
We keep this love in a photograph
We made these memories for ourselves Where our eyes are never closing
Hearts are never broken
And time's forever frozen, still
So you can keep me
Inside the pocket of your ripped jeans Holding me closer 'til our eyes meet
You won't ever be alone, wait for me to come home
"Aku akan selalu mengingat kali pertama kita saling menatap." gumam Hani sesaat setelah terbangun di samping Jacob yang masih tertidur lelap. Tangan kanannya menopang kepalanya berhadapan dengan tubuh Jacob. Sedang tangan kirinya berusaha menyentuh pipi lelaki itu, merasakan kulit dingin lelaki di depannya kini. Kemudian mengusapnya perlahan memberinya sedikit kehangatan dari telapak tangannya.
Perlahan Jacob membuka mata, sentuhan lembut di pipi membuatnya terbangun. Gadis dihadapannya tersenyum, "good morning" ucapnya.
Ia tersenyum mendengar ucapan itu, dengan mata setengah tertutup ia berusaha meraih leher gadis di depannya dan mengusap bagian belakangnya perlahan. Sang gadis kemudian mendekat, meletakkan kepalanya pada sisi terbuka lengan Jacob.
Jacob memeluknya dengan hangat dan mencium kening Hani perlahan, menikmati momen itu untuk beberapa saat. Seolah ia tak ingin detik demi detik terlewati begitu saja. "aku ingin menyimpan kenangan kita dalam ingatan" ucap Hani sambil memejamkan mata mengingat semua hal yang terjadi pada mereka sampai hari ini.
"Aku juga ingin menyimpannya, selalu. Jadi, kita harus pergi bersama-sama bahkan ketika kembali ke sekolah, menjalani kelulusan, dan ke universitas."
"Kenapa membicarakan masa depan selalu terdengar menyenangkan?"
"Karena kita memiliki seseorang yang kita harapkan ada di masa depan itu"
"Entahlah sebenarnya aku sedikit membencinya, aku benci rencana indah tentang masa depan karena hal itu membuatku khawatir."
"Jangan khawatir, aku akan selalu memegang tanganmu"
Suasana hening sesaat, kalimat Jacob berhasil menyentuh hati Hani, sekalipun ia belum menyebutkan alasan kekhawatirannya. Ia berfikir ulang untuk mengatakan kalimat selanjutnya, namun tetap saja ia harus mengutarakan isi hatinya karena ia tahu pada akhirnya Jacob akan melihat sisi kekhawatiran dalam dirinya.
"Aku khawatir, jika hal itu hanyalah masalah waktu. Aku khawatir jika akhirnya kamu akan menyadari bahwa kamu salah, dan kamu akan pergi dariku sekali lagi."
"Percayalah, aku tidak akan meninggalkanmu, sesulit apapun jalan yang akan kita lewati nanti. Aku ingin tetap bersamamu, aku merasa lebih kuat jika bersamamu. Jadi, jangan mengkhawatirkan hal-hal seperti itu."
Jacob berusaha meyakinkan Hani, membuatnya merasa aman bersama Jacob disituasi apapun yang akan mereka temui nantinya.
Pagi menjelang siang, mereka memutuskan untuk mulai merencanakan kembali ke perkemahan daripada harus ke arah jalan raya antar kota. Karena medan yang pernah mereka lewati, dan adanya kemungkinan bertemu dengan tim penyelamat, menjadi sebuah alibi yang tepat untuk dilakukan.
"Aku tidak percaya kita akan mengulang perjalanan ini lagi" ucap Hani ditengah kegiatannya meringkas barang-barang kedalam tas.
"Bukankah itu lebih menyenangkan?"
"Selama aku melakukannya denganmu, tak apa. Bukankah kamu juga begitu?" ucap Jacob sambil tersenyum, ia terlihat sangat antusias dengan perjalanan kedua ini.
"Sure, as long as I'm with you" ucap Hani pelan sambil memandang Jacob yang berada di hadapannya. Untuk sementara ia tetap seperti itu, melihat sosok lelaki di depannya dengan penuh rasa syukur, perasaaan aman yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia merasa Jacob adalah seseorang yang dikirim Tuhan untuknya, dan ia tidak akan mengubah interpretasinya atas hal itu.
Mereka memulai perjalanan setelah makan siang dan sampai di tempat yang mereka sebut dengan blue lagoon saat petang.
"Kita benar-benar kembali ke blue lagoon" ucap Hani riang.
"Kamu mau kita beristirahat disini? Lagipula hari sudah gelap jadi kupikir lebih baik kita melanjutkan perjalanan esok hari."
"Tentu, kita bermalam di sekitar sini"
Mereka mulai menyusun kembali tenda untuk bermalam dan bersiap untuk memasak makan malam. Seperti biasa, Jacob yang berperan sebagai koki dan Hani adalah asisten yang membantunya. Setelah menyiapkan makan malam, mereka menyantap makanan sambil berbincang tentang hal-hal yang akan mereka lakukan saat kembali ke kehidupan normal mereka.
"Aku ingin mencoba museum date saat kita kembali nanti," ucap Hani tiba-tiba di tengah heningnya suasana disekitar dan hanya terdengan suara alat makan yang mereka gunakan saat ini.
Jacob menoleh, ia tak terkejut dan justru memberikan respon senang. "Sure, apapun yang kamu ingin coba, kita harus mencobanya bersama. Tapi kenapa museum?"
Hani memutar bola matanya memikirkan alasan sebenarnya ia ingin mencoba hal itu. "Hanya saja, museum seperti tempat yang tenang dan kita bisa fokus ada diri kita sendiri. Seperti waktu yang berharga untuk menikmati kebersamaan, kita tidak perlu terdistraksi dengan orang lain karena mereka akan fokus pada hal-hal yang ada di dalam museum, yah meskipun aku tau itu terdengar membosankan"
"Umm entahlah, bagaimana kita bisa menilai itu membosankan jika belum pernah mencoba sama sekali. Jangan khawatir, sekalipun itu membosankan setidaknya kita melakukannya bersama-sama kan?"
Hani tersenyum mendengar jawaban Jacob, dan Jacob pun memberikan respon yang sama, ia tersenyum dengan mulut yang penuh dengan makanan yang baru saja ia suap ke mulutnya. Hani melihat noda arang di pipi Jacob pun tak bisa menahan tawa kecilnya. Jacob bingung hal apa yang lucu darinya, kemudian dengan cepat Hani mengusap pipi kirinya perlahan.
"Kamu mengingatkanku pada tupai, atau mungkin hamster, so cute"
Mata mereka saling bertemu. Hani tertawa kecil sedangkan Jacob mematung dan menelan makanannya perlahan. Situasi ini mengingatkannya, pada satu hari dimana ia jatuh hati pada sosok gadis di hadapannya ini. Ia tak pernah melihat Hani begitu bahagia sejak mereka memulai perjalanan di hutan. Tapi ia ingat ia pernah terpesona dengan senyum Hani, saat pertama kali duduk di banku SMA, hari pertama mereka saling memerkenalkan diri.
Melihat Jacob tak memberi respon dan hanyut dalam lamunan, Hani mencoba menyadarkannya dengan menepuk pundaknya pelan.
"Kenapa jadi diam?" ucapnya masih dengan senyum yang tak memudar.
Jacob segera tersadar, "umm nothing" otaknya berfikir mencari alasan untuk mengalihkan perhatian Hani. Kemudian ia melihat pada gelang yang dipakai gadis itu.
"Gelang itu terlihat cantik, kapan kamu mulai memakainya, sepertinya aku baru melihatnya hari ini?" ucapnya sambil mengalihkan pandangan dan mulai menghabiskan makanan yang ada di tangannya.
"Ah ini, aku memakainya sejak hari pertama kita bertemu disini, tapi aku menyimpannya sementara karena takut hilang. Aku baru berani memakainya sekarang, karena kita akan pulang."
Pulang, mendengar kata terakhir membuat Jacob tersadar sekali lagi. Bahwa sebentar lagi ia akan memulai kehidupan sekolah seperti biasa bersama gadis tidak biasa yang membuatnya jatuh cinta di tempat yang tidak biasa.