Surrogate Husband

Surrogate Husband
Belajar Ikhlas



Di sebuah rumah mewah sudah berdiri sebuah tenda dan ada bendera kuning yang menandakan ada yang meninggal dunia di rumah tersebut.


Para tamu yang hadir untuk melayat sudah memenuhi rumah tersebut. Lantunan ayat suci Al-Quran terdengar bersamaan dengan isak tangis dari keluarga yang ditinggalkan.


Semua mata langsung tertuju ke arah pintu saat mendengar suara seorang wanita yang tampak kacau.


"Mas Rei....!" Alicia hampir limbung saat melangkah masuk ke dalam rumah dan melihat suaminya yang tertutup kain putih.


Clara yang duduk tidak jauh dari pintu segera berdiri dan membawa putrinya masuk untuk mendekati Reihan yang sudah terbujur kaku.


"Kamu yang sabar ya sayang, jangan sampai air mata kamu menetes mengenainya." Bisik Clara lembut dan dibalas anggukan oleh Alicia.


Wanita itu mendekat dan membuka penutup wajah suaminya. Air mata yang berusaha ia tahan dengan sekuat tenaga langsung luruh bak air terjun. Ia menangis tampa suara dan menatap wajah pucat suaminya.


Malam itu Alicia sama sekali tidak beranjak dari duduknya dan tetap berada di samping tubuh Reihan. Berulang kali Clara dan Sukma membujuknya agar istirahat karena dia sedang hamil. Namun wanita keras kepala itu sama sekali tidak bergerak dari tempatnya.


Pada akhirnya Clara meminta Zico untuk memberikan obat bius agar dia bisa istirahat. Awalnya Zico tidak mau, namun melihat kondisi Alicia yang hampir mirip zombie membuat ia mengambil keputusan untuk melakukan apa yang diminta Clara.


Pria itu ke luar menuju mobilnya untuk mengambil perlengkapan medisnya yang selalu ia bawa dan berjalan mendekati Alicia.


"Ale!" Panggilnya lembut, akan tetapi yang di panggil sama sekali tidak beraksi. Dengan sigap Zico mengambil alat suntik dan mengambil obat bius yang aman untuk ibu hamil dari dalam tasnya. Kemudian memegang lengan Alicia dan menyuntikkannya.


Alicia langsung terkejut saat merasakan sesuatu menusuk kulitnya. Ia menatap Zico dengan tatapan tajam dan melihat tangan pria itu yang memegang jarum suntik.


"Apa yang kamu lakukan...?" Tanyanya dengan ekspresi galak. Tatapan tajam dan menusuk membuat Zico merasakan kedinginan di hatinya. Tak lama Alicia langsung memejamkan mata saat obat mulai bereaksi.


"Maafkan aku." Cicit Zico seraya membawa Alicia ke dalam kamar diikuti oleh Clara dan Sukma. Zico menatap wajah damai Alicia dan menyunggingkan senyum tipis. Senyumnya langsung pudar saat mendengar suara Clara.


"Makasih Zico, tante nggak tau lagi harus gimana. Kamu tau sendiri bagaimana keras kepalanya Alicia."


Bibir Zico terangkat, ia tau betul bagaimana keras kepalanya wanita itu. Karena mereka sudah bersahabat dari SMA. Apalagi keduanya sama-sama melanjutkan pendidikan di universitas yang sama. Sehingga hubungan keduanya memang bisa dikatakan sangatlah dekat. Sayangnya Alicia hanya menganggap Zico sebagai sahabatnya saja, tidak lebih.


"Ya udah tante-tante cantik, aku pamit dulu ya. Mau balik ke Rumah Sakit. Nanti takutnya orang-orang pada nyariin aku lagi. Karena dokter tampan ini tidak berada di sana."


Clara ternganga mendengar kenarsisan Zico. Ternyata bocah tampan yang ada di hadapannya sama sekali tidak berubah. "Ya sudah, kamu hati-hati di jalan ya. Jangan ngebut." Ucap Clara seraya mengusap pundak Zico.


"Siap bos!" Dia langsung berjalan ke luar dari kamar yang ditempati Alicia saat ini.


Sepeninggal Zico, Clara langsung geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabat putrinya.


"Dia memang kayak gitu ya Ra?"


Clara tersadar dan langsung terkekeh geli mendengar pertanyaan Sukma. "Maksud mba dokter Zico?" Sukma menganggukkan kepalanya. "Iya mba, anak itu memang kelakuannya kayak gitu. Dia itu sahabat Alicia dari SMA, makanya mereka dekat."


Clara tersenyum dan melangkah ke luar dari kamar putrinya. Sebenarnya ia tau bagaimana perasaan Zico kepada Alicia. Akan tetapi, cinta tidak bida dipaksa bukan? Meskipun pada awalnya Alicia juga menolak saat dijodohkan dengan Reihan. Pada akhirnya, ketika cinta menyapa tidak ada yang bisa berpaling darinya.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Langit pagi itu terlihat mendung, seakan ikut bersedih atas kepergian Reihan. Pemakaman berlangsung dengan penuh tangis. Semua keluarga dan teman-teman Reihan seakan tidak percaya, kalau pria itu sudah tidak lagi bersama mereka.


Alicia duduk didekat makam Reihan dengan mata penuh air mata. Bibirnya bergetar saat mengatakan sesuatu. "Sayang, kamu yang tenang ya di sana." Dia menunduk dan memeluk nisan sang suami. "Maaf kalau selama ini aku masih banyak kekurangan selama menjadi istri kamu Mas." Menarik napas dalam-dalam sebelum kembali bicara. "Terimakasih untuk semua cinta dan kasih sayang yang Mas berikan untukku dan anak kita. I love you my sunshine."


Tangisnya pecah setelah mengatakan semua itu, dia langsung memeluk Bian yang berada di sampingnya. Bian sendiri baru saja tiba dari Prancis setelah mendapat kabar dari ibunya.


Alicia hanya diam dan menurut apa yang dikatakan adiknya. Bian membawa Alicia ke mobil dan segera pulang ke rumah.


Seminggu setelah kepergian Reihan semua keluarga kembali beraktivitas seperti biasa. Alicia sudah jauh lebih baik dibandingkan hari-hari sebelumnya. Walaupun terkadang ia masih sering menangis dikala sendirian.


Seperti hari ini, setelah pulang dari Rumah Sakit. Dia langsung mengurung diri di dalam kamar dan menatap foto Reihan dengan air mata jatuh bercucuran.


Seakan tersedot, ia terkenang kejadian setahun yang lalu saat kedua orang tuanya menyuruh dirinya pulang karena ada yang ingin di sampaikan.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


1 tahun yang lalu


Di lobby Bandar Udara International Soekarno-Hatta, terlihat seorang gadis cantik tengah berdiri untuk menunggu jemputan supir yang di kirim ayahnya. Senyumnya langsung mengembang saat melihat kedatangan orang yang ia tunggu.


"Nona muda, maaf saya terlambat. Tadi jalanan sedikit macet." Ucap seorang pria paruh baya yang tak lain adalah Leo supir pribadi Adhitama.


"Tidak masalah paman, aku juga baru sampai." Gadis itu langsung tersenyum dan masuk ke dalam mobil.


Dia adalah Alessandra Alicia Syahreza yang baru pulang dari United States of America setelah menempuh pendidikannya di salah satu universitas terbaik di negeri paman Sam tersebut yaitu Johns Hopkins University. Sekarang ia sudah menjadi seorang dokter spesialis jantung di umur 22 tahun di Johns Hopkins Hospital.


Siapa yang menyangka, keinginannya untuk menjadi dokter seperti pamannya Hendri bisa terwujud.


"Mami...!" Alicia langsung berlari ke dalam pelukan ibunya saat baru menjejakkan kaki di di depan mansion keluarganya. "Aku sangat merindukan Mami." Bisiknya di telinga Clara.


"Mami juga sayang. Kamu sih, nggak pernah pulang semenjak berangkat 6 tahun yang lalu." Ucap Clara dengan nada sendu. Karena putrinya memang baru pulang setelah kepergiannya semenjak 6 tahun yang lalu setelah lulus sekolah menengah atas.


Clara hanya bisa bertemu dengan putrinya saat wisuda dan saat pelantikannya sebagai dokter. Pada saat pelantikan dokter spesialis, ia tidak bisa hadir karena Rafan masuk Rumah Sakit. Sebenarnya ia ingin menemani sang anak di sana. Namun bayi besarnya dan kedua jagoan tidak bisa ditinggal sama sekali. Apalagi bayi besar yang tidak sadar dengan umurnya sendiri.


Sedangkan Adhit memang lebih sering mengunjungi putrinya. Apalagi kalau dia sedang ada proyek di sana, pria itu akan selalu bertandang ke apartment sang putri dan mengajaknya jalan-jalan.


Alicia mengurai pelukan dari ibunya. "Sekarang, yang penting aku udah di sini." Ucapnya dengan senyum merekah.


"Kamu benar, ayo kita masuk. Kamu pasti lelah kan?" Clara menggandeng putrinya masuk ke dalam mansion. Alicia tidak bisa memungkiri, kalau dirinya memang sangat lelah setelah menempuh perjalanan udara selama berjam-jam.


"Daddy masih di kantor ya Mami? Kedua bocah juga belum pulang ya?" Tanyanya beruntun.


Clara terkekeh "Iya sayang, Daddy masih ada meeting dengan clients. Sedangkan Bian dan Rafan sebentar lagi juga pulang. Karena mereka tau kalau kakaknya yang cantik pulang hari ini." Clara mencubit gemas hidung putrinya.


Alicia tertawa mendengar penuturan ibunya. "Mami bisa aja, aku ke kamar ya. Badan aku lengket banget, mau mandi trus istirahat." Memeluk ibunya sekali lagi dan mengecup pipinya penuh sayang. Kemudian berlari naik ke kamarnya yang terletak di lantai dua.


.


.


.


.


to be continue