
Waktupun berlalu begitu cepat, pernikahan keduanya sudah ditetapkan dan akan dilaksanakan setelah Alicia kembali dari US setelah menyelesaikan pekerjaannya dan mengurus pemindahan tugasnya ke Indonesia.
Semua berkas-berkas pernikahan sudah diurus oleh Reihan. Meskipun semuanya juga dibantu oleh asistennya dan tentu saja kedua wanita cerewet yang selalu membantunya tampa diminta.
Seperti kali ini, Clara dan Sukma terlihat sedang membantu Reihan memilih tema yang akan dipakai untuk pernikahannya.
"Ini sepertinya cocok. Bagaimana menurut kamu Rei?" Clara bertanya setelah melihat sesuatu yang menurutnya cocok dengan karakter putrinya.
"Aku ikut aja tante." Jawab Reihan acuh tak acuh. Sebenarnya dia sudah bosan dari tadi di sodorkan berbagai hal dan ditanya ini itu.
"Menurut mba gimana?" Clara menoleh ke arah Sukma dan meminta pendapatnya. Karena ia tau saat ini Reihan sudah sangat jenuh mengikuti mereka berdua.
"Hmm, menurutku pilihan kamu sudah bagus Ra. Tema yang mereka usung selalu menarik dan berkesan." Jawab Sukma menjabarkan.
"Oke, kita pilih yang ini saja." Clara mengedarkan pandangannya mencari salah satu staff dari wedding organized yang mereka datangi. "Mba!" Panggilnya seraya memberikan isyarat tangan.
"Iya ibuk, ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya ramah.
"Kita memilih tema yang ini ya." Clara menunjuk ke gambar tema yang sudah mereka sepakati barusan.
Staff itu langsung mengambil buku catatannya dan menulis tema yang diminta pelanggan. "Untuk tanggal berapa buk?"
"Pernikahannya tanggal.... " Clara menyebutkan tanggal pernikahan putrinya dan tempat berlangsungnya acara tersebut.
"Baiklah, terimakasih sudah mempercayakan perencanaan pernikahannya kepada kami. Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk mempersiapkan acara pernikahannya." Ucap staff wanita tersebut sambil tersenyum ramah.
Mereka bertiga segera pergi setelah memberikan pembayaran kepada pihak wedding organized.
"Ibu sama tante mau kemana lagi? Soalnya aku harus kembali ke kantor ada yang harus aku selesaikan." Ucap Reihan saat mereka berada di dekat mobil.
"Ya sudah, kalau kamu mau ke kantor kita naik taxi atau mobil yang punya lambang hijau itu." Jawab Sukma seraya menatap putranya.
"Aku pesankan ya?" Reihan meraih ponselnya dan mulai memesan mobil.
Selang beberapa menit, mobil yang dipesan Reihan sudah datang karena lokasinya berada di dekat tempat tersebut. Setelah Sukma dan Clara pergi, Reihan segera masuk ke dalam mobilnya. Menghidupkan mesin, pria itu melajukan mobilnya menuju kantornya.
๐ผ๐ผ๐ผ
Saat ini Alicia sedang membereskan barang-barangnya dibantu oleh kedua sahabatnya Naomi dan Diana.
"Ale, aku akan sangat merindukanmu? Kenapa tidak kamu bawa saja suamimu ke sini setelah menikah?" Naomi memeluk Alicia dengan erat.
"Tidak bisa Naomi. Dia CEO di sana, jadi aku harus mengalah dan mengikutinya." Jawab Alicia sambil terus memasukkan barang-barangnya meskipun terhalang oleh Naomi yang memeluknya.
Sementara Diana tidak berkomentar dan terus membantu sahabatnya berkemas. Sungguh, saat ini ia sangat sedih karena sahabat tercintanya akan pulang ke Indonesia dan ada kemungkinan tidak akan kembali lagi ke sini.
"Yakk Diana! Kenapa kau diam saja? Apa kau tidak sedih sahabatmu akan pergi?" Teriak Naomi nyaring.
"Shut up!" Balas Diana tampa mengangkat kepalanya.
Naomi langsung mengerucutkan bibirnya setelah mendapat bentakan dari Diana. Kemudian membantu membereskan sisa barang Alicia.
Setelah selesai berkemas, mereka memesan makanan karena sudah sangat lapar. Setelah mengisi perut dan memastikan semua barang-barangnya lengkap. Alicia segera diantarkan oleh keduanya ke bandara.
"Ale, selalu kasih kabar ke kita ya. Pokoknya harus, wajib ya." Celoteh Naomi dan membuat Alicia terkekeh dan Diana geleng-geleng kepala.
Naomi memang yang paling cerewet dan paling heboh di antara mereka bertiga. Namun karena sifatnya itulah Alicia dan Diana sangat menyayanginya.
"Kau pikir dunia Ale hanya untuk kita? Kalau dia sudah menikah, otomatis waktunya akan terbagi. Apa kau mengerti?" Akhirnya ke luar juga kata-kata mutiara Diana yang langsung membuat Naomi cemberut.
Melihat Diana yang serius dan Naomi yang cemberut Alicia tak bisa menahan air matanya. Ia langsung memeluk keduanya seraya berkata. "Aku akan sangat merindukan kalian. Jangan lupakan aku."
Diana mengusap punggung sahabatnya dengan air mata yang berusaha ia tahan. Sementara Naomi sudah terisak dalam pelukan sahabatnya.
"Tentu saja, kau adalah sahabat terbaik kami." Ucap Naomi disela isakan tangisnya.
"Sudah, nanti kau ketinggalan pesawat." Protes Diana seraya melepaskan pelukan Alicia.
"Baiklah, aku akan masuk ke dalam." Alicia melangkah ke dalam meninggalkan kedua sahabatnya yang selalu bersama dengannya selama ini.
"Sudah, sudah, kenapa kau baru menangis sekarang?" Ledeknya seraya menenangkan Diana. Meskipun dari tadi dia adalah yang paling banyak menangis, namun saat ini ia yang menghibur si cool Diana.
Setelah cukup tenang, mereka berdua meninggalkan bandara tempat perpisahan dengan sahabat tercintanya.
๐ผ๐ผ๐ผ
Reihan yang masih berada di kantor mendapat telphon dari ibunya. Ia segera menggeser tombol hijau untuk menjawab telphon ibunya.
"Assalamualaikum bu"
"Walaikumsalam, kamu dimana Rei?"
"Aku masih di kantor bu. Masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Memangnya ada apa? Apa ibu mau titip sesuatu?"
"Kamu bisa jemput calon istri kamu besok subuh ke bandara Rei?"
Reihan terdiam, ia baru ingat kalau hari ini Alicia kembali ke Indonesia. "Rei, kenapa diam? Apa kamu tidak bisa menjemputnya?"
"InsyaAllah bisa bu. Besok subuh Rei akan jemput dia ke bandara."
"Ya sudah, ibu hanya mau bilang itu saja. Kalau kamu masih ada kerjaan, lanjutkan. Jangan lupa makan ya Nak."
"Iya ibuku sayang. Assalamualaikum bu."
"Walaikumsalam."
Tut telphon terputus, Reihan meletakkan ponselnya di atas meja dan segera menyelesaikan pekerjaannya.
Sekitar pukul 3 dini hari, Reihan sudah berada di bandara dan beristirahat di dalam mobil. Semalam ia sama sekali tidak pulang ke rumah dan menginap di kantor.
"Apa penerbangannya tertunda? Kenapa dia belum sampai?" Reihan melirik jam di pergelangan tangannya dan jarumnya menunjukkan angka 4 dini hari. Ia memutuskan turun dari mobil dan melangkah menuju terminal kedatangan.
Telinganya menangkap pengumuman pesawat dari US baru saja mendarat dan menatap lurus ke arah orang-orang yang ke luar dari pintu.
Alicia yang sudah selesai mengambil barang, langsung ke luar dan terkejut saat matanya tak sengaja bertatapan dengan mata calon suaminya.
"Mas Rei?" Gumamnya. "Apa aku salah lihat orang?" Tanyanya pada diri sendiri, karena ia memang tidak tau kalau Reihan yang akan menjemputnya. Karena ia pikir dia salah melihat orang dan tidak mau malu kalau menyapanya. Sehingga ia tidak mendatangi Reihan dan melewatinya begitu saja.
Reihan yang diabaikan membuat alisnya terangkat naik. Apa gadis ini buta? Pikirnya, karena tidak melihat dirinya yang berdiri menjulang di antara orang-orang.
"Alessandra Alicia Syahreza!"
Alicia yang belum melangkah jauh dari orang yang ia lihat seperti Reihan langsung menghentikan langkahnya dan seketika berbalik karena ada yang memanggil nama lengkapnya dengan suara bassnya. Membuat orang-orang menatap ke arah mereka.
Matanya langsung melotot tatkala melihat laki-laki itu berjalan ke arahnya. "Jadi beneran mas Rei?" Tanyanya dengan tampang polos plus muka bantal karena tidur di dalam pesawat.
"Lalu, kamu pikir siapa? Hantu?" Reihan mengerutkan alisnya dan menatap gadis itu serius.
Alicia langsung salah tingkah dan meremas kedua tangannya. "Aku pikir aku salah orang." Jawabnya memberi alasan.
"Oh ya?" Reihan menatap calon istrinya intens.
"Iya, kalau nggak mana mungkin aku lewatin mas gitu aja?"
"Hmmm." Reihan mengambil koper dan barang-barang Alicia tampa sepatah katapun. Kemudian melangkah menuju parkiran meninggalkan Alicia yang masih terpaku di tempatnya.
"Oh my God, selalu main pergi gitu aja. Dasar manusia es." Geramnya kesal dan mengikuti calon suaminya ke parkiran.
.
.
.
.
to be continue