benar-benar melihat semuanya. Ya ampun, malunya. "Jadi mas lihat semuanya?" Tanya Alicia dengan kepala tertunduk.


Reihan semakin melebarkan senyumnya saat mendengar pertanyaan istrinya. "Kalau iya kenapa? Kamu adalah istriku, jadi...." Reihan mengangkat dagu istrinya dan menatap wajah yang sudah memerah itu. "Apa salah kalau aku melihatnya?"


Alicia tidak bisa berkata-kata, karena memang tidak salah kalau seorang suami melihat tubuh istrinya. Karena itu adalah hak suami. Juga seorang istri hanya bisa dilihat tubuhnya tampa memakai apapun hanya oleh suaminya seorang. Begitupula sebaliknya, seorang suami hanya bisa dilihat tubuhnya tampa memakai apapun oleh istrinya seorang.


"Kenapa diam, hmmm?" Reihan mengusap lembut kepala Alicia yang masih diam seribu bahasa.


Alicia menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa, mas memang tidak salah. Karena aku sudah sah menjadi istri mas. Jadi, semua yang ada padaku adalah milik suamiku. Yaitu kamu mas."


Reihan tersenyum mendengar jawaban istrinya, kemudian mendaratkan kecupan manis di kening sang istri sebelum memeluknya. "Terimakasih sudah memilihku menjadi suamimu dan terimakasih sudah mau menjadi istriku."


Alicia tidak bisa membendung air matanya mendengar kata-kata sederhana namun memiliki makna mendalam itu. Ia sangat bersyukur bisa mempunyai suami seperti Reihan yang sangat menghormati yang namanya perempuan.


"Terimakasih juga karena sudah memilihku mas." Alicia membalas pelukan Reihan seraya membenamkan kepalanya di dada suaminya.


.


.


.


.


to be continue