Sunrise In Your Eyes

Sunrise In Your Eyes
Trust Issue



Sore hari, mereka berdua berencana kembali berjalan-jalan untuk menikmati suasana asri di dalam hutan. Mereka memutuskan berjalan ke arah bukit, dengan membawa perbekalan air minum, senter, sedikit makanan dan tentunya selimut.


Jacob berjalan di depan, sambil terus menggandeng tangan Hani. Melihat hal itu Hani kembali merasakan gejolak tak biasa yang pernah ia rasakan sebelumnya. Kekhawatiran. Ia masih belum bisa menerjemahkan apa arti dari ketakutan yang menghantui hatinya sejauh ini.


Melewati jalan yang cukup sulit tak membuatnya mengurungkan niat untuk kembali. Sesampainya di area perbukitan mereka mencari tempat untuk duduk bersantai. Dan mengeluarkan makanan dan botol minum yang mereka bawa sebelumnya.


Mereka pun hanya duduk disana selama beberapa menit sambil memandangi langit sore yang hangat. Jacob menoleh pada Hani disampingnya, melihat raut wajahnya tenang menatap awan yang berjalan di langit oranye.


Ia pun melakukan hal yang sama. Meskipun tak mengetahui pasti apa yang sedang dipikirkan gadis itu sehingga hanya terus terdiam sejak mereka sampai disana.


"Hani, apa makanan favoritmu?" tiba-tiba Jacob membuka suara.


Hani tanpa menoleh hanya menjawab "entahlah, sepertinya aku menyukai semuanya. What about u?"


"Entahlah, aku juga tak punya referensi, aku suka semuanya. Sepertinya pertanyaan ini tak cocok untuk kita haha" Jacob tertawa setelah selesai dengan pertanyaan itu. Hani pun menanggapinya, ia menoleh dan ikut tertawa bersama.


"Kita tidak pernah membahas hal-hal pribadi sebelumnya di sekolah bukan? Aku merasa aku ingin menebus waktu tak pernah kuhabiskan bersamamu dulu. Padahal kita selalu berada di kelas yang sama." Jacob mencoba mengungkap apa yang ia rasakan.


Hani terdiam beberapa detik mendengar pernyataan dari Jacob. Ia merasa ada benarnya juga apa yang Jacob katakan. Ini adalah waktu yang tepat untuk saling mengenal satu sama lain. Dan mencari apa yang sebenarnya mengganjal di hatinya.


"Benar juga, aku selalu pergi kemanapun bersama teman-temanku. Dan kau jarang berada di kelas"


"Waktu kita tak pernah tepat"


"Bagaimanapun rasanya lebih menyenangkan disini bersamamu. Dibandingkan bersama teman-temanku, mereka selalu mengatur hal-hal yang tidak penting. Ketika aku memilih ekstrakurikuler pun aku harus meminta pendapat mereka. Ah aku bahkan tak bisa memilih pilihanku sendiri. Termasuk urusan menyukai seseorang."


"Benarkah? Sejauh itu?"


"Aku tahu itu terdengar mengada-ada, tapi sungguh aku menyaksikan sendiri bagaimana Silvia mulai mendekte yang lain untuk tak menyukai beberapa pria di kelas. That's why aku tak pernah mengatakan lelaki mana yang kusukai. Jika mereka tahu hubungan kita sekarang. Bisa dipastikan Silvia akan menyebarkannya ke semua orang dan mulai mengolok-olokku, seperti yang pernah ia lakukan sebelumnya ada yg lain"


"Well itu artinya jika kita harus kembali ke sekolah, kita harus menyembunyikan hubungn ini?"


"Aku senang kamu memilihku. Percayalah aku akan selalu ada disaat kau butuh bantuan." Jacob mulai menggenggam tangan Hani. Dan merrka berdua saling bertatapan dan tersenyum untuk beberapa saat.


Setelahnya suasana kembali mencair dan mereka mulai membicarakan hal-hal yang belum pernah mereka ketahui sebelumnya.


"Kurasa aku memiliki krisis kepercayaan terhadap kedua orangtuaku, setelah banyak hal yang kulakukan, aku tidak pernah benar-benar menyampaikan emosiku. Terkadang aku ingin marah, tapi entah kenapa selalu sulit untuk melampiaskannya." Jacob berbicara sambil melihat langit oranye, wajahnya tak terlihat bersedih atau menyesali sesuatu.


"Ketika kamu mulai mengalami krisis, bahkan kepercayaanku sudah hilang sejak dahulu. Dahulu aku juga mengalami hal yang sama. Aku tidak bisa mengekpresikan apa yang kurasakan. Bahkan ketika aku memiliki saudara tiri aku tidak pernah benar-benar terbuka padanya. Entahlah aku sudah tidak bisa mempercayai siapapun lagi. Aku takut mereka berdiskusi tentangku dengan oranglain. Dan menganggapku menyedihkan."


"Benar juga, krisis itu ada karena sebuah ketakutan. Kita tidak mau oranglain menilai kita dari sisi terburuk."


"Apa menurutmu aku menyedihkan? "


"Entahlah aku tidak bisa mengatakannya. Lagipula kita berada di situasi yang sama. Apa bedanya kamu dan aku sekarang, ya kan? "


"Aku juga berpikir begitu"


Hani menoleh pada Jacob disampingnya yang masih menatap langit. Tak menyadari bahwa gadis disampingnya sedang memperhatikan setiap inci wajahnya dengan penuh rasa gundah.


Hani merasa bersalah, ia berfikir perlu menerjemahkan perasaannya dengan benar. Apakah ia akan menerima Jacob sepenuh hati, atau menolaknya perlahan.


Seperti malam purnama yang terang


Aku membayangkan mimpi yang aku impikan.


Namun nyatanya semu hanyalah sebatas angan.


Mimpi itu memudar seiring perjalanan, kemudian menghilang