Sunrise In Your Eyes

Sunrise In Your Eyes
Full of heart



Keesokan paginya, Jacob bangun terlebih dahulu. Ia menoleh ke arah Hani yang masih tertidur memunggunginya. Ia hanya menghela nafas perlahan, kemudian pergi keluar tenda dan beraktifitas seperti biasa.


Setelah beberapa lama, Hani pun terbangun ia kemudian keluar dari tenda dan bertemu dengsn Jacob diluar. Namun ia bersikap cuek dan berlalu begitu saja menuju sungai.


Kembalinya gadis itu darisana, Jacob yang sedang menyiapkan sarapan pun bertanya mengapa Hani bersikap acuh tak acuh padanya.


Ia memegang pergelangan tangan gadis itu ketika hendak melewatinya, "Kenapa tiba-tiba sikap kamu berubah sih? Apa aku ada salah?"


Hani menoleh dan menatap kedua bola mata Jacob, menyiratkan perasaan sedih, namun juga amarah.


"Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, aku muak dengan semua hal yang terus terjadi berulang-ulang"


"Maksudnya?"


"Apa yang kamu lakukan di sungai, menatapku dengan tatapan itu, kamu yang berubah, kamu menjadi seperti seorang lelaki yang penasaran terhadap perempuan"


"Maksudnya kamu mengira aku jatuh cinta padamu?"


"Ya"


Jacob terdiam sesaat, ia tak mengerti dengan situasi yang dihadapinya sekarang. Namun ia terus berusaha mengimbangi ucapan Hani dan bertanya inti masalah sebenarnya.


"Tapi aku bahkan tak paham kenapa kamu harus marah dengan hal itu?"


Hani melepaskan genggaman Jacob dari pergelangan tangannya. Sebelum menjawab pertanyaan itu.


"Karena semua laki-laki yang memandangiku dengan tatapan itu, pada akhirnya hanya mendekatiku karena penasaran, kemudian mereka beralibi hanya menganggap ku sebatas teman. Ketika pertemanan itu dimulai, justru mereka pergi tanpa alasan yang jelas. Dan kamu tau? itu lebih menyebalkan daripada ditolak secara terang-terangan. Aku tak mengerti kenapa laki-laki selalu menolak ku ketika aku berusaha berteman baik dengan mereka."


Jacob merendahkan nada suaranya, berharap Hani menyadari bahwa ia memberikan simpati pada gadis itu setelah mendengar alasan sebenarnya.


"Mungkin karena reaksi yang kamu berikan terlalu berlebihan, jadi mereka mulai menganggap mu sebagai seorang wanita, bukan teman. Oleh karena itu mereka mulai membuat batasan dan menjauh"


"Dan itulah yang akan kau lakukan, itulah satu-satunya alasan aku bersikap seperti ini, karena aku sudah hafal dengan alurnya, dan aku tak akan berharap banyak lagi darimu. Kamu akan pergi meninggalkanku seperti mereka, dan membiarkan aku sendirian merenungi kesalahan yang tak pernah aku lakukan."


Hani mengalihkan pandangan, amarah dan kecewanya memudar perlahan digantikan dengan benteng ego yang dibangun-nya dengan cepat.


Mendapati keheningan diantara mereka, Jacob pun memberanikan diri untuk menyampaikan apa yang selama ini ia cari kebenarannya dengan tegas, nada bicaranya justru berubah menjadi cukup emosional, ia berjalan mendekati Hani dan berbicara pada gadis itu, sekalipun yang diajak bicara tak menatapnya saat ini.


"Asal kamu tau, sekalipun aku jatuh cinta, aku tidak akan membiarkan perempuan itu berjalan sendirian. Karena aku percaya bahwa insting yang baik didapatkan dari kesalahan-kesalahan. Dan aku tidak akan salah lagi menilai insting itu"


Hani menoleh ke arah Jacob yang berada di dekatnya, kemudian ia menatap lelaki itu, dan tersenyum sinis, seolah sedang bermain-main dengan situasi tegang diantara mereka.


"Apa sekarang aku berhasil mempermainkan egomu?"


"Apa?" Jacob mengerutkan dahi,


"Itu tidak perlu" Jacob menghela nafas dan mengalihkan pandangannya sejenak menyadari apa yang sedang terjadi


"Jadi dugaan ku benar, kau akan meninggalkanku kemudian, karena saat ini kau telah memulai tahap jatuh cinta padaku"


Jacob menatap kedua bola mata Hani menyiratkan kesungguhan dan penuh dengan perasaan. Kemudian ia memegang kedua pundak gadis itu dan berkata,


"Aku tidak akan meninggalkanmu, memang benar aku telah jatuh cinta padamu, tapi aku tidak akan membiarkanmu sendirian. Menemukan teman yang sepemikiran selama perjalanan ini membuat aku sadar, aku tidak akan bisa menemukan orang lain sepertimu lagi. Jadi aku akan menemanimu, kapanpun kamu siap untuk melanjutkan perjalanan. Do you trust me?"


Suara Jacob yang lembut hampir membuat Hani kehilangan akal, menerbangkan hatinya dan berhenti di atas sana untuk beberapa saat. Ia pun menjawab pertanyaan itu dengan suara yang terdengar putus asa,


"Aku menantangmu untuk menciumku, untuk membuktikan kebenarannya"


Jacob mendekatkan bibirnya ke wajah Hani, dan gadis itu pun mulai menutup matanya. Ketika Jacob hampir mencium bibir gadis itu, perasaannya bercampur aduk, alhasil ia hanya sanggup mencium kening Hani dalam waktu yang cukup lama. Mengartikan perasaannya yang tulus.



Setelah Jacob melepaskan ciuman di kening Hani, gadis itu pun membuka matanya perlahan, dan mereka berdua bertatapan sejenak.


"Hanya ini sejauh yang ku bisa, maaf" ucap Jacob


Hani tersenyum,


"setidaknya aku yakin kamu tidak akan meninggalkanku, I trust you, Jacob"


Jacob tertawa kecil, "Ini sedikit aneh, situasinya, semuanya, seperti bergerak sangat cepat dengan tempo yang aneh"


"selamat datang di dunia yang abstrak, haha"


Mereka berdua pun saling bertatapan dan tertawa ringan untuk sesaat. Kemudian duduk berdampingan dan menyantap sarapan mereka.


Siang harinya mereka berjalan-jalan di sekitar sungai, hanya sekedar menghabiskan waktu untuk bercengkerama dan mempererat hubungan diantara mereka berdua.


"Sebagian besar perempuan yang pernah dekat denganku itu, mereka punya boyfriend record yang bisa dibilang agak bad boy. Dan ketika aku merasa hubungan itu mulai hambar, kita putus dan mereka kembali ke kriteria yang aku katakan tadi. Maksudnya, aku tak mengerti kenapa perempuan selalu milih lelaki yang kacau."


Hani diam untuk beberapa saat memikirkan jawaban dari pertanyaan Jacob.


"Kamu tahu kenapa para perempuan itu lebih suka bad boy? Cause all good boys goes to heaven, but bad boys bring heaven to you. Jacob, kamu bisa saja jadi salah satu kandidat yang akan pergi ke surga, tapi perempuan-perempuan itu membutuhkan surga, keindahan, pelayanan seperti ratu."


Jacob tersenyum, terkesan dengan pernyataan Hani. "Dan kamu lebih memilih yang mana?"


"I don't need heaven, I just need someone who can listen to me"


Hani menatap sayu seseorang yang berjalan di sampingnya ini. Dan yang di tatap pun, juga membalas tatapan itu dengan senyuman menyiratkan dukungan untuk pernyataan yang baru saja ia dengar.