Sunrise In Your Eyes

Sunrise In Your Eyes
Pelarian



Seorang gadis tengah berlari dengan sekuat tenaga, seolah menghindari kejaran seseorang di dalam hutan. Ia membawa serta tas punggungnya, yang terlihat ringan tak terisi penuh oleh barang-barang. Kemudian ia beristirahat sejenak dibawah salah satu pohon yang cukup rimbun. Tanpa melepaskan perhatiannya dari sekeliling, memeriksa apakah ada seseorang yang mengikuti langkahnya. Kemudian ia mengeluarkan sebotol air minum dan mulai meneguk isinya. Ia mengatur nafas dan kembali memperhatikan sekitarnya, ia tak tau apapun tentang tempat ini. Ia pergi tanpa rencana matang ataupun peta untuk mengetahui dimana posisinya sekarang. Ia hanya berharap ia dapat melewati malam dengan aman dan tetap hidup untuk melanjutkan rencana pelariannya.


Di lain tempat, seorang lelaki sedang berjalan menyusuri hutan. Ia berjalan dengan tenang, dan langkah yang percaya diri. Hutan yang ia lalui bukan hutan suaka lebat dengan berbagai macam bahayanya. Apalagi di musim kemarau, kemungkinan besar intensitas hujan akan rendah untuk saat ini. Ia melihat sekeliling, memastikan arah dengan benar, sekalipun tanpa memegang peta. Ia cukup yakin dengan kemampuannya bertahan hidup di hutan. Apalagi dengan tas ransel yang berisi peralatan lengkap tentang perkemahan di punggungnya, membuat penampilannya terlihat seperti penjelajah profesional.


Hari mulai gelap, sang gadis mulai merasa gelisah. Tak kunjung menemukan jalan keluar dari hutan, ditambah dengan adanya suara-suara burung gagak, membuat suasana sore hari terasa cukup mencekam. Jantungnya berpacu kian cepat, ia mulai mempertegas langkahnya, dan mengalihkan pikirannya kepada hal positif. Ia berusaha sekuat tenaga mengurai ketakutan yang menghantuinya. Ia memutuskan untuk berlari kecil, setidaknya ia pikir itu dapat meredakan rasa takutnya. Sayangnya hal itu berbuah masam, karena secara tidak sengaja ia justru menabrak seseorang.


Tanpa diduga muncul sesosok lelaki yang berjalan dari arah Timur, dan secara tak sengaja ia menabraknya. Lelaki itu pun terjatuh, begitu pula dengan sang gadis. Ia kaget bukan main, ketika mengetahui gadis yang menabraknya adalah teman satu sekolah dengannya. Dengan kikuk ia berdiri namun tidak berusaha membantu si gadis yang juga terjatuh di dekatnya setelah insiden tabrakan itu terjadi. Mereka saling berpandangan dan terheran satu sama lain.


"Jacob?" ucap sang gadis sambil menunjuk ke arah wajah sang lelaki


"Hani?" balas sang lelaki dengan nada datar namun dengan raut wajah keheranan


"Apa yang kamu lakukan disini?" mereka berdua tak sengaja mengucapkan kalimat itu secara bersamaan


Untuk beberapa saat mereka hanya saling memperhatikan dan mengamati sekitar, mengira bahwa mereka tidak sendirian. Mereka juga saling mengamati barang bawaan satu sama lain, Hani tertegun melihat ransel lengkap milik Jacob, sedangkan Jacob melihat tas milik Hani dengan heran.


"Kamu juga melarikan diri dari perkemahan?" Hani memulai pertanyaan pada Jacob ditengah suasana hutan yang mulai gelap.


"Begitulah. Kamu sendiri?" Jacob menjawabnya dengan ringan


"Iya, aku melarikan seorang diri darisana. Aku berusaha mencari jalan keluar dari hutan ini, tapi aku tak tau harus kearah mana"


Melihat ketakutan dari raut wajah Hani setelah mengatakan kalimat itu, membuat Jacob berfikir bahwa gadis itu tidak akan bertahan lama sendirian di hutan, apalagi tas berwarna abu-abu dengan gantungan boneka merah yang dibawa gadis itu tak tas yang berisi peralatan bertahan hidup.


Jacob menghela nafas, ia memutuskan untuk mengajak gadis itu ikut bersamanya, setidaknya sampai mereka menemukan jalan keluar. Kemudian mereka berdua akan berpisah.


"Ikutlah denganku untuk sementara waktu, setelah menemukan jalan keluar kita berpisah. Hari mulai gelap, dan kita tak mungkin kembali ke perkemahan. Kita pasti akan dihukum." Jacob menjelaskan maksud dari niatnya mengajak gadis itu ikut bersamanya.


"Thank you, setidaknya kekhawatiranku sedikit berkurang. Tapi sungguh tak apa? Aku hanya tak ingin membuatmu merasa terbebani."


"Ok, thanks a lot"


"Karena kita sepakat untuk pergi bersama, jadi kita harus saling bergantung untuk sementara waktu. Kamu bawa senter?"


Hani mengangguk, kemudian dengan gerakan cepat ia mengambil senter dari dalam tasnya. Bukan hanya satu, ia mengeluarkan 4 senter berukuran sedang dengan warna senada merah muda dan motif boneka panda. Melihat hal itu, Jacob terheran dengan barang bawaan Hani.


"Aku hanya butuh satu" ucapnya


"Aku memberimu opsi untuk memilih salah satunya"


"Tapi mereka semua terlihat sama, jadi tak akan ada perbedaan bermakna"


"Just pick one" ucap Hani meyakinkan Jacob


Kembali menghela nafas, Jacob mengambil salah satu senter milik Hani, ia sudah cukup untuk memandu perjalanan mereka berdua, menuju destinasi yang direncanakannya.


"Ok, aku akan berjalan di depan, dan kamu dibelakang"


Hani mengangguk dengan pasti, kemudian mulai mengikuti langkah Jacob di belakang. Karena ketakutannya masih belum hilang, ia meraih ransel Jacob dan memegangnya erat agar tetap berada pada jarak aman terdekat dengan Jacob.


Sedangkan sang pemilik ransel yang menjadi pegangan oleh Hani pun tiba-tiba berhenti dan kemudian menggandeng tangan kanan gadis itu. Supaya ia tak kembali menarik tas ransel miliknya.


"Jangan takut. Tak ada yang perlu di khawatirkan lagi, jadi jangan takut"


Hani mendengar Jacob mengatakan kalimat itu dengan tetap berusaha fokus memperhatikan langkahnya. Merasa apa yang Jaccob katakan adalah sebuah kebenaran. Ia tidak menjawab pernyataan itu, dan mencoba untuk berhenti khawatir sekarang.