
Jika kamu percaya dengan keajaiban, niscaya keajaiban itu akan mengubah ketidakmungkinan menjadi suatu kenyataan.
Sesampainya di tenda mereka kembali beraktifitas seperti biasa. Pergi ke sungai, memasak air, dan menata persediaan makanan dan perbekalan. Ketika hendak pergi ke sungai, Hani ingin ikut bersama Jacob. Ia mengatakan bahwa ia juga ingin ikut membantu. Jacob tentu saja mengiyakan keinginan Hani.
"Jacob, can I come in? Just wanna help u" ucap Hani ketika sedang duduk di depan tenda dan melihat Jacob hendak pergi ke sungai untuk mengambil air.
"Oke, ayo" ajak Jacob sambil membawa botol-botol sebagai tempat air nantinya.
Sesampainya di sana, mereka tidak langsung kembali ke tenda begitu saja. Jacob mengajak Hani pergi ke sisi sebrang sungai untuk menunjukkan sesuatu. Ia meninggalkan botol-botol yang ia bawa di tepi sungai dekat bebatuan. Kemudian menggandeng Hani, membantunya berjalan melewati sungai.
Dengan hati-hati Jacob menuntun Hani dan menjaganya dengan sepenuh hati. Kemudian mereka berjalan ke arah semak-semak liar yang cukup tinggi, melewatinya dahulu sebelum menemukan apa yang di maksud oleh Jacob.
Terlihat beberapa jenis bunga liar terhampar di depan mereka saat ini, warna ungu dan putih mendominasi ruang hijau di depan mata mereka. Hani tersenyum melihat bunga-bunga di depannya ini, ia tidak menyangka dibalik semak liar yang tinggi, bunga-bunga ungu dan putih itu tumbuh dengan cantik.
Jacob memetik salah satu bunga berwarna putih, dan berbalik ke arah Hani, menyingkap rambut yang menutupi telinga Hani, dan meletakkan bunga itu di samping telinganya. Sang penerima bunga pun tersenyum sambil menatap sang pemberi. Sambil mengucapkan terimakasih.
"thank you" ucap Hani sambil memegangi bunga yang berada di atas telinganya kini.
"Aku akan membuat flower crown untukmu" ujar Jacob yang kemudian beralih memetik satu persatu tangkai bunga yang berada di dekatnya.
Melihat hal itu, Hani pun ikut membantunya. Mereka berdua mengambil sebanyak-banyaknya tangkai bunga yang bisa di ambil, kemudian kembali ke sungai mengambil botol-botol air minum mereka, lalu kembali ke tenda.
Di depan tenda, Jacob dengan tangan yang terampil mulai merangkai mahkota dari bunga. Sedangkan Hani sibuk memasak air. Dan setelah selesai memasak air, ia pun mendekati Jacob lalu duduk di sampingnya.
Hani memperhatikan dengan seksama Jacob yang sedang fokus merangkai mahkota bunga yang terlihat hampir selesai dibuat. Ia memperhatikan lelaki itu sambil memikirkan suatu hal yang mengusik pikirannya.
"Jacob, apa kamu memiliki keyakinan bahwa ketika kamu mengharapkan sesuatu yang mustahil menjadi kenyataan. Maka dengan keyakinan itu, kamu sangat percaya bahwa sesuatu yang kamu harapkan akan menjadi kenyataan?"
"If you believe in miracle, then miracle come to you." ujar Jacob dengan mata yang tetap tertuju pada karya yang sedang dibuatnya.
"Umm terdengar familiar, seperti kata-kata dari acara seminar"
"Sepertinya aku mendapatkan kalimat itu memang dari sana haha, lagipula kenapa kamu bertanya tentang hal itu?"
Hani tidak segera menjawabnya, ia larut dalam imajinasi, dan berfikir mungkinkah ini yang dinamakan keajaiban? Seseorang dengan kapasitas seperti Jacob benar-benar jatuh hati dengan orang seperti dirinya yang bahkan hampir tidak terlihat diantara teman-teman sekelasnya.
Memang benar dahulu ia pernah menaruh hati pada Jacob, namun siapa juga yang tidak menyukai lelaki itu? Selain terkenal karena cerdas, ia juga terlihat baik, dan tentu saja tampan. Ia yakin bahwa hampir semua perempuan di sekolahnya pernah menaruh hati pada Jacob.
Belum menemukan konklusi akan keraguannya, bayangan itu hilang seiiring panggilan Jacob kepadanya untuk mencoba flower crown yang baru saja ia selesaikan.
Hani berdiri, sambil memegang flower crown buatan Jacob. Kemudian memakainya perlahan di kepala, juga merapikan rambutnya agar tidak tersangkut diantara celah flower crown yang ia pakai.
Jacob ikut berdiri, ia memandangi gadis dengan gaun putih itu memakai flower crown. Tangannya tak bisa diam, ia mengulurkan bantuan untuk ikut merapikan rambut Hani. Kemudian ia mundur satu langkah untuk melihat penampilan gadis itu dengan lebih jelas.
Jacob tersenyum melihat Hani yang terlihat anggun dengan gaun putih dan flower crown menghiasi rambutnya.
"You look like a bride"
Hani menoleh ke arah Jacob, ia melihat tatapan mata lelaki itu yang penuh dengan kesungguhan setelah mengatakan kalimat pujian padanya.
"Am I ?"
"Yes you are"
Hani mengulurkan tangannya pada Jacob, memberikan peluang untuk menggenggamnya. Kemudian ia berkata dengan nada sedang bermain drama di sebuah teater.
"Lalu apa kamu bersedia menjadi pengantin pria ku?"
Jacob mengangguk sambil tertawa kecil, menandakan kesediaannya untuk bermain peran sebagai mempelai lelaki Hani. Ia menggenggam tangan Hani yang terulur padanya dan melangkah maju, mendekat kepada Hani.
Kini mereka berdua berhadapan sangat dekat, Hani merapikan rambut Jacob yang terlihat agak berantakan. Dan Jacob mengalungkan kedua tangannya di pinggang Hani, sambil terus menatap gadis di hadapannya itu.
"Apa kita akan berdansa sekarang?" tanya Jacob setelah Hani selesai merapikan rambutnya.
"Ya, tentu"
"Tapi aku tak bisa berdansa"
"Cukup seperti ini, itu lebih baik daripada berdansa" ujar Hani sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Jacob. Mengelus rambut belakang lelaki itu dengan perlahan. Membuat kenyamanan diantara mereka berdua.
Mereka hanya terus seperti itu selama beberapa menit, sebelum Hani mengutarakan apa yang ia khawatirkan selama ini.
"Jacob, I'm afraid"
"Kenapa?"
"Aku takut jika semua ini hanya mimpi"
"Hmm?"
"What do you mean?"
"Kamu tahu betul apa maksudnya"
"Kita pernah membahas hal ini kan? I'll never let you walk alone"
"This is not that simple, hanya karena kamu mengatakannya, kemudian aku percaya dan kita akan terus bersama. Tak sesimpel itu"
"Aku tak paham maksudmu"
"Jacob you don't really even know me. Dan semua ini akan berakhir dengan cepat. Semua ini akan berakhir, segera setelah kita melepaskan tangan kita yang saling tertaut. Kamu tahu apa alasannya? Karena kamu dan aku jelas berbeda. Sangat berbeda. Ini bukan cerita cinderella, yang akan berakhir bahagia. Kita bukan cerita seperti itu."
Jacob terdiam mendengar penjelasan Hani, tanpa sedikit pun berniat melepaskan tangannya dari pinggang gadis itu. Kemudian ia mengatakan satu kalimat pada Hani.
"Hani look at me, give me the point" ucap Jacob yang melihat kegelisahan Hani, dan tak menatap ke arahnya sama sekali.
Hani mendongakkan kepala, memberanikan diri menatap kedua bola mata lelaki yang ada di hadapannya kini.
"Aku tak mengerti Jac, kita sangat berbeda, apa kamu bisa menjelaskan alasan kamu jatuh cinta dengan seseorang sepertiku?"
"I don't know, I don't really know the reason, Hani. Aku hanya mengikuti instingku"
"Just tell me the truth Jac"
Jacob terdiam sekali lagi, ia menatap mata Hani dengan tatapan sayu. Ia ingin berkata sesungguhnya namun ia tak berfikir itu adalah suatu hal yang dibenarkan hatinya.
"Mungkin karena takdir? Sebuah keajaiban yang membuatku mendapat pelajaran berharga selama disini bersamamu?"
"Apa kamu percaya itu?"
"Hmm?"
"Miracle"
"Tentu aku percaya"
"I don't believe you"
Jacob hampir menyerah, karena tak ada satu pun kalimatnya yang bisa meyakinkan Hani. Namun ia tak berhenti sampai disitu saja. Ia berusaha menerjemahkan apa yang sebenarnya ia rasakan.
"Okay, kamu boleh tak mempercayai perkataanku padamu, tapi tidak dengan takdir. Ketika kamu mulai bercerita tentang kehidupanmu, aku merasa iba, aku merasa kamu benar-benar menyedihkan. Tapi justru karena perasaan iba itulah, aku tak bisa melihatmu terus menerus bersedih, merasa sendirian, menanggung semua beban yang tidak seharusnya kamu bawa. Aku hanya ingin kamu tahu, aku tak bisa meninggalkanmu sendirian dan melihatmu merasa terpuruk dengan semua masalah itu. That's why, aku bersedia untuk jadi tempat dimana kamu bisa berbagi suka duka. Menjadi tempat kamu pulang, tempat kamu tak lagi merasa sendirian, tempat dimana kamu tak perlu merasa harus terus lari dari kenyataan. Aku bersedia menjadi orang itu."
Mata Hani terlihat berkaca-kaca mendengar pernyataan Jacob. Ia tidak mengatakan hal apapun, hanya memberikan ruang untuk Jacob menjelaskan lebih panjang dan detail mengenai perasaannya.
"Dan aku fikir itu lebih bermakna dari sekedar jatuh cinta karena cantiknya wajah. Mengetahui bahwa hati kamu lebih cantik, itu yang membuat aku jatuh hati. Aku tak tahu bagaimana ini semua akan berakhir. Tapi aku berharap kita bisa bersama-sama setelah ini. Kita bisa kembali ke kehidupan kita, ke sekolah, menjalani kehidupan tahun terakhir bersama. Kita bisa merekayasa semua cerita tentang rencana pelarian kita. Dan memulai kehidupan baru dengan lebih bahagia."
Hani tak bisa membendung air matanya lagi, ia menangis sejadi-jadinya. Mendengar ketulusan itu keluar dari mulut yang tidak pernah ia sangka akan membantunya keluar dari gelapnya kehidupan yang ia jalani selama ini.
Hani memeluk Jacob dan menangis di pundaknya. Sedangkan Jacob, ia pun berusaha untuk tetap tegar dan mengelus punggung Hani, agar membuatnya merasa lebih tenang.
Masih memeluk Jacob, namun dengan isak tangis yang mulai mereda. Hani mengatakan bahwa ia pun juga mencintai lelaki itu.
"I love you Jac, you are everything I need. Aku akan selalu berada di sisimu, sekacau apapun dunia nantinya, sesulit apapun masalah kita nantinya. I'll be right there for you"
Jacob merasa sangat lega mendengar pernyataan Hani. Perasaannya benar-benar bahagia sekarang. Ia mempererat pelukannya pada Hani dan menenggelamkan wajahnya di pundak gadis itu. Merasakan kehangatan, dan menikmati momen mengharukan itu bertahan beberapa saat.
aku melihat wajahmu
seperti melihat langit malam
seperti mengagumi betapa cantiknya matahari terbit
kamu datang dari tempat yang jauh
datang bersama murninya hati yang kau punya
aku tidak akan menyerah kali ini
aku tidak akan menyerah pada kita
sekalipun malam tanpa cahaya bulan
sekalipun pagi tak sehangat biasanya
karena kita saling memiliki satu sama lain
berpegangan ketika salah satunya mulai goyah
berpelukan ketika malam menjadi terlalu dingin
dan tetap bertahan meskipun kita tak pernah tau bagaimana akhir ceritanya