Sunrise In Your Eyes

Sunrise In Your Eyes
I was made for loving you



Kita jatuh cinta dengan cara yang aneh, di tempat yang tidak biasa dan tanpa mengikatnya dengan kepastian. Namun keyakinan itu muncul dari hati kita masing-masing untuk saling menemukan kepingan yang hilang. Dan ketika keajaiban itu berhasil mengubah alur kehidupan, kita menjadi sepasang merpati yang tak terpisahkan.


Hani tidur dengan posisi memunggungi Jacob, ia tahu lelaki itu salah tingkah karena perlakuannya tadi. Ia tidak ingin membuat suasana menjadi canggung dan memilih berpura pura tidur terlebih dahulu.


Sedangkan Jacob yang berbaring sambil menatap punggung gadis didepannya hanya diam. Berkali-kali ia mencoba untuk menepuk pundak Hani tanpa alasan, namun ia urungkan usahanya itu. Kemudian tiba-tiba Hani berbalik, dan spontan Jacob menutup mata, berpura-pura tidur.


"Jacob, are you asleep?"


Jacob mendengar pertanyaan Hani membuka matanya perlahan, "umm no". Tatapan mereka saling bertemu, keduanya saling melihat ke dalam hati masing-masing melalui sorot mata di bawah cahaya remang lampu tenda.


"Aku tidak bisa tidur, bisakah aku bergeser ke sisimu?"


"Sure," Jacob menjawabnya sedikit kikuk namun tetap merentangkan lengannya berusaha menjangkau Hani. Kemudian gadis itu mendekat, berada di sisi dalam lengan dan menyandarkan kepalanya ke dada Jacob.


"Aku bisa mendengar suara detak jantungmu"


Jacob tidak bisa menyembunyikan emosi yang ia rasakan saat ini, ia kembali merasa gugup. Berusaha menenangkan Jacob, Hani pun melingkarkan tangannya memeluk dan mengusap punggung Jacob perlahan.


"It's okay, I'm kinda nerveous tho right now"


Jacob masih tak menjawabnya, ia hanya merespon dengan membalas pelukan Hani. Kehangatan yng tercipta diantara keduanya, membuat tubuhnya lebih santai dan detak jantungnya perlahan kembali normal.


"Terkadang aku takut saat orang melihat sisi gugup dari diriku, tapi kamu menenangkanku" ucap Jacob tiba-tiba.


Hani tersenyum, "kita semua memiliki perasaan itu, kita takut dengan pandangan orang. Kamu tau, aku pun merasa takut dan cemas tentang masa depan kita, bahkan aku hampir berencana untuk mengakhiri semuanya saat kita kembali nanti. Dan ya itu semua karena aku takut dengan komentar orang lain. Karena aku tahu akan banyak pihak menolak kita, juga aku takut jika kamu akan mengabaikanku."


"Kamu tahu aku tidak akan melakukannya"


"Itu sebabnya, sekarang aku lebih berani, mengatakan bahwa aku benar-benar jatuh cinta padamu. Dan aku ingin menjaganya, perasaan itu. Aku harap kamu menepati ucapanmu untuk tetap bersamaku apapun yang terjadi nantinya."


"Aku berjanji, aku akan menepati ucapanku"


Hani tersenyum sekali lagi bahkan hampir tertawa. Jacob bertanya apa yang terjadi.


"Hanya saja, aku menyukai momen ini, momen dimana kita saling terbuka dan jujur dengan perasaan kita masing-masing. Entah kenapa aku merasa lucu, karena di hari pertama kita tidur dengan saling memunggungi, dan sekarang kita justru berakhir seperti ini."


"Hmm benar juga, kita tidak bisa menebak takdir akan membawa kita kemana, seperti apa alurnya dan bagaimana akhir ceritanya"


Hani menenggelamkan kepalanya ke dada Jacob yang semakin erat mendekap tubuhnya. Seperti itulah mereka tertidur hingga pagi datang.


Keesokan harinya, Hani ingin berjalan di sekitar blue lagoon menikmati suasana hutan untuk terakhir kalinya. Dari kejauhan ia mendengar suara beberapa orang sedang bermain di sumber mata air itu, ia penasaran dan berjalan mendekat dengan hati-hati.


Terlalu sibuk menerka-nerka, Hani kembali mengamati objek didepannya dan terkejut saat melihat mereka mulai melepas baju, bahkan beberapa lainnya sudah bertelanjang dada. Karena panik, ia berjalan mundur dengan ceroboh dan terjatuh. Suara yang dihasilkan pun cukup menarik perhatian sekitar hingga membuat para pria muda itu menghentikan aktivitasnya.


"Siapa disana?" tanya salah seorang pria dengan suara nyaring. Hani tidak menjawab, ia terlalu takut untuk membuka suara karena ia pasti akan dicurigai sebagai penguntit. Kemudian ia berusaha bangkit, saat berbalik badan dan hendak berjalan kembali ke tenda. Seseorang meraih tangannya dan menahan dirinya untuk beranjak pergi. Ia melihat kepada pria muda di depannya kini. Hani diam terpaku untuk beberapa saat, melihat tubuh tinggi kekar sang pria yang bertelanjang dada di hadapannya membuat nyalinya semakin menciut untuk membuka suara.


"Siapa kau?" suara berat lhas pria maskulin itu membuatnya tersadar. Ia mengalihkan pandangan ke arah blue lagoon yang saat ini para pria disana sedang memperhatikannya. Tatapan mereka mengintimidasi seolah menunjukkan ketidaksukaan atas kehadiran Hani yang tiba-tiba muncul disana. Dugaannya benar, ketakutan itu semakin memuncak. Bibirnya terkunci bahkan untuk mengucap satu huruf sekalipun.


"Hei, aku tanya siapa kau, kenapa diam-diam menguntit kami?"


"Aku bukan penguntit," mendengar kata terakhir, Hani tidak terima atas tuduhan itu.


"Aku hanya tidak sengaja melihat kalian saat akan berjalan kemari. Sungguh aku tidak bermaksud apapun."


"Apa kau tersesat?"


"Tidak, aku tidak tersesat, aku akan segera kembali ke tendaku sekarang. Maaf mengganggu kalian."


Genggaman di lengan Hani tak kunjung terlepas, sekalipun ia sudah meminta maaf.


Seorang pria lainnya menghampiri Hani dan mengatakan, "hei ini bukan tempat yang bisa kau anggap seperti rumah sendiri, seorang perempuan berjalan sendiri di tengah hutan. Kau pikir kita akan percaya dan meleaskanmu begitu saja? Mengakulah, siapa kau sebenarnya! Polisi? Atau mata-mata? Siapa yang mengirimu kesini hah?!" suaranya semakin meninggi di akhir kalimat.


Hani semakin ketakutan, ia hanya bisa menundukkan kepala dan berharap mereka memaafkan kesalahannya. Pria itu memegang dagu Hani dan mengangkatnya, seolah ingin melihat wajah ketakutan gadis itu dan meminta jawaban yang jelas.


"Aku bukan siapa-siapa, aku hanya siswa SMA. Bisakah kau melepaskan ini, rahangku sakit." ucapnya terbata bata dengan mata tertutup.


Pria itu perlahan melonggarkan cengkeraman di dagu Hani setelah pria pertama menyuruhnya untuk melepaskannya dan kembali ke tempat semula. Pria itu beranjak pergi dan menyerahkan sisanya pada pria pertama yang masih menahan lengan Hani.


"Jadi, kenapa kau bisa ada disini jika kau hanya siswa SMA?"


"Aku sedang berkemah sebelumnya, kemudian sempat tersesat, dan sekarang sedang perjalanan kembali ke perkemahan"


"Ah jadi kau melarikan diri dari perkemahan?"


"Tidak, aku hanya tersesat kemarin,"


"Jelas sekali kau sedang melarikan diri"


Pria itu tak melanjutkan kalimatnya, dan hanya memperhatikan Hani dari ujung kepala hingga kaki, seperti sedang menilai penampilannya.


"Baiklah kau boleh pergi, awasi langkahmu" pria itu melepaskan Hani dan melihatnya berjalan menjauh. Seorang pria lainnya bertanya apakah hal itu boleh dilakukan, "tenang saja, ikuti dia diam-diam, dan kembali saat kau mengetahui dimana lokasi tempatnya bermalam". Setelah mendapat instruksi, si pesuruh mengajak 2 orang pria lainnya untuk menjalankan misi.