
Di tempat kejadian petugas kepolisian baru saja datang setelah mendapat laporan penusukan yang baru saja terjadi. Salah satu petugas bertanya kepada saksi di tempat kejadian.
"Bisa anda ceritakan apa yang anda lihat?"
Saksi yang bernama Deni mengingat kejadian yang ia lihat tadi. "Awalnya saya tidak tau apa yang sedang terjadi. Saat saya baru saja selesai makan malam di warung sate itu..." Pria itu menunjuk warung sate dan kembali melanjutkan kata-katanya. "Saya ke luar dan melihat seorang pria dengan postur tubuh tidak terlalu kurus dengan tinggi sekitar 180 an. Dia memakai hoodie hitam dengan kepala dibungkus tudung hoodie berjalan ke arah pria yang baru membeli sate dengan terburu-buru. Ia seperti mengamati sekitar dan langsung mendekat ke arah korban. Kebetulan posisi saya agak tersembunyi dan dia tidak melihat keberadaan saya. Saya pikir mereka teman lama, karena posisi pria itu tampak seperti memeluk korban. Tak lama korban langsung ambruk setelah pria tadi pergi seakan tidak terjadi sesuatu." Dia menjeda kalimatnya dan menghela napas beberapa kali sebelum melanjutkan kata-katanya. "Saya langsung menghampiri korban dan terkejut saat melihat ia memegang perutnya yang sudah berdarah. Saya langsung melihat sekeliling dan melihat pelaku dan meminta orang-orang yang berkumpul mengejarnya. Namun pria itu seperti hilang ditelan bumi dan tak lama seorang wanita yang merupakan istri korban langsung berteriak dan memeriksa keadaannya. Karena dia seorang dokter."
"Baiklah, terimakasih atas kesaksiannya." Petugas itu segera melaporkan kepada komandannya apa yang baru saja ia dengar.
"Terus lakukan penyelidikan dan segera hubungi Noel." Perintahnya tegas.
"Siap komandan." Petugas itu pergi dan segera menghubungi Noel. Kemudian segera menuju ke Rumah Sakit.
๐ผ๐ผ๐ผ
Alicia menunggu di depan ruang operasi dengan perasaan was-was. Ia benar-benar takut kehilangan suaminya. Apalagi suaminya sempat mengalami gagal jantung dan membuat ia hampir pingsan. Beruntung kondisinya kembali stabil.
Tak lama seorang perawat ke luar dari ruangan operasi dengan terburu-buru. Membuat Alicia tidak bisa tenang. Apalagi perawat itu membawa banyak kantung darah. Membuat Alicia memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada suaminya.
"Sayang, Bagaimana kondisi Reihan?"
Alicia menoleh saat mendengar suara ibunya dan melihat keluarganya baru saja datang. "Mami... " Alicia langsung memeluk Clara. "Mas Reihan masih dalam ruang operasi dan masih di operasi oleh Zico. Tapi... " Kata-katanya menggantung dan tidak bisa ia selesaikan. Ia tidak bisa menyelesaikan kata-katanya dan membenamkan kepalanya di pelukan Clara.
"Tapi apa sayang?" Clara menatap putrinya yang sedang berusaha menahan tangis.
Tepat saat ia akan menjawab lampu ruangan operasi mati dan pintu terbuka. Zico ke luar dengan ekspresi tidak bisa dijelaskan. Membuat semua orang menatapnya penuh tanya.
Alicia yang langsung menghampiri Zico. "Zico, bagaimana kondisinya?" Zico masih diam dan tidak menjawab pertanyaan Alicia. "Zico jawab! Bagaimana kondisi suamiku?" Alicia tampa sadar meninggikan suaranya.
Zico yang mendapat bentakan dari wanita itu segera menatap Alicia dengan linglung. Ia menghela napas berat seraya berkata dengan suara rendah. "Maafkan aku, aku tidak bisa menyelamatkannya."
"Apa? Kamu bercanda kan?" Alicia kaget dan menganggap Zico sedang mengerjainya.
Zico menatap mata Alicia "Aku nggak bercanda Ale, Reihan sudah meninggal. Suami kamu sudah pergi untuk selamanya Ale. Aku tidak bisa menyelamatkannya."
Ketika kata-kata itu menguap ke udara Alicia langsung merosot ke lantai dan Zico dengan sigap menangkap tubuh wanita itu.
"Mas Rei, kamu nggak mungkin pergi kan? Nggak mungkin, Mas Reihan... " Alicia langsung pingsan dan membuat Zico panik sebelum mengangkat wanita itu menuju IGD untuk diberikan pertolongan.
Sementara Clara juga berada dalam keadaan tidak baik-baik saja. Kakinya terasa seperti jeli dan hampir jatuh. Beruntung Adhit langsung menangkap istrinya dan mendudukkan Clara di kursi.
"Mas, ini mimpi kan? Reihan baik-baik aja kan?" Clara langsung meracau dengan mata dipenuhi air mata. Dadanya sesak seakan batu besar menghimpitnya. Ia benar-benar tidak bisa percaya Reihan pergi secepat itu.
Reihan adalah menantu kesayangan Clara, bahkan wanita itu sudah menganggap Reihan sebagai anaknya sendiri saking dekatnya hubungan mereka. Saat Alicia dan Reihan bertengkar, ia akan selalu menjadi penengah dan akan membela Reihan. Terkadang Alicia sampai cemburu dan mengatakan. "Anak Mami aku atau Mas Rei sih? Kenapa yang dibela selalu Mas Rei?" Namun jawaban Clara akan selalu membuat Alicia naik darah dan mendiamkan semua orang seharian penuh.
"Semua ini bukan mimpi sayang, Reihan sudah pergi. Dia sudah tenang sekarang." Adhit memeluk istrinya dan tidak mengetahui kalau kedua orang tua Reihan mendengar apa yang baru saja diucapkan Adhit.
Bu Sukma membeku di tempat dan Ayah Rasyid terkejut bukan main.
"Mas, anak kita..." Bu Sukma langsung pingsan setelah mendengar kepergian anak lelakinya.
Ayah Rasyid segera membawa istrinya ke IGD karena takut akan terjadi sesuatu kepada istrinya. Apalagi istrinya memiliki riwayat darah tinggi membuat pria itu gelisah. Tak lama setelah ayah Rasyid masuk ke dalam IGD, petugas kepolisian datang dan menghampiri Adhit yang sedang menenangkan istrinya.
"Selamat malam Pak, kami dari petugas kepolisian setempat."
"Saat ini kami sedang mengidentifikasi pelaku berdasarkan ciri-ciri yang disebutkan saksi."
"Saya harap kalian bisa menangkap pelaku karena sudah membunuh menantu saya." Adhit berkata penuh penekanan.
Merasakan aura intimidasi dari pria do depannya membuat kedua petugas itu menelan ludah dengan susah payah. "Ba-ik Pak, kami akan berusaha menangkap pelaku dan dalang dibalik semua itu." Jawab petugas yang bernama Noel.
Setelah mengatakan beberapa kata lagi, keduanya segera meninggalkan rumah sakit untuk melanjutkan pekerjaan mereka.
๐ผ๐ผ๐ผ
Jenazah Reihan baru saja selesai di mandikan oleh pihak Rumah Sakit sesuai permintaan keluarga dan segera dibawa ke rumah duka. Sementara Alicia baru saja membuka mata setelah tidak sadarkan diri hampir 1 jam lamanya.
"Bagaimana kondisi kamu saat ini?" Zico bertanya setelah melihat Alicia sadarkan diri. Namun Zico sama sekali tidak mendapat jawaban dari Alicia. Pemandangan yang ia lihat saat ini adalah wanita itu menatap lurus tampa mengatakan apapun. Tatapannya kosong dan tidak menghiraukan apa yang ditanyakan Zico.
"Ale!" Zico memanggil Alicia dengan nama spesial yang biasa ia gunakan untuk memanggil wanita itu. Meski cintanya tidak terbalas dan wanita itu menjadi istri orang lain. Rasa sayangnya kepada wanita itu tidak pernah pudar sama sekali. Walaupun ia harus menekan rasa cintanya sedalam-dalamnya saat berada di dekat Alicia.
Alicia menoleh dan menatap Zico untuk beberapa saat setelah mendengar nama panggilan yang sudah lama tidak ia dengar. Matanya langsung berkaca-kaca dan kristal bening pun tak bisa terbendung lagi. Alicia menangis tersedu-sedu karena ia benar-benar terpukul karena kepergian suaminya.
Hati Zico terasa di remas saat melihat Alicia bersedih seperti itu, ia memeluk wanita itu dan berusaha menenangkannya.
"Ale, kamu harus sabar. Semua itu sudah takdir dan tidak bisa dihindari oleh semua manusia." Zico berkata dengan lembut. "Ingat, kamu masih punya bayi yang harus kamu jaga. Sesuatu yang ditinggalkan Reihan untuk kamu." Pria itu mengusap kepala Alicia penuh sayang. "Kamu harus kuat demi anak kalian. Aku tau kamu sedih, tapi kalau kamu kayak gini Reihan akan sedih di atas sana dan bayi kalian jga akan ikutan sedih."
Alicia melepaskan pelukan Zico dan menatap pria itu. Kemudian ia menunduk dan mengusap perutnya. Benar, ia masih punya separuh dari diri Reihan yang sedang tumbuh dan berkembang di dalam rahimnya. Ia tidak boleh seperti ini, ia harus bangkit. Alicia bertekat dan menghapus air matanya. Melihat hal itu membuat senyum Zico mengembang. Akhirnya ia berhasil membujuk Alicia.
"Apa jenazah Mas Rei udah di bawa pulang?" Tanyanya dengan menekan rasa sakit dalam hatinya.
"Iya, jenazah suami kamu udah di bawa pulang dan akan di kebumikan besok pagi." Zico menjawab dengan mata memperhatikan ekspresi Alicia.
Alicia tersenyum pahit dan segera turun dari ranjang. Kemudian berjalan ke luar diikuti Zici dari belakang. Ia takut, wanita itu akan kembali pingsan. Alicia menyusuri koridor menuju lobi tanpa melihat ke belakang. Sampai di lobi ia berdiri diam dan menatap langit yang gelap gulita.
"Ayo aku antar pulang." Zico bicara seraya berjalan mendekati Alicia. "Tadi tante Clara titip pesan, kalau kamu bangun aku disuruh antar kamu ke rumah orang tua Reihan."
Mendengar kata-kata Zico, Alicia langsung menoleh dan menganggukkan kepalanya. "Baiklah."
"Ya udah, kamu tunggu di sini biar aku ambil mobil dulu." Zico langsung berlari menuju parkiran untuk mengambil mobilnya.
Sampai di lobi ia turun dan membukakan pintu untuk Alicia. Wanita itu menatap Zico dengan aneh dan segera masuk ke dalam mobil. Selama perjalanan tidak ada percakapan di antara mereka, karena Alicia lebih memilih melihat ke arah jalan.
"Mas Rei....!" Alicia hampir limbung saat melangkah masuk ke dalam rumah dan melihat suaminya yang tertutup kain putih.
.
.
.
.
to be continue