
Jacob pergi ke tenda, mendapati Hani yang sudah berganti baju menggunakan gaun yang ia bawa. Ia tidak memperhatikan dengan detail karena masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
Mereka saling terdiam, dan tak ada yang berusaha untuk mencairkan suasana. Bahkan ketika malam mulai datang mereka masih teguh dengan tetap diam, Hani makan dari persediaan makanannya, dan Jacob pun juga melakukan hal yang sama. Tak ada api unggun malam ini, karena kegelapan itu bukan hanya menyelimuti hutan, namun juga hubungan diantara mereka berdua.
Ketika hendak tidur, mereka berbaring dengan saling membelakangi satu sama lain. Namun selang beberapa lama, Jacob menghadap ke arah Hani yang masih memunggunginya. Dengan kesadaran yang masih utuh, ia hampir saja menepuk pundak Hani, untuk meminta maaf padanya, atas ucapan yang ia lontarkan tadi sore.
Namun niat itu ia urungkan, keberaniannya masih menghilang entah kemana. Ia benar-benar dungu persoalan meminta maaf pada orang lain. Egonya masih menahan dirinya untuk merendahkan di hadapan siapapun.
Kemudian, tiba-tiba Hani bersuara. Ia pun masih sama terjaganya dengan Jacob.
"Aku putus asa, aku takut, dan akan selalu jadi penakut. Aku selalu takut, kesepian, dan putus asa. Aku selalu menempatkan diriku sebagai korban, tanpa berani untuk maju selangkah lebih kuat. I'm nothing"
Hani membalikkan tubuhnya, kini ia berhadapan dengan Jacob. Saling bertatapan untuk beberapa saat. Jacob melihat sorot mata Hani dengan samar-samar ditengah redupnya penerangan di dalam tenda.
"Aku minta maaf" entah darimana ia mendapatkan kekuatan itu, namun Jacob mengatakannya dengan lembut dan penuh penyesalan.
"Itu bukan kesalahanmu, mungkin itu hanya kesalahanku sendiri, aku yang tak bisa menstabilkan emosiku sendiri."
"Kamu tidak perlu merasa bersalah atas sesuatu yang tidak kamu lakukan, hanya untuk membuat orang lain merasa lebih baik. Terkadang, kamu yang seharusnya menerima kata maaf itu dari orang lain, agar mereka tahu bahwa kamu tidak layak disia-siakan."
Hani terdiam sejenak, ia merasa terharu dengan perkataan Jacob, dan itu sudah cukup untuk membuatnya lebih tenang.
"Terimakasih, karena telah memahami ku"
Jacob tak menjawabnya, ia hanya tersenyum dan merasa lebih lega karena berani mengucapkan satu kata yang selama ini sangat sulit ia lakukan. Hani mulai memejamkan matanya, dan tertidur di hadapan Jacob.
Melihat hal itu, Jacob ingin menyentuh rambut Hani dan mengucapkan selamat tidur, Namun lagi-lagi ia urungkan niat itu karena merasa hal itu tak perlu dilakukan. Akhirnya ia memutuskan untuk tidur hingga esok pagi.
Pagi hari, cahaya matahari menembus samar-samar ke dalam tenda, membuatnya terasa hangat. Jacob membuka mata perlahan, mengumpulkan kesadarannya perlahan, kemudian menyadari bahwa sosok di depannya sudah tidak berada di tempat. Ia pun bangkit untuk mencari sosok itu. Instingnya menuntun ke arah 'Blue Lagoon'.
Dan benar saja, dari kejauhan ia melihat Hani berada di sana, sedang duduk di salah satu batu dan terlihat sedang membasuh kakinya. Terlihat punggungnya yang bebas tanpa sehelai kain pun, sedangkan kain yang dipakainya hanya menutupi bagian depan dan bawah pinggang.
Jacob terdiam sejenak, pikirannya kosong. Ia terlihat seperti Jaka Tarub yang terpesona pada bidadari yang sedang mandi di sungai. Ditambah sinar matahari yang membuat kulit eksotis gadis itu terlihat bersinar dan menampilkan pesona yang tidak biasa.
Menyadari bahwa ia telah cukup lama mengamati dari balik pohon aktivitas gadis itu di 'Blue Lagoon', Jacob pun segera berbalik badan lalu pergi dari sana. Ia merasa seperti baru saja terhipnotis dengan semua keeksotisan alam, dan anugrah Tuhan. Ia hampir tak bisa berpikir jernih, namun kemudian mengembalikan logikanya ke tempat semula.
Tak lama setelah itu Hani datang, rambutnya yang panjang masih terlihat basah. Ia mengenakan gaun berwarna putih berlengan panjang, dengan panjang bagian bawah tidak sampai mata kaki.
Jacob melihatnya, ia terpaku, terheran sekaligus terpesona pada gadis yang berjalan mendekat padanya.
"Ada apa?" tanya Hani
"Tak ada apa-apa, aku heran kenapa kamu membawa gaun macam itu?"
"Oh ini?" Hani menjeda kalimatnya, kemudian duduk di pintu tenda menghadap pada Jacob yang duduk di luar tenda.
"Aku hanya sangat menyukai gaun ini, milik mamaku dulu, sebelum berpisah dengan papa"
"Orangtuamu bercerai?"
"Hmm mereka bercerai saat aku masih SMP, papa memutuskan untuk menikah lagi, mama pun juga sama"
"I'm sorry, aku tidak mengetahui bahwa kamu broken home"
"Its okay, lagipula aku tak terlalu peduli soal itu. Orangtua selalu memikirkan kebahagiaannya sendiri, mereka berpisah dengan alasan kebahagian masing-masing anggota keluarga. Tapi aku tak pernah merasa bahagia, semacam afeksi itu hanya omong kosong"
Jacob terdiam mendengar cerita Hani, kemudian ia mencoba untuk menceritakan tentang dirinya.
Hani melihat ke arah Jacob, mencoba memahami perasaan lelaki itu, ia bahkan tak berani menatap kedua bola mata Hani dan mengalihkan pandangannya ke bawah. Hani terdiam sejenak lalu mengambil tas punggungnya yang berada di samping kiri. Ia kemudian mendekati Jacob, dan duduk disampingnya. Lalu mengeluarkan sisir dan lipbalm dari saku kanan tasnya.
Melihat hal itu Jacob menjadi cukup kebingungan, ia berpikir apa yang akan dilakukan oleh Hani dengan barang-barang itu.
"Mendekatlah," Hani memegang wajah Jacob dan mengarahkannya tepat di depan wajah Hani.
"Apa yang akan kamu lakukan?" Jacob bingung, namun tak memberontak
"Touch you up"
Jacob semakin bingung, "Untuk?"
Hani mengelap wajah Jacob perlahan dengan air dari botol minumnya.
"Aku tahu kamu memang tampan, tapi itu belum cukup, kamu perlu perawatan juga."
Jacob tersenyum, sejenak ia melupakan masalahnya dan hanyut dengan perlakuan Hani.
"Kenapa saat giliranku bercerita, kamu mengabaikan, dan tak memberiku kata-kata motivasi?"
"Karena yang kamu butuhkan sekarang itu bukan kata-kata motivasi, tapi pengalihan. Atau mungkin, pelajaran untuk menerima fakta bahwa dunia tidak selalu mau mendengarkan ceritamu."
Jacob terdiam, rautnya sedikit kecewa.
Hani mengangkat dagu Jacob dengan mantap, ia mengeluarkan lipbalm dan mulai mengoleskannya pada bibir Jacob.
"Tepat seperti perkataanmu, life come and go, sad and happy. Akan selalu ada pelangi setelah hujan, akan selalu ada harapan setelah kehilangan"
Jacob terdiam mendengar kalimat Hani ia merasa apa yang diucapkannya adalah sebuah kebenaran bahwa hidup adalah rangkain peristiwa yang menyenangkan dan menyedihkan, akan ada masanya ia damai, akan ada masanya ia berperang. Hidup akan selalu seperti itu, yang bisa ia lakukan adalah menerimanya atau menyangkalnya.
Ia terdiam dihadapan gadis yang berada di depannya ini, perasaannya tak karuan, perasaan nyaman didekat Hani, namun jantungnya berdetak cukup kencang hingga membuatnya khawatir di dengar orang lain. Ia berusaha menetralkan gejolak aneh itu, ketika Hani mulai menyisir rambutnya dengan hati-hati. Ia menatap ke arah sang gadis yang nampak sangat perhatian padanya.
Setelah semua selesai, Hani tersenyum pada Jacob.
"Akhirnya selesai, sekarang kamu terlihat lebih berwibawa"
"Thanks" Tak tinggal diam, Jacob pun mengambil lipbalm milik Hani, mengeluarkannya, lalu mengangkat dagu Hani. Ia tersenyum sesaat sebelum mulai mengoleskan lipbalm itu di bibir Hani.
"Kamu juga harus memakainya, supaya terawat"
Hani pun terdiam dengan sikap Jacob, ia tak menolaknya sama sekali. Justru ia merasa senang akhirnya tembok pertahanan diantara keduanya mulai runtuh, dan mereka berdua semakin akrab.
Setelahnya, Hani meminta Jacob untuk menyisir rambutnya dari belakang, memberikan peluang untuk mereka saling berbincang kembali.
"Jacob, you are a good boy, you deserve better"
Jacob yang mendengar pernyataan itu hanya diam, ia tak tau harus menjawab apa dan terus menyisir rambut Hani perlahan.
"kamu berhak mendapat yang terbaik dari seluruh usaha kamu, kalau memang sesuatu tidak sesuai dengan harapanmu, tak berarti dunia sedang tidak mendukung kamu saat itu. Mungkin itu adalah saatnya kamu untuk beristirahat dari semua kepenatan yang mau pikul. Menemukan harapan baru, dan menyusun rencana untuk kembali melangkah. Karena aku yakin kamu layak menjadi nomor satu"
Tak ada jawaban dari Jacob untuk beberapa saat. Ia merasa terharu atau bahkan benar-benar terhipnotis dengan kalimat yang diucapkan Hani. Setelah ia selesai menyisir rambut gadis itu, ia baru saja tersadar dan mengucapkan terimakasih pada Hani yang memahami situasinya.
"Thanks a lot, I mean it"
"Sama-sama, you'll do the same thing to me" Kemudian Hani tersenyum dan bangkit dari sana.
Setelahnya, mereka berdua sarapan dan mengemasi tenda, menuju area bukit yang lebih tinggi.