Surrogate Husband

Surrogate Husband
Gelap



Siangnya, Reihan membangunkan Alicia karena makanannya juga sudah datang dan dirasa istirahat Alicia sudah cukup. Serta azan zuhur juga sudah berkumandang.


"Alicia, bangun."


Alicia yang mendengar suara seorang pria dan merasakan guncangan di tubuhnya, otomatis langsung terbangun. Karena kaget, ia reflex menjauh dan membuat Reihan heran.


"Kenapa?" Tanya Reihan heran saat melihat istrinya yang menjauh dengan tatapan linglung. Maklum, nyawa belum sepenuhnya terkumpul.


"Astaga, aku kira siapa?" Dia mengusapkan kedua tangannya ke wajah.


Reihan semakin heran dengan jawaban ambigu istrinya dan hanya mengedikkan bahunya saat melihat Alicia melangkah ke kamar mandi.


"Memangnya dia pikir aku setan apa?" Reihan menggaruk-garuk kepalanya sambil berjalan ke luar dari kamar.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Dalam sebuah ruangan yang tampak berantakan, seorang wanita terlihat sedang menatap foto seorang pria dengan mata penuh kebencian dan linangan air mata. Tangannya terulur untuk mengusap foto tersebut.


"Kenapa kamu menikah dengan dia? Kenapa kamu tidak bisa menjadi milikku? Kenapa?" Teriaknya kemudian membanting foto tersebut ke lantai.


Tak lama, ia menangis sejadi-jadinya. Kemudian tertawa terbahak-bahak seperti orang gila. Sementara sang ibu sudah menggedor-gedor pintu kamarnya dari luar. Namun wanita itu tidak menghiraukannya.


Setelah cukup lama terdiam, ia langsung tertawa lagi. Kemudian mengatakan sesuatu dengan ekspresi menyeramkan.


"Aku akan membuat kamu berpisah dari dia. Kalau kamu tidak bisa menjadi milikku. Maka siapapun juga tidak akan bisa memilikimu." Setelah mengatakan itu ia langsung menyeringai dan tertawa terbahak-bahak.


Beberapa menit kemudian ia berdiri dan membuka pintu kamarnya. Ia menatap ibunya yang terlihat shock saat melihat keadaannya yang awut-awutan.


"Apa yang terjadi?" Tanya sang ibu yang tak lain adalah Helena saat melihat wajah berantakan putrinya.


"Tidak ada." Jawabnya datar.


"Kenapa wajahmu begitu? Ada apa? Cerita sama mama." Desak Helena dan berharap sang anak akan menceritakannya.


"Aku tidak apa-apa ma. Udah deh, mama nggak usah tanya-tanya lagi." Jawabnya, kemudian menutup pintu kamarnya begitu saja.


Sementara di tempat lain, Alicia baru saja selesai makan siang bersama suaminya dan langsung membersihkan peralatan makan yang baru saja mereka gunakan.


"Mas, mendingan hari ini aja deh kita belanjanya. Karena takutnya besok aku nggak bisa pulang on time." Ucap Alicia setelah selesai membersihkan peralatan makan.


"Kamu yakin mau hari ini? Memangnya udah nggak capek?" Tanya Reihan memastikan.


Alicia menggeleng cepat. "Energiku sudah full setelah istirahat tadi. Jadi sekarang aja yuk."


Senyum Reihan langsung mengembang sempurna. "Okay baby, ayo berangkat."


Alicia terdiam sebentar sebelum berjalan masuk ke dalam kamar untuk mengambil tasnya. "Ayo mas."


Mereka berdua segera meninggalkan apartment menuju supermarket.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Sampai di supermarket, keduanya langsung masuk dan Reihan mengambil trolley tampa diminta. Hal itu membuat Alicia menatapnya dengan senyum lebar. Apalagi Reihan sudah berjalan ke arah tempat yang biasa dia kunjungi kalau pergi belanja ke supermarket bersama ibu ataupun kakaknya.


"Ada apa?" Tanya Reihan heran karena mendapat tatapan seperti itu dari sang istri.


"Nggak.... Mas sering nemenin ibu belanja ya."


Reihan terbatuk, karena apa yang dikatakan istrinya memang benar. Dia selalu dibawa oleh ibu dan kakaknya saat belanja bulanan. Sehingga secara tidak sadar ia langsung melakukan apa yang biasa ia lakukan saat pergi bersama kedua wanita tersebut.


"Iya, kamu benar." Jawabnya dan terus berjalan sambil mendorong trolley.


"Sweet banget sih suami aku." Ucap Alicia spontan dan langsung melingkarkan tangannya di lengan Reihan. Ke luar sudah sifat asli wanita itu dan membuat suaminya terkekeh kecil.


Mereka membeli semua bahan makanan yang diperlukan. Mulai dari bumbu dapur, aneka bahan masakan, peralatan dan lain lain. Aktivitas belanja mereka sempat terhenti untuk sholat asyar. Selesai belanja, keduanya langsung pulang dan sampai di apartment bertepatan selepas maghrib.


Sementara di mansion, Rafan dan Bian sedang berada di ruang tengah sedang menonton film di Netflix.


"Sepi banget sih nggak ada kakak." Gumam Rafan dan kebetulan di dengar oleh Clara yang lewat.


"Hmmm, biasanya kan kakakmu juga nggak di sini."


Rafan dan Bian serempak menoleh. "Hai mom, kapan mommy lewat?" Tanya Rafan sambil tersenyum.


"Barusan, kenapa?" Clara ikut bergabung dengan kedua putranya.


"Kamu pikir mommy miss K, hmmm?" Tanya Clara dengan tangan Clara sudah berada di telinga sang anak.


"Tau tuh, masa mommy kamu bilang miss K. Kan serem." Timpal Bian memanas-manasi.


"Hei, kalian benar-benar ya. Kesayangan daddy kalian samakan dengan miss K!" Seru Adhit yang baru pulang dari kantor.


"Itu Rafan yang bilang dad. Bian nggak ikutan." Elak Bian karena tidak mau disalahkan. Apalagi dia memang tidak salah apapun.


"Rafan kan nggak bilang mommy miss K." Rafan pun tidak mau disalahkan.


"Ini kenapa pada bahas miss K sih? Nanti beneran datang gimana?" Adhit ikut duduk di sofa bergabung dengan anak dan istrinya.


Tak lama setelah mengatakan itu, listrik tiba-tiba padam. Sehingga Clara langsung panik karena dia takut gelap. Akan tetapi karena ada kedua anaknya, ia berusaha tetap tenang. Walau keringat dingin mulai bercucuran membasahi tengkuk dan keningnya.


"Sayang, are you okay." Itu suara Adhit yang sangat tau bagaimana istrinya itu.


"Ya, a-ku baik-baik saja." Jawab Clara terbata.


Bian mencari keberadaan ponselnya dan segera menyalakan senternya. "Tenang mom, biar Bian dan Rafan coba cek ke belakang."


"Udah, kalian di sini aja temani mommy. Biar daddy yang cek ke belakang." Adhit segera berdiri sambil menyalakan senter ponselnya. Kemudian berjalan menuju tempat sekring listrik.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


"Mas Rei...! Kok gelap." Teriak Alicia dari dalam kamar mandi. Reihan yang berada di luar langsung bergegas menghampiri istrinya.


"Pintunya kamu kunci?" Reihan menggedor pintu kamar mandi.


"Iya, tadi nggak sengaja ke kunci. Karena kebiasaan." Jawab Alicia cepat.


"Coba kamu jalan pelan-pelan ke pintu ya. Aku di depan pintu, okay."


Alicia menghela napas dan meraba-raba tembok untuk mencapai pintu. Saat meraba pintu, secepat kilat ia membuka kuncinya dan membuka pintu.


Tampa kata, ia langsung menghambur dalam pelukan nyaman Reihan dan memeluk suaminya erat-erat.


"Hei, kenapa?" Reihan mengusap kepala Alicia yang masih berada dalam pelukannya.


"Takut gelap." Ucapnya, namun teredam karena kepalanya ia benamkan di dada Reihan. Walaupun demikian, Reihan masih bisa mendengarnya dan membalas pelukan Alicia.


"Sudah, jangan takut. Ada aku, ayo ke sini. Pegal juga berdiri lama-lama." Ucap Reihan sambil tertawa kecil dan berusaha menetralkan suasana.


"Mas, mau kemana?"


Reihan berencana akan mengambil penerangan menghentikan langkahnya dan menoleh pada Alicia.


"Mau ambil penerangan. Kamu tunggu di sini ya."


Alicia langsung menggeleng. "Di sini aja, jangan kemana-mana." Dia langsung memeluk Reihan possessive. Sehingga Reihan terpaksa harus mengurungkan niatnya itu.


"Tapi kan gelap sayang. Tunggu sebentar ya." Reihan berusaha membujuk Alicia. Namun wanita itu tidak melepaskan pelukannya dari tubuh sang suami.


"Jangan kemana-mana please. Walaupun sebentar aku nggak mau ditinggal." Putusnya telak dan membuat Reihan tak bisa membabtah lagi.


Reihan menghela napas. "Ya udah, ayo kita ambil berdua."


"Mas, di sini aja. Bisa kan?"


"Tapi katanya takut gelap. Makanya aku mau ambil penerangan agar tidak terlalu gelap seperti ini." Reihan masih berusaha membujuk Alicia. Karena sejujurnya berada dalam ruangan gelap gulita itu sangat tidak menyenangkan. Apalagi batrai ponse tinggal beberapa persen. Sementara listrik akan menyala kembali esok harinya.


Alicia kembali menggeleng. "Takut, tapi nggak mau kemana-mana."


"Huftt, baiklah-baiklah. Sesuai keinginanmu my little wife."


.


.


.


.


to be continue