
"Kita bisa kembali menuruni bukit dan mencari sungai, aku yakin masih ada sungai kecil yang bisa dijadikan tempat kita untuk membangun tenda di dekat sana." Jacob memberikan saran, lalu mengajak Hani turun dari puncak bukit, tempat mereka berada saat ini.
Kemudian mereka mulai berjalan menuruni bukit, mencari sungai untuk membangun tenda di dekat sana. Tak sampai setengah jam, mereka pun menemukan tempat yang cocok untuk tempat mereka berkemah beberapa hari lagi.
Aliran sungai kecil, dan sinar matahari yang masih bisa menembus hutan sangat sempurna untuk berkemah beberapa hari. Harapan mereka selanjutnya adalah semoga benar-benar tak ada hewan buas di hutan ini, ataupun tim pencari yang menemukan mereka sampai disini.
Setelah menemukan tanah untuk membangun tenda, mereka saling bahu membahu membangun sarana istirahat yang tidak hanya aman namun juga nyaman. Setelahnya, mereka memutuskan untuk mencari buah-buahan, atau beri-berian untuk makan malam, dan persediaan untuk esok.
Ditengah perjalanan mencari buah-buahan, mereka saling berbincang dan menceritakan kisahnya masing-masing.
"Hani, are you happy?"
Hani menoleh pada Jacob yang berjalan di sampingnya sambil membawa tas portabel yang digunakan sebagai tempat menaruh buah dan peralatan yang mereka bawa.
"no, aku ga tau apa tepatnya, tapi aku ga bahagia di kehidupanku sebelumnya. Tapi aku cukup bahagia disini"
"disini?"
"huum, menemukan salah satu kewarasan yang aku miliki, jauh dari seluruh toxisitas di dunia nyata. Ga ada yang aku khawatirkan lagi soal aku menjadi pecundang dan selalu hanya menjadi pesuruh"
Jacob terdiam, dia menoleh pada Hani dengan tatapan penuh tanya. Mengetahui hal itu, Hani berusaha menjelaskan.
"yeah, ga secara terang-terangan orang memperlakukanku seperti itu, semua itu kayak semacam intuisi-intuisi"
"intuisi? kayak semacam praduga gitu?"
"emm bisa dibilang ga cuma sekedar praduga tanpa hipotesa. Karena itu semacam firasat yang datang dengan kuat, kemudian disusul kemunculan hipotesa, setelah fakta-fakta lebih dulu muncul"
"hmmm ilmiah banget ternyata haha, tapi aku paham kok maksudnya, jadi itu bukan fitnah atau prasangka buruk, tapi intuisi. Trus kenapa kamu ngerasa dunia kamu segitu toxicnya? Maksudku, semua yang kamu alami sebelumnya, pertemanan yang ga nyata, sexual harrasement, broken home. Pasti ada benang merah yang membuat semuanya terasa sama-sama toxic kan?"
Hani terdiam sejenak, memikirkan beberapa hal. Namun belum sempat ia melanjutkan kalimatnya, mereka berdua berhasil menemukan buah murbei, mirip stroberi kecil berwarna merah dan biru tua.
Melihat hal itu, mereka menjadi cukup kegirangan, karena tak hanya satu atau dua pohon beri, namun belasan dengan buah yang terlihat masak. Dengan segera mereka memanen beri dan meletakkan di tas yang sudah mereka bawa.
Ditengah proses panen itu, Hani melanjutkan kalimatnya yang tertunda.
"aku ga tau apa yang salah sama diriku sendiri, I mean aku selalu buat kesalahan, dan itu membuatku merasa ga berguna sama sekali. Mungkin semua masalah itu juga datang karena kesalahanku sendiri. Aku ga pernah jadi lebih baik dalam hal ini"
"hal apa?"
"hidup, being normal, like what you do. Aku bahkan ga punya sesuatu untuk diapresiasi"
"what I do?"
"oh come on, kamu tau maksudnya. Kamu pintar dan diapresiasi banyak orang. Kamu cuma buat satu kesalahan dan semua orang akan memaafkan itu, karena itu hanya kesalahan."
Jacob terdiam sesaat sebelum menjawab pernyataan itu.
"yahh iya sih, aku baru menyadari ternyata orang-orang berpikir seperti itu tentangku. Tapi bagaimanapun aku masih punya banyak sisi gelap, yang ga ada orang tau tentang itu."
Hani memandanginya sesaat sebelum mengalihkan pandangan ke tangan-tangannya yang terampil memanen buah beri.
"so, are you happy?"
"I don't know, itu seperti bersifat lampau, karena situasi kita sekarang. Mungkin aku juga sama sepertimu, sedikit menemukan kewarasan dengan menjauh dari hiruk pikuk dunia"
Hani tersenyum mendengar jawaban Jacob. Mereka berdua saling bertatapan untuk beberapa saat sebelum melanjutkan perjalanan mencari makanan lain. Dan benar saja, setelah berjalan cukup lama hampir satu jam, mereka menemukan beberapa pohon singkong.
Setelah meletakkan hasil panen mereka hari itu di tempat yang sekiranya aman dari jangkauan hewan-hewan pemakan buah, hari sudah mulai gelap dan mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak di dekat tenda sebelum pergi ke sungai untuk mengambil air dan berniat untuk mencuci beberapa singkong yang telah dikupas sebelumnya oleh Jacob.
Hani bertugas membawa lampu senter sebagai penerangan, ia duduk di tepian sungai dengan mencelupkan salah satu kakinya. Sementara Jacob sibuk mencuci singkong, mengambil beberapa liter air, juga tak lupa ia mengasah pisaunya di bebatuan terdekat dengannya.
Setelah selesai dengan semua pekerjaan itu, ia menyempatkan diri untuk melihat Hani yang duduk tak jauh dari posisinya berdiri saat ini. Ia melihat gadis itu dengan tatapan terkesima, bahkan kegelapan malam tak merubah pesona anugrah Tuhan itu, justru membuatnya terlihat lebih menakjubkan.
Untuk beberapa saat, melihat gadis dengan balutan gaun putih, yang terlihat tenang memandangi air sungai itu membuat hatinya menjadi lebih hangat. Ia tak bisa menolak hasrat yang datang secara tiba-tiba itu, ia justru berusaha menikmatinya dan mulai mencari kebenaran atas rasa itu.
Tak lama, Hani menoleh pada Jacob yang sedang berdiri memperhatikan dirinya. Menyadari yang sedang ditatap melihat ke arahnya, Jacob segera mengalihkan pandangan ke tempat lain.
"udah selesai?"
Dengan kikuk Jacob menjawab dengan berjalan mendekati Hani dengan membawa barang-barangnya ke tepi sungai.
"udah, mau stay disini sebentar?"
"boleh" Hani menjawabnya tanpa menoleh ke arah Jacob dan kembali menunduk melihat air yang mengalir dibawahnya.
Jacob duduk di sebelahnya, berusaha untuk tenang dan mengalihkan pandangannya ke sekitar sungai.
Mereka berdua terdiam untuk sesaat, Hani masih berfokus pada air sungai di bawahnya, sedangkan Jacob diam-diam memperhatikan gadis itu.
Tak berselang lama, Hani bersuara,
"jika kamu melihat pantulan dirimu di air yang mengalir, itu akan membantumu menghapuskan masa lalu mu yang gelap, ia akan mengalir menjauh bersamaan air yang terus bergerak menuju muara"
ia menyelesaikan kalimatnya tanpa menoleh kepada Jacob sama sekali, ia masih tertunduk berkaca pada air dibawahnya. Karena merasa cukup bingung dengan perkataan Hani, Jacob pun mulai melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Hani. Ia menunduk, pantulan wajahnya terlihat samar dengan bantuan cahaya dari senter yang dipegang Hani.
Ia mendapati pantulan dirinya seolah mengalir, menghanyutkan sebagian ingatan pahitnya tentang kehidupan yang ia jalani. Tak lama kemudian ia pun tersenyum, dan pantulan itu juga menunjukkan ekspresi yang sama dengan pemiliknya.
Ia menoleh pada gadis di sampingnya, melihat gadis itu pun sama tersenyumnya memandangi pantulan wajahnya di air yang mengalir itu. Jacob pun bertanya, bagaimana Hani bisa tiba-tiba mengatakan hal seperti itu.
"darimana kamu mendapatkan kalimat itu?" Jacob bertanya penuh dengan rasa penasaran.
"seseorang pernah mengatakan hal itu padaku, dan sekarang aku membuktikannya. Kamu tau, itu seperti sebuah sugesti bahwa suatu hal yang membuat kita penasaran akhirnya menemukan jawabannya" Hani mendongakkan kepala, masih tertuju pada pepohonan di depannya.
"siapa seseorang itu? gurumu? atau seseorang yang kau temui di suatu tempat?"
Hani menoleh pada Jacob, ia terdiam sejenak, begitupun dengan Jacob yang sangat menanti jawaban dari Hani.
"My dead sister, dan juga dia selalu mengatakan padaku, bahwa laki-laki adalah makhluk dingin yang tak mengerti apa itu cinta, dan bagaimana mereka belajar mengenai hal itu. Ia selalu mengatakan bahwa mereka adalah makhluk yang kasar dan tak mengenal kasih sayang. Semua yang diucapkan adalah kebohongan, demi mempertahankan egonya. Yah meskipun aku tidak sepenuhnya percaya gadis itu, karena aku masih belum memahami beberapa bagian lainnya"
Jacob cukup terkejut dengan kalimat yang Hani ucapkan padanya, ia bingung apakah itu sebuah sindiran atau hinaan. Yang pasti, kalimat itu cukup menyentil ego dan pikirannya.
Kemudian, tiba-tiba saja Hani berdiri dan berjalan kembali ke tenda tanpa mengucapkan apapun lagi, Jacob semakin tak mengerti harus berbuat apa selain ikut berjalan kembali ke tenda. Situasi kembali sunyi dan cukup canggung. Jacob hendak bertanya apa maksud kalimat Hani, namun ia urungkan karena gadis itu, sedang berganti pakaian dengan pakaian olahraga kering miliknya yang sempat ia pakai di hari pertama mereka bertemu.
Dan ketika hendak tidur, Jacob memberanikan diri untuk bertanya pada Hani,
"hei, aku tak mengerti apa maksud kalimatmu terakhir kali di sungai tadi? apa aku berbuat sesuatu yang salah?"
"Jatuh cinta adalah suatu kesalahan, dan disayangkan kau telah masuk ke dalamnya"
"apa maksudnya?"
"kamu akan tau besok, aku lelah, aku akan tidur lebih dulu"
Jacob tak melanjutkan pertanyaannya, Hani memunggunginya dan akhirnya ia pun memutuskan untuk tidur meskipun pikirannya masih penuh dengan pertanyaan.