Surrogate Husband

Surrogate Husband
Gagal Honeymoon



Alicia terbangun dengan tubuh remuk akibat ulah suaminya semalam. Dia meraih ponselnya dan melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 6 lewat.


"Astaga...!" Teriaknya dan spontan mendudukkan tubuhnya di atas ranjang dan membuat Reihan yang masih tidur ikut terbangun.


"Ada apa?" Tanya Reihan dengan suara yang masih serak khas bangun tidur.


"Lihat jam mas." Alicia menghadapkan layar ponselnya ke hadapan Reihan dan membuat pria itu melotot.


"Ya Allah, subuh." Ia langsung bangun dan turun dari ranjang tampa memakai apapun.


"Mas Rei...!" Panggil Alicia dan seketika Reihan menghentikan langkahnya.


"Apa sayang? Mas ngejar waktu nih."


Alicia mengarahkan matanya ke antara dua kaki suaminya. Reihan mengikuti arah pandang istrinya dan langsung terkekeh geli, kemudian segera berlari ke kamar mandi setelah mengambil celananya.


Selesai mandi dan bersih-bersih, mereka melaksanakan ibadah sholat subuh. Kemudian turun ke bawah untuk sarapan.


"Eh pengantin baru udah bangun aja nih pagi-pagi." Celetuk Bila saat melihat adik dan adik iparnya sudah turun dari kamarnya.


"Iya kak, kan sholat subuh kak. Walau agak telat." Jawab Reihan sambil memegang tengkuknya.


"Ayo duduk, kalian pasti lapar kan?" Ucap Clara sambil tersenyum.


Keduanya langsung duduk di kursi kosong dan langsung mengambil makanan yang sudah tersedia di sana.


"Kalian mau honeymoon kemana nih?" Tanya Adhit sambil menatap anak dan menantunya.


"Kayaknya aku dan mas Rei belum mau kemana-mana dad. Karena besok aku sudah harus tugas di Rumah Sakit." Jawab Alicia, karena memang sebagai dokter ia tidak bisa terlalu lama libur. Apalagi saat ini ia ditugaskan di Rumah Sakit yang hanya memiliki beberapa dokter saja. Sehingga mau tidak mau dia harus bertugas secepatnya.


Sebenarnya dia juga tidak habis pikir. Kenapa ia harus ditempatkan di sana. Padahal dia adalah pindahan dari John Hopkins Hospital yang seharusnya berada di Rumah Sakit besar. Namun demikian, ia tetap menerimanya dengan hati lapang dan tidak mempermasalahkan dengan mengajukan protes kepada pihak berwenang.


"Tapi honeymoon nggak harus jauh-jauh juga kan kak?" Celetuk Bian sambil memakan makanaannya.


"Benar apa yang dikatakan Bian. Diamanapun tempatnya, asal berdua akan terasa seperti honeymoon." Tambah Bila sambil tersenyum.


"Ahkmm... Sepertinya itu kode buat kamu tuh." Timpal Adhit sambil tertawa. Semua orang sudah tau siapa yang ia bicarakan.


"Benar begitu sayang?" Raka terkekeh dan melirik istrinya dengan tatapan penuh arti. Dia juga sudah memikirkan untuk menambah anak. Karena usia kedua anaknya juga sudah masuk 16 Tahun. Jadi sudah sewajarnya juga mereka memiliki rencana untuk memiliki anak. Walaupun sebenarnya, jarak tersebut sudah sangat jauh.


Bila langsung tersipu dan tidak mengatakan apa-apa. Tapi tangannya sudah mendarat di pinggang Raka. Membuat pria itu langsung merasakan sensasi perih di pinggangnya. Namun ekspresi wajahnya terlihat tenang, walau sebenarnya di dalam hati ia meringis sedih.


Selesai sarapan dan beres-beres barang, mereka pulang ke rumah masing-masing dan Alicia langsung ikut dengan suaminya ke apartment Reihan yang sudah dibelinya jauh sebelum menikah dengan Alicia.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Memasuki gedung apartment Reihan yang terletak di bagian selatan kota. Alicia berjalan di sisi sang suami sambil melingkarkan tangannya di lengan Reihan. Meskipun bisa dikatakan mereka sudah dekat karena ia sudah menjadi milik sang suami seutuhnya. Namun Alicia masih merasa canggung saat berada di dekat suaminya.


"Kamu kenapa?" Tanya Reihan saat keduanya berada di dalam lift. Karena ia melihat istrinya beberapa kali menarik napas seperti orang yang sedang gugup.


Alicia menoleh dan tampa sengaja bertatapan dengan mata suaminya. "Tidak apa-apa mas." Jawabnya sambil menunduk.


Reihan langsung tersenyum melihat reaksi malu-malu istrinya. Kemudian merangkul Alicia ke luar dari lift karena pintu lift sudah terbuka di lantai apartment-nya.


"Jangan menatapku terus. Nanti makin jatuh hati loh."


Detik kata-kata itu meluncur dari mulut Reihan, dan didengar Alicia. Detik itu juga wanita itu tersadar dan langsung memalingkan kepalanya sambil terbatuk.


Saat memasuki apartment, mata Alicia dimanjakan dengan ruangan dengan nuansa dominan abu dan putih yang menenangkan.



"Mas, apartment-nya bagus banget." Puji Alicia seraya melihat sekeliling ruangan. Ia pun berkeliling mulai dari dapur sampai ke kamar tidur. Sementara Reihan membiarkan istrinya menjelajahi seluruh apartment dengan duduk di ruang tamu.


Melangkah memasuki kamar, Alicia langsung tertuju pada pemandangan lepas dari jendela kaca yang terletak tidak jauh dari tempat tidur. Ia langsung berlari-lari kecil menuju jendela dan melihat pemandangan kota dari sana.



"Apa kamu menyukainya?" Suara Reihan mengagetkan Alicia dan membuat ia langsung berbalik. Ia semakin kaget karena suaminya sudah berdiri tidak jauh dari tempat ia berdiri. Entah kapan masuknya? Ia sendiri tidak sadar.


"Kenapa diam? Apa kamu tidak menyukainya?" Tanya Reihan lagi.


"Ah bukan mas. Aku sangat menyukainya." Jawab Alicia antusias.


"Oh iya, untuk makan siang dan nanti malam kita pesan saja. Karena bahan makanan juga belum ada." Ucap Reihan seraya mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur.


"Oke mas. Besok saat kamu jemput aku ke Rumah Sakit kita sekalian belanja aja." Alicia ikut duduk di samping Reihan.


Reihan terdiam dan mengingat jadwalnya besok. Berhubung dia adalah pemimpin perusahaan. Sebenarnya ia masih punya waktu libur karena sudah ia sudah mengambil cutinya. Akan tetapi karena istrinya tidak bisa, terpaksa ia membatalkan cutinya dan tetap bekerja seperti biasa.


Alicia juga belum mengatakan kepada Reihan kalau ia sama sekali tidak bisa libur untuk saat ini. Sehingga Reihan belum mengetahuinya. Kalau saja tadi ayah mertuanya tidak bertanya. Mungkin saja dia belum tau kalau sang istri belum bisa libur.


Entah bagaimana ia melupakan kalau yang ia nikahi adalah seorang dokter yang memang sibuk dengan tugas dan tanggung jawabnya mengobati orang sakit. Sehingga ia sendiri juga harus menyesuaikan jadwalnya dengan sang istri.


"Baiklah, besok kamu pulang jam berapa?"


"Mungkin jam 5 mas. Tapi bisa jadi lebih cepat atau lambat." Jawabnya sambil tersenyum tipis.


"Ya sudah, aku mau pesan makanan dulu. Kamu kalau masih capek, istirahat aja. Nanti aku bangunin kalau makanannya nyampe." Ucap Reihan sambil mengusap kepala Alicia penuh sayang.


"Iya nih, badan aku masih pegal banget. Aku istirahat bentar ya. Nanti bangunin ya mas." Setelah mengatakan itu ia naik ke atas tempat tidur dan merebahkan tubuhnya. "Makasih mas." Imbuhnya sebelum memejamkan mata.


Reihan tersenyum sambil menatap istrinya yang sudah tertidur. "Sama-sama sayang." Kemudian beranjak dari kamar tidur ke ruang tamu.


.


.


.


.


to be continue