Sunrise In Your Eyes

Sunrise In Your Eyes
Blue Lagoon



Perjalanan mereka dimulai dengan mengikuti arus sungai dengan harapan akan menemukan sumber mata air yang akan membawa mereka ke area yang lebih tinggi. Di tengah perjalanan itu, mereka berbincang sedikit.


"Jadi kamu belajar survival dimana? Sepengetahuanku kamu bukan anak pramuka" Hani membuka pembicaraan terlebih dulu.


Jacob tidak segera menjawabnya, tidak pula sedang berpikir mengenai jawaban dari pertanyaan itu. Hanya mengatur nafas di tengah ia melewati akar-akar besar pepohonan.


"Aku memang suka berpetualang, orangtuaku senang mengajakku berkemah sejak aku kecil, mereka mengajarkan banyak tips-tips survival"


"Ah pantas saja kamu terlihat cakap dengan kehidupan survival seperti ini. Aku hampir tak pernah pergi ke hutan, tapi aku menyukai alam, maksudku suasana, udara, suara-suara pohon yang tertiup angin. Terasa sangat tenang, jauh dari masalah apapun"


Jacob mendengarkan Hani dengan seksama, memastikan bahwa ia tidak mengabaikannya.


"Alam selalu punya misterinya sendiri, terkadang mencekam, terkadang menenangkan."


Hani hanya mengangguk mengiyakan ucapan Jacob, namun kemudian secara tidak sengaja ia tersandung akar pepohonan yang cukup besar. Sesaat hampir terjatuh, dengan sigap Jacob yang berada di depan menangkapnya setelah mendengar suara Hani yang setengah berteriak.


Sekali lagi Hani kembali selamat dari kecelakaan akibat kelalaiannya sendiri. Karena ada Jacob yang selalu sigap membantunya. Di momen itu, ia merasa aman dan bersyukur berada di sana bersama Jacob. Lelaki itu mengulurkan tangan pada Hani agar ia dapat menjaga keseimbangannya. Namun sayangnya berkali-kali Hani meminta maaf pada Jacob, karena hampir terjatuh akibat keseimbangan yang tidak stabil, serta medan yang tidak rata.


Jacob tak mempermasalahkan hal itu lagi, ia hanya mengatakan 'tak apa' dan 'apa kamu baik-baik saja' , yang tentunya membuat Hani merasa nyaman saat ini.


Kemudian Hani mencoba berkelakar pada Jacob, ia mengajukan salah satu pertanyaan.


"Jacob, menurutmu hal apa yang dapat membuat orang mudah tertarik dan jatuh cinta pada seseorang?"


Jacob berpikir sambil masih terus berjalan ke depan. Beberapa detik kemudian ia menyerah sebelum sempat menjawab pertanyaan itu.


"Entahlah, memangnya apa?"


"Skinship" Hani menjawabnya dengan tenang dan yakin.


Kemudian Jacob berhenti, dan berbalik ke arah Hani dengan tangan yang masih bergandengan.


"Yang kamu maksud ini?" Ucap Jacob sambil mengangkat tangannya yang masih bertaut dengan tangan sang lawan bicara.


"Yaps, semakin sering ada kontak fisik, semakin besar juga rasa ketertarikan itu."


"Kamu tahu darimana?"


"Pengalaman"


"Sayangnya hal itu tidak akan terjadi diantara kita,"


Hani terdiam sejenak lalu menjawab,


"Ya aku pun sependapat, namun mungkin saja bukan aku, tetapi kamu yang akan lebih dulu masuk ke dalam perangkapnya"


"Perangkap?"


"Iya, jatuh cinta"


"Tak mungkin" ucap Jacob meremehkan.


"Baguslah, tapi kita hanya punya satu pilihan untuk mengurangi intensitas ini, sayangnya situasi kita tidak mendukung opsi itu. Jadi, ini hanya masalah waktu"


"Dan kabar baiknya aku tak peduli soal hal itu, aku hanya berfikir cara untuk keluar dari sini. Jadi maaf jika aku mematahkan argumenmu." Jacob merasa percaya diri setelah mendapati keyakinan bahwa Hani berusaha menggodanya. Atau mungkin saja ia berusaha menyangkal bahwa ia cukup tertarik pada perempuan ini dan tak ingin tertangkap olehnya.


"Sure, its okay" Hani tersenyum dan hanya menganggap ringan ucapan Jacob padanya.


Keduanya kembali berjalan dan tak lama kemudian mereka mendengar suara gemericik air yang berjatuhan, mereka berpikir itu adalah sumber air sungai entah air terjun atau semacamnya. Lalu keduanya dengan semangat bergegas menuju sumber suara. Semakin dekat mereka dengan sumber air itu, semakin jelas pula suara yang mereka dengar.


Dan usaha perjalanan mereka selama berjam-jam pun akhirnya terbayar dengan memuaskan. Tampak air terjun rendah dengan kolam yang sangat jernih dibawahnya. Menyuguhkan pemandangan yang sangat indah bagi keduanya. Seperti menemukan harta karun ditengah hutan.


"Blue lagoon" Hani berucap namun dengan mata yang masih terhipnotis dengan apa yang ia lihat.


"Hmm?" Jacob menoleh pada Hani


Hani pun menoleh pada Jacob, mereka saling bertatapan.


"Ini sangat mirip dengan film Blue Lagoon, aku bersumpah pemandangan ini sangat cantik, bukankah terlihat seperti hidden treasure di tengah hutan?"


Jacob tersenyum, ia sepenuhnya mengiyakan apa yang dikatakan Hani. Keduanya saling berbalas senyum dan akhirnya memutuskan untuk mendirikan tenda di dekat sana, mereka berencana menikmati 'Blue Lagoon' itu sepuasnya.


"Mari kita beristirahat disini sehari lagi? Kita tak akan bisa mendapat kesempatan kedua untuk menemukan harta karun seperti ini, apalagi hari menjelang petang dan ada baiknya jika kita istirahat sambil bermain air." ucap Hani meyakinkan Jacob


"Baiklah aku mengikuti rencanamu"


Kemudian mereka berdua mendirikan tenda yang letaknya tak terlalu jauh dari 'Blue Lagoon' tersebut. Setelah selesai, mereka pun segera bergegas menuju sumber mata air itu dan menceburkan diri di sana. Sebagai informasi, sebelum masuk kesana, Jacob terlebih dulu memastikan bahwa sumber mata air itu aman dan tidak berbahaya.


Lalu dengan iseng, Jacob mencipratkan air pada Hani, membuat gadis itu membuka mata dengan cepat.


"Jacob, kamu membuat bajuku basah" ucap Hani sambil tertawa ringan


Bukannya berhenti, Jacob justru mencipratkan air dengan kadar yang lebih banyak. Karena merasa ia perlu mempertahankan diri, akhirnya Hani pun membalas Jacob dengan masuk ke dalam air dan mendorong Jacob ke belakang hingga jatuh ke dalam air yang sejuk itu.


Jacob kembali ke permukaan, dan mengibaskan rambutnya yang basah kuyup di depan Hani dengan sengaja sebagai bentuk pembalasan. Keduanya pun saling siram menyiram air sambil tertawa riang, seperti dua bocah yang sedang asik bermain air di kolam renang.


Kemudian, Hani menikmati kesendiriannya karena Jacob yang keluar air terlebih dulu untuk mengambil pakaian ganti miliknya. Hani pun mencoba terlentang diatas air, dan mengambang dengan tenang. Ia benar-benar tidak memikirkan apapun selain dirinya sendiri yang berada di sebuah tempat yang damai.


Selang beberapa lama, Jacob kembali. Ia tidak segera menceburkan diri ke dalam air, ia mengamati Hani dari tempatnya berdiri. Melihat gadis itu nampak tenang dan bahagia, tersirat dari senyuman tipis yang tercetak di wajah gadis itu. Mata terpejam, dan suasana yang tenang. Menimbulkan gejolak dalam diri Jacob. Gejolak yang tak biasa, yang tak pernah ia rasakan sebelumnya bersama gadis lain.


Ia tetap berada di posisi itu untuk beberapa saat, mencoba memerangi gejolak batinnya. Ia tidak ingin jatuh dalam perangkap, karena ia merasa gadis itu tak layak. Ia menghormati Hani, namun ia tak mungkin jatuh cinta padanya. Perasaan itu bercampur aduk, ego, iba, dan ketertarikan itu membuat logikanya sedikit berantakan. Dan akhirnya ia memutuskan untuk tak memikirkannya lagi, lalu menjalani apa yang memang harus dijalani.


Tak lama, Hani pun berteriak pada Jacob, masih dengan posisinya mengambang di air.


"Jacob! Kenapa berdiri disana, dan hanya melihatku?"


Jacob pun dengan cepat tersadar dari lamunannya. Kemudian masuk ke dalam air dan menghampiri Hani.


"Kamu terlihat lebih tenang dan bahagia dari sebelumnya"


Hani pun bangkit dari posisinya, ia berdiri berhadapan dengan Jacob, setengah tubuhnya yang terendam air pun tak membuatnya kesulitan untuk menjaga keseimbangan.


"Oh ya?"


"Hmm iya"


Hani terdiam sejenak, kemudian berjalan menjauh, menuju batu besar yang berada di tepi air terjun ini. Jacob mengikutinya, mereka kemudian duduk diatas batu itu bersebelahan.


"Aku tak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya, bahkan saat bersama teman-temanku."


"Kamu masih bergabung di dalam geng pertemanan sejak tingkat pertama itu?"


"Iya, tapi entahlah, aku merasa mereka bukan temanku yang sebenarnya, kami tak pernah berada dalam situasi teman yang saling menguatkan satu sama lain. Aku merasa mereka tak menganggap aku ada, bahkan tidak peduli sekalipun"


"Kenapa tak mencoba lepas dari mereka?"


"Aku tak bisa melakukan hal itu, sebenarnya aku tak membutuhkan mereka tapi sayangnya berjalan sendirian itu sulit."


"Aku percaya kamu bisa menemukan teman yang lebih baik daripada mereka"


"Idk Jac, terkadang aku merasa aku butuh teman yang sebenarnya, tapi terkadang lebih baik untuk sendiri."


"Apa karena teman-temanmu lebih toxic dari perkiraan ku?"


"Friendship is complicated Jacob, sekali ada kesalahpahaman, semuanya akan berubah"


"Jadi itu salah satu alasan kamu pergi?"


"Ya, aku muak dengan pertemanan pura-pura ini. Dan aku tak bisa menahannya lagi."


"Tapi kamu masih punya tempat untuk pulang"


Hani menoleh pada Jacob disampingnya, matanya berkaca-kaca.


"Aku tak merasa pernah berada di rumah"


"Kenapa?"


Hani mengalihkan pandangan ke depan.


"Aku selalu sendirian sepanjang hidupku, aku tak pernah merasa benar-benar jadi diriku sendiri, aku tersesat sejauh-jauhnya tanpa pernah mengenal rumah. Setidaknya kamu beruntung kamu memiliki orangtua dan rumah yang nyaman. Aku tak pernah merasa aku berada di keduanya. Karena aku merasa seperti layang-layang, selalu diulur dan ditarik kemudian. Aku tak pernah menemukan makna dari sebuah keluarga"


Hani pun mulai terisak, membenamkan wajah dalam kedua telapak tangannya. Jacob tak tau harus berbuat apa, ia hanya diam di posisinya dan menunggu Hani sedikit lebih tenang.


Setelah tak ada isak tangis lagi, Jacob pun mulai membuka suara. Ia menyampaikan apa yang menjadi opininya selama mendengar cerita Hani.


"Maaf, aku tak bermaksud membuatmu menangis, tapi dari keseluruhan ceritamu, aku berfikir kamu hanya terlalu takut untuk mengatakan pada orang lain apa yang kamu rasakan. Andai kamu sedikit lebih berani, mungkin semua akan lebih mudah."


Merasa tersinggung dengan kalimat Jacob yang tak menunjukkan simpati sama sekali. Hani pun menoleh dengan wajah yang masih basah akibat air matanya.


"Aku tidak membutuhkanmu untuk mengajari siapa sebenarnya diriku, aku memang penakut, pecundang, tapi kamu bukan aku, dan kamu tak akan pernah memahami bagaimana rasanya menjadi diriku. Aku menyesal menceritakan hal ini padamu."


Kemudian ia pergi ke tenda, meninggalkan Jacob sendirian di tepi air terjun itu. Sedangkan Jacob sendiri juga bingung dengan apa yang baru saja ia lakukan. Ia tak tau pasti harus berbuat apa sekarang.