Sunrise In Your Eyes

Sunrise In Your Eyes
Violet Garden



Time stands still


Beauty in all she is


I will be brave


I will not let anything take away


What's standing in front of me


Every breath, every hour has come to this


One step closer ~


I have died every day waiting for you


Darling, don't be afraid


I have loved you for a thousand years


I'll love you for a thousand more


Setelah makan malam mereka berdua duduk didepan tenda menikmati malam terakhir mereka di hutan.


Hani menyandarkan kepalanya ke bahu Jacob yang duduk santai dengan kedua tangan menopang tubuhnya. Begitu pun dengan Hani duduk menempel disampingnya.


"Jadi, seperti ini rasanya perjalanan yang menyenangkan akan berakhir"


"Hmm?"


"Ada sedikit perasaan sedih, tapi juga bersemangat"


"Kamu memikirkan sesuatu hal yang lain?"


"Aku membayangkan apa yang harus aku lakukan saat kembali bersama teman-temanku. Rasanya aku tidak bisa kembali menjadi seperti aku yang biasanya."


"Karena kamu merasa hubungan pertemanan kalian tidak tulus?"


"Begitulah, saat aku bersama mereka, aku merasa tidak percaya diri. Rasanya seperti menjadi pemain cadangan yang belum pernah bermain di lapangan sama sekali. Satu orang seperti pemimpin yang berkarakter kuat tapi jahat, satu lainnya adalah visual grup, yang lainnya cerdas dan bisa dibanggakan, sedangkan sisanya yaitu aku, tidak ada yang bisa aku banggakan dari diriku."


Hani menjeda kalimatnya, ia tersenyum, bayangan peristiwa yang ia lalui bersama Jacob membuatnya merasa senang.


"Tapi disini, bersamamu, aku menemukan apa yang hilang dari sisiku, setelah melalui perjalanan ini, aku tidak takut menjadi diriku sendiri. Aku menemukan hal yang membuatku merasa bersyukur dan kembali merasa hidup, yaitu kamu."


Jacob tak segera menjawabnya, ia merasakan ketulusan dari kalimat yang baru saja ia dengar dan itu membuat hatinya terasa lebih tenang.


"Sejujurnya tadi aku pun sempat memikirkan hal yang sama, apa yang akan aku lakukan saat kembali ke sekolah? Semua orang tidak akan menduga bahwa kita akan berakhir seperti ini. Dan itu akan membuat situasi canggung diantara kita, tapi setelah mendengarmu, aku merasa lebih baik. Tidak perlu mencemaskan hal-hal yang belum terjadi. Lagipula jika memang orang-orang tidak merestui, bukan berarti kita harus kembali menjalani kehidupan seperti yang mereka harapkan"


Hani meresponnya, "aku setuju, sekalipun aku hanya pemain cadangan, dan kamu adalah kapten tim lawan, aku merasa itu bukanlah sesuatu hal yang memalukan untuk berakhir bersama."


"Kamu tahu, bagiku kamu lebih dari seperti yang kamu fikirkan, aku merasa kamu bisa menjadi pemain cadangan yang bisa diandalkan, tidak perlu terlalu jauh menjadi kapten, tapi kamu bisa menjadi bek, pemain belakang yang pandai menghalau serangan yang mendekati gawang. Jika kita berada di tim yang sama, kita akan menjadi tim yang hebat, bukan begitu?"


Hani mengangguk tanda setuju dengan argumen Jacob yang berhasil memenangkan hatinya. Jacob lebih percaya kepadanya dibanding dirinya sendiri, dan itu sesuatu hal yang perlu ia ubah dalam presepsinya menilai potensi diri.


"Jacob close your eyes,"


Jacob menoleh pada Hani yang tak lagi bersandar di bahunya. "hmm kenapa?"


"Just close it"


"Oke," Jacob mulai menutup mata, kemudian Hani memberi instruksi seolah sedang menghipnotisnya.


"Pikirkan kita sedang berada di sebuah tempat penuh hamparan bunga, dibawah sinar hangat matahari, angin berhembus diantara kita yang duduk bersebelahan. Menurutmu apa yang sedang kita bahas disana?"


"Kurasa kita sedang membicarakan tentang membangun rumah"


"Kenapa rumah?"


"Karena itu lebih baik daripada mendebatkan bumi bulat atau datar haha"


"Ahh come on" jawab Hani sambil tertawa kecil


"Oke, hanya saja kurasa rumah akan menjadi pembahasan yang panjang dan menyenangkan untuk suasana seindah itu. Kita tidak ingin waktu berlalu dengan cepat."


Hani tersenyum, "aku lebih percaya alasan itu karena kamu merindukan rumah, ya kan?"


Jacob membuka mata perlahan, ia tidak menyanggah pernyataan Hani. Entah alasannya benar karena merindukan rumah atau bukan, yang pasti Hani adalah alasan utamanya. Karena hanya Hani yang terlintas dibenaknya saat bayangan hamparan bunga violet itu muncul dikepalanya. Ia ingin Hani berada disana bersamanya, seperti akhir dari perjalanan mereka, pulang ke rumah.


Jacob menoleh pada Hani yang tersenyum padanya, ia merasakan gejolak itu kembali.


"Senyummu, mengingatkanku pada suatu hal, seperti ingatan yang hilang."


Kedua mata mereka saling bertemu, "dan kurasa ingatan itu adalah dirimu. Seperti aku telah jatuh hati bahkan sebelum aku bertemu denganmu. Aku jatuh hati jauh di masa lalu, saat kita pertama kali berjabat tangan dan mengenalkan nama masing-masing. Tapi entah apa yang membuatku terus merasa canggung untuk memulai percakapan denganmu. Mungkin, itu adalah perasaan takut akan komentar orang lain, jadi aku selalu menghindar dari usaha untuk lebih dekat denganmu."


Hani mengernyitkan dahi seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, Jacob bintang SMA menaruh hati padanya sejak dahulu.


"Aku tidak mengerti, kenapa baru sekarang?"


Jacob mengalihkan pandangannya lurus ke depan, melihat pada celah-celah pohon yang samar. Ia menggeleng pelan.


"I don't know, itu baru saja terlintas di kepalaku. Benar-benar ingatan yang kembali setelah lama hilang. Jadi sekarang kamu percaya kan? Aku memiliki alasan untuk berada disisimu, menjagamu, disaat susah sekalipun. Aku ingin belajar banyak hal bersamamu. Jadi, percayalah padaku."


Hani kehilangan kata-kata, ia terjebak di situasi ini lagi. Ucapan Jacob menghangatkan hatinya dari keraguan dan rasa rendah diri. Ia merasa kalimat yang baru saja diucapkan Jacob berasal dari kesungguhan hatinya.


Hani meraih pipi kanan lelaki itu, "Jacob look at me". Ia menoleh, "aku ingin pulang ke rumah bersamamu". Sebuah kecupan mendarat di bibir merah muda Jacob, sebagai penutup kalimat dari Hani. Waktu berjalan lambat bagi mereka berdua, Hani menutup mata dan Jacob dengan reaksi terkejut, tak terbiasa dengan apa yang baru saja terjadi.


Matanya masih terbuka bahkan setelah keadaan kembali seperti semula. Ia menjadi kikuk, kemudian berusaha mengatur detak jantungnya yang tak karuan.


"Tenanglah" ucap Jacob lirih sambil mengatur nafasnya pelan. Berharap Hani tidak mengetahui apa yang ia rasakan saat ini.


"Jadi, lebih baik kita tidur sekarang?" ajak Hani yang lebih dahulu bangkit dari posisi duduknya.


Jacob tidak menjawab dan hanya menangguk, sedangkan Hani masuk ke dalam tenda lebih dulu. Ia masih harus berhadapan dengan detak jantungnya, bagaimana ia akan menghadapi malam ini, pikirnya.