Surrogate Husband

Surrogate Husband
Mengerjai Perempuan Genit



Alicia baru saja sampai di depan Fakultas Hukum karena Bian melanjutkan kuliah di jurusan hukum. Setelah memarkirkan mobilnya, gadis cantik itu segera mencari keberadaan adiknya. Ia sengaja mengabaikan telphon Bian karena mau memberikan kejutan pada sang adik.


Matanya menelusuri setiap tempat yang ada di sana. Akhirnya ia menemukan keberadaan Bian di dekat taman bersama Kendrick dan seorang gadis yang terlihat membuat Bian sangat tidak nyaman.


'Siapa gadis itu? Kenapa Bian terlihat tidak menyukainya? Malahan ekspresi wajahnya terlihat jijik.' Alicia bertanya-tanya dalam hati.


"Bian...!" Alicia melambaikan tangannya seraya tersenyum manis.


Bian menoleh dan Kendrick membeku ditempat. Sementara Reina menatap Alicia dengan tatapan tidak suka. Alicia tidak memperdulikan tatapan Reina dan terus melangkah menghampiri adiknya seraya memberikan kode kepada sang adik.


"Kamu ke sini? Pantas saja tadi aku telphon nggak di jawab." Tatapan tajam dan dingin akibat tingkah Reina serta Ken langsung lenyap seketika berganti menjadi tatapan lembut. Semua itu jatuh ke mata Reina dan membuat gadis itu terkejut setengah mati.


"Aku mau kasih kejutan tentunya."


Ken yang mendengar kata-kata yang ke luar dari mulut Bian dan gadis itu hampir tersedak. Karena ia tau kalau gadis cantik yang saat ini berdiri di hadapan mereka adalah Alicia kakak kandung Bian. Melihat tingkah keduanya dan gesture tubuh Alicia. Ken dapat menebak keduanya sedang acting untuk mengelabui nenek sihir alias Reina.


Menyadari tatapan seseorang terarah kepadanya. Alicia mengalihkan pandangannya dan langsung menyapa sahabat adiknya. "Hai Ken, apa kabar?"


"Hai, aku baik." Jawab Ken kaku, sungguh ia benar-benar gugup saat ini. Karena ia sudah lama tidak bertemu dengan Alicia. Sekali bertemu, kakak sahabatnya sudah tumbuh dewasa dan cantik. Keindahannya tidak bisa dilukiskan, membuat pria itu sedikit memerah.


Alicia tersenyum lembut membuat Ken terpana dan Reina kejang-kejang karena Alicia mendapat perhatian dari kedua pria tampan tersebut.


"Arslan, dia siapa?" Tanya Reina seraya menunjuk ke arah Alicia.


Bian menatap kakaknya sambil tersenyum. "She is my lovely girlfriend." Tentu saja itu bohong, semua itu ia lakukan agar Reina menjauh darinya.


Ken terbatuk, keduanya layak mendapatkan nominasi actor dan actress terbaik nih pikir Ken karena melihat totalitas acting keduanya benar-benar natural.


Reina melotot dan menatap Alicia penuh kebencian. "Dasar perempuan genit, berani banget kamu merebut Arslan dari aku." Teriaknya marah.


Alicia menatapnya acuh tak acuh dan menyerobot di antara Reina dan Bian. Dengan suara tegas dan dingin dia menjawab. "He is mine, you're just trash." Tangannya langsung melingkar di pinggang Bian membuat Reina hampir meledak.


"Apa kamu bilang?" Tangannya terangkat hendak menampar Alicia, namun segera ditangkap oleh gadis itu dan menekannya ke belakang tubuh Reina.


"Aku peringatkan sekali lagi sama kamu. Jangan pernah kamu dekati Bian lagi. Atau...." Tangannya yang putih mulus langsung membelai wajah Reina dan mencengkaram dagunya erat. "Kamu akan tau akibatnya." Suaranya dingin dan acuh tak acuh membuat Reina bergetar. Apalagi saat bertemu dengan mata indahnya yang dingin tampa dasar, gadis itu benar-benar kewalahan dibuatnya dan ingin segera pergi menjauh dari sana.


"Ba-iklah, aku tidak akan mengganggunya lagi." Dia langsung berlari saat Alicia melepaskan cengkraman di dagu dan tangan Reina.


Semua orang menatap Alicia dengan ngeri sementara Ken hampir meledak dengan tawa yang ia tahan dari tadi. Meskipun dalam hati ia sedikit takut dengan tatapan Alicia yang ditunjukkan kepada Reina tadi. Namun berusaha ia tekan dan memarkan senyum lebarnya.


Bian yang sudah lama tidak melihat aksi kakaknya juga ikut terpana sesaat. Karena dari dulu setiap ada perempuan yang mendekatinya dan Alicia tau dia tidak suka. Maka kakaknya akan membuat perempuan itu lari tunggang langgang dan tidak berani mendekatinya lagi.


"Rafan mana?"


Seakan ditarik ke dalam kenyataan, Bian segera menjawab. "Kayaknya masih kuliah kak, kenapa?"


Alicia hanya mengangguk, namun matanya sibuk mencari keberadaan adik kecilnya.


Pria muda itu menoleh saat mendengar ada yang memanggil namanya. Saat matanya menangkap sosok cantik yang sedang tersenyum seraya melambaikan tangan. Mata Rafan langsung berbinar dan tersenyum lebar.


"Kakak." Ia tidak pernah berpikir kakaknya akan datang ke kampusnya hari ini. Rafan langsung berlari menghampiri Alicia. "Kakak kok nggak bilang sih kalau mau ke sini?" Pemuda itu langsung memeluk kakaknya begitu saja.


Alicia terkekeh melihat tingkah manja adik bungsunya. Sementara Bian dan Ken langsung geleng-geleng kepala.


"Kamu masih ada kelas hari ini?" Tanya Alicia lembut, nadanya sangat jauh berbeda saat ia berbicara dengan Reina tadi.


Rafan melepaskan pelukannya dan mengingat jadwalnya hari ini. Kemudian ia menggelengkan kepalanya. "Nggak ada kak, kelasku baru saja usai untuk hari ini."


"Bagus, ayo kita jalan-jalan." Alicia menarik adiknya hendak menuju parkiran. Seakan melupakan sesuatu ia berhenti dan berbalik. "Bian bawa mobil kan? Kamu dan Ken ikuti mobil kakak ya."


Belum sempat Bian menjawab, Alicia sudah berlalu bersama Rafan menuju parkiran. Mau tidak mau Bian segera mengikutinya dan menarik Ken yang terbengong melihat tingkah ajaib kakak sahabatnya.


Reina yang menyaksikan semua itu dari jauh langsung mengepalkan tinjunya. "Tadi kakaknya, sekarang adiknya juga dia dekati. Maunya apa sih? Dasar ******!" Makinya marah, ia benar mengukir kebencian di dalam hati untuk Alicia. Ia juga iri dengan kecantikan gadis itu yang tidak sebanding dengan dirinya. Ia marah karena kalah cantik dari Alicia, ia benci karena Alicia bisa mendapat perhatian dari ketiga pria tampan dan populer di kampus. Ia ingin menghancurkan gadis itu sampai ia tidak bisa bangkit lagi.


"Lihat saja, aku akan membuat kamu menderita." Setelah mengucapkan sumpahnya, ia pergi dengan kemarahan yang semakin meluap. Ia tidak tau kalau kemarahannya itu akan membawa kehancuran bagi dirinya sendiri nantinya.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Rafan yang sedari tadi diam menoleh ke samping. "Kita mau kemana kak?" Tanya Rafan yang duduk di sebelah Alicia.


"Hmmm, nonton." Jawab Alicia singkat seraya menambah kecepatan mobilnya.


"Nonton film apa? Horror?" Pertanyaan Rafan bukan tidak berdasar. Siapa Alicia? Dia adalah gadis pemberani yang hobi menonton film horror. Mulai dari Anabelle, Conjuring, Pengabdi Setan, dan masih banyak lagi sudah pernah dia tonton. Jadi kalau Alicia menjawab iya, Rafan tidak akan kaget lagi. Karena semua itu sudah menjadi hobinya.


Alicia tersenyum mendengar pertanyaan adiknya. "Tentu saja." Film horror adalah kesukaannya. Ia sama sekali tidak suka dengan film romantis dan mellow yang kebanyakan disukai oleh para gadis. Karena ia tidak mau menghabiskan energinya untuk menangis dan terbawa perasaan saat menyaksikan film tersebut. Oleh karena itu dia lebih suka film horror dan action yang memacu adrenalinnya setiap kali ia menonton film dengan genre tersebut.


"Kenapa kak Alicia ngajak kita ke sini sih?" Protes Kendrick saat melihat mobil Alicia masuk ke dalam mall.


"Entahlah, kita ikuti saja." Bian memarkirkan mobilnya dan segera ke luar setelah mematikan mesin mobil serta melepaskan seatbelt yang melekat di tubuhnya.


"Baiklah." Ken ikut ke luar dari dalam mobil mengikuti sahabatnya yang sudah berdiri di dekat kedua saudaranya.


.


.


.


.


to be continue