
Langit sore terlihat sangat cantik dengan semburat jingga menghiasinya. Seorang wanita cantik dengan snelli terlihat sedang berjalan menelusuri koridor rumah sakit menuju ke ruangannya setelah melihat kondisi pasien yang ia tangani.
"Selamat sore dokter." Seorang perawat menyapa dokter cantik itu yang di tanggapi dengan senyuman olehnya dan menatap perawat itu. Seakan paham, perawat itu melanjutkan ucapannya. "Ada seseorang yang menunggu anda di dalam ruangan anda." Sambungnya lagi.
"Ruanganku? Siapa?"
"Saya tidak tau dokter, yang jelas dia seorang pria tampan, tinggi dan sepertinya mengenal dokter. Karena tadi dia menggumamkan sesuatu." Jelas perawat itu.
"Baiklah, kamu boleh pergi." Dia kembali berjalan menelusuri koridor menuju ke ruangannya.
Sampai di depan ruangan wanita itu yang tak lain adalah Alessandra Alicia Syahreza segera membuka pintu karena penasaran akan siapa yang menunggunya. Ia sama sekali tidak berpikir itu adalah suaminya, karena suaminya saat ini masih ada di luar kota.
Ceklek
Matanya langsung tertuju ke arah seorang pria yang berdiri membelakanginya. Ia sangat mengenal pria ini hanya dari punggungnya saja. Seakan ingin memastikan, Alicia memanggil suaminya. "Ma-s Rei...!"
Pria itu berbalik dengan senyum yang terpatri di wajah tampannya. "Hai sweet heart, you miss me?" Merentangkan kedua tangannya untuk menyambut sang istri tercinta.
Alicia langsung berlari kepelukan suaminya. "Be careful honey, you're pregnant." Teriak Be careful honey, you're pregnant."Reihan sebelum Alicia menghambur kepelukannya.
"I miss you so much, kenapa nggak bilang kalau pulang hari ini?" Alicia mendongakkan kepalanya untuk menatap pria yang sangat ia rindukan ini.
"Aku hanya ingin memberi kejutan. Ayo duduk," Reihan mendudukkan istrinya di sofa dan melepaskan sepatu yang dipakai Alicia. Kemudian memijat lembut kaki sang istri.
"Makasih sayang."
"Pasti capek kan seharian aktivitas bawa ini." Reihan menunjuk perut istrinya yang sudah besar karena kandungannya sudah berusia 8 bulan.
"Berat? Ya nggak lah Mas. Coba pegang, dia lagi aktif gerak nih. Kayaknya dia juga kangen dengan Ayahnya."
Dengan patuh Reihan meletakkan tangannya di perut Alicia. "Wohooo, dia menendang."
Reihan berlutut dan membelai perut istrinya seraya mendekatkan kepalanya untuk mencium perut buncit Alicia dengan gemas.
"Geli Mas, jangan digituin." Alicia melotot marah sambil menjauhkan kepala Reihan dari perutnya. Namun Reihan bergeming dan membisikkan sesuatu kepada bayinya.
"Jagoan Ayah apa kabar hari ini. Kamu harus tumbuh dan berkembang dengan baik ya. Kamu baik-baik selama dalam perut Mommy. Jangan membuat Mommy kamu susah dan kelelahan. Kalau saat lahir nanti jangan nakal ya. Kamu harus jagain Mommy untuk Ayah, menghiburnya kalau Ayah udah nggak ada. Ayah mencintaimu anakku." Reihan kembali mencium perut istrinya dan menatap Alicia dengan lembut.
Namun tatapan Alicia berubah tajam setelah mendengar kata-kata suaminya. Ada perasaan aneh seolah-olah mata yang selalu menatapnya penuh cinta ini akan menghilang selamanya. Dia menjadi gelisah dan mengalihkannya dengan memarahi Reihan.
"Kamu bicara apa sih Mas, jangan bercanda deh. Aku nggak mau ya jadi janda di usia muda."
Reihan terkejut sesaat sebelum terkekeh geli. "Siapa juga yang mau ninggalin istri bawel dan galak kayak gini. Aku akan selalu ada di samping kamu." Dia berdiri dan membawa Alicia ke dalam pelukannya. Namun semua itu sama sekali tidak membuat Alicia tenang dan terus memikirkannya.
Dalam perjalan pulang Alicia lebih banyak diam dan membuat Reihan heran. "Sayang, kamu kenapa? Dari tadi aku perhatiin kamu lebih banyak diam."
Alicia menoleh lalu tersenyum untuk menutupi kegelisahannya. "Aku nggak apa-apa." Alicia diam sejenak sebelum kembali membuka mulutnya. "Aku mau makan sate ayam tapi aku nggak mau turun. Mas tolong beliin yaa."
Alicia menatap Reihan dengan penuh harap dan membuat tawa pria itu meledak. "Baiklah, baiklah, apa sih yang nggak buat istriku tersayang." Reihan mencubit pipi istrinya yang mengembang akibat berat badannya naik selama hamil.
Alicia tersenyum lebar walaupun hatinya masih dilanda kegelisahan yang tak berkesudahan. Tak lama mobil Reihan menepi dan segera ke luar setelah bertukar kata dengan istrinya serta mencium kening Alicia cukup lama.
Setelah Reihan turun, Alicia tenggelam dalam pikirannya dan memikirkan kata-kata suaminya tadi. Kesadarannya kembali saat mendengar keributan di luar dan matanya melihat keseliling namun tidak melihat keberadaan suaminya hanya melihat kerumunan orang yang membuat jantungnya melonjak tidak nyaman.
Alicia segera turun dan menghampiri kerumunan. "Ada apa Pak? Kenapa rame-rame?" Ia bertanya pada salah satu orang yang ada di dekatnya.
"Ada pria muda yang jadi korban penusukan mba. Pelakunya melarikan diri setelah menusuk pria itu."
Alicia terkejut dan merasakan kecemasan dalam hatinya. Meskipun ia tidak tau siapa korban penusukan itu dan berharap korbannya bukanlah suaminya. Karena ia sama sekali tidak melihat keberadaan suaminya dimanapun. "Permisi, saya dokter." Orang-orang menyingkir dan memberi jalan kepada Alicia. Saat melihat dengan jelas pria yang sedang tergeletak bersimbah darah, ia langsung membeku di tempat.
"Mas Rei...!" Teriakknya dan langsung memeriksa keadaan suaminya yang sudah tidak sadarkan diri. Dalam keadaan darurat ia tidak bisa kehilangan ketenangannya. Dengan cekatan ia mengambil perban dari dalam tas dan membalut luka Reihan untuk menghentikan pendarahan untuk sementara. Kemudian ia memeriksa denyut nadi Reihan dan mengeluarkan stetoskop yang selalu ia bawa. "Ini buruk!" Serunya dan segera merogoh tas untuk mengambil ponsel. Dengan tangan berlumuran darah ia menghubungi seseorang.
"Siapkan ruang operasi dan hubungi dokter Zico cepat. Aku akan sampai di Rumah Sakit segera." Kemudian memasukkan ponsel ke dalam tas dan ia menoleh ke arah kerumunan untuk meminta beberapa orang membawa Reihan ke dalam mobil. "Tolong bawa suami saya ke mobil."
Sampai di Rumah Sakit, Zico sudah menunggu di depan bersama beberapa perawat dan mengangkat Reihan ke brangkar. Para perawat segera mebawa pasien ke ruang gawat darurat untuk diberikan pertolongan
"Bagaimana kondisinya?" Zico bertanya sambil berjalan menuju IGD.
"Mas Reihan kehilangan banyak darah, lukanya dalam dan mengenai titik vital." Jawab Alicia dengan mata lembab. Selama perjalanan ia menangis dan hampir kehilangan kendali. Untung saja bayinya menendang dengan kuat dan membuat pikirannya kembali jernih.
"Bagaimana kondisi vitalnya?" Tanya Zico sambil memeriksa kondisi Reihan.
"Tekanan darahnya berada di 80 per 40, detak jantung 100."
"Saturationnya?" Kali ini Alicia yang bertanya, karena ia juga masuk ke dalam IGD.
"Saturation berada pada 80%." Jawab Juna menjelaskan.
"CT bagaimana?"
"Dia mengalami hemoperitoneum."
Disaat sedang melihat hasil CT, tiba-tiba kondisi Reihan memburuk. Membuat yang ada di dalam ruangan panik. Juna langsung memeriksa dan berteriak.
"Ini PEA (pulseless electrical activity)!"
"Intubation!" Perintah Zico dan langsung dilakukan oleh Alicia. Sementara Juna melakukan CPR. Alicia segera mengatur tekanan dari alat pernapasan dan Juna memeriksa denyut nadi Reihan.
"ROSC (return of spontaneous circulation), dia kembali."
"Segera bawa pasien ke ruang operasi!" Zico langsung memberi perintah.
Perawat yang berada di sana segera membawa Reihan ke dalam ruangan operasi. Zico yang sudah berganti pakaian dengan pakaian operasi segera menuju ruang operasi bersama Juna.
"Bagaimana peluang keberhasilan operasi ini menurutmu?" Juna bertanya saat keduanya mencuci tangan sebelum masuk ruang operasi.
Zico menghela napas berat. "Melihat kondisinya, kemungkinan untuk bertahan hanya 30 %. Tapi aku akan berusaha semampuku dan kita tidak tau apa yang akan terjadi setelah ini. Itu juga tergantung dari kemauan Reihan untuk bertahan hidup."
Ekspresi Juna berubah jelek setelah mendengar jawaban Zico. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Alicia saat mengetahui kondisi suaminya. Meskipun wanita itu sudah melihat sendiri dan ikut membantu saat Reihan mengalami gagal jantung. Sebagai dokter dia berusaha untuk bersikap professional dalam keadaan seperti itu. Walaupun tidak bisa dipungkiri matanya penuh dengan air mata.
"JUNA!"
Juna langsung masuk ke dalam ruang operasi setelah di teriaki oleh Zico.
.
.
.
.
to be continue
Catatan :
PEC : Keadaan dimana jantung berhenti berdetak atau disebut gagal jantung.
ROSC : Keaadaan dimana jantung kembali berdetak, namun hal ini sudah dalam keadaan darurat dan harus segera di bawa ke ruang operasi.
Hemoperitoneum : Pendarahan yang tidak terkontrol pada rongga perut di sekeliling organ.
Kalau ada yang salah dalam penjelasan, mohon maaf yaa atau bisa di koreksi.