Surrogate Husband

Surrogate Husband
Melepas Rindu



Langit mulai memerah pertanda senja telah menyapa. Angin lembut menyapu wajah cantik seorang gadis yang tengah tertidur lelap dan membuat bulu mata yang indah berkibar saat kelopak mata yang tertutup rapat terbuka lebar. Keningnya langsung berkerut saat mendengar suara cempreng adik laki-lakinya.


"Mommy, kami pulang..."


Clara yang sedang menyajikan makan malam di meja melirik kedua putranya yang baru saja pulang.


"Mom, kakak mana?" Bian celingak-celinguk mencari keberadaan kakaknya.


"Kenapa baru pulang hmmm? Katanya hari ini pulang cepat? Tapi jam segini baru pulang." Clara bertanya dengan lembut dan tangan masih sibuk menata makanan.


Bian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan langsung nyengir kuda. Sebenarnya ia memang pulang cepat hari ini karena kepulangan kakaknya ke Indonesia untuk pertama kalinya. Akan tetapi Kendrick mengajaknya ke acara pembukaan cafenya yang baru. Sedangkan Rafan ia paksa ikut saat ketemu di dekat perpustakaan.


"Tadi ada acara Mom, makanya Bian dan Rafan baru pulang."


Clara hanya tersenyum menanggapi jawaban putranya. Sebenarnya ia tau kalau putranya akan pulang terlambat. Karena hari ini adalah acara pembukaan cafe baru Kendrick sahabat Bian yang merupakan putra Sara dan Abraham. Sara juga mengundangnya, namun karena Alicia pulang ia tidak datang ke acara tersebut.


"Mommy masak apa?" Rafan mendekat dan langsung mencomot makanan yang sudah terhidang. "Auhhh, sakit Mom." Ringisnya saat tangannya di tampar oleh Clara.


"Cuci tangan dulu." Clara melototi putranya yang langsung kabur ke lantai 2. Sementara Bian masih setia berdiri di dekat meja makan. Saat ia akan kembali bertanya tentang keberadaan kakaknya, sebuah suara lembut menyapa indra pendengarannya.


"Hai buddy."


Bian berbalik dan matanya langsung berbinar saat melihat kakak cantiknya berdiri bersama Rafan yang memeluk lengannya. Ternyata saat lari ke lantai dua Rafan langsung bertemu dengan Alicia saat gadis itu ke luar dari kamar. Pemuda itu langsung menghambur ke dalam pelukan sang kakak dan ikut turun ke bawah.


Alicia mengembangkan tangannya, membuat Bian langsung berlari memeluk kakaknya. Tubuh Alicia yang terbilang tinggi langsung tenggelam saat Bian memeluknya. Akhirnya mereka bertiga berpelukan layaknya teletabis.


"Daddy mau juga dong dipeluk."


Ketiganya menoleh dan Alicia langsung berlari ke arah Adhit yang sudah melebarkan kedua tangannya.


"I miss you Daddy." Bisik Alicia saat memeluk ayahnya. Bian dan Rafan menghampiri Clara yang berdiri di dekat meja makan.


"I miss you too sayang." Adhit mencium puncak kepala putrinya penuh sayang. Ia tidak menyangka putri kecilnya sekarang sudah tumbuh dewasa dan cantik seperti almarhum ibunya.


"Ahmmm."


Adhit melepaskan pelukannya dari sang putri dan menoleh ke arah sumber suara.


"Sekarang kalian berdua mandi." Clara meraih kedua lengan putranya dan melirik suaminya yang masih berdiri di samping Alicia. "Kamu juga Mas."


"Oke Mommy."


"Iya sayang."


Ketiganya menjawab berbarengan dan langsung pergi ke kamar masing-masing.


"Mami bantuin Daddy aja sekalian sholat. Biar aku yang lanjutin, karena aku lagi datang bulan." Alicia berjalan ke arah dapur untuk mengambil piring. Sementara Clara segera menyusul suaminya ke dalam kamar.


Selesai menata piring, kedua adiknya sudah turun diikuti oleh Clara dan Adhit.


"Akhirnya, bisa lengkap juga kita makan malamnya." Celetuk Adhit saat melihat semua anaknya berkumpul.


"Kakak di sini berapa lama?" Tanya Rafan seraya menyendok makanan ke dalam piring.


"Belum tau sih, mungkin sekitar satu atau dua minggu." Jawab Alicia sambil tersenyum. "Kenapa?"


Rafan menggeleng "Nggak apa-apa, aku cuma tanya aja."


"Makan dulu sayang, ngobrolnya nanti aja. Kayak nggak ada waktu aja." Clara menegur kedua anaknya dengan nada lembut. Keduanya langsung mengangguk dan menyantap makanan dalam diam.


🌼🌼🌼


Setelah memoles makeup tipis dan berputar di depan kaca, gadis itu langsung ke luar dari kamar.


"Mami, pinjam mobil dong." Alicia menghampiri ibunya yang sedang duduk di ruang tengah.


Clara menoleh dan tersenyum melihat penampilan putrinya. "Memangnya kamu mau kemana sayang?" Tanya Clara seraya mengambil kunci mobil dari dalam laci meja.


"Mau jalan-jalan aja sih Mam."


"Ya udah, hati-hati ya. Jangan ngebut." Ucap Clara mengingatkan.


"Siap bos!" Alicia menaikkan satu tangannya ke pelipisnya sambil tersenyum. "Aku pergi dulu Mami, assalamualaikum." Gadis itu langsung berlari ke luar setelah mencium pipi ibunya.


Sementara Clara langsung geleng-geleng melihat kelakuan putrinya yang sama sekali tidak ada anggun-anggunnya. Wanita itu teringat tentang perjodohan yang akan mereka bicarakan dengan Alicia. Karena tujuan sebenarnya dari meminta sang anak pulang selain rindu adalah untuk membahas perjodohan ini.


"Hmm, semoga kamu tidak marah Nak dan mau menerima perjodohan ini." Gumam Clara seraya menatap punggung Alicia yang perlahan menghilang dibalik pintu.


🌼🌼🌼


Seorang gadis cantik sedang duduk di sebuah cafe yang terletak di dekat sebuah universitas terkenal di Jakarta. Tangannya memegang secangkir vanilla latte seraya melirik jam di pergelangan tangannya.


Gadis itu adalah Alicia yang sengaja duduk di cafe dekat kampus kedua adiknya. Ia membuka room chat dan mengetik pesan kepada Bian.


πŸ“¨ Dek dimana?


Bian yang baru saja selesai kuliah dan ada perlu ke Fakultasnya langsung meraih ponsel yang terasa bergetar di saku celananya. Setelah membaca pesan kakaknya, ia langsung membalasnya.


πŸ“© Di Fakultas kak, kenapa?


πŸ“¨ Oke


Bian sedikit heran dengan balasan kakaknya, tak lama Alicia langsung offline dan Bian langsung menghubungi kakaknya. Namun tidak ada jawaban, malahan telinganya mendengar suara lembut yang menyapa indra pendengarnya.


"Arslan!"


Belum sempat pria itu bereaksi, orang yang memanggil namanya langsung bergelayut manja di lengannya. Bian langsung menghadiahi gadis itu dengan tatapan tajam yang membuat gadis itu bergidik.


"Kenapa sih tatapan kamu selalu galak sama aku?" Tanya gadis itu dengan cemberut. Dia adalah Reina Hermosa yang selalu mengejar Bian, namun selalu diabaikan dan samasekali tidak dianggap.


Bian langsung mendengus dan berusaha melepaskan tangan Reina karena dia tidak suka dengan gadis itu yang selalu menempelinya setiap ada kesempatan. Akan tetapi bukannya menjauh, Reina malah menempelkan dadanya di lengan Bian. Hal itu membuat Bian benar-benar risih sekaligus jijik dengan tingkah laku Reina yang merendahkan diri layaknya wanita murahan.


"Hai brother, kencan melulu." Teriakan Ken sontak membuat Bian naik pitam dan gadis di sebelahnya memerah. Apalagi orang-orang melirik ke arah mereka bertiga seraya berbisik-bisik.


"KEN!" Bian menggertakkan gigi dan melirik sahabatnya dengan tatapan tajam. Bian juga mengisyaratkan Ken untuk menjauhkan gadis menjijikkan itu dari dirinya.


Merasakan aura Bian mulai terasa suram dan mengerikan. Sebagai sahabat yang tau bagaimana karakter Bian, Ken langsung menelan ludah kasar dan segera bertindak. Namun sebelum ia bisa bergerak, Ken mendengar seseorang memanggil nama sahabatnya.


"Bian...!"


.


.


.


.


To be continue