Surrogate Husband

Surrogate Husband
Pernikahan



Di depan sebuah cermin, berdiri seorang gadis dengan balutan kebaya berwarna putih dengan rok songket dan dilengkapi veil motif bunga kecil-kecil yang menutupi kepala hingga ke seluruh tubuhnya. Ia tampak cantik dalam balutan baju khas indonesia itu.



Gadis itu terlihat gugup karena beberapa kali menghela napas untuk menetralkan debar jantungnya yang berdetak kencang. Mengingat hari ini adalah hari dimana ia akan melepaskan masa lajangnya.


"Relax Ale, come on. Oh my God, kenapa aku gugup sekali?" Tanyanya pada diri sendiri. Dia berdiri dan berjalan mondar mandir di dalam kamar yang ia gunakan untuk make up.


Sementara di ruangan lain, seorang pria muda terlihat tampan dalam balutan jas warna abu-abu dengan kemeja berwarna putih dan dasi warna broken white.



Pria itu sedang melafalkan kata-kata qabulnya yang akan ia katakan dengan lantang saat akad nikah nanti. Di saat sedang serius dalam melafalkan kata-kata yang ia ulang-ulang dari tadi. Seseorang masuk ke dalam kamarnya dan membuat dirinya menoleh lalu tersenyum pada orang itu.


"Hai Rei, ayo ke luar." Ajak orang itu yang tak lain adalah kakak iparnya Raka.


"Iya mas. Apa semua orang sudah datang?" Tanya Reihan seraya berjalan di samping Raka.


"Sudah, penghulu juga sudah datang. Makanya kakakmu meminta mas untuk menjemput kamu." Yah, Raka memang dimintai tolong oleh Bila untuk memanggil adiknya. "Apa kamu gugup?" Tanya Raka saat melihat ekspresi tegang adik iparnya.


"Hmmm, sedikit." Jawabnya sambil tersenyum kaku.


Raka terkekeh. "Santai Rei, jangan tegang. Nanti salah sebut loh." Celetuk Raka sambil bercanda agar Reihan tidak gugup. Padahal dulunya dia juga tidak bisa santai sama sekali saat akad nikah dengan Salsabila. Bicara memang lebih gampang dari pada tindakan.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Reihan duduk berhadapan dengan Adhitama dan penghulu serta dua orang saksi di samping kanan dan kiri meja.


Master of ceremony mulai membuka acara akad nikah antara Reihan Emilio Dhananjaya dan Alessandra Alicia Syahreza. Setelah pembacaan ayat suci Al-Quran dan kata-kata dari penghulu. Reihan diminta menjabat tangan Adhitama dan mereka mulai latihan membaca ijab dan qabulnya.


Pengulangan pelafalan keduanya dilakukan sebanyak 3 kali sebelum penghulu berkata. "Bapak... Apa sudah diminta keridhoan putrinya untuk dinikahkan hari ini?" Tanya penghulu itu kepada Adhitama.


"Belum pak." Singkat padat itulah jawaban Adhit.


"Baik, silahkan menemui putrinya terlebih dahulu pak untuk meminta izin kepadanya bahwa dia akan segera dinikahkan." Ucap penghulu itu lagi. Adhit segera berdiri dan segera menuju ke ruangan dimana putrinya berada.


Saat masuk kamar, Adhit tidak bisa menahan air matanya lagi. Karena melepaskan seorang anak perempuan menikah adalah hal yang paling berat bagi seorang ayah.


"Daddy? What happen? Why you crying?" Alicia terkejut saat melihat kedatangan ayahnya yang langsung menangis saat melihat dirinya.


"It's okay baby girl. Daddy hanya mau meminta izinmu untuk daddy nikahkan sekarang juga." Jawab Adhit dengan berurai air mata.


Gadis itu menghampiri ayahnya dan menghapus air mata sang ayah. Sedangkan dirinya juga sudah hampir menangis juga saat melihat ayahnya menangis.


"Aku mengizinkan daddy untuk menikahkan aku dengan laki-laki pilihan daddy dan aku ridho atas semua itu. Karena aku sudah setuju menikah dengan mas Reihan." Alicia memeluk ayahnya dengan mata berkaca-kaca.


"Baiklah, daddy akan segera ke luar untuk menikahkan kamu dengan Reihan." Adhit mencium puncak kepala anaknya dan melangkah ke luar dengan tegapnya. Padahal baru saja dia selesai menangis bombay di depan sang anak.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Adhit menghela napas berat karena ia akan segera menikahkan putri satu-satunya. Saat ini tangannya sudah dijabat oleh Reihan yang sebentar lagi akan menjadi suami dari putrinya.


"Mari kita mulai ya." Penghulu mengucapkan basmalah, istighfar diikuti oleh yang lain sebelum menuntun Adhit mengucapkan kata-kata ijabnya.


"Ananda Reihan Emilio Dhananjaya bin Rasyid Dhananjaya."


"Saya."


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak kandung saya Alessandra Alicia Syahreza binti Adhitama Elvan Syahreza dengan mas kawin berupa emas seberat 10 gram tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Alessandra Alicia Syahreza binti Adhitama Elvan Syahreza dengan mas kawin berupa emas seberat 10 gram tunai." Jawab Reihan lantang dalam satu tarikan napas.


"SAH." Jawab kedua saksi, diikuti oleh yang lainnya.


"Alhamdulillah, barakallahulaka wabaroka alaika wajama'a bainakuma fii khoir."


Selang beberapa saat suara MC mengejutkan semua orang. "Paras ayu sungguh menggoda, pengantin wanita si cantik jelita. Hadirin sekalian, mari kita sambut pengantin wanitanya."


Terlihat seorang perempuan muda dengan paras cantik jelita digandeng oleh dua orang wanita yang juga tak kalah cantik menuju ke tempat perjanjian sakral tadi terucap.


Semua mata tertuju kepadanya, apalagi sang pengantin pria sudah hampir menangis saat melihat perempuan yang sudah sah menjadi istrinya beberapa menit yang lalu sedang berjalan menuju ke arahnya.


Alicia benar-benar gugup ketika berjalan menuju laki-laki yang sudah sah ia panggil suami itu. Ia berusaha tersenyum ditengah debaran jantungnya yang bertalu-talu. Meskipun ia akui senyumnya terasa kaku saking gugupnya.


Setelah duduk di samping Reihan untuk penanda tanganan buku nikah dan berkas-berkas yang perlu ditanda tangani. Mereka berdua berdiri dan untuk pertama kalinya Alicia meraih tangan Reihan lalu menciumnya. Sementara Reihan langsung memegang ubun-ubun gadis itu seraya membacakan doa. Kemudian dengan kakunya, ia mencium kening istrinya dan membuat Alicia terkejut.


"Kepada mas Reihan, diharap menyerahkan maharnya." Ucap sang MC.


Reihan mengambil kotak mahar dan menyerahkan ke tangan Alicia. Momen ini tidak lupa di abadikan oleh photographer professional yang sudah disewa selama acara berlangsung. Setelahnya mereka saling memasangkan cincin sebagai simbol cinta mereka.


Acara dilanjutkan dengan sungkeman kepada kedua orang tua masing-masing yang dipenuhi dengan air mata. Tentu saja air mata bahagia bercampur haru.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Malamnya, pesta pernikahan mewah dilaksanakan di hotel milik keluarga Syahreza. Ballroom hotel dihias sedemikian rupa dengan warna ungu lembut. Membuat suasananya tampak mewah dan elegan.



Alicia tampil cantik dengan gaun warna putih model duyung dilengkapi mahlota di kepalanya serta veil yang menjuntai dari kepala sampai melewati gaun dan Reihan memakai tuxedo warna putih dan celana hitam serta dasi kupu-kupu yang membuat pria itu semakin tampan. Mereka berdua melangkah bersama rombongan keluarga besar menuju ke panggung pelaminan.



Para tamu undangan sudah memenuhi ballroom melihat kedatangan raja dan ratu sehari tampa berkedip akan keserasian keduanya. Apalagi senyuman keduabya terkembang indah semakin membuat kecantikan dan ketampanan keduanya meningkat berkali-kali lipat.


Para tamu memberikan ucapan selamat dan berphoto bersama pengantin. Di antara para tamu, banyak juga tamu penting yang merupakan rekan bisnis Adhitama, rekan bisnis Rasyid, rekan bisnis Reihan, dan para tamu lainnya.


"Congratulations for your wedding guys." Bila naik ke panggung bersama Zayyan, karena Zahran sedang makan bersama Raka. "Akhirnya, ada juga yang bisa meluluhkan adik kakak yang kaku tapi manja ini." Imbuh Bila sambil tersenyum. "Ternyata jodohnya tidak pernah di sangka-sangka adalah si gadis kecil yang sekarang sudah jadi dokter hebat. Selamat ya sayang." Bila menyalami Alicia dan menenpelkan pipi kanan dan kiri


Keduanya tersenyum malu-malu. "Makasih ya kakakku sayang. Oh iya, mana yang satu lagi kak?" Tanya Alicia saat melihat hanya ada satu anak yang dibawa oleh kakak iparnya.


"Zahran lagi makan sama bapaknya." Jawab Bila sekenanya. Karena saat ia ajak keduanya untuk foto bersama. Keduanya langsung menolak dengan alasan lapar.


"Selamat ya om dan tante." Ucap pria itu, yang ketampanannya sudah mengalahkan Ayahnya.


"Terimakasih ya." Reihan menepuk pundak keponakannya yang saat ini sudah beranjak dewasa dan tangannya tidak bisa tidak mengacak-acak rambutnya karena sudah terbiasa.


"Om Rei, aku bukan anak kecil lagi." Protesnya dengan bibir mengerucut lucu.


"Baiklah-baiklah." Reihan terkekeh dan melirik keponakannya itu sambil menghela napas.


"Ayo sayang kita turun, nanti kita dimarahi tamu-tamu yang lain." Bila segera menggandeng tangan Zayyan untuk turun dari pelaminan.


.


.


.


.


to be continue