
"Mas Bian..."
Bian yang sedang fokus dengan tugasnya langsung menoleh dan melihat kepala Rafan menyembul di balik pintu kamarnya.
"Ada apa?" Tanya Bian seraya menyuruh adiknya masuk ke dalam. Dengan segera Rafan membuka pintu sedikit lebar agar tubuhnya busa masuk dan melangkah mendekati kakak laki-lakinya.
"Apa Mas Bian tau apa yang dibicarakan daddy dan mommy sama kakak? Kenapa kita nggak boleh ikut?" Rasa penasarannya sangatlah tinggi karena mereka tidak dilibatkan dalam pembicaraan serius itu.
Bian mengedikkan bahunya, karena ia juga tidak tau apa yang dibicarakan ayah dan ibunya kepada kakak perempuannya. "Kita tunggu aja, nanti ujung-ujungnya kita akan tau juga." Ucap Bian bijaksana.
"Benar juga sih Mas, ya udah aku balik kamar ya." Rafan segera pergi dari kamar Bian dan kembali ke kamarnya sendiri yang terletak di samping kamar Alicia.
Saat akan masuk ke dalam kamar, ia melihat ibunya baru saja ke luar dari dalam kamar sang kakak. Tangannya yang sudah memegang gagang pintu terlepas dan tersenyum manis ke arah ibunya. "Hai mom, mommy ngapain ke kamar kakak?"
"Memangnya kenapa hmm?" Clara mendekati putranya yang masih berdiri di depan pintu.
"Nggak apa-apa sih mom, aku cuma nanya aja." Dia langsung cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang sama sekali tidaklah gatal.
Clara langsung tersenyum dan menepuk pundak putranya. "Ya udah, masuk kamar gih."
"Oke mommy." Satu kecupan mendarat di pipi Clara dan Rafan langsung berlalu ke dalam kamar.
Alicia yang baru ke luar dari kamar sempat mendengar ibunya bicara dengan adiknya. Tapi ia tidak tau, apakah itu Bian atau Rafan. Sehingga ia bertanya kepada ibunya. "Siapa mom?"
Clara menoleh dan langsung tersenyum. "Itu.. Adik kecil kamu."
Kalau ibunya menyebutkan adik kecil, itu berarti yang dibicarakan adalah Rafan adik bungsunya. Sehingga Alicia mengangguk kecil dan menggandeng ibunya turun ke bawah.
๐ผ๐ผ๐ผ
Adhit menatap langit malam bertabur bintang dari balkon kamarnya. Hatinya gelisah karena putrinya menolak di jodohkan dengan Reihan.
"Apa Clara bisa membujuknya untuk menerima perjodohan ini?" Gumam Adhit dan tidak menyadari kalau sang istri sudah berada di belakangnya.
"Dia bersedia." Bisik Clara seraya memeluk suaminya dari belakang.
Adhit berbalik dan menatap istrinya serius. "Dia bersedia? Benarkah?" Seakan tidak percaya, Adhit sampai bertanya dengan antusias.
Clara mengangguk "Iya sayang, Alicia setuju dijodohkan dengan Reihan."
Adhit langsung memeluk istrinya setelah mendengar pernyataan yang ke luar dari mulut Clara. "Kamu bisa membujuknya? Kenapa bisa?"
"Tentu, Clara gitu loh." Clara menyombongkan dirinya di depan suaminya yang ternganga melihat kenarsisan istrinya.
"Oh!" Adhit mengangkat satu alisnya. "Aku hampir lupa siapa istriku ini." Adhit menarik hidung Clara gemas, membuat wanita itu meringis kesakitan.
"Ishh, sakit tau." Clara melototi suaminya yang terbahak melihat tingkah menggemaskan istrinya. "Dasar menyebalkan! Aku nggak mau cerita." Clara merajuk dan meninggalkan suaminya sendiri.
"Sayang, jangan ngambek dong." Adhit mengikuti istrinya yang sudah membaringkan tubuhnya di ranjang membelakangi dirinya. "Sayang ayolah, Mas cuma bercanda." Adhit menarik-narik ujung baju istrinya, namun selalu Clara abaikan. Akhirnya, pria itu naik ke atas ranjang dan memeluk istrinya dengan erat.
"Ya Allah Mas, remuk badan aku kalau dipeluk kayak gini." Clara memukul tangan Adhit yang memeluk tubuhnya.
"Masih mau marah?" Tanya
Suaminya benar-benar membuat dirinya tidak bisa marah lama-lama. Dia akan selalu melakukan berbagai cara kalau dirinya sudah merajuk atau marah. Mulai dari dipeluk, dicium sampai dirinya tidak marah lagi. Bahkan kalau ia sedang marah di tempat umum, Adhit tidak akan segan menggotongnya layaknya karung beras. Sungguh memalukan kalau mengingat moment itu.
Akhirnya Clara kalah dan menceritakan semuanya kepada suaminya itu.
๐ผ๐ผ๐ผ
Seperti yang dibicarakan, hari ini keluarga Reihan akan datang berkunjung ke mansion Adhitama. Sedari pagi Clara sudah sibuk membersihkan seluruh mansion dan meminta anak gadisnya untuk membantunya di dapur. Semenjak Bian dan Rafan sudah besar. Di mansion itu sama sekali tidak ada lagi pelayan. Selain tukang kebun yang datang sekali seminggu. Alasannya karena Bi Rini sudah kembali ke mansion utama keluarga Syahreza. Sehingga mau tidak mau, Clara harus menyelesaikan semuanya sendiri.
"Memangnya nanti mau ada tamu ya mom?" Rafan yang sedang tidak ada kelas baru saja turun dan mendapati ibu serta kakaknya sedang berkutat membuat banyak makanan di dapur.
"Iya, nanti keluarga om Rasyid dan tante Sukma mau ke sini sama anaknya." Jawab Clara menjelaskan, namun fokusnya tetap pada masakan yang sedang ia masak.
"Oh... Ada yang bisa aku bantu?" Tanyanya dan melihat-lihat apakah ada sesuatu yang bisa dia bantu.
Clara menggeleng saat melihat putranya bingung akan melakukan apa. "Tidak perlu, kamu nonton televisi aja sana."
Rafan yang merasa tidak dibutuhkan di sana dan ia juga bingung mau membantu apa. Akhirnya mengikuti kata-kata ibunya dan beranjak menuju ruang keluarga. TV menyala dan ia mencari film di serial Netflix yang ingin ditontonnya.
Bosan dengan film yang ia tonton, ia melirik ke arah dapur dan melihat kedua perempuan yang ia sayangi sudah selesai membuat berbagai macam masakan. Hidungnya langsung di manjakan dengan aroma makanan yang menggugah selera. Hal itu membuat perutnya meronta minta diisi. Namun ia ragu, karena semua makanan itu untuk tamu. Makanya, laki-laki itu masih belum bergerak untuk mendekati makanan itu. Padahal biasanya, tampa disuruhpun ia akan langsung mencomot makanan yang menggugah seleranya itu. Walaupun berakhir dengan mendapat pukulan dari ibunya karena belum mencuci tangan. Tatapannya terus terarah ke makanan dan berganti ke ibunya. Ia berharap akan dipanggil untuk mencicipi makanan itu.
Seakan tau apa yang diinginkan putranya karena merasakan tatapan Rafan yang tertuju padanya dan makanan yang sedang ia tata. Clara tersenyum seraya menatap lurus ke arah Rafan yang masih belum beranjak dari sofa ruang keluarga.
"Sayang, ayo sini."
Rafan tertegun dan langsung bersorak girang karena harapannya terpenuhi. Dengan cepat ia bangkit dari sofa dan berlari menuju meja makan.
"Boleh mom?" Tanyanya dengan tatapan polos, membuat Clara dan Clara gemas dengan ekspresi laki-laki itu.
Clara terkekeh sebelum menganggukkan kepalanya. "Tentu saja boleh sayang. Ini, lapar kan?" Rafan mengangguk dan Clara memberikan piring yang sudah berisi makanan ke hadapan Rafan. Dengan cepat pemuda itu duduk dan menyantap makanan itu.
Rafan menatap makanan yang tertata rapi di atas meja. Memikirkan sesuatu di kepalanya dan menatap ibu serta kakaknya secara bergantian.
"Memangnya Mas Reihan mau melamar kakak ya mom?" Entah kenapa pertanyaan itu meluncur dari mulut Rafan dan membuat kakaknya merona saat mendengar pertanyaannya.
Melihat reaksi kakaknya, Rafan mengambil kesimpulan bahwa Reihan akan melamar kakaknya itu. Lalu hal penting yang dibicarakan ayah dan ibunya kemarin kepada sang kakak adalah tentang masalah ini.
"Iya, apa kamu setuju?" Tanya Clara menatap putra bungsunya meminta pendapat.
"Hmmm." Rafan tampak berpikir, kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, aku setuju aja. Asalkan kakak bahagia. Lagian, Mas Reihan juga tampan dan baik. Jadi cocok kalau jadi suami kakak." Jelasnya panjang lebar. Tidak ada alasan juga untuk Rafan tidak setuju. Selain tampan, Reihan adalah seorang CEO dari perusahaan yang ia dirikan sendiri. Juga laki-laki itu sangatlah menghargai dan menghormati perempuan. Terbukti dia sangat menyayangi ibu dan kakak perempuannya. Oleh karena itu, Rafan tidak takut melepaskan kakaknya ke tangan laki-laki itu.
Clara tersenyum mendengar jawaban putranya, lalu mengusap kepala putranya penuh sayang. "Kamu benar, dia memang yang terbaik untuk kakakmu."
.
.
.
.
to be continue